
25
Ternyata Theo tidak menghajar Jamie. Well, setidaknya Theo tidak jadi melontarkan kepalan tangannya ke wajah Jamie—yang dengan berani muncul di depan pintu rumahnya setelah membuat adik kesayangannya menangis—karena ditahan oleh Javier. Untunglah, dengan begitu wajah tampan Jamie—yang merupakan aset—bisa terselamatkan. Meski sebenarnya Jamie juga sudah mempersiapkan dirinya untuk menerima apa pun reaksi yang akan dilancarkan Theo padanya. Ia tak peduli selama bisa mendapat informasi mengenai keberadaan Ceria. Itu pun
kalau Theo mau memberi tahunya.
Sembari mempersilakan Jamie dan Joshua masuk dan menunggu di ruang tamu, Javier membawa kekasihnya ke
belakang untuk ditenangkan. Tidak mudah tentu saja. Sejak mengetahui apa yang membuat Ceria begitu terluka, Theo mati-matian menahan diri untuk tidak mendatangi rumah Jamie dan menghajar pria yang telah mempermainkan perasaan gadis kesayangannya itu, yang notabene adalah teman dekatnya sendiri. Yeah, tentu saja karena waktu itu Ceria mencegah dan membuatnya berjanji tidak akan melakukan apa pun pada Jamie.
Seperti biasa, gadis itu tidak dan tak akan pernah menyalahkan Jamie. Ia selalu menganggap semua yang telah terjadi adalah kesalahannya sendiri. Ia sendiri yang mencintai Jamie. Ia sendiri yang membiarkan angannya membumbung terlalu tinggi. Kedekatan mereka selama di peternakan, keintiman yang ditunjukkan Jamie, semua perhatian, segala pelukan dan ciuman, juga kencan, mungkin Jamie tak bermaksud apa pun tentang semua itu. Bisa saja Jamie melakukan itu murni sebagai sahabat. Atau seperti perkiraan awalnya, Jamie hanya terbawa suasana. Jamie sedang berada dalam mode hopeless romantic setelah dicampakkan Natasha, tapi Ceria sendiri yang salah memahami. Makanya begitu Jamie kembali pada Natasha, ia merasa tersakiti.
Tentu saja Theo tak sependapat. Sahabat tidak akan mencium bibirnya setiap saat dan mengajaknya kencan romantis. Siapa pun bisa melihat kalau perlakuan Jamie pada Ceria tidak bisa disamakan dengan perlakuan seorang sahabat. Apalagi alasan terbawa suasana atau hopeless romatic. Omong kosong! Semua alasan itu tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Siapa pun pasti akan merasa melambung jika diperlakukan sedemikian manis oleh orang yang dicintai, meski tanpa ada pernyataan cinta secara langsung dari yang bersangkutan. Jamie jelas-jelas telah memberikan harapan pada Ceria, sebelum akhirnya ia kembali dihempaskan ke dasar bumi. Semuanya salah Jamie. Kalau memang Jamie tidak mencintai Ceria, tak perlulah ia memberikan harapan palsu. Itu kan mempermainkan perasaan orang namanya. Mengingatnya saja membuat darah Theo mendidih.
Dan setelah berusaha keras meredam hasrat untuk membunuh Jamie dengan cara menghindari semua tempat
atau acara yang memungkinkan mereka bertatap muka, kini seenaknya saja Jamie muncul di hadapannya. Gejolak yang sempat meredup itu pun kembali muncul ke permukaan. Tangannya begitu gatal ingin menghantam wajah tampan yang sering hadir dalam mimpi Ceria itu. Kalau saja Javier tidak menahan dan mengingatkannya akan
janjinya pada Ceria, mungkin saat ini wajah Jamie sudah tak bisa dikenali lagi.
Ah, persetan dengan janji itu sebenarnya. Satu-satunya hal yang membuatnya batal menghajar Jamie hanya karena Javier begitu kuat menahan tubuhnya. Meski terlihat lebih kecil, sesungguhnya kekuatan Javier jauh lebih besar dibanding Theo. Atau memang karena Theo saja yang tidak pernah bisa melawan sang dominan.
