
7
“Dia sudah pergi.” Joshua mengumumkan sembari melangkah ke ruang tengah setelah mengantar Ceria keluar. “Sekarang kau boleh menangis kalau mau. Kau boleh meminjam pundakku.”
Jamie balas menatapnya dengan alis bertaut. “Apa?”
“Aku tahu kau hanya berpura-pura baik-baik saja karena ada Ceria,” kata Joshua. “Aku bisa mengerti kalau kau malu terlihat lemah di depan wanita. Tapi aku tahu hatimu hancur lebur. Mungkin kau tidak percaya, tapi aku juga pernah patah hati dan aku sangat tahu rasanya. Jadi, silakan luapkan perasaanmu. Tidak apa-apa pria dewasa menangis. Itu menunjukkan kalau kau masih manusia.”
Beberapa detik Jamie hanya menatap Joshua, lalu tersenyum kecil. “Pertama,” ujarnya, “aku tidak berpura-pura baik-baik saja. Aku sudah katakan terus terang kepada kalian kalau aku patah hati, hancur, dan sebagainya. Kedua,” lanjutnya, “aku tidak ingin menangis. Oke, aku merasa jantungku remuk. Man, aku dikhianati, perasaanku dipermainkan. Tapi aku sama sekali tidak merasa ingin menangis.
“Mungkin akan lebih mudah bagiku kalau aku bisa menangis meraung-raung. Dengan begitu, aku bisa menumpahkan ribuan jarum yang menusuk dadaku dan perasaanku akan segera membaik. Lukaku akan segera sembuh. Sayangnya air mataku tak bisa keluar.”
Joshua menautkan alis. “Mungkin itu karena pengaruh alkohol,” tebaknya tanpa dasar.
Jamie menggeleng. “Justru aku minum sampai mabuk karena tidak bisa melampiaskan perasaanku,” katanya. “Kalau saja aku bisa menangis atau mengumpat merutuki Natasha yang begitu mudahnya mencampakkanku seolah tiga tahun yang kami jalani sama sekali tak berarti apa pun, aku tidak akan menenggelamkan diriku ke dalam minuman keras,” lanjutnya. “Saat itu yang kupikirkan hanya melupakan kejadian memalukan dan menyakitkan itu walau hanya sejenak. Meski perasaanku terluka sangat dalam, aku tidak bisa menangis atau marah-marah. Dan aku tidak tahu kenapa.”
Joshua menyandarkan punggungnya pada sofa dan bersedekap. Oke, ini rumit. “Lalu, apa yang akan kaulakukan selanjutnya?”
“Belum kupikirkan.” Jamie mengedikkan bahu seraya meraih surat kabar yang tergeletak di meja dan membuka-bukanya. Keningnya mengernyit ketika mendapati foto Joshua dan Ceria yang sedang berciuman di kolom infotainment. Ia mengangkat kepala dan menatap Joshua. “Kalian….”
***
“Tidak, tentu saja tidak!” tegas Ceria saat Jamie menanyakan kebenaran berita di surat kabar dan tayangan infotainment mengenai hubungannya dengan Joshua. “Aku dan Joshua tidak pacaran. Tidak mungkin.”
Sementara Ceria tampak gusar, Joshua begitu santai menyesap teh herbal dan menyantap biskuit sambil
menikmati suasana senja di akhir musim dingin menjelang musim semi dari gazebo yang terletak di halaman belakang rumah Jamie.
“Memangnya Joshua tidak menjelaskan?” Ceria bertanya seolah yang dibicarakan tak berada di hadapannya.
Jamie menggeleng. Sejak ia melihat berita itu di surat kabar sampai menontonnya di televisi, Joshua hanya tersenyum misterius setiap kali ia menanyakan kebenarannya. Sebenarnya berita tentang lamarannya yang ditolak oleh Natasha juga muncul—bahkan ada rekaman saat Natasha melenggang meninggalkannya di restoran—tetapi ia tak mau memikirkannya. Ia lebih penasaran dengan hubungan Joshua dan Ceria. Apa mereka benar-benar terlibat cinta lokasi seperti yang diberitakan?
“Memangnya kenapa, sih kau begitu tertarik ingin tahu?” tanya Joshua, masih bersikap santai. “Jangan bilang kau cemburu!”
