
“Aku turun sekarang, ya!” Jamie berujar di telinga Ceria seraya melompat turun dari punggung kuda yang mereka tunggangi. “Kau sudah siap, kan?”
Ceria tak langsung menjawab. Ia menatap ragu pada Jamie yang berdiri di samping kuda yang ditungganginya.
Hari ini Jamie kembali mengajari Ceria menunggang kuda. Setelah beberapa lama Jamie mengajari teknik-teknik menunggang kuda yang baik, kini ia merasa sudah waktunya Ceria berkuda seorang diri.
Saat bertemu dengan Jamie ketika sarapan pagi tadi, Ceria merasa agak canggung karena masih memikirkan ciuman semalam. Tapi setelah melihat Jamie yang tampak biasa-biasa saja, kecanggungannya pun hilang. Ia pun berhasil meyakinkan dirinya sendiri bahwa peristiwa semalam sama sekali tak berarti apa pun. Pasti Jamie hanya terbawa suasana mengingat mereka sering sekali melakukan adegan itu dalam serial yang mereka perankan.
“Kau bisa jalan sekarang. Aku yakin kau pasti mampu mengendalikannya.” Jamie memberi semangat. Namun, Ceria masih tidak yakin. Bagaimana kalau ia tak bisa mengendalikan kudanya, lalu kudanya bergerak liar dan ia terjatuh? Jatuh dari punggung kuda sebesar ini pasti menyakitkan. Bagaimana kalau ia patah kaki? Dan yang paling parah, bagaimana kalau ia sampai mengalami patah punggung dan lumpuh?
Ceria tersentak saat Jamie memegang tangannya. Ia menatap Jamie yang tersenyum manis seolah mengatakan
semua akan baik-baik saja. Ceria pun menarik napas panjang dan mengangguk. Membuang semua pikiran paranoid dari kepalanya.
“Pelan-pelan saja dulu. Kalau sudah merasa nyaman dan terkendali, kau bisa mempercepat lajunya,” pesan Jamie.
Ceria kembali mengangguk, lalu mulai menghentakkan tali kekang di tangannya dengan pelan dan si kuda pun mulai melangkahkan kakinya pelan-pelan. Setelah berjalan satu putaran, Ceria yang tadinya tegang mulai merasa rileks. Mengikuti perintahnya, hewan besar berkaki empat itu mempercepat lajunya mengelilingi lintasan.
“Lebih cepat, Cer!” seru Jamie yang duduk di atas pagar kayu yang membatasi lintasan berkuda. “Kau sudah mulai terbiasa!”
Ceria kembali menghentakkan tali kekang dan si kuda pun melaju lebih cepat, meski masih tetap dalam tahap setengah berlari. Rambut panjangnya yang terurai di bawah helm pengaman melambai tertiup angin yang terasa semakin kencang seiring bertambahnya laju kuda. Meski awalnya sempat cemas saat kudanya berjalan lebih cepat nyaris setengah berlari, kini Ceria justru sangat menikmati sensasi yang menggelitik perasaannya itu.
Jamie tersenyum melihat ekspresi gembira di wajah Ceria. Ia hanya duduk di atas pagar kayu dan membiarkan gadis itu bersenang-senang dengan mainan barunya. Hingga matahari naik di atas kepala, barulah ia berseru kepada sang gadis agar berhenti karena sudah masuk waktu makan siang. Ceria pun berhasil menghentikan laju kudanya dengan mulus sebelum Jamie membantunya turun.
***
“Hai, selamat siang! Sepertinya kalian habis bersenang-senang.” Sapaan riang Maddy langsung menyambut begitu Ceria dan Jamie memasuki dapur bersama-sama.
“Hai, Maddy! Kau sudah pulang,” balas Ceria seraya duduk di dekat Maddy. “Jamie mengajariku berkuda. Menyenangkan sekali!” Kedua gadis itu lantas saling bercerita kegiatan masing-masing selama mereka tidak saling bertemu.
Jamie berdecak tidak suka saat melihat kakaknya juga sudah duduk manis di salah satu kursi, menunggu hidangan makan siang disajikan oleh sang juru masak sambil menatap layar ponselnya. “Kau masih di sini?” ia bertanya ketus sembari melepaskan topinya dan meletakkan di gantungan. Matanya tajam menatap Terry.
