No One Loves You Like I Do

No One Loves You Like I Do
3


3


 


 


Ceria mengusap wajahnya entah untuk keberapa puluh kali selama dalam perjalanan selepas meninggalkan restoran. Belum sampai dua detik, genangan air kembali mengaburkan pandangannya. Ia nyaris tidak bisa melihat mobil di depan. Ceria buru-buru kembali menyeka air matanya dan berusaha fokus pada jalan raya. Meski hatinya hancur, tetap saja ia tidak ingin mencelakakan pengguna jalan lain.


Ceria mencengkeram kemudi kuat-kuat dan menarik napas panjang, berusaha menenangkan perasaannya. Namun, gagal. Air mata tetap menganak sungai membasahi wajahnya. Dadanya terasa seperti tertusuk belati. Begitu menyakitkan. Sesaat ia berharap badai besar datang dan menerbangkannya ke Negeri Oz.


Ceria begitu mencintai Jamie. Ia telah menyukai pria itu jauh sebelum mereka berkenalan secara langsung. Ia bahkan sengaja mengikuti casting The Hunters agar bisa beradu akting dengan pria pujaannya. Ia memang berhasil mendapatkan perannya bahkan menjadi teman dekat Jamie. Namun ternyata ia tetap tidak mampu memasuki hati pria itu.


Ceria kembali menarik napas panjang, memasukkan oksigen banyak-banyak ke dalam paru-parunya. Berharap dengan demikian rasa sakitnya akan sedikit berkurang. Namun sepertinya itu juga usaha yang sia-sia. Air mata terus membanjiri wajahnya sementara ia tetap berusaha fokus mengemudi. Perjalanan menuju apartemennya di Westside terasa beratus-ratus mil jauhnya.


Meski telah berusaha sangat keras menata perasaannya, akhirnya pertahanan Ceria runtuh juga. Begitu keluar dari Downtown, ia memutuskan menepikan mobilnya sebelum terjadi hal buruk yang akan merugikan dirinya sendiri dan pengguna jalan lain. Ia perlu ruang dan waktu untuk meluapkan rasa sakitnya.


***


Untuk kesekian kali, Joshua hanya mendengar mail box dari ponsel Ceria. Kalau sebelumnya ia langsung mematikan panggilan dan kembali menghubungi, berharap akhirnya Ceria menyerah dan menjawab teleponnya, kali ini ia mengalah. Joshua memutuskan meninggalkan pesan, “Cer, aku tak akan bertanya apa kau baik-baik saja. Aku tahu kau tidak baik-baik saja. Tapi aku sangat berharap kau tidak melakukan apa pun yang bisa membahayakan dirimu. Tolong, bicaralah padaku.”


Setelahnya, ia memutuskan sambungan dan melepas earphone yang menyumbat telinganya. Kembali fokus mengemudi menuju apartemen Ceria. Seolah teringat sesuatu, beberapa detik kemudian ia kembali mengenakan earphone dan menghubungi nomor ponsel Imelda, manajer Ceria.


“Hai, Josh!” sapa Imelda langsung setelah menerima panggilan Joshua. “Tumben meneleponku. Ada apa?”


“Apa Ceria ada di apartemennya?” Joshua langsung bertanya tanpa mau repot-repot menjawab pertanyaan Imelda.


“Bukankah dia makan siang bersamamu?” Imelda balas bertanya heran.


“Well, makan siangnya sudah selesai,” sahut Joshua. “Dia tidak meneleponmu?”


“Tidak.”


“Berarti dia tidak membatalkan jadwal apa pun untuk hari ini?”


“Tidak, karena dia memang tak memiliki jadwal apa pun.”


“Maksudmu?”


“Dia hanya menerima satu tawaran untuk hari ini, menjadi tamu talkshow tadi pagi. Yang lainnya dia tolak. Dia bahkan menolak tawaran casting film, padahal lawan mainnya aktor tampan yang baru saja memenangkan Golden Globe. Sepertinya dia memang sengaja mengosongkan kegiatan untuk hari ini.”


Joshua mengerti. Hari ini adalah ulang tahun Jamie. Hari yang spesial bagi Ceria. Gadis itu sengaja tak mengambil pekerjaan untuk hari ini demi Jamie. Namun yang ia dapatkan malah….


“Josh, apakah sesuatu terjadi?” selidik Imelda.


“Di mana posisimu sekarang?” Lagi-lagi Joshua bertanya tanpa berniat memenuhi rasa ingin tahu Imelda.


“Di apartemenku.”


“Tempatmu dekat dengan apartemen Ceria, kan?”


“Ya, hanya berjarak dua blok.”


“Bisakah kau pergi ke apartemennya sekarang, please!” pinta Joshua. Menurut perhitungannya sejak Ceria meninggalkan restoran, mestinya saat ini gadis itu sudah berada di apartemennya—dengan catatan ia benar-benar pulang ke apartemennya. Perjalanan dari Downtown menuju Westside hanya membutuhkan 20 menit jika tanpa terjebak macet. Dan sejauh perjalanan mobilnya hingga kini, jalanan terasa padat lancar. Kalaupun terlambat dari perhitungan, tentu tak akan sampai satu jam.


“Tentu, itu mudah. Tapi kenapa?”


“Nanti kujelaskan. Yang penting sekarang, kaulihat dulu apakah Ceria ada di apartemennya atau tidak.”


“Aku tidak mengerti, tapi… baiklah.”


“Telepon aku setelah kau tiba di sana, oke?”


“Oke.”