“Tidak.” Jamie terdengar tidak yakin. “Aku hanya….” Ia mengedikkan bahu. “…penasaran.”
“Kalau kami memang terlibat cinta lokasi, lalu kenapa?” Joshua kembali bertanya.
“Well, itu… urusan kalian,” ujar Jamie. Meski entah kenapa, ia tidak terlalu senang mendengarnya. Ada perasaan aneh di dalam dadanya yang tak rela jika Ceria dan Joshua benar-benar saling jatuh cinta. Sungguh aneh mengingat ia bukanlah siapa-siapa Ceria, apalagi selama ini ia hanya mencintai Natasha. Katakanlah ia egois, tapi rasanya ia tak rela melihat Ceria dicium pria lain, meski itu sahabatnya sendiri. “Jadi, itu benar?”
Joshua membuka mulut hendak menjawab, tetapi Ceria lebih dulu menyambar, “Tidak. Aku dan Joshua tidak terlibat cinta lokasi. Kami murni bersahabat tanpa ada hubungan romantis.”
“Itu hanya rekayasa.”
“Rekayasa?” Jamie mengernyit.
“Itu semua ide Joshua.”
Jamie menatap kedua temannya bergantian. Masih belum paham dengan perkataan Ceria. “Aku tidak mengerti.”
“Josh, kau jelaskan!” perintah Ceria.
“Harus ya?” Joshua balik bertanya, yang dibalas pelototan oleh Ceria.
“Oke, oke.” Joshua meletakkan cangkir teh dan memosisikan tubuhnya menghadap Jamie. “Kami memang benar-benar berciuman malam itu,” katanya. Sebelum Ceria kembali memelotot galak, ia buru-buru meneruskan, “Tapi itu sekadar pengalih perhatian.”
“Pengalih perhatian?” Jamie masih tak mengerti.
Joshua menghempaskan tubuhnya pada punggung kursi, lalu menatap Jamie tajam. “Kami sengaja melakukan itu untuk memancing para wartawan agar mereka tidak lagi menunggumu di luar kelab,” katanya. “Dengan begitu, Zack dan lainnya bisa mengeluarkanmu dari sana tanpa ketahuan para pencari berita itu. Kalau tidak, bukan wajah kami yang akan menghiasi media massa hari ini, tapi kau. Dan kurasa gambarmu saat mabuk berat bukan reputasi yang bagus.”
Seharusnya Jamie berterima kasih karena atas bantuan temannya, ia tak menjadi bulan-bulanan para pemburu berita. Namun, ia justru bertanya, “Jadi, adegan berciuman itu hanya rekayasa dan kalian tidak pacaran?”
“Kurasa sudah jelas,” sahut Ceria.
“Sudah kuduga.” Jamie tersenyum lebar.
“Yang benar saja,” dengus Joshua. “Kalau kau sudah menduga, lalu kenapa sejak tadi pagi kau terus-terusan memburuku dengan pertanyaan ‘apa berita itu benar?’ sampai telingaku sakit dibuatnya?”
“Aku hanya ingin mendengar penjelasan langsung,” bela Jamie. “Tapi sebenarnya aku yakin kalian tidak mungkin benar-benar jatuh cinta.”
“Kenapa?” tanya Ceria.
Mata hazel Jamie menatap Ceria lekat. Bibir penuhnya sedikit melengkung ke atas. “Karena aku tahu kau hanya mencintaiku.”
Ceria membeku. Jantungnya bergemuruh, perutnya mendadak terasa melilit. Bagaimana Jamie bisa tahu? Apa Jamie mendengar ucapannya semalam? Tidak mungkin! Waktu itu kan Jamie sedang tidur.
“Bukankah begitu, Miss Lara Dawson?” Senyum tipis di bibir Jamie berubah jadi seringai lebar. Matanya berkilat jail. “Hanya David Wellington yang kaucintai, bukan adiknya.”
Ceria mendengus, namun dalam hati merasa lega karena ternyata Jamie berbicara sebagai David, tokoh yang ia perankan. Jantungnya berangsur berdetak normal. Yeah, tidak mungkin Jamie tahu perasaan Ceria yang sebenarnya. Selama ini Ceria selalu menyembunyikannya dengan baik.