4 Walls

4 Walls
2.1 - Pertemuan Pertama


...BAB II - Love Scenario...


...| Pertemuan Pertama |...


...✨...


...🎶Kang Minhyuk - I See You...


...........


Pelajaran paling membosankan di hari rabu bagi Natta akhirnya usai.


Ia bisa melihat seluruh temen kelasnya sudah meletakkan kepala di atas meja karena kantuk atau sebagian yang sudah ribut ribut karena lapar.


Dan Natta adalah salah satu dari mereka yang merasakan keduanya.


Ia merasakan kantuk yang luar biasa, lalu setelah guru Sejarahnya keluar, ia malah tidak mengantuk sama sekali dan merasa sangat lapar.


"Tta, kata Kana nanti pulsek rapat seperti biasa," ucap Jaehwan yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas setelah dari toilet.


"Kok mendadak sih *****? Gua balik sama siapa nanti."


Natta kadang tidak mengerti sama jalan pikiran ketua OSIS nya yang suka seenaknya memutuskan kapan harus rapat.


Ya tentu saja karena Natta tidak bisa menolak juga.


Tapi yang jadi masalahnya, Jinyoung benar-benar tidak akan bisa menunggu jika lelaki itu mengatakan begitu.


"Yaelah, cowok yang ngantri mau nganter lu kan banyak, Tta," celetuk Joshua yang entah kapan sudah berada di belakang punggung Jaehwan.


"Apaan sih Jo? Kalau banyak ya gak mungkin lah gua jomblo," elak Natta sekenanya.


Padahal Joshua tidak salah juga sih bicara begitu.


"Kantin kuy Tta, laper gak lo?"


"Ikut dong Yer." Natta mengangguk antusias pada Yerin yang baru saja datang dan itu sudah cukup untuk mengalihkan pembicaraan yang Joshua pancing.


"Gak di ajak nih kita Yer? Pilih kasih banget gila. Giliran contekan geografi aja lancar ya nanya ke gua mulu."


Jaehwan protes tidak setuju karena Yerin sama sekali tidak menawari mereka; Joshua dan Jaehwan untuk pergi juga ke kantin.


"Alay banget dah Jae. Kalau mau ikut yaudah tinggal ikut sih."


Kata Luna sembari memutar matanya dengan malas mendengar protesan Jaehwan.


"Kuy ah kelamaan lu pada," sambung Joshua dan langsung menepuk bahu Jaehwan.


...


...


"Itu hp lu geter mulu dari tadi, Na." Rose yang merupakan teman sebangku memberitahu Kana yang sedang membereskan buku-bukunya ke bawah kolong meja.


"Hah? Masa?"


"Budeg ya lu? Udah lama kali masa gak kerasa sih?"


Kana mengambil ponselnya yang sengaja ia simpan di dalam tas agar tak menganggu waktu belajarnya.


"Gua keluar duluan ya, Rose."


Rose mengangguk sambil tersenyum melambaikan tangannya pada Kana yang sudah biasa pergi meninggalkannya sendiri.


Terkadang ia juga merasa kasihan pada gadis itu, kesibukannya sebagai Ketua OSIS selalu menyita waktu belajar bahkan waktu pribadinya.


Pergi ke kafetaria untuk sekedar membeli jajanan kecil pun jarang bagi Kana.


Kana keluar dari ruang kelas sambil menjawab telpon dari ibunya yang sudah menelponnya beberapa kali saat Kana masih mempunyai jam belajar di kelas.


"Iya mah, ada apa?"


"Na, kamu pulang sore kan hari ini?"


"Iya aku usahain mah." Kana melangkah dengan lebih cepat menuju Cafetaria.


"Jangan lupa lho Na, ini acara kita sama tetangga komplek. Kamu harus nunjukin rasa hormat kamu sebagai penghuni baru di komplek ini."


Kana tertawa kecil mendengar ibunya berkata seperti itu, "Iya mah, ya ampun. Berasa mau nikahan tau gak di telpon mamah kayak gini."


"Oh iya, berhubung kamu ngomong kayak gitu, temen baru mamah disini punya anak cowo ganteng yang satu sekolah sama kamu lho."


"Ya terus?" alis Kana terpaut karena heran, "Jangan mentang-mentang aku jomblo ya mah."


"Apaan sih, orang mamah cuman bilang aja." Kana yakin wajah ibunya itu menggemaskan sekarang.


Kana tersenyum, "Hahaha, mamah, mamah," suara tawa Kana bergetar karena sambil berjalan.


