
Ceria terlonjak hingga tubuhnya menabrak pintu dapur yang baru saja tertutup, begitu melihat sosok yang tidak dikenal duduk di salah satu kursi di dapur. Setelah menemani Jamie menggiring ternak dari padang kembali ke kandang, Ceria lebih dulu kembali ke rumah sementara Jamie masih sibuk dengan ternak dan pegawainya. Hari sudah sore dan ia ingin cepat-cepat mandi sebelum makan malam. Namun, secara tak terduga, ia justru bertemu dengan orang asing.
“Hai! Maaf, aku mengagetkanmu, ya?” Sosok tampan berkulit kecokelatan, dengan rambut pirang pendek yang disisir rapi itu langsung menyapa Ceria. Bibirnya yang berwarna natural, tidak tebal tapi juga tidak tipis, tidak lebar pun mungil, membentuk lengkungan ke atas.
“K-kau siapa?” tanya Ceria terbata. Rasa kagetnya belum sepenuhnya memudar.
Pria berpenampilan rapi itu bangkit dan melangkah mendekati Ceria, lalu mengulurkan tangan kanan pada gadis mungil itu. “Kenalkan, aku Terry Allen, kakak Jamie dan Maddy.”
“Oh, kau Terry!” Ceria cepat-cepat menyambut uluran tangan itu. “Aku Ceria, teman Jamie. Maafkan ketidaksopananku.” Semburat merah berangsur memenuhi pipinya. Ia merasa malu sempat menganggap pria itu orang asing yang seenaknya masuk rumah orang, padahal justru pria itulah si tuan rumah dan Ceria yang orang asing. Mestinya Ceria bisa melihat kemiripan tiga bersaudara Allen. Terry bahkan tampak seperti Jamie versi leih dewasa dan rapi.
“I already knew you,” kata Terry tenang seraya melepaskan tangannya. “Dan kau tak perlu meminta maaf. Kau tidak melakukan kesalahan apa pun, Nona. Kau belum pernah melihatku, jadi wajar kalau kau terkejut melihatku tiba-tiba
berada di sini.”
Ceria hanya tersenyum kecil. Sementara pria itu kembali duduk di tempatnya semula dan lanjut menyesap kopinya.
“Di mana Jamie?” Terry bertanya setelah meletakkan cangkir kopi di meja.
“Masih di belakang,” jawab Ceria. “Apa kau melihat Maddy?” Ia balik bertanya. Sejak berpamitan pergi tadi pagi, Ceria sama sekali belum bertemu dengan si bungsu. Anak perempuan satu-satunya keluarga Allen itu belum pulang saat makan siang tadi.
“Oh, dia tidak akan pulang malam ini. Dia akan menginap di rumah temannya. Ada urusan katanya,” jawab Terry
dengan gaya tenang yang menjadi ciri khasnya. “Dan sekadar informasi, malam ini aku juga akan menginap di sini.”
Oh bagus, batin Ceria. Jadi, malam ini aku ditinggal sendirian bersama dua pria Allen.
Memang, sih ada Mona. Tetapi juru masak itu akan kembali ke pondoknya setelah hari gelap. Wanita paruh baya
itu tinggal bersama suaminya yang juga pegawai peternakan di sebuah pondok yang disediakan keluarga Allen untuk pegawai peternakan. Selain pondok yang ditempati Mona, ada dua pondok lagi yang ditinggali pegawai lainnya yang masih berstatus lajang.
“Tenang saja, aku tidak akan macam-macam, kok,” kata Terry seolah bisa membaca pikiran Ceria. “Tapi entah kalau Jamie.” Ia menambahkan sambil tersenyum misterius.
Ceria hanya balas tersenyum. Pipinya memanas mendengar ucapan Terry. “Uhm... aku… mau ke kamar. Senang bertemu denganmu.” Ia buru-buru melangkah pergi meninggalkan dapur sebelum anak tertua keluarga Allen itu
melihat seluruh wajahnya memerah.
***
“Oh, jadi kau pengacara?” Pertanyaan—atau pernyataan—Ceria terdengar di telinga Jamie yang sedang membaca buku di ruang depan setelah makan malam.
“Ya.” Terdengar suara Terry membalas. “Bukan profesi favorit di keluarga Allen. Akulah yang pertama dan satu-satunya. Kebanyakan dari kami berkutat di dunia entertainment. Kau tahu kan, Jamie, Maddy juga dulunya model
sebelum memutuskan berhenti dan mencoba menulis. Ayahku dulu juga aktor meski tak setenar John Travolta dan ibuku mantan penyanyi opera sebelum mereka memutuskan pensiun dan hidup damai mengurus peternakan. Sebagian besar sepupuku juga berprofesi sama.”
“Dan kenapa kau memilih jadi pengacara?” Ceria kembali bertanya. “Hanya ingin tampil beda?”
