4 Walls

4 Walls
3.1 - Rumor


...BAB III - Best Luck...


...| Rumor |...


...✨...


...🎶AKMU - 200%...


...........


Pemandangan dimana Jinyoung dan Natta berjalan bersama di koridor depan sekolah bukanlah hal baru untuk sebagian populasi SMA 101 yang memang sudah tahu hubungan seperti apa yang keduanya jalani.


Karena kebetulan Jinyoung ataupun Natta adalah orang yang populer, jadi bukan hal yang aneh juga kalau hubungan abu-abu keduanya di ketahui banyak orang.


Beda hal jika yang melihatnya adalah sebagian orang orang kuper di SMA 101, mungkin juga orang lain akan berpikir bahwa Jinyoung dan Natta itu berpacaran.


Tapi baik Natta maupun Jinyoung sama sekali tidak peduli perihal itu.


"Kemaren lu balik sama siapa?" Jinyoung menoleh ke arah Natta, menunggu jawaban gadis itu.


Natta diam sebentar, "Ehm, s-sama k-kak Minhyun."


"Bang Minhyun anak basket itu? Kok bisa?" Untuk yang satu itu, Natta juga bingung harus bagaimana menjelaskan nya pada Jinyoung.


"Y-ya gitu deh ya." Sebenarnya Jinyoung melihat jelas dengan siapa Natta pulang kemarin sore.


Hanya saja, ia perlu memastikan apakah yang di lihatnya benar-benar Minhyun kakak kelas mereka atau bukan.


"Giliran mau gua jemput, telepon lu malah mati. Bikin khawatir tau gak."


Jinyoung merangkul gadis itu setengah gemas setengah kesal lalu menarik narik poni gadis itu dari samping.


"Sorry deh Young, gua kan gak maksud bikin lu khawatir."


Mendengar Natta, Jinyoung menghela nafas, "Lain kali jangan kaya gitu lagi."


"Enggak deh gua janji." Natta tersenyum sembari mendongak ke arah Jinyoung yang berada di sampingnya.


"Mau gua anter sampe kelas? Atau mau ke kantin dulu? Lu udah sarapan?" tanya Jinyoung.


"Apaan sih Young, emang gua anak kecil pake di anter segala. Langsung ke kelas aja deh, gua udah sarapan kok."


Natta sih udah gak aneh sama kelakuan Jinyoung yang kaya gitu, toh mereka emang udah biasa. Apalagi Jinyoung tuh tipe yang kadang suka over juga.


"Yaudah ayo gua anter." Akhirnya Jinyoung mengantar Natta sampe kelasnya.


...


...


Sesampainya Jinyoung di depan kelas Natta, teman-teman sekelas gadis itu sudah ramai-ramai berdiri di ambang pintu sembari menggoda adik kelas yang lewat.


Yang paling Jinyoung kenal sih Jaehwan, soalnya dia temen Natta yang biasa Jinyoung titipin juga kalau dia ada urusan.


"Yaelah Tta, pake di anter Jinyoung segala kaya anak kecil aja dah." Joshua emang paling bisa bikin satu kelas tiba-tiba heboh.


"Ini nih, gua juga gak tau kesambet apaan sampe mau nganterin gua sampe kelas segala." Natta menyenggol bahu Jinyoung dengan pelan dan membuat lelaki itu menoleh dengan santai.


"Susah dah punya temen macem Natta gini mah Young." Kali ini Luna ikut-ikutan Joshua untuk menggoda Natta.


Tapi anehnya Jaehwan jadi agak pendiam dari biasanya.


"Emang masih kecil sih kak, liat aja badannya kecil banget. Yaudah gua duluan ya, Za." Jinyoung menarik sekali lagi poni gadis itu sebelum pergi.


"Jinyoung!" pekik Natta kesal pada Jinyoung yang sudah berlari menjauh.


"Tta, kita mau interogasi lu nih."


Natta mengernyit bingung mendengar perkataan Yerin, "Interogasi apaan? Emang gua abis bunuh orang?"


Jaehwan menoyor kepala Natta dengan santai nya, "Serius, *****."


"Tau nih, kita tuh sengaja nunggu lu di depan pintu gini tau," balas Luna menyetujui ucapan Jaehwan.


"Ada apaan emang?" tanya Natta bingung.


Masalahnya ia memang tidak tahu apa-apa sekarang.


"Masalahnya berita ini lagi rame banget." Kalau yang model nya gampang panik gitu pasti Luna.


"Ya berita apa? Gua gak tau apa-apa." Joshua, Luna, Yerin, dan Jaehwan saling melirik satu sama lain.


"Lu kemaren balik sama Jinyoung, kan?" tanya Jaehwan dengan agak ragu.


Natta gelagapan, "E-eh, i-itu-"


Melihat jawaban Natta yang agak ragu, membuat mereka berempat jadi waspada.


