
...BAB V - Boy In Luv...
...| Harapan Tanpa Angan |...
...✨...
...🎶Junggigo feat Dawon - Slowly, Little Bit...
...........
Daniel berdiri dengan wajah gelisah di depan ruang OSIS tempat Kana biasa menghabiskan waktu istirahat nya. Di kedua tangannya, ia menggenggam dua kaleng minuman isotonik yang akan ia berikan pada Kana. Entah sudah berapa lama ia menunggu disana.
Daniel segera berdiri tegak ketika melihat dari kejauhan Kana yang sedang berjalan kearahnya. Ia menghafal semua dialog yang sudah ia siapkan sejak malam.
Kana mengangkat pandangannya, ia menemukan Daniel yang sedang memerhatikannya entah sejak kapan.
Langkah kaki Kana melambat ketika hampir sampai di hadapan Daniel. Jika tak salah sangka, Kana mengira bahwa Daniel sedang mencarinya.
"Hi Na." Daniel tersenyum dan Kana juga tersenyum tanpa ragu.
"Kak Daniel?" jika dilihat lagi, image Daniel yang menyebalkan seperti sebelumnya tiba-tiba saja hilang karena Kana melihat lelaki itu sering tersenyum padanya sekarang, "Ada apa kak?"
"Ini buat lu." Daniel memberikan dua botol minuman isotonik nya, ia melihat Kana keheranan dengan tindakannya yang tiba-tiba itu.
"Oh? I-iya, thanks ya kak. Yang kemaren juga."
"G-gua udah gak makan permen lagi," ucapan Daniel membuat Kana melihat kearahnya, seperti bertanya atau malah keheranan kenapa juga ia harus tahu tentang hal itu, "Thanks ya."
Kana akhirnya tersenyum, "Bagus deh kak, makan permen sih boleh tapi jangan kebanyakan juga. Ntar gigi kakak malah tambah rusak."
"By the way, lu tau gua punya masalah gigi dari mana?"
Pertanyaan ini yang terus membuat Daniel penasaran dengan jawabannya. Namun ternyata tidak hari ini, ponsel Kana tiba-tiba saja berbunyi hingga membuat gadis itu mengabaikan pertanyaannya.
"Apaan Geon?" Daniel melihat Kana menjauhkan ponsel dari telinganya seperti mendengar suara yang terlalu keras, "Iya iya bawel! Gua juga udah di depan ini kok." Tak beberapa lama setelah itu Kana menutup telponnya.
Daniel tersenyum karena ingin tersenyum.
"Sorry ya kak, ngobrolnya kita sambung nanti lagi. Aku udah ditunggu soalnya."
"Oh iya Na, gak papa santai aja." Kana tersenyum menyesal.
"Ya udah gue cabut ya." Daniel pamit.
Kana masuk ke ruang OSIS begitu melihat Daniel juga pergi. Ia menyimpan minuman pemberian Daniel di mejanya dan kemudian menghampiri Geonhee yang sudah menatapnya dengan kesal.
...
...
Natta setengah berlari ke arah lapangan setelah Minhyun mengabarinya tengah latihan basket seperti biasa. Selain karena ia harus pulang bersama Minhyun sejak mereka pacaran, Natta juga masih ada satu permintaan pada lelaki itu.
Sesuai dengan apa yang Pak Siwon suruh, Natta harus meminta Minhyun mengajarinya basket sampai ia bisa.
Natta bisa melihat Minhyun yang tengah mendribble bola di tengah lapangan dengan celana abu-abu dan kaos putihnya yang sudah setengah basah.
Pemandangan yang diam-diam membuat Natta menelan ludah.
"Oy Tta, diem aja. Sini." Suara Sehun membuat Natta mengalihkan pandangannya dari Minhyun ke lelaki itu.
"Iya kak."
"Tumben banget nyamperin Minhyun duluan?" tanya Sehun ketika Natta sudah duduk di sisi lapangan.
Natta hanya membalasnya dengan senyum sekilas, "Gua udah selesai duluan kak, jadi ya kesini aja."
Sehun mengangguk lalu melempar sebotol minuman pada Natta.
"Kali aja haus, gua balik latihan ya." Setelah itu Sehun berbalik menghampiri Minhyun.
Anak tim basket sekolah memang menjadi anak anak popoler di SMA 101, Natta juga tidak heran karena isinya memang lelaki paling di cari gadis gadis.
Disana ada Minhyun, dan Sehun. Lalu Natta juga bisa melihat Taehyung, dan Guanlin juga. Bagaimana gadis-gadis tidak menggilai anak basket jika isinya adalah mahluk semacam itu.
Tapi saat Natta sedang asik memerhatikan anak-anak basket, ponselnya berdering dari dalam tas miliknya beberapa kali.
Guanlin
| Gausah liatin gua terus.
| Takutnya lo suka.
