
Rumah makan itu terletak di Cedar Street. Tak bergitu jauh dari Cedar Hill High School, yang terletak di Longhorn Boulevard tempat Jamie dan kedua saudaranya dulu bersekolah. Tidak begitu besar, tapi dilihat dari jumlah mobil yang lebih dulu terparkir di sekitar mereka, sepertinya cukup ramai. Tak tampak seperti restoran mewah tapi juga jauh dari kata biasa-biasa saja. Tempat parkirnya luas dan alunan musik lembut terdengar dari luar.
Ceria hanya diam memandang tempat itu dari tempat duduknya hingga tak sadar Jamie sudah keluar
dan kini membukakan pintu penumpang untuknya.
“Kau mau keluar agar kita bisa segera makan atau hanya mau diam di situ?”
Ceria tersadar. “Oh, ya, sorry.” Ia segera melepas sabuk pengamannya sebelum meraih tangan Jamie yang terjulur dan melangkah memasuki restoran.
“Kau mau pesan apa?” tanya Jamie begitu mereka duduk dan sama-sama mengamati menu. Seorang pelayan wanita berdiri di samping meja mereka.
Ceria mendongak menatap pelayan dan menjawab, “Potato wedges untuk appetizer dan sirloin steak untuk main course.”
“Bagaimana dengan minuman?”
Karena Ceria tak meminum alkohol, ia memilih jus blueberry. Pelayan itu mengangguk dan beralih menatap Jamie yang akhirnya memesan egg roll untuk appetizer dan fish and chips untuk menu utama, juga red wine untuk
minumnya.
“Anda ingin memesan dessert sekarang atau setelah makan?”
“Sekarang saja,” putus Jamie. “Tapi tolong diantar setelah kami selesai makan. Aku ingin crème brulee dan—”
“Lemon cheese cake.” Ceria menimpali sebelum Jamie bertanya.
“Baiklah. Pesanannya akan segera kami antar. Silakan panggil saya jika membutuhkan sesuatu.” Setelah mengangguk sopan, pelayan itu berjalan meninggalkan mereka.
“Apa kau sering kemari?” tanya Ceria sambil memindai sekeliling.
Nyaris semua meja terisi, hanya tersisa tiga atau empat saja yang kosong. Terdapat panggung kecil di tengah ruangan dengan seorang penyanyi pria bersuara lembut dan sekelompok pemain musik. Lampunya tidak terlalu terang, tetapi juga tidak remang-remang—lembut dan menenangkan.
“Lumayan.” Jamie menjawab. “Setiap kali pulang, aku selalu menyempatkan diri berkunjung kemari satu atau dua kali.”
“Hm….” Tatapan Ceria kembali pada Jamie. “Seperti hal wajib yang harus kaulakukan, ya. Apa masakannya begitu enak?” ia mengangkat alisnya. “Atau kau mengincar salah satu pelayan di sini?”
Jamie tertawa. “Tentu saja tidak,” sahutnya menjawab pertanyaan terakhir Ceria.
“Oh, jangan-jangan kau menyukai manajernya?”
Jamie semakin keras tertawa. “Tidak, tidak,” ujarnya. “Aku tidak mungkin menyukai Pablo. Hei, dia sudah 45 tahun dan punya dua anak.”
Ceria tertawa kecil. “Jadi?”
“Masakannya enak dan,” Jamie menatap sekelilingnya, “suasananya nyaman.”
“Apa kau punya kenangan bersama seseorang di tempat ini?”
“Ya, tidak juga.”
Ceria mengernyit. Jawaban macam apa itu? Ya atau tidak?
Jamie tertawa menyadari kernyitan di kening Ceria. Tanpa bicara pun ia tahu apa yang ada di dalam kepala mungil gadis itu. “Well, aku memang punya kenangan bersama seseorang di tempat ini,” akunya. “Ibuku.” Jamie melanjutkan sebelum gadis di depannya kembali bertanya.
“Ibumu?”