Terdengar Terry terkekeh pelan sebelum menjawab, “Honestly, aku juga tidak tahu. Tahu-tahu aku sudah terjebak di fakultas hukum dan… di sinilah aku.”
Terdengar tawa Ceria yang merdu bagaikan aliran air terjun. “Tapi kau menikmatinya, kan?”
“Well, ya. Aku suka persidangan.”
“Hm… jadi, kau tidak tinggal di sini?”
“Tidak,” sahut Terry. “Hanya Maddy dan orangtuaku yang tinggal di sini—sebelum mereka keliling dunia tentunya. Tapi aku juga tak jauh-jauh, kok. Aku tinggal di Dallas.”
Ceria mengangguk. Rasanya ia ingat Maddy pernah mengatakan kalau dua saudaranya tidak tinggal di peternakan ini. “Apa kau sering kemari mengunjungi orangtuamu?”
“Tidak juga,” jawab Terry. “Kau tahu, kan, pengacara. Kalau sedang sibuk, menangani kasus penting atau banyak klien misalnya, aku tidak bisa ke mana-mana. Rute harianku hanya apartemen, kedai kopi, kantor, dan pengadilan. Tapi kalau sedang tidak terlalu sibuk, aku pasti menyempatkan kemari.”
“Jadi, saat ini kau tidak sibuk?”
“Begitulah,” sahut Terry. “Aku baru saja menangani kasus yang cukup melelahkan dan aku memutuskan beristirahat sejenak. Jadi, aku tidak mau menerima klien untuk sementara. Aku ingin menenangkan diri di sini.”
“Hm… ya, kurasa tempat ini memang cocok untuk menenangkan diri,” Ceria setuju. “Suasananya damai. Menyenangkan.”
“Dan semakin menyenangkan dengan hadirnya tamu cantik di peternakan Allen.”
Oke, enough! Jamie menghempaskan bukunya di meja dan berjalan keluar, di mana kedua orang itu tengah mengobrol santai di beranda depan. Sedari tadi telinganya panas mendengar obrolan akrab dua orang yang baru saling mengenal tadi sore itu. Memang, sih mereka hanya ngobrol biasa, tetapi entah kenapa, tetap saja terdengar menyebalkan di telinganya dan ia tidak suka.
Jadi, begitu ia sampai di hadapan kedua orang itu, Jamie langsung menampakkan wajah masam. “Sudah malam. Kalian tidak masuk?” tanyanya, lebih ditujukan pada Ceria sebenarnya. Karena bagaimanapun—meski benci mengakuinya—Jamie tidak suka membuat masalah dengan Terry. Meskipun terlihat tenang, Terry bisa sangat menyeramkan jika marah. Sejak kecil ia selalu kalah nyaris dalam segala hal dengan pria yang dua tahun lebih tua darinya itu.
“Aku belum mengantuk,” kata Terry santai. Ia bukannya tak peka dengan apa yang dirasakan adiknya, tetapi ia merasa sedikit menggoda Jamie akan menyenangkan.
Kerutan samar terlukis di kening Ceria. Ia agak heran melihat Jamie yang tampak uring-uringan. “Eng… sebenarnya aku juga bel—“
“Besok pagi kita latihan berkuda lagi,” potong Jamie. “Jadi, kau harus tidur sekarang.” Tanpa menunggu respons Ceria yang masih menatapnya bingung, Jamie meraih pergelangan tangan gadis itu dan mengajaknya pergi.
Ceria tidak melawan. Ia masih sempat berpamitan dengan isyarat mata dan senyuman pada Terry sebelum mereka
melangkah memasuki rumah. Sementara Terry hanya tersenyum geli sambil geleng-geleng kepala. Sudah lama ia tak melihat sikap kekanakan adik laki-lakinya.
Jamie terus menggenggam tangan Ceria hingga mereka meniti anak tangga menuju lantai dua dan baru melepaskannya begitu sampai di depan kamar gadis itu. “Well, selamat tidur,” ucap Jamie canggung, menyadari telah bertingkah aneh dan hampir yakin Ceria pasti juga merasakannya.
“Sebenarnya aku belum mengantuk,” balas Ceria, terdengar dingin. “For God’s sake, ini masih jam sepuluh, Jamie. Aku bukan anak sepuluh tahun yang harus masuk kamar setelah makan malam.”
“Eng… aku….” Jamie menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Maaf, tapi… kupikir hari ini kau pasti lelah. Apalagi besok aku sudah berjanji akan mengajarimu berkuda lagi. Jadi… kurasa….”
“Kurasa kau yang lelah,” sela Ceria.
Jamie terkesiap. “Apa?”
“Seharian ini kau sangat sibuk,” ujar Ceria. “Pagi-pagi kau mengajariku berkuda, kemudian kau harus membantu dokter hewan menolong salah satu sapimu yang melahirkan, lalu ke padang untuk mengawasi ternak dan menggiringnya kembali. Kau juga harus membersihkan kandang karena dua pegawaimu tidak masuk. Jadi, kau pasti lelah.”