Cafetaria cukup ramai dipenuhi oleh siswa yang sedang makan siang. Kana membeli beberapa makanan ringan dan air mineral.


"Kamu lagi dimana sih? Kok rame banget?"


"Lagi di kantin mah." Kana masih memilih beberapa makanan pedas kesukaannya.


"Awas lho jangan yang pedes."


"Enggak kok mah, gak pedes." Padahal Kana baru saja mengambil camilan paling pedas di sekolahnya.


Saat itu, Kana hendak mengeluarkan uangnya untuk membayar semua jajanan yang dibelinya.


Namun entah kenapa Kana tak kunjung menemukannya.


"Kemana sih?" Kana bergumam sambil sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. "Ya ampun. Masa ketinggalan di tas."


Kana kembali mendekatkan ponselnya, "Mah, udah dulu yah. aku mau ambil uang aku yang ketinggalan di kelas."


"Teledor banget sih kamu, uang aja dilupain, apalagi dia."


"Apaan sih mah? Gak nyadar banget umur," ujar Kana sambil diam-diam tertawa.


"Hm, dasar. Ya udah, mamah mau lanjut masak. Kak Jonghyun juga baru dateng tuh."


"Iya mah, kalo gitu sekalian suruh Kak Jonghyun jemput aku deh nanti pulang."


"Males banget! Sorry yah, sibuk nih!"


Kana terkejut karena mendengar suara Jonghyun yang keras, "*****. Udah ngagetin, nyolotin lagi!"


"Makanya! Cepet punya pacar dong! Biar pulang tuh ada yang nganterin!"


Kana tak tahu, kenapa ia bisa mempunyai kakak seperti Jonghyun, "Iya! Aku bakal cepetan punya pacar! Liatin aja bang!!"


Kana tak sadar ia marah dengan suara yang cukup keras.


Ia juga yakin kakak nya itu sekarang pasti tengah menetawakannya, memikirkannya saja sudah membuat sesak.


"Udah, segini aja jajannya?" ucap kasir.


"E-eh?" Kana kembali teringat bahwa ia meninggalkan uangnya, dan ia tidak bisa membayar makanan dan minumannya, "Maaf mba, gak-"


"Sekalian aja sama ini mba."


Kana menoleh saat mendengar ada seseorang di sampingnya. "K-kak Seongwoo?"


"Hm? Kamu kenal kakak?" Seongwoo bersender di meja kasir.


"Kenal dong kak, kakak temennya kak Minhyun kan?"


Walaupun Seongwoo tak mengharapkan ia dikenal sebab Minhyun, tapi karena Kana mengenalnya itu cukup membuatnya melupakan itu dan senang mendengarnya. "Hehe-iya.."


"Semuanya 45.000."


"Oh iya." Seongwoo mengeluarkan uangnya untuk membayar jajanan miliknya dan Kana.


"Eh kak, gak usah. Aku ngambil uang dulu aja, nanti gampang kesini lagi."


"Udah gak papa, sekalian ini kok."


"Tapi kak-"


Seongwoo memotong ucapan Kana, "Tapi kakak gak mau tanggung jawab ya kalo mamah kamu marah gara-gara kakak bayarin jajanan pedes kamu."


"Hah?" Ingatan Kana kembali, bukankah itu percakapan barusan?


Jika Seongwoo tahu ia yang berbohong tentang jajanan pedas pada ibunya, berarti lelaki itu juga tahu pembicaraannya dengan Jonghyun?


Dan ejekan jomblo itu? Apa Seongwoo juga mendengarnya?


Seongwoo tertawa kecil sambil kemudian memberikan kresek jajanan kepada Kana, "Santai aja, kakak juga jomblo kok."


Wajah Kana mungkin memerah sekarang, ia benar-benar malu.


"****** kan gua, malu banget anjirr. Kak Jonghyun emang bener-bener ngeselin," gumam Kana dengan suara yang benar-benar kecil.


"Mau pulang bareng gak?"


"Hah?"


"Dari tadi huh-hah-huh-hah mulu." Seongwoo masih bisa tersenyum pada Kana, mungkin untuk menyembunyikan rasa malunya karena tiba-tiba mengajak Kana pulang bersama.


"Ma-maf ka.."


"Kakak mau kok jadi orang yang terus nganterin kamu pulang. Kayak yang kakak kamu bilang."


Benar kan! Dugaan Kana benar tentang Seongwoo yang mendengar ocehan Jonghyun, kakaknya di telpon.


