No One Loves You Like I Do

No One Loves You Like I Do
21


Jamie kembali ke rumah saat hari menjelang siang. Natasha sudah pergi ke Houston untuk pemotretan. Ia heran saat mendapati rumah dalam keadaan sepi. Ke mana Maddy? Ke mana Ceria?


Ah, Ceria. Jamie harus meminta maaf pada gadis itu. Semalam ia meninggalkannya begitu saja karena kemunculan Natasha yang begitu tiba-tiba dan mengejutkannya.


Jamie segera menaiki tangga menuju kamar Ceria. Tangannya terangkat hendak mengetuk pintu yang tertutup di hadapannya, saat Maddy mendadak muncul dari kamar sebelah dan dengan nada datar berkata, “Ceria sudah pergi.”


Tangan Jamie yang menggantung di udara perlahan turun. “Apa?”


“Joshua menjemputnya tadi pagi. Mereka sudah kembali ke L.A.”


“Joshua menjemputnya?” Jamie mengernyit. “Kau pasti bercanda, kan?”


Maddy menatap kakaknya tajam. “Apa aku kelihatan bercanda?”


Maddy memang terlihat serius, tetapi Jamie belum bisa sepenuhnya percaya. Ia lantas membuka pintu kamar Ceria


dan tertegun melihat kekosongan di dalam ruangan itu.


“See?” ujar Maddy. “Aku tidak bercanda, kan? Ceria memang sudah pergi.”


Jamie tak mendengarkan adiknya. Dengan langkah panjang ia menyusuri semua kamar di lantai itu, berharap Maddy hanya bermain-main dengannya. Siapa tahu Ceria pindah ke kamar lain. Namun, setelah ia menyusuri semua tempat di dalam rumah, tanda-tanda keberadaan Ceria sama sekali tak tampak. “Ceria benar-benar pergi?”


Maddy menggeram. “I told you!”


“Tapi… kenapa tiba-tiba? Kenapa dia tak memberitahuku?”


“Kenapa harus?” balas Maddy dingin. “Kau bahkan mengabaikannya demi melihat nenek sihir itu.”


“Hei!”


“Apa?” balas Maddy sengit. “Kau masih mau membelanya setelah dia menyakitimu? Kau ini bodoh atau apa?”


Jamie tak membalas. Meski kesal dengan sikap adiknya, ia tak suka bertengkar dengan sudara perempuan satu-satunya itu.


“Apa saja yang kalian lakukan semalam sampai jam segini kau baru pulang?” Nada bicara Maddy tetap dingin. “Kau tak mungkin langsung tidur dengannya setelah yang dia lakukan padamu, kan? Atau mungkin?”


Jamie mendengus. “Bukan urusanmu!” Ia lalu melangkah pergi melalui pintu belakang dan langsung melangkah cepat menuju peternakan.


Entah apa yang membuatnya kesal. Tapi rasanya ia ingin sekali memukul dan menendang apa saja. Setelah menjadikan pagar dan pohon sasaran tak bersalah, perasaannya sedikit membaik. Ia lalu meraih ponsel dari saku celananya dan menghubungi nomor yang sudah ia hafal di luar kepala—nomor ponsel Joshua. Namun, nomor yang ia hubungi tidak aktif. Ia ganti memanggil nomor Ceria. Sama saja, keduanya tidak bisa dihubungi.


“Argh…!” Jamie kembali menendang pagar pembatas tempat latihan berkuda dengan kesal. Lalu berbalik kembali menuju rumah, langsung masuk ke kamarnya dan membanting pintu hingga berdebam.


***


“Thanks, guys!” Ceria keluar dari mobil Marco begitu sampai di depan rumah Theo. Setelah turun di LAX, Marco yang sudah dihubungi Joshua sebelumnya, telah duduk manis di ruang tunggu terminal kedatangan domestik, menunggu mereka tentunya. Tadinya Joshua dan manajernya akan mengantar Ceria ke rumah, tapi gadis itu menolak. Saat ini Ceria sedang tidak ingin pulang. Dan satu-satunya tempat yang biasa ia datangi saat sedang sedih atau frustrasi hanya rumah Theo.


“Never mind!” Marco mengibaskan tangannya begitu saja.


“Tidak usah.” Ceria menggeleng. “Kau pulang saja. Kau pasti lelah setelah berkendara jauh. Istirahatlah.”


“Kau yakin?”


Ceria mengangguk. “Maaf ya, aku sudah merepotkanmu. Kau jadi harus bolak-balik San Antonio-Dallas.”


Joshua menggeleng pelan. “Yang penting kau baik-baik saja.”


“Iya, tenang saja.” Ceria tersenyum kecil. “Aku akan baik-baik saja.” Setidaknya Ceria berharap demikian, meski tidak yakin. Walau merasa hancur lebur, bagaimanapun ia harus berusaha terlihat tegar agar Joshua tidak khawatir.