“Tidak. Aku tidak lelah,” balas Jamie. “Hal seperti itu sudah biasa kulakukan setiap kali aku pulang kemari.”
Oke, jadi bukan karena itu. Ceria menatapnya lekat dan menelengkan kepalanya. “Apa ini gara-gara tadi pagi?” ia bertanya. “Apa kau masih kesal karena aku sangat payah saat belajar berkuda?”
“Astaga, Ceria….” Jamie mengerang frustrasi. “Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak kesal. Ah, sudahlah! Sebaiknya kau tidur saja. Besok pagi kita latihan berkuda lagi.” Jamie membuka pintu kamar Ceria bersamaan dengan berakhirnya kalimat itu.
Tapi Ceria tetap bergeming di tempatnya. “Oke,” katanya, “kalau bukan itu yang membuatmu kesal, lalu apa?”
Jamie menatap bingung. “Apa, apanya?”
Ceria memutar bola mata lelah. “Kau terlihat aneh, Jamie. Katakan, ada apa?”
“Aku….” Jamie mengarahkan pandangan ke segala arah, sebelum akhirnya mengembuskan napas berat. “Oke, aku… sebenarnya… tidak suka kau terlalu akrab dengan Terry.” Meski sudah mengatakan alasan sebenarnya, ia tetap tak berani menatap mata Ceria.
Ceria merajut alis. “Kenapa?” tanyanya. “Dia kan kakakmu.”
“Aku tahu dia kakakku,” gerung Jamie. “Tapi aku tidak suka kau terlalu dekat dengannya.”
“Tapi kenapa?” Ceria mengulangi pertanyaannya karena merasa tidak mendapat jawaban jelas dari Jamie. “Kau tidak keberatan aku akrab dengan adikmu. Kenapa kau keberatan aku akrab dengan kakakmu?”
“Itu kan berbeda.”
“Apanya yang berbeda? Mereka sama-sama saudaramu.”
“Maddy perempuan dan Terry laki-laki.”
“Semua orang juga tahu itu, Jamie. Lalu, kenapa?” Ceria masih menatap bingung. “Kenapa jadi masalah kalau aku ngobrol dengan laki-laki?”
“Terry sudah punya istri,” Jamie memberitahu. “Meskipun saat ini mereka sedang dalam proses perceraian, tetap saja statusnya masih beristri.”
“So?” Ceria mengerutkan kening. “Masalah pribadi Terry bukan urusanku.”
“Dia… bukan… pria yang baik untukmu.”
Damn! Apa yang kukatakan? umpat batin Jamie.
Ceria menatap dengan mulut menganga dan mata mengerjap bingung. “God, Jamie! Aku dan Terry hanya ngobrol, bukan kencan atau berencana menjalin hubungan spesial. Kau ini kenapa, sih?”
“Ehm… aku….” Jamie tampak salah tingkah, sama sekali tak berani menatap Ceria.
“Kau sangat aneh hari ini, Jamie,” kata Ceria. “What’s wrong with you?”
“Aku….” Jamie kembali mengembuskan napas berat. “Aku tidak suka melihatmu dekat dengannya.”
“Kau sudah mengatakannya tadi,” desis Ceria. “Tapi kau tidak mengatakan alasan yang masuk akal.”
Kali ini Jamie mengarahkan wajahnya pada Ceria dan menatap lekat mata gadis itu. “Aku tidak suka melihatmu dekat dengannya,” tegasnya sekali lagi. Dan sebelum Ceria kembali mengingatkan bahwa ia sudah mengatakannya, Jamie melanjutkan, “karena aku tidak mau kau terjerat pesonanya. Aku tidak mau nantinya kau jadi menyukainya. Karena….” Jamie berhenti sejenak, berpikir sebaiknya melanjutkan kata-katanya atau tidak. Ah, sudahlah! Sudah kepalang tanggung. Jamie pun melanjutkan, “Karena aku ingin kau hanya menyukaiku.”
Mata bulat Ceria membeliak seolah melihat hantu, mulutnya yang kecil terbuka seakan baru saja mendengar kabar kalau planet Bumi akan segera hancur dalam hitungan detik. Dan seolah tak peduli dengan raut terkejut Ceria, Jamie berjalan mendekat hingga tubuhnya menempel pada gadis itu, mengangkat dagu lancip itu dengan ujung jarinya, lalu menunduk dan menyatukan bibirnya dengan bibir kering tapi lembut itu.
Jantung Ceria serasa berhenti berdetak. Namun, sama seperti yang sebelumnya, reaksi itu hanya bertahan selama beberapa detik. Detik berikutnya, ia memejamkan mata dan balas melumat bibir Jamie yang terasa sangat lembut. Juga manis.