4 Walls

4 Walls
2.3 - Kebetulan


...BAB II - Love Scenario...


...| Kebetulan |...


...✨...


...🎶Punch feat Chen - Everytime...


...........


Kana menengok jam di tangannya. Sudah jam setengah empat sore, dan Kana seharusnya pulang sekarang.


"Geon, gua ada acara keluarga nih. Lu bisa gantiin gua kan?"


Geonhee yang menjadi wakil Ketua OSIS itu memang sudah dekat dengan Kana, mereka juga pernah satu sekolah sewaktu duduk di Sekolah Dasar.


"Oh gitu ya? Bisa sih, sampe jam berapa jadwal kita hari ini?"


"Se–seleseinya aja Geon, kalo udah jam 5 jangan dipaksain, lanjut besok aja. Toh gua yang harusnya mimpin malah pulang duluan."


"Ya elah, santai aja kali. Lu kan ada urusan keluarga ini. Bukan mau bolos."


"Iya sih, cuman gak enak aja sama anak OSIS lain."


Geonhee merangkul bahu Kana sambil tersenyum meyakinkan, "Tenang Na. Gua siap gantiin tugas lu kok."


Kana tersenyum juga, "Thanks ya, Wakil gua emang paling the best dah!"


Gadis itu tertawa karena melihat Geonhee menepuk dada kiri dengan tangannya seolah menganggap apa yang ia lakukan itu bukan hal yang sulit.


"Oh iya, nanti minta Sungwoon buat nagihin uang kas juga yah. Sekalian jangan lupa isi absennya," lanjut Kana.


"Okay! Udah lu sana, ntar kesorean lagi." Geonhee menolong Kana dengan mengambilkan tas berwarna cokelat milik gadis itu.


Kana bersyukur karena mendapat partner seperti Geonhee, tidak salah memang mereka disatukan sebagai Ketua dan Wakil OSIS.


"Sampein juga maaf gua ke semua anak OSIS yah," pesan Kana sambil melambaikan tangannya dan pergi dengan berlari.


...


...


"Oh.. sekarang abang gitu ya bang sama Kana."


Kana mendumal kesal karena Jonghyun tak kunjung mengangkat telponnya.


Gadis itu kebingungan karena harus pulang cepat.


Tak ada pilihan memang, Kana harus pulang dengan menggunakan kendaraan umum seperti biasa jika begini.


Sebari menunggu telponnya diangkat, Kana berjalan menuju halte bus terdekat. Matanya tak henti-henti menatap layar ponsel berharap akan mendengar suara Jonghyun.


Tak sadar, suara motor mendekatinya.


"Na?" sapa Seongwoo yang berhenti tepat di samping Kana.


Kana menengok, ia pikir hanya orang lewat, namun ternyata Seongwoo sengaja menghampirinya. "Eh, kak Seongwoo?"


"Mau pulang?"


Kana mengangguk sambil tersenyum, "Iya kak."


"Bareng aja yuk? Kakak anterin."


"Gak usah kak, ntar ngerepotin lagi."


Seongwoo menarik tangan Kana agar mendekat padanya, "Enggak ngerepotin kok."


Kana sendiri kewalahan saat menghadapi wajah Seongwoo yang terlihat lebih dekat dari sebelumnya, "E-eu.."


Tiba-tiba saja Kana kebingungan diantara memilih menghindari tatapan Seongwoo atau tetap memandangnya.


"Hm?" Seongwoo menagih jawaban, "Yuk?"


"G-gimana yah kak."


Melihat Kana masih ragu, Seongwoo kembali meyakinkan gadis itu, "Daripada nungguin jemputan, mending langsung aja sama kakak. Lebih cepet."


Ide Seongwoo memang bagus, Kana juga harus segera sampai di rumah.


"Gak ngerepotin nih kak?"


Seongwoo menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "Enggak. Yuk!"


"Y-ya udah deh."