Jamie mengangguk. “Mama sering mengajakku kencan kemari dulu. Terutama saat aku sedang sedih,” jelasnya. “Tadinya aku memilih pulang selain memang rindu kampung halaman, aku ingin bertemu dan bercerita padanya. Tapi, ya, kau tahu sendiri. Bodohnya aku yang lupa jika kedua orangtuaku sedang berbulan madu entah untuk kali keberapa. Dan saat Papa bilang akan keliling dunia, aku tahu dia tidak main-main.”
Ceria meraih sebelah tangan Jamie dan meremasnya lembut. “Kau masih memilikiku untuk berbagi,” tuturnya. “Kau bisa bercerita apa pun.”
Jamie balas menggenggam tangan Ceria dan tersenyum tipis. Namun momen melankolis itu terpaksa terhenti karena kedatangan pelayan yang membawakan pesanan mereka. Tangan keduanya otomatis terlepas dan memperhatikan makanan yang diletakkan di meja.
Setelah mengucapkan terima kasih dan pelayan itu pergi, Ceria mulai mengamati makanannya yang tampak lezat.
“Cobalah,” pinta Jamie. “Memang makanan yang umum ada di mana-mana. Tapi rasanya… ehm… bagaimana ya,
bedalah pokoknya. Seperti ada ciri khas tersendiri.”
Ceria tersenyum seraya menusuk sebuah kentang dan menggigitnya. “Nice,” gumamnya, lalu memotong dan mencicipi steak-nya. “Hm… ya, kurasa kau benar. Ini enak.” Dan terasa lebih istimewa karena kau ada di hadapanku, sambungnya dalam hati.
Jamie tersenyum puas dan mulai menyantap makanannya sendiri. “Ceritakan tentang dirimu,” pintanya setelah menelan makanan pembukanya.
“Cerita apa?” balas Ceria. “Kau sudah mengenalku lama, kan? Kita bekerja bersama hampir sepanjang tahun. Kau nyaris tahu segalanya tentangku. Semua kebiasaan baik dan burukku.”
“Ehm… ceritakan tentang keluargamu,” ujar Jamie. “Kau tidak pernah menceritakan apa pun tentang mereka. Kau bahkan tidak memakai nama belakangmu. Hanya orang-orang dekat saja yang tahu namamu Ceria Richards.”
“Tapi, yeah, itu pun kalau kau tak keberatan.” Jamie cepat-cepat menambahkan. Sadar tidak semua orang senang membicarakan keluarganya. “Kalau keberatan juga tak masalah. Kita bisa mengobrol tentang hal lain.”
“Tidak keberatan, sih sebenarnya,” balas Ceria. “Tapi kurasa tidak ada yang spesial dari keluargaku yang perlu diceritakan. Mereka hanya orang biasa. Bukan selebritas, pemenang nobel, atau miliarder. Memangnya apa yang ingin kau ketahui?”
“Ceritakan tentang orangtuamu,” pinta Jamie. “Aku masih tidak paham. Kaubilang kau orang Indonesia, tapi kudengar ayahmu tinggal di Amerika.”
“Ya, ibuku memang orang Indonesia. Tapi ayahku orang Amerika yang juga memiliki darah Thailand,” jelasnya. “Mereka bertemu saat ayahku mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Indonesia. Mereka lalu berkencan. Kemudian setelah lulus, ayahku mendapat pekerjaan di sana dan mereka menikah. Tapi mereka bercerai saat aku berusia tiga tahun. Aku tetap tinggal di Indonesia bersama ibuku dan ayahku kembali ke negara asalnya.”
“Hm… jadi kau berpisah dengan ayahmu sejak kecil,” gumam Jamie. “Kenapa mereka bercerai?”