"Balik sama siapa?" tanya Jaehwan sekali lagi.


Anehnya kenapa hari ini semua orang yang Natta kenal bertanya masalah itu padanya.


"Uhm, s-sama kak M-minhyun." Natta bisa melihat ekspresi yang aneh dari temen-temen nya, mungkin antara kaget, bingung, dan entahlah.


"Lu bilang kemaren lu mau balik sama Jinyoung, kok jadi balik sama bang Minhyun? Gimana ceritanya sih?" Hari ini Jaehwan yang paling aneh menurut Natta.


Jaehwan jadi agak pendiam, "Gua nelpon Jinyoung, kok. Tapi-"


"Lu beneran jadian sama kak Minhyun Tta?" kata Yerin yang tidak sabaran karena Jaehwan malah bertanya hal hal yang tidak mereka tahu.


Natta diam tak menjawab apapun. Lagi kenapa berita kaya gitu cepet banget kesebar sih?


"Gosip yang bilang lu jadian sama kak Minhyun itu bener gak Tta?" sambung Luna yang sudah gemas sendiri karena Natta tidak menjawab apapun.


"Jadi bener lu jadian sama bang Minhyun?" Sekali lihat pun Joshua sudah tahu jawabannya.


"Enggak!" pekik Natta dengan refleks.


"Enggak kenapa?" Suara bass milik Minhyun yang tak jauh dari mereka membuat Natta, Jaehwan, Joshua, Luna, dan Yerin menatap lelaki itu.


Kayanya mereka terlalu serius interogasi Natta sampe gak sadar orang yang lagi di omongin ternyata ada disana.


"Kak Minhyun?" cicit Natta saking takutnya Minhyun mendengar semuanya.


Minhyun jalan ke arah Natta sambil memasukkan sebelah tangannya ke saku celana, dan tangannya satu lagi memegang tas ranselnya.


"Lagi sibuk ngobrol, ya?" Minhyun melirik ke arah teman-teman Natta.


Natta menahan nafasnya karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa, "Kamu udah sarapan?"


Terjawab sudah pertanyaan yang sedari tadi ada di kepala Luna, Yerin, Jaehwan dan Joshua.


Meskipun Natta tidak menjawab iya, tapi melihat Minhyun yang bersikap selembut itu pada Natta di tambah embel-embel kamu menjawab segalanya.


"Udah sih kak, emang k-kenapa? Kakak belum sarapan?" tanya Natta ragu.


Minhyun mengangguk, "Tapi kamu udah sarapan, yaudah masuk kelas sana."


"Kakak mau aku temenin sarapan?" rasanya Natta salah sudah bicara seperti itu pada Minhyun.


Apalagi ia bisa merasakan bahwa teman-teman nya tengah menatap sedemikian rupa padanya.


"Kalau kakak emang belum sarapan, ayo aku temenin."


"Temen-temen kamu?" Sadar karena Minhyun menyebut-nyebut mereka, Joshua pun reflek menjawab duluan.


"Bawa kabur aja bang gapapa, lagian bohong tuh Natta biasanya juga gak pernah sarapan ke sekolah." Yerin dan Luna sudah terkikik geli melihat kelakuan Joshua yang cepat tanggap.


"Bener kamu belum sarapan?" tanya Minhyun memastikan lagi.


"U-udah kak, Joshua aja yang ngaco. Gak usah dengerin dia."


"Yaudah kita sarapan aja. Duluan ya." Minhyun menarik tangan Natta sekalian pamit pada Jaehwan, Joshua, Luna, dan Yerin.


"Beneran jadian sama bang Minhyun? Gila gak sih ini Natta," ucap Jaehwan yang melihat punggung Natta dan Minhyun sudah menjauh dari depan kelas mereka.


"Kak Seongwoo nya gimana *****? Kok Natta labil sih."


...


...


Lelaki sekelas Minhyun dan gadis sepopuler Natta berada dalam satu meja, dan saling berhadapan adalah berita paling mengejutkan bagi sebagian anak yang memilih mampir ke kantin.


Natta yang di ketahui banyak orang menjabat sebagai ketua kedisiplinan malah berpacaran dengan biang masalah di sekolah. Satu alasan yang masih banyak orang pertanyakan.


"Kamu beneran gak laper?" tanya Minhyun pada Natta karena gadis itu hanya melihatnya makan.


Natta menggeleng dengan yakin pada Minhyun, "Enggak kak. Makan aja gak papa."


Tapi Minhyun tetaplah Minhyun yang kerasa kepala, oleh karena itu Minhyun menyuapi Natta sesendok bubur yang ia makan.


"Buat kak Minhyun aja." Natta tetap menggeleng karena ia memang sudah sarapan di rumah.


"Makan Tta." Suruh Minhyun yang pada akhirnya membuat Natta terpaksa menerimanya.