Seongwoo tersenyum senang, ia segera memberikan helm untuk Kana. Gadis itu dengan masih ragu menumpukan tangannya untuk menaiki motor Seongwoo yang tinggi dan duduk di belakang. Saat itu pula ia bingung harus berpegangan dimana.


"Pegangan aja ke kakak." Seongwoo menoleh ke belakang.


"He—Gak papa kak, gini aja." Kana meremas rok seragamnya dengan kuat, rasanya sangat canggung baginya.


"Yakin? Gak takut jatoh?"


"Ja-jangan kenceng-kenceng aja kak," pesan Kana dengan suara pelan.


Seongwoo tertawa kecil, "Kamu lucu deh, gimana mau cepet nyampe kalo kakak jalannya kayak siput."


Kana juga ikut tertawa canggung. Lelucon macam apa yang telah ia katakan hingga membuat pipinya memerah sekarang.


Kana merutuki ucapannya tadi, tidak seharusnya ia bertindak bodoh seperti itu.


Seongwoo mulai menjalankan motornya. Perlahan-lahan namun lama-kelamaan semakin cepat.


Sekuat mungkin Kana mencoba untuk menyeimbangkan tubuhnya agar tetap berada di posisi yang sama.


Ia memperhatikan ke depan untuk melihat seberapa jauh lagi rumahnya.


Tak ada obrolan berarti, Seongwoo juga sedang berusaha menjalankan motornya dengan baik agar tak membuat Kana kapok diboncenginya.


Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja seekor anak kucing berlari melintas di depan motor Seongwoo.


Kana yang juga melihat itu dengan spontan berteriak untuk memberitahu Seongwoo tentang kehadiran kucing yang tiba-tiba itu.


"Kak, awas ada kucing!"


Tak harus diminta pun Seongwoo yang lebih dulu menyadarinya segera menekan semua rem yang ada di motornya.


Gadis itu menyandarkan kepalanya pada punggung Seongwoo karena benar-benar terkejut. Rem mendadak itu juga membuat tubuh Kana maju ke depan tanpa diminta.


Motor berhenti dengan tepat sebelum kucing itu tertabrak, Seongwoo yang menyadari ada tangan yang melingkar erat disekitar perutnya itu tak menyangka bahwa Kana akan memeluknya sebegitu kuat.


Hanya suara motor yang terdengar.


Waktu seolah berhenti, Kana masih belum menyadari posisinya.


"N-na?"


Kana membuka matanya perlahan.


"Kamu gak papa?"


Saat itu juga Kana menyadari bahwa sedari tadi ia memeluk Seongwoo dengan erat.


Kana buru-buru melepaskan tangannya dan duduk dengan punggung yang tegak, "M-maaf kak, aku tadi cuman ta—"


"Kamu gak papa kan?"


Kana seperti berhenti bernafas, "I-iya kak, a-aku gak papa."


"Maaf ya, aku kurang hati-hati." Seongwoo melirik ke belakang,


Memastikan betul keadaan Kana, "Mending kamu pegangan kayak tadi aja, daripada nanti kejadiannya kayak tadi kan?"


Apa yang Seongwoo katakan memang tak salah, bukan karena Kana ingin memeluk lelaki itu, ini semua demi keselamatannya kan?


"I-iya k-kak." Perlahan-lahan kedua tangan Kana kembali melingkar di pinggang Seongwoo.


Walaupun benar-benar terasa canggung, sekuat mungkin Kana menahannya.


Motor kembali berjalan namun kali ini dengan sedikit lebih pelan. Seongwoo tetap dapat mengatur kecepatan motornya.


Kana yang hendak menunjukkan jalan ke kompleknya tiba-tiba saja dibuat diam karena tanpa diminta Seongwoo berjalan kearah yang benar.


Kana pikir mungkin itu sebuah kebetulan.


"Di depan bel."


"Belok kanan kan? Terus lurus sampe mentok nanti belok kanan lagi."


Ini namanya bukan kebetulan, sudah jelas Seongwoo tahu alamatnya.


Kana sendiri tergagap-gagap saat mendengar perkataan Seongwoo.


"Kok tau sih kak?"


