No One Loves You Like I Do

No One Loves You Like I Do
Prolog


Elk Creek, Nebraska


Gadis berambut hitam lurus itu mundur beberapa langkah. Matanya yang berwarna cokelat gelap menatap gugup makhluk besar yang menjulang di hadapannya. Ditodongkannya senapan di tangan kanan ke arah makhluk berwajah buruk dengan kulit membusuk itu.


“Sial!” Ia mengumpat ketika tak ada apa pun yang terjadi begitu menarik pelatuk dan menekan tuas. Lagi-lagi ia kehabisan peluru. Ia mencoba mencari sisa peluru garam di dalam saku jaketnya, tapi tak menemukan apa pun. Air suci juga tidak ada. Benar-benar kecerobohan fatal.


Ia menahan napas saat matanya memindai ruangan di sekitar, mencari benda apa pun yang terbuat dari logam yang bisa digunakan sebagai senjata. Sialnya, tak ada satu benda pun yang berguna. Hanya ada sisa-sisa perabotan dari kayu yang tampak di ruangan yang tak pernah terjamah selama bertahun-tahun itu. Ia memikirkan untuk berbalik dan lari. Tapi, tidak! Makhluk itu akan langsung menyergapnya dengan kecepatan kilat begitu ia berbalik. Ia harus tetap mengunci pandangan pada makhluk itu. Ia tidak boleh lengah. Makhluk itu bisa kapan saja berhenti bermain-main dan memutuskan langsung menyerangnya.


“Urgh….” Ia memejamkan mata. Memangnya apa yang bisa ia lakukan dengan tangan kosong untuk melawan makhluk itu?


Memukulnya? Tidak akan mempan. Makhluk itu tingginya nyaris dua meter sementara dirinya hanya 166 cm. Catatan lagi, makhluk itu bukan manusia. Ia adalah arwah seorang pembunuh berantai dan pemerkosa yang tewas berpuluh-puluh tahun lalu. Otomatis tenaganya jauh lebih besar daripada gadis itu atau manusia lain.


Tetap menghadapi makhluk yang kini hanya berjarak tiga meter darinya sambil mundur perlahan-lahan atau berbalik dan berlari menjauh, hasilnya akan tetap sama. Sang gadis tetap akan menjadi santapan makhluk itu. Well, mungkin tidak benar-benar menjadi santapan. Apa pun istilahnya, ia tetap akan mati di tangan makhluk itu.


Oh, yang benar saja! Seharusnya ia yang menghabisi makhluk itu. Bukan sebaliknya.


Makhluk itu semakin mendekat dan gadis berkucir ekor kuda itu terus berjalan mundur. Namun, langkahnya tertahan oleh lemari kayu di belakangnya. Oh, tidak! Sekarang ia sudah benar-benar terpojok. Kembali gadis itu merutuki kebodohannya.


Makhluk itu menyeringai, menampakkan gigi-giginya yang membusuk. Dengan geraman kemenangan, ia mendekat dengan langkah cepat. Gadis berkulit kuning langsat itu memejamkan mata, pasrah atas apa yang akan terjadi padanya. Sejak awal, ia tahu ini risiko yang harus diambilnya saat memutuskan menjadi pemburu. Ia sudah menyaksikan banyak sekali kematian di dalam dunia yang ia pilih, namun tetap saja ia merasa belum siap mati di usia semuda ini.


Ia menahan napas saat aroma sulfur pekat dari makhluk itu menembus indra penciumannya. Dari geraman yang ia dengar, ia tahu saat ini makhluk itu hanya berjarak beberapa sentimeter di depannya. Tak lama, ia merasakan sentuhan kasar tangan makhluk itu di lehernya. Ia memejamkan mata semakin erat. Benar-benar pasrah atas apa pun yang akan menimpanya.


“Jauhkan tangan busukmu dari kekasihku!”


Sebuah suara yang sangat ia kenal membuat gadis itu spontan membuka mata, bersamaan dengan lenyapnya makhluk mengerikan itu.