“Memangnya kenapa? Ini kan rumahku juga. Aku boleh tinggal selama yang kumau.” Terry hanya menatap Jamie sekilas, lalu kembali sibuk dengan ponselnya.
Jamie mendengus sebal, tapi tak membalas apa pun karena tahu ucapan kakaknya benar. “Memangnya kau tidak
bekerja?” Ia akhirnya bertanya setelah beberapa saat diam.
“Tidak,” sahut Terry tanpa mengangkat kepalanya dari layar ponsel. “Aku mengambil cuti beberapa hari.”
“Kenapa?”
“Aku lelah. Ingin istirahat sebentar.”
“Kenapa kau tak berlibur saja? Hawaii atau Miami misalnya. Atau kau bisa bersenang-senang di Las Vegas.”
“Aku suka di sini. Aku ingin menghabiskan masa liburanku tinggal di peternakan yang damai ini,” balas Terry, lalu mengangkat kepalanya menatap Jamie. “Kau keberatan?”
“Ya,” sahut Jamie cepat.
“Kalau begitu, kenapa tidak kau saja yang berlibur ke Miami atau Hawaii?” Terry balas bertanya tanpa ekspresi.
“Kan aku duluan yang datang ke sini,” tukas Jamie. “Jadi, kau yang harus angkat kaki.”
“Tidak mau,” tolak Terry. “Aku ingin berlibur di rumahku. Aku tidak keberatan meski setiap hari harus melihat wajahmu yang menyebalkan itu. Kalau kau keberatan dengan keberadaanku, silakan kau saja yang pergi.” Seperti biasa, raut wajahnya tetap datar saat mengatakan semua itu.
Jamie yang selalu kalah setiap kali berdebat dengan kakaknya, lagi-lagi hanya bisa mendengus sebal sambil memasang muka masam. Sampai Mona menghidangkan makanan di meja, ia masih tetap diam sambil melemparkan tatapan membunuh pada kakaknya yang justru terlihat sangat santai bahkan seolah menikmati reaksi tidak sukanya.
Jamie akhirnya tersadar saat merasakan sentuhan di tangan kirinya. Ia menoleh dan melihat Ceria menatap dengan mata bulatnya yang cemerlang. Maddy dan Terry pun sudah menikmati makan siang mereka.
“Apa perlu kuambilkan?” Ceria menawarkan.
“Tidak usah,” Jamie menggeleng. “Aku bisa sendiri, kok. Terima kasih.” Ia membalik piringnya dan mulai mengambil makanan dengan raut wajah masih seasam lemon. Berusaha menganggap keberadaan Terry hanya ilusi, meski itu tidak mungkin.
Ceria pun kembali sibuk dengan makan siangnya sendiri. Mengabaikan Jamie yang lagi-lagi bersikap kekanakan.
***
Selesai makan siang, Ceria memilih bersantai sambil menemani Maddy menonton televisi di ruang tengah. Lelah juga setelah sepagian berkuda. Sedangkan Jamie, seolah tanpa lelah kembali berkutat dengan hewan-hewan penghuni peternakan. Meski sudah ada pegawai peternakan, tetap saja ia suka ambil bagian dalam pemeliharaan makhluk-makhluk berkaki empat itu. Lalu Terry? Sepertinya ia tadi keluar rumah. Mungkin berjalan-jalan di sekitar.
“Sepertinya Jamie tidak terlalu menyukai Terry. Apa mereka ada masalah?” Ceria yang penasaran dengan aura permusuhan yang dikeluarkan Jamie setiap bertemu Terry, tidak tahan untuk bertanya pada Maddy.
“Ah, dari dulu memang seperti itu,” balas Maddy santai. “Mereka memang tidak pernah akur. Abaikan saja.”
“Tapi sepertinya hanya Jamie yang selalu bersikap tak bersahabat,” ujar Ceria. “Terry sepertinya biasa saja. Malah terlihat sangat tenang.”