“Terima kasih.” Joshua langsung memutuskan panggilan dan menghentikan mobilnya karena lampu lalu lintas di Continela Avenue menyala merah. Setelah lampu kembali berwarna hijau, mobil Joshua dan pengendara lain kembali melaju, sebelum akhirnya ia membelokkan mobilnya ke kiri, ke Nebraska Avenue. Saat itulah tiba-tiba


ponselnya berbunyi.


“Apartemennya kosong.”


“Kau sudah memeriksanya?”


“Ya. Aku punya kunci apartemennya dan aku sudah memeriksa ke seluruh penjuru, tapi Ceria tidak ada. Mobil yang dia pakai tadi juga tidak berada di tempat parkir. Kurasa dia memang belum pulang,” balas Imelda. “Sebenarnya ada apa, sih? Apa ada hal buruk yang terjadi?”


“Well, bisa dibilang begitu,” sahut Joshua. “Tapi saat ini aku belum bisa menceritakannya. Aku harus lebih dulu mencari tahu keberadaan Ceria. Tapi aku minta kau tetap di sana. Mungkin saja Ceria sebentar lagi pulang. Dan saat dia pulang nanti, tolong hubungi aku.”


Meski merasa sangat bingung, Imelda tetap mengiakan.


“Terima kasih. Aku sangat menghargai bantuanmu.” Joshua memutar kemudi ke kanan menuju Westside.


“Tidak masalah,” sahut Imelada. “ Ceria juga temanku. Aku menyayanginya sama sepertimu. Apa pun yang telah terjadi, kuharap dia baik-baik saja.”


“Yeah, I hope so.”


“Kau sudah menghubungi Theo? Mungkin Ceria ke tempatnya.”


“Sudah, tapi ponsel Theo tidak bisa dihubungi,” sahut Joshua. “Kurasa dia masih bekerja.”


“Bisa saja Ceria langsung ke rumah Theo,” kata Imelda. “Biasanya begitu. Sebaiknya kau langsung ke rumah Theo sementara aku menunggu di sini.”


“Baiklah, aku akan mencarinya ke sana,” balas Joshua. “Terima kasih. Jangan lupa telepon aku kalau-kalau Ceria pulang.”


“Tentu,” sahut Imelda. “Kau juga, tolong telepon aku kalau memang benar Ceria ada di rumah Theo.”


“Oke.” Joshua memutuskan panggilan dan merubah rute ke arah Brentwood, tempat tinggal Theo.


***


Theo mengernyit ketika melajukan mobilnya ke jalan masuk dan melihat FIAT kuning milik Ceria terparkir di depan rumah. Seingatnya gadis itu tadi berkata akan makan siang bersama duo J—Jamie dan Joshua—untuk merayakan ulang tahun Jamie. Apa sudah selesai? Secepat ini? Mereka benar-benar hanya makan siang saja, ya? Biasanya ada acara lanjutan kalau untuk merayakan ulang tahun.


Theo memarkirkan Porche metaliknya di belakang mobil Ceria, lalu bergegas melangkah menuju rumah. Niatnya, sih ingin cepat-cepat menemui Ceria. Namun Javier, desainer taman yang saat ini mengolah halaman rumah Theo menghentikan langkahnya di anak tangga menuju beranda.


“Ada apa?” Theo bertanya heran.


“Ceria masih di dalam mobil,” bisik Javier.


“What?” Theo menatap tak percaya.


“Dia belum keluar sejak datang tadi,” jelas Javier. “Aku sudah mencoba bertanya apa yang terjadi, tapi dia mengabaikanku. Kulihat kepalanya tertelungkup di atas kemudi. Sepertinya dia menangis.”


Theo mengernyit. “Menangis?”


“Kurasa.” Javier mengedikkan bahu. “Dia tidak mau membuka pintu mobilnya untukku. Kurasa reaksinya akan berbeda kalau kau yang menghampiri.”


“Tapi dia baik-baik saja, kan?”


“Kalau maksudmu secara fisik, sepertinya dia baik-baik saja,” jawab Javier. “Tapi aku juga tidak bisa melihat dengan jelas.


Setelah mengucapkan terima kasih pada Javier, Theo kembali menuruni tangga dan berjalan cepat menghampiri mobil Ceria. Ia menunduk dan mengetuk jendela di sisi kemudi, namun tidak ada tanggapan. Benar kata Javier, melalui kaca jendela mobil yang berwarna gelap, samar-samar ia bisa melihat Ceria sedang menangkupkan kepala


dan lengannya di atas kemudi. Theo kembali mengetuk, namun Ceria tetap bergeming.


Setelah beberapa kali mengetuk dan tetap tak ada tanggapan dari Ceria, Theo mulai khawatir gadis itu pingsan di dalam. Theo lalu mengetuk lebih keras dan berseru, “Ceria, buka pintunya! Ini aku.”


Theo bisa sedikit bernapas lega melihat pergerakan di dalam. Perlahan Ceria mengangkat kepalanya dan menatap ke luar jendela. Gadis itu menyeka wajahnya dengan kedua tangan, sebelum akhirnya membuka kunci. Begitu pintu mobil terbuka, Theo langsung menyambar pintu dan membukanya lebih lebar. Ia menunduk dan tertegun melihat wajah berantakan Ceria. “Apa yang terjadi?”


Namun gadis itu hanya diam di kursinya dengan tubuh menghadap Theo. Ia sudah berhenti menangis, tetapi matanya nyaris tak bisa dibuka. Seluruh bagian wajahnya berwarna merah dengan jejak air mata membekas jelas.


Theo berjongkok dan menangkupkan kedua tangan pada wajah mungil Ceria. “Little fairy, apa yang terjadi?” tanyanya lembut.


Bukannya menjawab, gadis itu justru menghambur ke dalam pelukan Theo dan kembali tersedu.