No One Loves You Like I Do

No One Loves You Like I Do
8


8


Satu minggu setelah menolak lamaran Jamie dan memutuskan hubungan mereka, Natasha muncul di media dengan menggandeng kekasih barunya; seorang aktor tampan yang sedang naik daun saat ini, yang baru saja merilis film terbarunya awal bulan kemarin. Tidak hanya itu, mereka juga mengumumkan akan bertunangan dalam waktu dekat. Yang lebih menyakitkan lagi, mereka yang bertemu saat sama-sama menjadi bintang iklan parfum, mengaku telah menjalin hubungan selama lebih dari dua bulan dan telah tinggal serumah satu minggu terakhir. Itu artinya, Natasha telah berhubungan dengan pria lain saat ia dan Jamie masih berstatus sepasang kekasih. Pantas saja ia menolak lamaran Jamie dan mencampakkannya.


Perasaan Jamie yang mulai sedikit membaik karena selama masa terpuruknya dalam satu minggu ini selalu dikelilingi teman-teman yang mendukungnya, kembali carut-marut saat melihat berita itu. Sulit dipercaya, selama tiga tahun mereka berpacaran, Natasha selalu menghindar setiap kali Jamie membicarakan masa depan hubungan mereka, bahkan tidak pernah mau diajak tinggal bersama. Tetapi dengan si aktor pendatang baru itu—Jamie menganggapnya pendatang baru karena ia lebih lama berkecimpung di dunia peran dari pada sang rival—baru dua bulan menjalin hubungan dan mereka akan segera bertunangan. Mereka bahkan langsung tinggal bersama setelah Natasha memutuskan hubungan dengannya. Atau mungkin sebelumnya? Entahlah.


“Itu artinya dia tak benar-benar mencintamu,” kata Joshua.


“Atau mungkin menurutnya aku bukan masa depan yang baik.”


“Apa maksudmu?”


“Kata ibuku, semua wanita selalu mencari pria terbaik untuk masa depannya,” ujar Jamie. “Mungkin bagi Natasha, aku tidak cukup baik.”


“Yang benar saja!” Joshua mendengus. “Memangnya apa yang kurang darimu? Kau tampan, punya pekerjaan, dan meskipun sering bersikap konyol, kau selalu serius jika menyangkut masa depan. Kau pekerja keras dan tak pernah terlibat kriminalitas. Kau bahkan tidak pernah mendapat surat tilang dan selalu membayar pajak tepat waktu. Kau juga tak pernah berkata atau berbuat kasar pada wanita. Dan yang terpenting, kau pria yang setia. Apa lagi yang dibutuhkan seorang wanita selain cinta dan kesetiaan?”


“Uang?”


“Kau sudah punya.”


“Mungkin kurang banyak.”


“Suruh saja dia menikahi Bill Gates,” sarkas Joshua. “Sudahlah, lupakan dia! Sudah jelas dia tidak mencintaimu. Kalau dia memang mencintaimu, dia tidak akan melihat selain dirimu.”


Jamie diam. Mudah bagi Joshua menyuruhnya melupakan Natasha, namun sama sekali tidak mudah untuknya.


Meski nalarnya membenarkan ucapan Joshua, hatinya tak sejalan. Banyak yang telah terjadi selama tiga tahun kebersamaan mereka.


Hh… andai saja Ceria ada di sini. Sayangnya, saat ini gadis itu sedang berada di Miami untuk syuting video klip. Padahal keberadaan gadis itu merupakan pengalihan yang bagus dari Natasha. Hanya dengan melihat senyumnya saja perasaan Jamie langsung menjadi lebih baik.


Bukan berarti Ceria telah menggantikan posisi Natasha. Tidak, tentu saja bukan begitu. Sampai saat ini, seluruh perasaan Jamie masih penuh oleh Natasha. Ia bahkan masih berharap Natasha akhirnya menyadari bahwa hanya Jamie yang dicintainya dan memutuskan kembali. Ia masih bermimpi membangun keluarga bersama Natasha.


Lalu, apa arti kehadiran Ceria bagi Jamie? Entahlah. Mungkin hanya sebagai penghibur, plester penyembuh luka, atau wiski yang selalu berhasil membantu menenangkannya saat sedang galau?


Tidak. Ceria lebih berharga dari itu. Mungkin lebih tepat kalau Ceria adalah malaikat penjaga yang akan selalu melindungi dan menangkapnya saat terjatuh.