"A-ahahahah!" Seongwoo terkejut karena Kana tertawa, "Kakak denger omongan aku sama abang aku ya?"


Kana masih tertawa, "Gak usah dipeduliin kak, bang Jonghyun emang gitu orangnya. Jail."


Seongwoo hanya tertawa sambil tetap memperhatikan Kana, gadis itu semakin membuatnya jatuh hati hanya dengan melihatnya tertawa seperti itu.


...


...


"Mau kemana nih ntar sabtu?" Luna sebagai gadis pencinta weekend tentu saja tidak bisa membiarkan hari weekend nya kosong tanpa jadwal.


"Nginep rumah lu yu Jo? Kita barbeque sampe malem dah tuh. Ya kalau anak kelas mau ajak aja," saran Yerin yang sudah lama juga tidak pergi kemana mana saat weekend.


"Gua sih oke, lagipula kalian udah deket juga sama nyokap bokap gua. Nah yang jadi masalahnya nih dua anak OSIS gimana, sibuk gak?" Joshua menunjuk Natta dan Jaehwan bergantian karena keduanya adalah anak OSIS.


Soalnya semenjak menginjak kelas XI, dan tugas OSIS menjadi kuasa anak kas XI, Jaehwan dan Natta sudah jarang sekali kumpul kumpul.


Ya karena mereka sibuk dengan OSIS pastinya. Sekalipun mereka ada waktu luang, pasti Natta maupun Jaehwan lebih memilih istirahat.


"Gua sih pengen Jo, cuma kadang jadwal OSIS gak tentu. Tapi gua usahain pasti ikut," ucap Natta dengan antusias.


"Gua sih kuy aja. Yang penting gak keluar duit." Jawaban Jaehwan yang sudah tidak aneh membuat semuanya hanya mendengus.


"Kebiasaan **** lu Jae." Luna menoyor Jaehwan dengan santai.


Yerin yang kebetulan dekat dengan Jaehwan juga ikut ikutan menoyor lelaki itu.


Joshua dan Natta yang berjalan di depan hanya tertawa dengan puas karena melihat penderitaan Jaehwan.


BRUK-Natta agak terhuyung ke belakang karena menabrak seseorang di depannya.


Sepertinya Natta dan Joshua terlalu asik tertawa sembari melihat Jaehwan jadinya mereka tidak sadar bahwa di depan mereka ada orang lain yang berjalan ke arah yang berlawanan.


"Maaf kak." Natta membungkuk minta maaf karena sadar bahwa yang di tabraknya memakai dasi kelas XII.


"Gak papa Tta, santai aja," balas si kakak kelas yang ternyata adalah Hanbin, mantan terakhir Natta.


"Eh, kak Hanbin. Udah jarang ketemu lagi ya kita kak." Luna malah mengambil kesempatan untuk meledek Natta yang sudah memerah.


"Haha iya nih, udah gak ada keperluan juga," balas Hanbin dengan tawa renyah nya yang membuat Natta meringis karena merasa bersalah.


"Masih gamon kak dari Natta? Yaelah cewek ******* kaya dia mah jangan di bikin gamon."


Celetuk Joshua yang membuat Natta menatap tajam lelaki itu yang sudah bicara sembarangan.


"Jo, kalau ngomong jangan sembarangan kenapa." Marah Natta pada Joshua. Tetapi belum sempat Natta melanjutkan, Hanbin sudah memotong lebih dulu.


"Udah gak gamon gua Jo, cuma belum bisa lupa aja. Udah ah gua duluan ya."


Hanbin pergi lebih dulu sebelum teman teman nya Natta malah semakin meledeknya.


"Parah **** lu Tta, anak orang di bikin gamon." Untuk yang satu ini, baru Jaehwan yang membalas.


Jaehwan memang tidak pernah urus masalah Natta dengan siapapun. Jadi lelaki itu selalu diam saja saat teman nya yang lain justru meledek Natta.


"Natta nya udah move on sih sama kakak kelas yang itu," lanjut Jaehwan menyelesaikan kalimatnya.


Natta langsung merengut malas karena tahu kemana akhir dari pembicaraan itu.


"Iya iya Jae, paham gua juga," balas Luna yang malah merangkul Natta agar mereka bisa sampai segera di kantin.


...........


...Udah mulai ketemu nih. Sebentar lagi cerita sesungguhnya akan di mulai. Lama ya? Bosen?...


...Reeshiellaa Nat...


...Ft Dewi Hsu...