No One Loves You Like I Do

No One Loves You Like I Do
12


“Jadi, pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Jamie pada Joshua sembari menyesap teh hangatnya. Kedua pria itu tengah duduk santai di beranda depan selepas matahari terbenam, sambil menunggu makan malam yang tengah disiapkan Maddy dan Ceria, dengan bantuan juru masak wanita yang sudah sangat lama bekerja di peternakan keluarga Allen.


“Huh? Apa?” Joshua balas menatap bingung.


“Waktu aku mengajakmu ikut kemari, kau bilang tidak bisa karena masih ada pekerjaan. Tapi sekarang tahu-tahu kau muncul di sini,” ujar Jamie.


“Oh, ya, aku sudah tak mengambil pekerjaan apa pun.”


“Dan kau mengajak Ceria serta,” ujar Jamie. “Apa dia juga sedang kosong?”


“Ya, begitulah,” sahut Joshua. Bohong tentu saja.


“Kau tidak memaksanya ikut, kan?” Jamie menyipitkan mata curiga.


“Tidak,” sahut Joshua, kembali berbohong. “Dia sendiri yang minta ikut begitu tahu aku mau menyusulmu kemari.” Berbohong lagi. “Memangnya kenapa, sih? Kau tidak suka?” Ia cepat-cepat mengalihkan topik sebelum semakin banyak kebohongan meluncur dari mulutnya.


“Tidak, tentu saja bukan begitu,” sahut Jamie. “Aku sangat senang kalian datang kemari. Akan sangat membosankan jika hanya Maddy dan sapi yang bisa kulihat setiap  hari.”


“Oh, kukira kau terganggu dengan kemunculan kami,” ujar Joshua.


“Yang benar saja!” dengus Jamie. “Aku kan sudah mengajakmu ikut, jadi tidak mungkin aku terganggu.”


“Bagaimana dengan Ceria?”


Jamie mengerutkan kening. “Kenapa dengannya?”


“Apa kau senang aku mengajaknya kemari?” pancing Joshua. “Kalau kau tidak suka, aku akan mengantarnya pulang.”


“Tidak. Jangan!” sergah Jamie cepat. “Aku kan sudah bilang, aku senang kalian di sini. Bukankah itu sudah jelas di dalam kata ‘kalian’ itu Ceria juga termasuk.”


Aku bahkan selalu memikirkannya sejak menginjakkan kaki di sini, batinnya.


“Oh, oke,” gumam Joshua. “Tapi besok aku akan pergi.”


Kening Jamie kembali berkerut. “Apa?”


Belum sempat Jamie mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, panggilan dari arah dapur telah membahana. Karena lambung keduanya sudah sejak tadi berontak minta diisi, mereka pun menghentikan obrolan dan memelesat cepat ke ruang makan yang menjadi satu dengan dapur.


***


Seusai makan malam, Jamie dan Ceria bercengkerama di beranda depan sambil menikmati langit yang cerah tak berawan dan minum minuman ringan. Joshua langsung mengundurkan diri untuk beristirahat di kamarnya setelah


menyelesaikan makan malam. Katanya ia lelah setelah menyetir lama. Maddy juga kembali ke kamarnya untuk menulis.


“Kenapa kau memberinya nama Buddy?” Ceria bertanya sambil mengedikkan kepala ke arah Great Pyrenees besar milik Jamie yang tengah berbaring di anak tangga beranda paling bawah. “Apa tidak ada nama lain? Dude atau John Doe misalnya.”


Jamie tersenyum kecil mendengar sindiran Ceria atas nama anjingnya. Setelah meneguk minumannya, ia baru menjawab, “Sejak awal dia hanya mau datang kalau dipanggil Buddy.”


Ceria menaikkan kedua alisnya. “Jadi, kau pernah memanggilnya dengan nama lain?”


Jamie mengangguk. “Aku sudah mencoba memanggilnya dengan macam-macam nama. Spike, Lucky, Lightning, Bubu, bahkan memanggilnya dengan nama kakakku, Terry. Tapi dia tidak mau datang atau bahkan sekadar menoleh. Karena putus asa, aku panggil saja dia ‘Hei, Buddy, kemarilah!’ dan ternyata dia langsung datang.”


“Anjing yang aneh,” gumam Ceria. Buddy kan bisa dibilang bukan nama. “Mungkin pemiliknya yang sebelumnya memanggilnya Buddy.”


Jamie menggeleng. “Aku pemiliknya yang pertama,” katanya. “Dia anak dari Sally, anjing betina kami.”