Dahi Natta berkerut ketika mendapat pesan itu dari Guanlin, seketika Natta mengangkat wajahnya dan mencari Guanlin. Ia bisa melihat Guanlin yang tengah melihat ke arahnya juga.
^^^Natta^^^
^^^Gausah geer |^^^
"Udah lama?" Usapan di kepalanya membuat Natta buru-buru menutup aplikasi line miliknya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Engga kok kak, baru aja sampe." Minhyun mengangguk paham lalu merebut botol air milik Natta dan meminumnya.
"Udah nih, mau langsung pulang?" ucap Minhyun sembari mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
"Kita ke rumah kakak ya?" jawab Natta agak ragu pada Minhyun.
"Tumben? Kenapa?" Masalahnya Natta itu tidak mungkin tipe orang yang tidak punya alasan untuk melakukan sesuatu.
"K-kakak mau ya ajarin aku basket? Aku kena remedial pelajaran Pak Siwon."
Suara tawa Minhyun yang ringan menjadi hal paling menyebalkan bagi Natta. Tapi ketika ia melihat wajah Minhyun yang tertawa selepas itu, Natta baru sadar bahwa Minhyun memang setampan itu.
"Yang tadi di lapangan itu kamu kena remedial Pak Siwon? Kasian banget sih pacar aku."
Minhyun mengusap pipi Natta dan membuat gadis itu mendongak seketika menatap wajah Minhyun.
"Ih kak Minhyun nyebelin! Kakak malu ya punya pacar gak bisa basket?" Natta mengerjap beberapa kali.
Minhyun menggeleng lalu tersenyum, "Ya enggaklah Tta. Nanti aku ajarin sampe kamu bisa."
Natta pun membalas senyuman Minhyun dan mengangguk antusias, "Janji loh kak."
"Iya Tta." Minhyun mencubit pipi Natta sekali sebelum berbalik untuk berganti baju.
"GAK LIAT GUA HYUN GA LIAT!" suara Taehyung yang keras membuat Natta menoleh dan menunduk malu saat menyadari separuh lelaki di lapangan melihat ke arahnya.
Guanlin.
| Gua liat lo
Natta makin bingung dengan pesan Guanlin yang rasanya semakin aneh saja. Lagipula urusannya dengan Guanlin itu apa jika ia bersikap seperti itu dengan Minhyun.
Guanlin.
| Dan gua gak suka.
Natta mengerjap sekali.
Gua gak suka
Gak suka
Lalu ketika ia mendongak untuk menatap Guanlin, lelaki itu sudah tidak ada di tempatnya tadi dan Natta tidak tahu kemana Guanlin pergi.
...
...
Natta terduduk di bawah setelah melemparkan bola basket yang di pegang nya dengan sembarangan. Padahal sudah dua puluh menit sejak mereka berlatih, tetapi Natta tetaplah Natta yang lemah dalam basket.
"Aku gak bisa kak." Suara Natta yang lemah membuat Minhyun yang tadinya hanya berdiri mendadak berjongkok menghampiri gadis itu.
"Pasti bisa." Minhyun mengusap kepala Natta dan memberikan bola yang tadi gadis itu lemparkan.
"Susah kak," balas Natta dengan setengah hati pada Minhyun.
"Yaudah nanti aku temenin kamu di hukum." Natta sontak menggeleng, mana mungkin juga ia membiarkan Minhyun kenapa hukum padahal yang salah itu adalah dirinya sendiri.
"Iya aku belajar lagi. Aku gak mau kakak kena hukuman." Minhyun tersenyum melihat Natta yang berubah antusias.
"Nah gitu dong, kan makin cantik liatnya." Pipi Natta berubah merah setelah mendengar kalimat Minhyun.
"Gak usah merah pipinya."
Natta melempar bola basket yang ia pegang ke arah Minhyun karena malu setengah mati, "Ih aku benci kak Minhyun."
Tapi karena ini Minhyun, dan Minhyun adalah kapten tim basket sekolah, tentu saja ia bisa menangkap bola yang Natta lempar dan memasukkan nya ke dalam ring.
"Iya aku juga sayang kamu." Minhyun melempar bola basketnya kembali pada Natta yang tidak siap.
Bola basket yang Minhyun lemparkan malah mengenai kepala Natta dengan agak keras, membuat Minhyun panik.
"Kamu gak papa kan?" kata Minhyun sambil mengusap kepala Natta agar tidak sakit lalu sesekali meniupnya.
"Gak papa kak, cuma kena sedikit kok." Natta mendongak untuk menatap Minhyun yang tengah meniup kepalanya.
Natta tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya ke arah wajah Minhyun, "Kakak lucu."
"Kamu juga." Minhyun mengecup kepala Natta sebagai dalih menghilangkan rasa sakit akibat bola basket itu.
"Ayo latihan lagi." Natta hanya menurut ketika Minhyun menarik tangannya untuk berdiri dan berlatih lagi.
...........
...06 Februari 2019...
...Reeshiellaa Nat...
...Ft Dewi Hsu...