Ceria mengangkat bahu. “Aku tak begitu mengerti, sih sebenarnya,” balasnya. “Kemungkinan karena izin tinggal ayahku di Indonesia habis, sementara ibuku tidak mau meninggalkan negaranya. Satu-satunya keluarga ibuku hanya Nenek. Ibuku tidak mungkin meninggalkannya. Tapi mungkin juga ada alasan lain. Saat menikah, mereka masih sangat muda. Entahlah, aku tidak begitu memikirkan dan tak ingin mengungkitnya. Menurutku itu masalah pribadi mereka. Selama hubungan mereka baik-baik saja, kurasa tak ada yang perlu dipermasalahkan.”
“Hm… jadi sampai sekarang mereka masih terus berkomunikasi?” tanya Jamie sembari mengunyah makanannya.
“Tentu,” sahut Ceria. “Sejak dulu komunikasi mereka tak pernah putus. Ayahku tetap membiayai dan masih sering mengunjungiku setahun dua kali. Kadang aku dan ibuku yang mengunjunginya. Saat mau menikah lagi pun, ayahku meminta persetujuan ibuku.”
“Eh, jadi ayahmu menikah lagi?” Jamie tampak terkejut.
Ceria mengangguk. “Istrinya sangat baik. Dia menyayangiku seperti anaknya sendiri. Hubungannya dengan ibuku juga sangat baik, seperti kakak-adik,” ceritanya. “Aku juga punya dua adik laki-laki dari pernikahan kedua ayahku.”
“Bagaimana dengan ibumu? Apa dia juga menikah lagi?”.
“Nope,” jawab Ceria. “Aku sering memintanya menikah lagi. Ibuku masih terlihat muda dan cantik. Cukup banyak pria yang mendekatinya, tapi dia tidak mau. Entah apa alasannya, aku tidak tahu,” Ceria mengedikkan bahu. “Mungkin ibuku lebih nyaman sendiri.”
“Atau mungkin dia tidak ingin ada yang menggantikan posisi ayahmu, baik untukmu atau untuk dirinya sendiri?”
Ceria kembali mengedikkan bahu. “Mungkin saja. Aku tak pernah tahu dan tidak ingin mengungkitnya dengan ibuku. Keadaan kami sekarang sudah cukup baik menurutku. Biar saja itu menjadi rahasia mereka.”
“Ya,” Jamie setuju. “Lalu, bagaimana hubunganmu dengan adik-adikmu?”
“Hm… kedengarannya menarik,” gumam Jamie.
Ceria mengangkat alisnya. “Menurutmu begitu?”
Jamie mengangguk seraya menyesap minumannya. “Tidak semua keluarga bercerai bisa seharmonis itu,” katanya. “Orang tuamu bercerai, tapi itu tak menjadikanmu seperti anak dari keluarga broken home. Well, keluargamu tidak tampak seperti broken home.”
“Memang tidak,” Ceria setuju. “Perceraian itu hanya perubahan status antara ayah dan ibuku. Selebihnya, kami tetap seperti keluarga normal.”
“Lalu, bagaimana dengan Theo?”
Ceria mengerutkan kening dan meletakkan kembali gelasnya setelah menyesap isinya sedikit. “Kenapa Theo?”
“Kau pernah bilang kalau kalian saudara,” kata Jamie. “Apa kalian benar-benar memiliki hubungan darah? Atau sebatas ‘kami berteman sangat dekat hingga seperti saudara’?”
“Kami benar-benar bersaudara,” jawab Ceria. “Yeah, meski agak jauh, sih. Kami bahkan kali pertama bertemu saat aku sudah tinggal bersama ayahku.”
Jamie hanya diam menanti kelanjutan cerita Ceria sambil menyantap makanan penutupnya yang baru saja datang.
“Nenek Theo kakak perempuan kakekku dari pihak ayah. Secara tidak langsung, kami adalah saudara sepupu,” jelas Ceria.
“Oh, pantas nama belakang kalian beda,” komentar Jamie. “Dan wajah Theo juga sama sekali tak berbau Asia.”
“Yeah, tentu saja. Theo mengikuti nama belakang kakeknya. Mereka sama-sama orang Amerika. Tentu saja dia tidak punya darah Asia. Kakekku yang menikah dengan wanita Thailand. Jadi, ayahku yang punya darah Asia.”