“Lalu, ke mana induknya?”


“Mati tahun lalu. Kanker,” jawab Jamie.


“Maaf.”


Jamie tersenyum. “Tidak apa-apa. Lagi pula, dia sudah sangat tua. Kalaupun tidak mati karena penyakit, dia akan mati juga karena usia.”


“Ehm,” Ceria mengangguk mengerti. “Apa Buddy tidak punya saudara?” tanyanya kemudian.


“Sudah mati juga terkena banjir beberapa tahun lalu.”


“Ada Maddy,” sahut Jamie. “Dia menyayangi Buddy sebesar aku. Selain itu, Buddy juga lumayan dekat dengan Carl, salah satu pegawai peternakan yang kuperkenalkan padamu tadi. Kau ingat?”


Ceria mengangguk. “Pria tampan berambut cokelat tadi? Ya, aku ingat. Dia memang terlihat baik. Buddy pasti aman bersamanya.”


Jamie berdeham dan kembali meneguk soda kalengnya. Ekspresi wajahnya tampak kurang senang mendengar


pernyataan Ceria.


“Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?” tanya Ceria yang menyadari perubahan ekspresi di wajah Jamie.


“Tidak. Tidak ada,” Jamie menggeleng cepat. Mana mungkin ia berkata ‘aku tidak suka kau memuji pria lain’. Memang apa haknya melarang Ceria?


Jamie mengalihkan mata pada Bunddy, sebelum kembali menatap Ceria dengan seringai di bibir. “Kau berani menyentuhnya?” ia bertanya, berusaha mengalihkan topik.


Ceria kembali melemparkan pandangannya pada Buddy yang berjarak lumayan jauh darinya, lalu menggeleng.


“Tidak apa-apa. Dia kan sedang tidur,” bujuk Jamie.


“Dia hanya berbaring, tidak benar-benar tidur.”


“Tapi dia mengantuk. Ayo, cobalah! Dia tidak akan menggigitmu. Aku jamin.” Jamie berusaha meyakinkan.


Ceria masih terus menggeleng. Bahkan mulai mengkerut di kursinya.


“Aku temani deh,” bujuk Jamie lagi. “Ayo, katanya kau harus sering-sering dekat dengannya biar tidak takut.”


“Iya sih, tapi….”


“Aku akan menjagamu.” Jamie mengulurkan tangannya pada Ceria. Menatap penuh keyakinan, seolah memberi jaminan kemamanan pada gadis itu. “Ayo!”


Ceria mengesah. “Baiklah.” Ia pun menyambut uluran tangan Jamie.


Keduanya lalu beranjak dari kursi masing-masing. Namun saat sampai di ujung beranda, Ceria menghentikan langkahnya. Matanya menatap gugup anjing besar yang terbaring tiga anak tangga di bawahnya.


“Ayo, tidak apa-apa,” ucap Jamie lembut sembari menapakkan kakinya di anak tangga teratas dan menuntun Ceria untuk mengikutinya.


Pelan-pelan, Ceria melangkah semakin mendekati anjing itu. Jantungnya dag dig dug. Tangan kirinya masih berada di dalam genggaman Jamie.


Ketika tiba di anak tangga kedua dari bawah, Jamie melepaskan genggaman tangannya. “Ayo, sentuh!”.


Ceria menatap Jamie ragu-ragu, namun Jamie mengangguk meyakinkan. Sorot matanya menjanjikan perlindungan. Akhirnya, meski dengan perasaan waswas dan jantung bergemuruh, Ceria pun perlahan berjongkok dan mengulurkan tangan kanannya dengan gemetar. Beberapa inci di atas tubuh anjing itu, Ceria menarik tangannya kembali, lalu menguatkan mental dan mengulurkannya kembali dengan gerakan jauh lebih lambat daripada laju siput.


Kekonyolan yang membuat Jamie yang berdiri di sampingnya **** senyum geli itu berlangsung beberapa masa. Hingga akhirnya Ceria menarik napas panjang dan menyapukan telapak tangannya pada ujung bulu lebat itu. Tidak sampai dua detik, ia kembali menarik tangannya. Anjing itu sama sekali tak bereaksi, mungkin memang tidak merasakan apa pun. Dengan dukungan dari Jamie, Ceria kembali memberanikan diri mengulurkan tangannya menyentuh bulu tebal nan panjang itu, kali ini dengan durasi lebih lama. Dengan lembut, meski masih takut-takut, Ceria membelai bulu halus itu—ternyata tak semenakutkan yang ia kira. Bulu-bulu lembut itu terasa lucu menggelitik telapak tangannya. Ada sensasi empuk dan hangat yang menyenangkan dirasa Ceria. Ceria pun semakin asyik membelai punggung Buddy dan sedikit demi sedikit rasa takutnya menyusut.


