
Sekali lagi Jamie menekan bel di sebelah pintu apartemen Joshua. Hari Minggu pagi, ia sengaja mampir ke apartemen sahabatnya itu sambil membawa sandwich tuna dan pai apel untuk sarapan, beserta dua gelas jumbo
kopi panas. Ia tahu benar kebiasaan Joshua. Sahabatnya itu tidak akan mengambil pekerjaan di hari Minggu, kecuali untuk syuting The Hunters yang dicintainya, tentu saja. Bagi Joshua, hari Minggu adalah waktu untuk bersantai di rumah. Biasanya dihabiskan untuk tidur atau menonton televisi seharian. Main game kadang-kadang. Berenang kalau tidak malas.
Setelah entah untuk kali keberapa Jamie memencet bel, akhirnya terdengar pergerakan juga dari dalam ruangan. Tak lama, pintu pun terbuka. Tampak Joshua yang masih mengenakan piyama dengan wajah mengantuk. Rambutnya berantakan seperti singa.
“Selamat pagi!” sapa Jamie ceria.
Joshua yang tadinya masih setengah tersadar hingga lupa melihat tamunya lewat kamera pengawas mendadak membuka lebar matanya. “Apa yang kaulakukan di sini?” tanyanya dengan kening berlipat.
Jamie tersenyum tanpa dosa sambil mengangkat bawaannya. “Membawakanmu sarapan,” jawabnya. “Juga sekalian main,” lanjutnya. “Kita sudah lama tak bertemu. Aku kangen, tahu. So, aku boleh masuk, kan?”
Joshua mengesah, lalu memberi isyarat dengan kepala agar Jamie masuk. “Kau makan saja dulu. Aku mau mandi.” Setelah menutup pintu, Joshua berjalan kembali ke kamarnya. Sementara Jamie langsung mengenyakkan tubuh di sofa ruang tengah sembari menghirup kopi bagiannya.
Tak lama, Joshua muncul dengan rambut basah, mengenakan celana pendek dan kaus tanpa lengan, lalu duduk di sofa tunggal di sebelah Jamie. “Kau belum makan?” ia bertanya saat melihat makanan yang dibawa Jamie masih utuh.
“Menunggumu,” jawab Jamie sembari membuka kantong kertas berisi sandwich dan pai yang dibawanya.
“Kan sudah kubilang, kau makan duluan saja,” kata Joshua seraya menyesap kopinya.
“Tidak apa-apa. Tujuanku datang kemari kan ingin mengajakmu sarapan bersama,” balas Jamie sambil meraih sepotong pai apel dan menyantapnya dengan satu gigitan kecil. “Bukan sarapan bersama namanya kalau aku makan duluan.”
Joshua mengedikkan bahu dan ikut meraih sepotong pai apel yang masih hangat itu, lalu menyantapnya tanpa suara.
“Kau akhir-akhir ini sibuk sekali, ya?” tanya Jamie, membuyarkan keheningan di antara keduanya. “Kau tidak pernah menjawab teleponku.” Ia melanjutkan tanpa menunggu jawaban Joshua.
“Begitulah,” gumam Joshua seadanya. Meski sebenarnya tidak juga. Ia tak terlalu sibuk karena memang hanya mengambil sedikit pekerjaan. Ia bahkan menolak beberapa tawaran casting film yang diajukan manajernya
karena masih ingin beristirahat. Tetapi memang ia sedang malas bicara dengan Jamie. Ia khawatir tidak bisa menahan kekesalan. Siapa yang mengira jika Jamie justru akan muncul di depan pintunya.
“Kenapa waktu itu kau pulang tanpa pamit?”
Joshua refleks berhenti mengunyah saat mendengar pertanyaan Jamie.
“Kenapa kau menjemput Ceria pagi-pagi?” Tak kunjung mendapat jawaban dari Joshua, Jamie lanjut bertanya. “Apa ada masalah?”
Joshua meletakkan pai apelnya yang masih tersisa setengah dan menatap nyalang pada Jamie. “Kenapa tidak
kautanyakan saja pada dirimu sendiri?” Nada suaranya begitu dingin dan sarat emosi. Pertanyaan tanpa dosa Jamie seolah telah menyentuh tombol picu Joshua.
Mendengar itu, Jamie balas menatap bingung. Bukan hanya Maddy, rupanya Joshua juga menyalahkan dirinya. “Aku tidak mengerti,” ujarnya. “Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Kaupikirlah sendiri!” Joshua mendengkus kasar seraya bangkit dari sofa. “Aku masih ngantuk. Mau lanjut tidur.” Dengan langkah panjang, ia kembali ke kamar dan membanting pintunya keras.
Sementara Jamie hanya bisa menatap pintu kamar Joshua dengan ekspresi kosong.
***
Ruang tamu apartemen Natasha tampak mewah dengan segala perabotan mahal yang menghiasinya. Ini bukan kali pertama Jamie melihat ruangan itu, tentu saja. Tetapi, ini kali pertama sejak mereka kembali bersama dan menurut pengamatannya, beberapa barang mahal di ruangan itu bertambah—bukan hal aneh mengingat kecintaan Natasha pada barang-barang mewah. Si empunya rumah sendiri masih sibuk di ruang makan. Meninggalkan Jamie sendiri di ruangan luas yang sunyi itu.