“Terry memang terlahir seperti itu. Selalu tenang dan datar. Karena poker face-nya itulah dia bisa jadi pengacara hebat,” jelas Maddy. “Tapi bukan berarti ia tidak bisa berekspresi. Dalam kondisi tertentu ia tetap bisa menampilkan emosi, kok.”
“Apa sejak kecil seperti itu?” Ceria kembali bertanya. “Atau pernah ada masalah yang membuat mereka begitu?”
Maddy mengernyit menatap Ceria. “Kenapa kau ingin tahu?”
“Hanya penasaran,” sahut Ceria. “Kalau tidak boleh tahu juga tak apa-apa. Itu kan urusan keluarga kalian.”
Maddy tersenyum kecil dan memutuskan bercerita. “Waktu kecil sebenarnya mereka sangat dekat,” mulainya. “Kau tahu kan kalau dua orang laki-laki bersaudara? Apalagi usia mereka hanya terpaut dua tahun. Jadi, bisa dibilang dulu mereka itu partner in crime. Melakukan hampir segala hal dan membuat kekacauan bersama.”
Ceria mengernyit. “Lalu, kenapa sekarang seperti itu?”
Maddy berpikir seolah mengingat-ingat sesuatu. “Kalau tidak salah… itu bermula saat mereka mulai menginjak remaja. Terry nyaris unggul dalam segala hal, baik dalam akademik maupun olahraga. Jamie mulai merasa terganggu ketika orang-orang mulai membanding-bandingkan mereka. Meski Mama dan Papa selalu mengatakan kalau setiap anak mempunyai keunikan masing-masing dan menyayangi mereka sama besarnya, Jamie tetap merasa menjadi bayang-bayang Terry. Jamie berusaha mengalahkan Terry dalam segala hal, tapi tidak pernah bisa. Padahal Terry juga tidak pernah berniat bersaing dengan Jamie. Dia hanya terlahir pintar dan terbiasa melakukan segalanya dengan sebaik mungkin.
“Makin lama hubungan mereka pun merenggang. Dan puncaknya saat Jamie SMA. Pacarnya yang cantik dan kapten cheerleaders memutuskan hubungan dengannya karena lebih tertarik pada Terry yang saat itu sudah kuliah.
Hubungan mereka yang renggang pun semakin memburuk karena itu.”
“Terry pacaran dengan gadis itu?”
“Yeah, mana ada kucing yang menolak disodori ikan,” sahut Maddy. “Tapi hubungan mereka tak bertahan lama. Hanya dua minggu kalau tidak salah. Mereka kan bertemu saat Terry kebetulan libur kuliah. Setelah dia kembali ke asrama, ya sudah, hubungan mereka juga berakhir. Kurasa Terry juga tidak serius dengan gadis itu. Sekadar ingin menunjukkan pada Jamie kalau dia bukan gadis yang baik, kurasa. Dan gadis itu juga sepertinya hanya ingin tidur dengan Terry saja.”
“Apa sampai sekarang Jamie masih marah karena hal itu?”
“Kurasa tidak,” sahut Maddy. “Itu sudah lama sekali dan hanya cinta monyet. Jamie sudah tak mempermasalahkannya lagi. Kalaupun sampai sekarang Jamie tidak bisa bersikap manis pada Terry, itu hanya karena sudah terbiasa saja. Tapi sebenarnya mereka saling menyayangi, kok. Waktu mendengar Bellinda menggugat cerai Terry, Jamie langsung menelepon untuk menghiburnya karena tidak bisa datang langsung. Yeah,
meskipun bisa dibilang dia punya cara sendiri untuk mengalihkan kesedihan Terry. Tidak seperti umumnya orang yang akan memeluk dan mengatakan hal-hal baik.”
“Tapi saat makan siang tadi, kulihat wajahnya benar-benar kesal,” kata Ceria. “Apa cuma perasaanku saja, ya?”
“Oh, kalau itu, kurasa dia hanya merasa terancam dengan keberadaan Terry di sini.”
“Huh?”
“Dia takut Terry membuatmu terpesona,” ujar Maddy santai, lalu kembali fokus ke televisi yang menayangkan acara musik.
Ceria mengernyit. Terancam? Takut Terry membuatnya terpesona? Apa maksudnya?