 Jamie yang masih setia berdiri di sebelahnya menatap lega. Senyuman lebar tersungging di wajah tampannya. Kini ia tak perlu lagi memusingkan hubungan dua makhluk yang sama-sama tidak ingin dijauhinya itu. Ternyata fobia Ceria pada anjing tidak begitu parah. Terbukti dia begitu mudah menghilangkan ketakutannya hanya dengan membelai bulu anjing kesayangannya.


Tapi kemudian ia menyadari tidak semudah itu menghilangkan ketakutan Ceria pada anjingnya. Karena saat tiba-tiba Buddy mengangkat kepalanya, gadis itu langsung terpekik dan melompat berdiri hingga terhuyung menabraknya. Untung saja Jamie—dengan salah satu kaki menapak anak tangga di atasnya—dengan sigap menyeimbangkan tubuhnya dan melingkupi tubuh mungil itu dengan kedua lengannya. Kalau tidak, mereka bisa terjerembab ke belakang bersamaan.


Ceria menenggelamkan kepalanya di dada bidang Jamie. Aroma keringat bercampur parfum beraroma mint favorit Jamie meresap melalui indra penciumannya dan menjalar hingga ke ubun-ubun. Meski sudah sangat hafal dengan


aroma itu lantaran seringnya mereka beradegan mesra dalam serial yang mereka bintangi, Ceria tetap tak pernah bosan menghirup nuansa maskulin yang dikeluarkan Jamie.


Meski jantungnya memacu dengan kecepatan setara mobil Formula dan perutnya melilit serta lututnya gemetar setiap kali Jamie memeluknya baik dalam adegan maupun kehidupan nyata, Ceria tetap kerasan berlama-lama berada dalam keadaan yang lucunya, juga memberinya rasa nyaman itu.


Ceria merasakan ketenangan yang absurd setiap kali mendengar detak jantung Jamie yang berirama stabil. Tapi, tunggu! Kali ini jantung Jamie berdetak dengan tidak normal. Telinga kanan Ceria yang menempel di dada Jamie dapat mendengar dengan jelas bahwa organ vital di balik rusuk itu memacu lebih cepat dari biasanya.


“Kau… baik-baik saja?” Jamie bertanya setelah melonggarkan tenggorokannya yang mendadak tersekat dengan


berdeham pelan.


“Ah, i-iya, aku… baik-baik saja.” Dengan gugup, Ceria menjauhkan kepalanya dari dada Jamie dan menengadah. “Aku… hanya kaget.” Sepasang matanya bersitatap dengan hazel Jamie yang tengah menunduk menatapnya. Badai listrik mendadak menghantam, melemaskan sekujur sendi-sendinya. Hanya keberadaan lengan Jamie yang masih memeluknyalah yang menahan tubuhnya tak meluncur jatuh.


Dada Jamie bergemuruh lebih brutal saat gadis itu menengadah menatapnya. Matanya dan mata gadis itu hanya berjarak beberapa inci. Meski ini bukan kali pertama mereka berada sedekat itu, namun entah mengapa kali ini darahnya berdesir hebat. Pandangannya yang tadinya berpusat pada manik mata berwarna gelap milik Ceria, perlahan mengarah ke hidungnya yang mungil, lalu kedua pipinya yang meskipun cahaya di beranda remang-remang, jelas terlihat berwarna merah. Dan akhirnya petualangan matanya jatuh pada bibir mungil polos tanpa olesan lipstik atau lipgloss milik Ceria yang sedikit terbuka seolah menggoda bibirnya untuk menyambut.  Tanpa sadar, Jamie benar-benar menunduk dan menyapu bibir itu dengan bibirnya sendiri. Seperti yang sudah ia hafal di luar pikiran, bibir itu terasa hangat, kenyal, dan sedikit kering—ia tahu Ceria selalu bermasalah dengan kulit bibirnya yang mudah mengelupas dan pecah-pecah. Secara teknis, rasanya sama seperti yang sudah-sudah, tetapi… kali ini terasa tidak sama di dalam dada Jamie.


Ceria merasakan napasnya tersekat di tenggorokan begitu bibir Jamie menempel di bibirnya. Matanya membeliak, namun hanya sejenak. Karena jenak berikutnya, ia sudah memejamkan mata dan membalas ciuman itu tanpa berpikir apa pun.