“Lalu ayahmu menikah dengan orang Indonesia. Dan jadilah kau,” timpal Jamie. “Wajahmu sangat Asia. Saat pertama melihatmu, aku sama sekali tak menyangka ayahmu orang Amerika.”
Ceria mengangguk setuju. “Ya, lebih banyak darah Asia yang mengalir di tubuhku,” ujarnya sembari menyantap lemon cheese cake miliknya. “Ah, ini lezat!” Ceria memejamkan matanya dengan nikmat.
Jamie tersenyum melihat reaksi Ceria yang begitu menikmati makanannya—so adorable!—dan tak bertanya apa-apa lagi setelahnya. Sudah cukup yang ia dengar tentang keluarga Ceria. Dan entah kenapa, ia merasa begitu lega
mengetahui Theo benar-benar saudara Ceria. Meski saudara jauh.
***
Ceria menengadahkan kepalanya dan menatap takjub jutaan bintang yang berkelip indah di langit pekat di atasnya.
“Wah… indahnya!” Ceria berseru kagum sembari mengangkat tangan seolah hendak meraup bintang-bintang itu. “Aku belum pernah melihat bintang seindah ini. Mereka terasa begitu dekat.”
Dalam perjalanan pulang setelah makan malam, Jamie terlebih dahulu mengajaknya ke sebuah bukit yang hanya berjarak beberapa mil dari rumahnya. Katanya, pemandangan di sana sangat indah. Jamie sering kemari, terutama kalau sedang sedih atau ada masalah.
Awalnya Ceria bingung, memangnya apa yang bisa dilihat dari bukit pada malam hari? Kalaupun pemandangan di sekitarnya cantik, tapi kan tidak bisa dilihat kalau gelap. Namun, begitu sampai di atas bukit, barulah ia mengerti maksud Jamie.
Jamie melingkarkan kedua tangannya pada perut Ceria dari belakang, lalu menelusupkan kepala di antara leher dan bahu gadis itu. “Aku sering datang ke sini,” bisiknya di telinga Ceria.
“Aku tahu,” Ceria menyandarkan kepalanya di dada bidang Jamie. “Kau sudah mengatakannya tadi.”
“Benarkah?” Jamie pura-pura lupa.
Ceria mengangguk. “Kau sering datang ke sini, terutama kalau sedang sedih atau ada masalah,” katanya. “Apa itu artinya saat ini kau sedang bersedih?”
“Tidak,” Jamie menolehkan kepala dan mengecup singkat leher Ceria. “Aku malah sedang berbahagia saat ini.” Ceria bisa merasakan napas Jamie di sisi lehernya yang sukses membuat tengkuknya meremang. “Aku baru saja menikmati makan malam yang sangat menyenangkan bersama gadis yang sangat cantik.”
Sontak Ceria langsung memalingkan wajahnya yang memanas ke arah berlawanan. “L-lalu, kenapa kau mengajakku kemari?”
Jamie mengangkat kepalanya menatap langit. “Aku ingin membagi keindahan dan hal yang kusukai denganmu,”
jawabnya. “Lagi pula, aku datang kemari tidak cuma saat sedang sedih saja, kok. Saat iseng atau sedang bahagia pun aku sering kemari.”
“Hmm….” Hanya gumamam itu yang meluncur dari bibir mungil Ceria.
“Apa kau suka?” Jamie bertanya meski sebenarnya sudah tahu jawabannya setelah melihat reaksi Ceria saat baru tiba tadi.
“Sangat,” sahut Ceria. “Apakah saat masih terang pemandangannya juga bagus?”
“Begitulah. Kau bisa melihat Joe Pool Lake dari sini,” jawab Jamie sebelum keheningan menyelimuti mereka.