"Kak Minhyun gak biasa sarapan di rumah ya?" Minhyun mengangguk. Dia datang pagi-pagi begini saja sudah menjadi hal yang aneh untuk Minhyun.


"Biasanya sarapan, cuma hari ini lagi dateng pagi aja. Jadi gak sempet." Natta tidak heran dengan hal itu sebenarnya, mengingat beberapa hari yang lalu lelaki itu terlambat dan seenaknya mengecup pipinya.


"Kakak di rumah bareng siapa?"


"Bareng kak Joohyun." jawab Minhyun sambil memakan bubur nya lagi.


Natta mengangguk mengerti karena sepertinya Seohyun yang di sebutkan itu adalah kakak perempuan Minhyun.


"Aku boleh tanya sesuatu kak?" sebenarnya ini hal yang sangat Natta pikirkan sejak kemarin lelaki itu mengantarnya pulang.


"Tanya aja Tta." Minhyun mencubit pipi gadis itu dan menyelesaikan makannya.


"Kenapa kakak s-suka a-aku?"


Minhyun hanya diam karena tidak tahu harus menjawab apa.


...


...


Saat jam istirahat baru saja di mulai, Kana yang sudah mempunyai jadwal tertentu di ruangan OSIS pergi terlebih dahulu ke kafetaria untuk membeli beberapa snack dan minuman dingin sebelum menjalankan tugasnya.


"H-hi kak Kana.."


Kana segera menoleh dan menemukan Woojin, anak kelas 10 yang pernah bertemu dengannya kemarin.


"Eh, Woojin ya?"


Woojin yang tadinya gugup menjadi tersenyum ketika Kana mengingat namanya, "Iya kak."


"Kenapa Jin? Ada yang gangguin kamu lagi?"


"Enggak kok kak, aku kesini cuman mau ngasih kakak ini." Woojin memberikan dua batang cokelat yang ia sengaja beli untuk Kana.


"Wah?" Kana tersenyum cerah saat melihat pemberian Woojin, "Buat kakak?"


Woojin mengangguk, "Aku harap kita bisa jadi temen."


Kana tersenyum, dia merangkul bahu Woojin yang lebih lebar agar mendekat kearahnya, "Iya dong, pastinya bisa."


Woojin yang belum antisipasi terhadap reaksi dari dipeluk Kana pun gelagapan, tak lama ia kemudian tersenyum saat melihat Kana tersenyum padanya.


Kebetulan saat Kana ingin membeli snack, setelah Woojin menggatakan akan pergi ke kelasnya dan pergi, Kana lalu melihat Daniel sedang duduk sendirian di salah satu bangku kafetaria.


Ucapan Jonghyun memang terbukti begitu Kana melihat Daniel mengeluarkan dua lembar permen karet sekaligus.


Tadinya Kana ingin pergi begitu saja dan mengabaikan pesan Jonghyun. Namun di tengah kakinya ingin melangkah, Kana justru tak bisa berhenti memikirkan ucapan Jonghyun di kepalanya.


"Serius! Bang Jonghyun nyebelin banget!"


Kana akhirnya berjalan kearah Daniel. Sejenak, gadis itu hanya menatap Daniel tanpa melakukan apa-apa.


Daniel yang saat itu sedang menunggu teman-temannya yang entah kemana belum datang, tiba-tiba saja merasakan kedatangan Kana yang tak diduga-duga. Pria itu mengangkat kepalanya untuk melihat Kana.


Mereka hanya saling menatap tanpa tahu isi pikiran masing-masing.


Kana melirik sebungkus permen karet di saku Daniel dan dua lembar di tangan kanannya.


"Kenapa?" tanya Daniel.


Kana tersenyum, Daniel kebingungan.


"Maaf ya kak."


Sungguh, Daniel bingung dengan Ketua OSIS baru ini. Kenapa tiba-tiba gadis itu meminta maaf padanya?


Baru saja Kana menyelesaikan kalimatnya, ia segera meraih dua lembar permen karet yang sedang berada di tangan Daniel dan memakannya tanpa permisi.


"E-eh?" Daniel sangat menyayangi dua lembar permen karet yang telah raib digondol Kana.


Sambil mengunyah permen karet rasa strawberry cream milik Daniel, Kana yang seperti belum merasa cukup hanya dengan mengambil dua lembar permen karet itu kemudian mengambil semua permen karet yang ada di saku seragam Daniel.


"Aku ambil semuanya ya."


Kana langsung pergi tanpa menoleh ke belakang karena tak ingin melihat wajah Daniel yang mungkin saja sedang kesal atas tingkah brutalnya.


Daniel hanya diam saat melihat Kana mengambil semua permen karet yang baru saja ia beli itu.


"Apaan nih?" gumam Daniel sambil terus memandangi kepergian Kana.


Bagaimana bisa Daniel justru malah merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


...........


...Hope you like it and enjoy this...


...20 Januari 2019....


...Reeshiellaa Nat...


...Ft Dewi Hsu...