Berdiam diri di apartemen mewah yang sepi itu, Jamie jadi berpikir, setelah putus dengannya beberapa waktu lalu, di mana Natasha tinggal bersama kekasih barunya? Di apartemen inikah? Atau di apartemen si aktor pendatang baru itu?
Ah, sudahlah! Itu kan sudah berlalu. Tak perlu dipikirkan lagi. Bukankah mereka sudah sepakat untuk kembali memulai segalanya dari awal?
Meski sebenarnya ada yang mengganjal di hati Jamie, ia berusaha mengabaikan.
“Honey, makanannya sudah siap. Mau makan sekarang?” Suara lembut itu muncul ketika Jamie sibuk mengamati vas bunga kristal di atas meja di samping sofa tempat ia duduk. Dan tanpa menunggu jawaban Jamie, Natasha langsung melompat ke pangkuan sang kekasih dan memberikan kecupan singkat. “Tapi kurasa aku akan memberimu hidangan pembuka dulu.” Ia tersenyum seraya kembali menempelkan bibir tipisnya yang ranum pada bibir Jamie dan melumatnya dengan lembut di awal, namun semakin lama semakin agresif dan menuntut.
Refleks Jamie pun membalas ciuman itu dan langsung mengambil alih permainan. Namun, entah kenapa, ia sama sekali tak merasakan apa pun. Tak ada gairah yang dulu selalu dirasakannya bila mencium Natasha. Meski bibir
dan lidahnya bergerak penuh semangat di dalam mulut sang kekasih, tetap saja rasanya hambar. Tiada sensasi menggelitik yang biasa ia rasakan setiap kali berciuman. Sementara Natasha terlihat begitu bergairah, Jamie justru merasa hampa. Tidak ada kembang api yang meletup-letup di kepala atau gejolak aneh di perutnya seperti saat berciuman dengan Ceria tempo hari.
Ceria?
Ya, gadis itu telah memberikan kenangan yang begitu manis dalam hari-hari suramnya. Kebersamaan singkat mereka selama di peternakan membuat hidup Jamie terasa lebih indah. Senyumannya, keceriaannya, sikap manisnya, semangatnya, bahkan kekonyolannya membuat Jamie selalu tersenyum dan sejenak melupakan kepedihan dalam dadanya. Ceria yang selalu ada di sisinya ketika ia tengah terpuruk ke dasar jurang kesedihan.
Ceria yang menjilat lukanya, menghapus rasa sakitnya, menghadirkan cahaya dalam kegelapan yang melingkupinya.
Ah, padahal aku sedang bersama Natasha, tapi kenapa aku justru memikirkan wanita lain?
Jamie memejamkan mata untuk menghalau pikirannya, berusaha fokus pada wanita dan momen di depannya. Namun bukannya menghilang, wajah Ceria semakin jelas memenuhi kepalanya. Senyuman gadis itu terus menari dalam benaknya. Seolah menggoda Jamie untuk berlari dan memeluknya.
Tidak! Ini tidak akan berhasil! Jamie menghentikan gerakan bibirnya dan mendorong tubuh Natasha menjauh.
Natasha menatapnya dengan kening berkerut dan bibir yang masih terbuka. “Ada apa?” ia bertanya, tampak tidak rela ciuman mereka terlepas.
“Maaf, aku tidak bisa.”
Natasha makin bingung. “Apa maksudmu?”
Jamie bangkit, sehingga Natasha yang duduk di pangkuannya pun terpaksa berdiri. “Maaf, Natasha, aku benar-benar tidak bisa melanjutkan ini.”
“Maksudmu ciuman tadi?” Natasha mengangkat alis, kemudian tertawa kecil. “Oh, ya ampun, Jamie… aku mengerti. Kau pasti sudah lapar, ya? Kau ingin segera makan siang. Oke, oke, ayo kita ke ruang makan sekarang. Aku sudah menyiapkan semuanya.”
Jemari lentik Natasha meraih pergelangan tangan Jamie dan menariknya, bermaksud pindah ke ruang makan. Tetapi pria itu tetap bergeming. “Ada apa?”
Jamie melepas tangannya dari genggaman Natasha dengan sangat hati-hati. “Bukan itu maksudku.” Matanya lekat menatap sepasang iris biru milik Natasha. “Aku… tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Kupikir ini tak akan berhasil.”
“Apa? Kenapa?” Ekspresi wajah Natasha berubah panik. “Apa maksudmu? Kau pasti bercanda, kan?”
Jamie menggeleng. “Aku… sudah tidak mencintaimu lagi. Kurasa… aku mencintai orang lain.”
Natasha menggeleng. “Kau pasti tidak serius. Aku tahu kau mencintaiku. Ah, aku mengerti. Kau masih marah, kan? Kau mau membalasku. Pasti begitu, kan? Kau hanya ingin mengujiku. Kau tidak benar-benar mencintai orang lain. Katakan kau hanya bercanda, Jamie!” Tangannya menggoncang sisi lengan Jamie seolah ingin menyadarkannya.
Sekali lagi Jamie menggeleng dan dengan lembut melepaskan tangan Natasha dari lengannya. “Maaf, tapi aku tidak bercanda. Saat ini aku mencintai orang lain. Aku tidak bisa kembali bersamamu.”
Wajah cantik Natasha mulai dialiri air mata. Jamie merasa iba, namun sekali lagi ia hanya bisa berkata, “Maafkan aku.”