Seperti sebuah keajaiban, seorang pria tampan berkulit kecokelatan berdiri di hadapan gadis itu. Sebatang besi sepanjang 50 cm tergenggam di tangannya. Oh, itu salah satu partner berburunya.


“Kehabisan garam lagi, sweety?” Sang pria menggoda, bibir penuhnya yang berwarna merah ranum membentuk sebuah lengkungan ke atas. Terlihat sangat menawan di wajah perpaduan Amerika-Eropa itu.


Tidak ada balasan dari sang gadis,  sehingga ia kembali bersuara, “Aku datang tepat waktu, kan?”


Namun gadis itu tetap bergeming. Masih agak syok atas kejadian yang baru dialaminya. Ia sudah lama bergulat dengan hal yang membahayakan seperti ini dan beberapa kali nyaris mendekati kematian, tetapi tidak pernah sedekat ini. Makhluk itu tadi hanya berjarak beberapa senti di depannya, bahkan telah menyentuhnya.


Gadis itu menggeleng. “Well, ya,” lalu berdeham, “aku baik-baik saja, kurasa.” Ia mengedikkan bahu. “Setidaknya aku masih hidup. Dan tidak, dia tidak sempat melukaiku. Kau datang tepat waktu. Terima kasih.”


“Aku senang kau baik-baik saja,” kata pria itu sambil meletakkan tangan kanannya di pipi si gadis.


“Ya, syukurlah,” balas gadis itu. Ketegangan karena hampir mati di tangan makhluk menyeramkan tadi berangsur menguap, namun berganti menjadi kegugupan yang membuat perutnya meililit. Selalu seperti ini setiap kali pria itu menyentuhnya.


Pria itu semakin mendekatkan wajahnya. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau sampai terluka. Aku akan merasa sangat bersalah. Dan jika makhluk itu sampai membunuhmu, mungkin aku akan bunuh diri.”


“Jangan konyol!” Gadis itu memukul pelan dada si pria dan tertawa gugup. “Kau tidak akan melakukannya.”


“Aku sungguh-sungguh.” Sang pria menunduk dan menempelkan keningnya ke puncak kepala si gadis yang jauh lebih pendek. “Kau tahu aku tak bisa hidup tanpamu.”


“Yeah, tentu saja.” Sang gadis memutar bola mata, sembari mendorong pelan tubuh si pria. “Kau selalu mengatakan itu pada semua wanita.”


“Kau tahu itu tidak benar,” balas si pria. “Mungkin aku dulu petualang cinta, mengencani gadis yang berbeda setiap malam. Tapi kau tahu aku telah berubah sejak bertemu dirimu. Aku jatuh cinta padamu sampai nyaris mati.”


“Berhentilah bermain-main!” tukas gadis itu, menyembunyikan perasaannya yang melambung. “Kau tahu makhluk itu hanya menghilang sementara. Kita harus membakar sisa bagian tubuhnya agar ia tak bisa gentayangan lagi.”


“Aku tak main-main dan kau tahu itu,” desis si pria seraya kembali mendekatkan tubuhnya pada si gadis yang kembali terpojok di antara lemari dan tubuhnya.


“David, ayolah! Kita harus segera menemukan bagian tubuh pria itu dan segera membakarnya.”


“Jangan khawatir, kami sudah menemukannya. Biarkan Sonny mengurus sisanya. Sekarang, kita harus membicarakan urusan kita.”


Gadis itu menyipitkan mata. “Urusan apa?”


“Kau tahu pasti urusan apa, Lara Dawson.” Selesai mengucapkan itu, sang pria langsung menunduk dan menempelkan bibirnya pada bibir mungil si gadis.


Gadis itu terkesiap merasakan kehangatan bibir sang pria yang ia panggil David, namun tidak bisa melawan—lebih tepatnya tidak ingin melawan. Beberapa detik kemudian, ia justru memejamkan mata membalas ciuman itu.


“Cut!”