***


“Kurasa sebaiknya aku berhenti dari The Hunters,” kata Jamie saat makan malam.


“Apa?” Zack dan Joshua yang menemaninya malam itu sontak menghentikan makan mereka dan serempak menatap Jamie seolah ia baru mengatakan, ‘Aku melihat babi ungu terbang melintasi jendelaku’.


Jamie menghela napas panjang sebelum berkata dengan lebih jelas, “Aku akan berhenti dari The Hunters.” Sejujurnya sangat berat baginya mengatakan hal itu.


“Apa kaubilang?” Joshua memekik dengan alis bertaut sempurna. “Kau pasti bercanda, kan?”


Jamie menggeleng pelan. “Sayangnya tidak.”


Wajah Joshua berubah tegang. Rahang perseginya tampak mengeras. Bibir tipisnya bertaut rapat tanda ia tengah menahan ledakan di dalamnya. Setelah mengenalnya bertahun-tahun bahkan sudah menganggapnya adik sendiri, Jamie jadi hafal gestur itu.


“Apa kau sudah memikirkannya?” Zack jauh lebih tenang ketimbang Joshua.


“Ya,” jawab Jamie.


“Boleh aku tahu alasannya?” tanya pria 35 tahun itu.


“Aku… ingin bermain film.”


“Kau bisa bermain film tanpa harus keluar dari The Hunters,” balas Zack. “Biasanya juga begitu, kan? Joshua dan Ceria juga tetap bisa membintangi beberapa film di tengah syuting The Hunters.”


“*Well*, aku… ingin lebih fokus pada film. Aku ingin lebih banyak mengikuti casting,” ujar Jamie. “Meskipun Eric tak pernah melarangku bermain film, tapi The Hunters sangat menyita waktuku sehingga aku tidak punya banyak waktu untuk mengikuti casting film.”


“Aku sudah sering menawarimu film, tapi kau menolak,” ujar Zack. “Kaubilang tak mau memforsir tenagamu.”


“Kau yakin?”


“Ehm… ya,” sahut Jamie, berusaha terdengar yakin. Sejujurnya, ia sama sekali tidak yakin. Bagaimanapun, semua yang terlibat dalam serial itu sudah ia anggap keluarga. Namun, ia harus melakukannya. Harus ada yang dikorbankan untuk meriah mimpinya.


“Kenapa tiba-tiba kau ingin bermain film?” Zack ingin tahu. “Kupikir selama ini kau sudah sangat nyaman dengan serial.”


“Karena Natasha,” geram Joshua, tidak lagi bisa menahan emosinya. “Aku tidak tahu apa yang dikatakan wanita itu padamu, tapi kau ingin bermain film karena wanita itu.” Ia menatap tajam wajah Jamie. “Kau mendadak ingin berhenti dari The Hunters dan memutuskan fokus ke film setelah melihat Natasha bersama aktor film. Aku benar, kan?”


Jamie hanya diam. Ia bahkan tidak berani balas menatap Joshua. Bukannya ia takut melihat Joshua yang sedang marah, tetapi ia hanya sedang tidak ingin bertengkar. Tidak dengan Joshua yang selama ini selalu ada di sisinya saat ia sangat membutuhkan dukungan.


Joshua bangkit tanpa mendorong kursinya terlebih dahulu, sehingga menimbulkan suara gaduh dan membuat meja makan sedikit berguncang. “Zack, urus dia!” cetusnya tanpa menghiraukan kegaduhan yang ia timbulkan. “Aku sudah tak peduli lagi.” Ia pun melangkah pergi dengan langkah panjang.


“Damn!” Jamie mengumpat pelan, lalu beranjak menyusul sahabatnya. “Joshua, tunggu!”


Namun Joshua terus melangkah seolah tak mendengar seruan Jamie. Derap langkahnya menandakan bahwa ia sedang luar biasa kesal.


“Joshua, dengarkan aku dulu!” Jamie berhasil meraih lengan Joshua saat pria tegap itu berkutat dengan kunci mobilnya.


Joshua berbalik dan langsung menyergah, “Apa?! Apa lagi yang perlu kudengar? Bukankah semuanya sudah jelas? Meskipun kau tak mengatakan apa-apa, aku tahu kau ingin berhenti dari The Hunters karena Natasha.”


“Lalu kenapa?” Jamie jadi ikut emosi mendengar perkataan Joshua yang memojokkannya. “Kenapa kau marah? Ini hidupku. Aku yang berhak membuat keputusan. Terserah aku mau melakukan apa. Karena Natasha atau bukan, aku berhak melakukan apa pun yang kumau. Kau tak berhak marah-marah!”