Seongwoo hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Kana.


Saat mereka sampai tepat di depan rumah Kana, gadis itu perlahan turun dari motor dengan bantuan Seongwoo.


"Jauh ya kak rumahnya, maaf ngerepotin."


Seongwoo membantu Kana melepas helmnya, "Apanya yang ngerepotin sih, enggak kok."


Dari arah dalam, Kana mendengar suara Jonghyun. Lelaki itu ternyata sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya.


"E-e-eh.. ada tamu kok gak disuruh masuk sih." Jonghyun menyimpan selang airnya dan berjalan menuruni tangga untuk menghampiri Kana yang sedang menatapnya tak karuan,


"Bro," sapa Jonghyun pada Seongwoo.


Seongwoo melepas helmnya dengan segera dan turun dari motornya, ia tersenyum ramah untuk menyapa Jonghyun.


"Bang Jonghyun." Tangan Jonghyun yang ingin menyalami disambut oleh Seongwoo.


"Seongwoo kak."


"Abang ajalah manggilnya, biar deket." Jonghyun terkekeh sendiri, "Pacarnya Kana kan ya?"


Mata Kana melotot seperti hampir keluar karena mendengar kalimat konyol dari kakaknya. "Bang!" pekik Kana.


"Apa sih?"


"Jangan bikin malu apa!"


"Apaan sih, orang ganteng begini kok bikin malu."


Seongwoo hanya tersenyum canggung sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.


Jonghyun merangkul bahu Seongwoo yang lalu kebingungan, "Maaf ya, Kana emang gitu kalo di rumah. Suka gak jelas. Apalagi ada cowok cakep, kayak salah tingkah gitu lah istilahnya."


Seongwoo benar-benar ingin tertawa saat itu, sangat menggemaskan melihat tingkah Kana yang kebingungan sekaligus kesal melihat kakaknya yang terus menjahilinya.


"Sering-sering main kesini ya, jangan malu-malu."


Seongwoo mengangguk malu, "Oh iya, sekedar ngingetin aja sih. Kana itu di sekolah emang populer, katanya."


Jonghyun tertawa mendengar kalimatnya sendiri, "Tapi kalo di kandang, Kana itu ya cuman anak rumahan yang jarang mandi."


Saat itu, mata Kana membelalak karena ucapan Jonghyun, gadis itu juga mengisyaratkan pada Seongwoo dengan menggelengkan kepalanya kuat-kuat agar Seongwoo tidak mempercayainya, "Jadi jangan kecewa ya kalo."


Sebelum semua fitnah itu lebih luas, Kana segera menarik Jonghyun dan membekap mulutnya hingga lelaki itu kesulitan untuk bicara lagi bahkan bernafas, "A-ahahah. Bang, mending abang masuk sekarang ya! Jangan jailin orang!"


Kana mendorong paksa Jonghyun yang tak ingin masuk, walaupun begitu Kana sekuat tenaga membuat Jonghyun enyah agar rasa malunya segera berakhir.


Kana tersenyum kaku karena merasa tak enak pada Seongwoo, "Maaf ya kak, abang aku emang kadang-kadang suka kumat."


"Iya gak papa, orangnya asik kok." Seongwoo yang tahu waktu akhirnya memutuskan untuk pamit pada Kana, "Ya udah, kakak pamit ya"


"O-oh.. iya kak, makasih banyak ya."


Sebenarnya ada sedikit rasa kecewa karena Kana tidak menawarkan Seongwoo untuk masuk ke rumahnya terlebih dahulu, namun lelaki itu tahu jika keinginannya itu terlalu cepat mengingat ia yang belum terlalu dekat dengan gadis itu.


Seongwoo pergi setelah pamit pada Kana.


Gadis itu juga segera memasuki rumahnya untuk menyerang Jonghyun dan membalas semua rasa malunya tadi.


"Abang!!!" Kana berteriak saat dirinya baru sampai diambang pintu rumah.


...........


...Reeshiellaa Nat...


...Ft Dewi Hsu...