Setelah yakin Ceria akan baik-baik saja, Joshua pun berpamitan.


“Take care!” Ceria berpesan sebelum BMW silver di depannya melaju pergi dari halaman luas rumah Theo.


Setelah mobil itu tak tampak, Ceria segera melangkah memasuki rumah besar Theo. Ruang depan tampak sepi. Jadi, Ceria langsung meneruskan langkah menuju kamarnya. Sudah terbiasa seperti itu karena rumah ini bagaikan rumah kedua baginya. Ia bahkan mengantongi kunci duplikatnya.


Namun, sebelum sampai ke tangga menuju lantai dua tempat kamarnya berada, pemandangan di ruang tengah membuatnya terpaku di tempat. Beberapa meter di hadapannya, tepatnya di atas sofa besar di depan layar televisi sebesar 70 inci yang menyala, tampak Theo dan Javier saling memagut penuh gairah.


Bukan berarti Ceria merasa risih atau apa pun atas hubungan dua pria tersebut. Ia bukan homofobik. Hubungan antar sesama pria atau wanita merupakan hal biasa baginya dan ia sama sekali tak merasa terganggu olehnya. Menurutnya, setiap orang berhak mencintai dan menjalin hubungan dengan siapa pun yang mereka inginkan. Lagi pula, sejak awal ia memang sudah menduga ada sesuatu antara Theo dan desainer taman itu—bisa dilihat dengan jelas dari gelagat dan cara mereka saling menatap.


Hanya saja, di saat ia sedang patah hati seperti ini, pemandangan penuh cinta dan kemesraan di hadapannya itu tentu membuatnya merasa semakin menyedihkan. Sebagai manusia normal, ia tentu merasa cemburu melihat orang lain bisa berbahagia dengan orang yang dicintainya, sementara dirinya lagi-lagi harus terluka.


Theo dan Javier melepaskan ciuman mereka untuk meraup oksigen. Dan saat itulah mata Theo menangkap keberadaan orang lain di ruangan itu. “Ceria?”


Ceria tersadar. “Ehm… maaf, aku tak bermaksud—” ucapannya terputus, “—ah, aku langsung ke kamar saja.” Dengan canggung, ia cepat-cepat melangkah menuju tangga dan naik ke lantai dua.


Theo refleks bangkit dan menyusul Ceria. Tidak perlu pamit terlebih dahulu pada Javier, karena ia tahu kekasihnya itu tak akan keberatan. Meski tak sedekat Theo, tapi mereka sama-sama peduli pada gadis itu. “Ceria, kau baik-baik saja?”


Langkah Ceria yang hampir sampai di depan kamarnya terhenti begitu tangan kirinya ditahan seseorang dari belakang. Ia menoleh dan mendapati wajah cemas Theo yang menatapnya. “I’m okay,” sahutnya, berusaha setenang mungkin. “Kembalilah. Selesaikan urusanmu.”


“Javier bisa menunggu,” balas Theo tanpa melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Ceria. “Kau terlihat kacau. Apa yang terjadi? Kenapa kau mendadak pulang?”


Theo ingat kemarin sore Ceria meneleponnya, bercerita dengan gembira kalau Jamie mengajaknya kencan. Itu berarti hubungan mereka sudah semakin maju. Seharusnya saat ini mereka bersenang-senang. Tapi kenapa Ceria tiba-tiba kembali? Ia bahkan tidak mengabari Theo terlebih dahulu.


“Aku lelah. Aku ingin istirahat. Nanti saja aku cerita, oke?”


Melihat tatapan memohon Ceria, Theo pun melepas genggamannya. “Baiklah.” Mungkin gadis itu memang perlu waktu untuk sendirian. “Eum… tentang aku dan Javier, kau… tidak keberatan, kan?” Ia tahu mungkin bukan waktu yang tepat menanyakan itu, tetapi pendapat Ceria sangat penting bagi Theo. Ia tidak ingin Ceria menjauh karena orientasi seksulanya.


“Tentu saja tidak.” Ceria tersenyum. “Kau berhak mencintai siapa pun.”


Theo mendesah lega. “Istirahatlah!” Ia mengusap lembut kepala Ceria. “Kau bisa bercerita saat merasa lebih baik


nanti.”


Ceria mengangguk, lalu melanjutkan langkah menuju kamarnya. Setelah Ceria menghilang di balik pintu, Theo kembali ke lantai bawah, menemui Javier yang menunggu. Meski begitu, mereka jelas tak akan melakukan apa pun selain duduk bersama sambil menonton televisi dan mengobrol. Tidak dengan kondisi Ceria yang terlihat begitu rapuh. Obrolan mereka pun tidak jauh dari topik apa yang sebenarnya terjadi pada Ceria. Mereka menduga ada hubungannya dengan Jamie, tetapi tidak bisa menebak dengan pasti apa yang kira-kira terjadi di antara dua orang itu.