Rahang Joshua tampak makin mengeras. “Kau benar,” desisnya. “Ini hidupmu. Jadi, lakukan apa pun yang kau suka. Kau tak butuh aku atau siapa pun. Dan katakan pada Zack untuk tidak meneleponku saat kau terlibat masalah.” Joshua membuka pintu mobilnya, lalu masuk dan membanting pintu dengan keras. Beberapa detik kemudian, Mercedes hitamnya sudah melaju kencang meninggalkan halaman rumah Jamie.


Jamie kembali mengumpat entah kepada siapa, lalu melangkah memasuki rumahnya dengan langkah kesal. Ia tidak mengerti kenapa Joshua harus semarah itu hanya karena ia berniat berhenti dari The Hunters. Ia bisa mengerti kalau Joshua kecewa. Mereka sudah bekerja bersama bertahun-tahun, bahkan karena serial itulah mereka jadi dekat. Tapi kan tidak perlu semarah itu. Ya Tuhan, itu kan cuma serial televisi. Mereka bisa mengganti aktor kapan saja. Kenapa sahabatnya mendadak begitu dramatis?


***


“Menurutku sebaiknya kaupikirkan masak-masak dulu,” saran Zack sembari meneguk kopi yang baru diseduhnya dan memberikan secangkir pada Jamie. “Kau kan sedang dalam perasaan kurang baik. Jangan sampai kau membuat keputusan dalam keadaan emosi dan menyesal di akhir.”


Jamie menghirup kopinya. Ia bisa saja berkata ia sudah memikirkannya, namun tak bisa memungkiri kalau saat ini ia juga dalam keadaan emosi. Joshua benar, ia memang mengambil keputusan itu karena Natasha.


“Kurasa sebaiknya kau berlibur.”


“Apa?” Jamie menatap Zack dari balik cangkirnya.


“Kau perlu menenangkan hati dan pikiranmu,” sahut Zack. “Pergilah berlibur. Aku sudah mengosongkan jadwalmu sampai akhir bulan.”


“Berlibur, ya,” gumam Jamie sambil kembali menghirup kopinya. Ia tak pernah memikirkan liburan menjelang musim semi seperti ini. Biasanya ia hanya berlibur saat musim panas—itu pun kalau tidak sibuk dengan The Hunters—atau di musim dingin bersamaan dengan libur Natal. “Ke mana?”


“Ke mana saja, terserah,” jawab Zack. “Kau bisa pergi ke Miami, Karibia, Hawaii, atau Bali. Ke mana saja asal keluar dari L.A.”


“Menurutmu aku harus melakukannya?”


“Absolutely,” sahut Zack yakin. “Keluar dari L.A. akan membuat perasaanmu lebih baik. Dan saat kau sudah bisa berpikir jernih nanti, baru kau boleh mengambil keputusan.”


Jamie meletakkan cangkir kopinya. Mungkin ia memang harus mengikuti saran Zack.


“Well, aku harus pergi.” Zack bangkit setelah menandaskan kopinya. “Telepon aku kalau kau butuh apa-apa. Pergilah berlibur, tapi jangan terlalu lama. Pertengahan April nanti ada jadwal meet and greet bersama penggemar The Hunters. Kau harus datang apa pun keputusan yang kauambil nantinya.”


Setelah berkata demikian, Zack pun melenggang pergi. Namun, beberapa langkah sebelum mencapai pintu, ia kembali berbalik. “Satu lagi,” katanya. Setelah Jamie menoleh, ia melanjutkan, “Kau harus berbaikan dengan Joshua.”


Selepas itu, Zack benar-benar berlalu. Meninggalkan Jamie sendiri di dapur, atau lebih tepatnya di rumahnya yang luas.


Meski sudah terbiasa sendirian di rumah, belum pernah Jamie merasa sesepi ini. Mungkin karena satu minggu ini ia terbiasa ditemani teman-temannya. Atau mungkin kekalutan yang melanda yang membuatnya merasa kesepian.


Seandainya saja Ceria ada di sini, pikiran Jamie kembali melanglang pada Ceria, ia pasti tak akan merasa kesepian.


Tidak seperti Joshua yang meninggalkannya saat marah, Ceria tidak akan pernah meninggalkannya sendirian. Meski kecewa mendengar niatnya, Ceria akan selalu berada di sisinya.