Ceria tidak tahu apa itu Joe Pool Lake atau bagaimana keindahannya. Tetapi ia lebih memilih diam dan tak bertanya lebih jauh. Lebih baik menikmati kebersamaan mereka dan keindahan yang disuguhkan alam malam ini. Toh ia juga tak begitu ingin tahu. Jamie sendiri juga tampaknya tak berniat menjelaskan lebih lanjut.
Dalam diam, keduanya hanya menengadah ke arah langit, mengagumi pemandangan indah yang tersaji di atas
sana dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Jamie dengan lembut memutar tubuh Ceria agar menghadapnya. Dan sebelum Ceria sempat bertanya ada apa, bibirnya sudah dibungkam oleh Jamie dengan bibirnya yang lembut dan manis.
Masih sedikit kaget, Ceria tak merespons ciuman itu dan sibuk dengan debaran jantungnya sendiri. Ia baru tersadar saat Jamie menyapukan lidah di bibir bawahnya. Spontan ia membuka mulut untuk memberi akses lidah Jamie masuk. Dan mereka pun saling berperang lidah di bawah sinar bintang.
***
Hampir tengah malam saat Jamie memasukkan mobil ke pekarangan rumah dan memarkirnya asal.
“Terima kasih. Malam ini sangat menyenangkan,” ucap Ceria sembari membuka sabuk pengaman.
“Tidak. Aku yang berterima kasih karena kau mau menemaniku malam ini,” sanggah Jamie. “Kau yang membuat malam ini terasa sangat menyenangkan.”
Ceria hanya tersenyum menanggapi ucapan Jamie. Tidak mau membalas lagi karena pasti akan panjang. Tangannya beralih membuka pintu mobil dan keluar bersamaan dengan Jamie di sisi lain.
“Jamie, baby, kau sudah pulang?!” Seorang wanita cantik berlari menuruni tangga beranda menghampiri mereka.
Natasha.
Ceria membeku di tempatnya saat wanita itu dengan cepat menubruk Jamie dan melingkarkan lengannya ke tubuh pria itu.
“Honey, aku sangat merindukanmu,” ujar Natasha sembari mempererat pelukannya tanpa memedulikan keberadaan Ceria seolah tak ada orang lain di tempat itu selain Jamie dan dirinya. “Aku minta maaf.”
Jamie yang masih syok hanya diam selama beberapa saat. Hingga Natasha dengan berani mencium bibirnya, barulah Jamie tersadar dan entah kenapa tangannya balas memeluk pinggang wanita itu.
Ceria yang menyaksikan reaksi Jamie, seketika jantungnya mencelus. Sumber kehidupannya itu seolah terbanting ke dinding dan hancur tak bersisa. Dengan langkah berat dan mata memanas, Ceria melangkah pergi. Hingga ia memasuki rumah, kedua insan itu tetap bercumbu. Jamie seolah melupakan keberadaannya, padahal baru saja mereka menghabiskan malam menyenangkan bersama. Kata-kata manis Jamie bahkan masih terngiang di telinganya. God, itu baru beberapa belas menit yang lalu. Dan kini, semua itu terasa seperti omong kosong tak berarti.
Ceria berlari menaiki tangga begitu air mata yang sedari tadi berusaha ia tahan berhasil lolos dari pelupuk matanya. Saat sampai di kamar, Ceria mendengar mesin mobil menyala. Ia melangkah ke jendela dan melihat mobil Jamie yang baru saja mereka gunakan kembali keluar pekarangan.
Mereka pergi. Jamie dan Natasha. Entah ke mana.
Lutut Ceria mulai goyah dan tubuhnya pun merosot ke lantai kayu. Dengan punggung bersandar pada dinding di bawah jendela, Ceria menangis pilu. Air mata mengalir deras membasahi wajah hingga turun ke lantai. Tubuhnya tak lagi bisa menahan rasa sakit yang menghunjam di dalam dadanya. Ia nyaris meraung kalau saja tidak ingat saat ini sedang berada di rumah Jamie. Ia menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan agar suara tangisnya tak terdengar Maddy yang tidur di kamar sebelah.