“Sudah merasa lebih tenang?” Javier menunduk dan menyentuh pipi kiri Theo dengan tangan kanannya.
“Tidak juga,” dengus Theo. “Seharusnya kau tadi tidak menahanku. Bocah itu perlu diberi pelajaran.”
Javier tersenyum tipis dan mendekatkan wajahnya pada wajah Theo. “Jangan bertingkah seperti remaja deh,” ujarnya. “Aku tahu kau sangat menyayangi Ceria—aku pun menyayanginya. Tapi kita ini sudah dewasa. Sudah tidak pantas menghadapi masalah dengan emosi. Lagi pula, ini kan urusan cinta Ceria dan Jamie. Kita tidak berhak ikut campur. Kita juga tak berhak menghakimi siapa yang salah dalam masalah mereka.”
“Sudah jelas Jamie yang salah!” Theo berkeras. “Aku tidak bisa terima dia mempermainkan perasaan Ceria seperti itu.”
“Aku mengerti,” balas Javier sabar. “Tapi Ceria sudah dewasa. Dia bisa mengatasi perasaannya sendiri. Biarkan dia tumbuh dengan sendirinya. Jangan terlalu mencampuri urusan pribadinya, terutama urusan asmara. Tugas kita hanya menangkapnya saat terjatuh dan mengobatinya saat terluka.”
“Tapi—”
“Apa Ceria menginginkanmu melakukan ini?” potong Javier. Theo mendengus dan memalingkan mukanya. “Tidak, kan?” lanjutnya. “Ceria bahkan tidak menyalahkan Jamie. Setidaknya, hormatilah permintaan Ceria untuk tak menyakiti Jamie. Kalau ada yang berhak membalas perlakuan Jamie, Ceria-lah orangnya, bukan kau atau aku. Lagi
pula, semua orang pernah berbuat salah. Kau tidak perlu membalas dengan menyakiti Jamie. Kalian kan sudah berteman sejak lama. Masa kalian mau putus hubungan begitu saja? Kan tidak gampang mendapat teman yang baik.”
“Memangnya menurutmu dia masih teman yang baik setelah apa yang dia lakukan pada adikku?” balas Theo, kali ini tanpa emosi, tapi lebih terdengar merajuk.
Theo mendengus, tapi tidak membantah. Memang, sih teori Javier ada benarnya. Tapi tidak mudah baginya memisah-misahkan urusan seperti itu. Baginya, orang yang sudah menyakiti adiknya berarti bukan teman yang baik.
“Sebaiknya temui tamumu sekarang,” Javier menegakkan tubuhnya. “Sepertinya mereka sudah terlalu lama menunggu.”
“Bukan aku yang mempersilakan mereka masuk.” Theo mendecih, masih memasang sikap merajuk.
“Sudahlah, berhenti bersikap kekanakan!” tegur Javier. “Sepertinya Jamie ingin membicarakan sesuatu. Yeah, kurasa berhubungan dengan Ceria, sih.”
Kembali Theo mendengus. “Aku tahu. Entah apa maksudnya, tapi kurasa dia mau menanyakan keberadaan Ceria.”
“Dan apakah kau akan memberitahunya?”
Theo berdiri. “Bukan urusanmu!” tukasnya, lalu berjalan meninggalkan dapur. Tapi Javier cepat-cepat menyejajarinya. “Kenapa mengikutiku?”
“Mana mungkin aku membiarkanmu bertatap muka dengan Jamie sendirian,” balas Javier santai.
“Kenapa? Kau takut aku menghajarnya?”
“Ya,” jawab Javier jujur.
“Tidak akan,” kata Theo. “Aku memang masih kesal, tapi aku sudah bisa mengontrol emosiku, kok. Aku akan tetap menjaga tanganku di tempatnya. Aku kan sudah berjanji pada Ceria.”
Javier mengangkat bahu tak acuh. “Aku tetap akan menemanimu.”
Lagi-lagi Theo mendengus. “Terserah!” Lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu.
A.N : Saya malas update wkkwkww
Yang baca tiap babnya cuma beberapa biji, jadi kayaknya nggak banyak yang minat sama cerita ini :)