
Terry berjalan menghampiri Ceria yang tengah berdiri menghadap arah barat di bawah pohon cemara. Warna lembayung telah memenuhi langit di mana gadis itu memakukan pandangannya. Seperti halnya hampir seluruh
manusia di muka bumi ini, gadis itu tampaknya juga suka menyaksikan matahari terbenam.
“Hai!” Terry menyata begitu sampai di sebelah Ceria. “Maaf, aku tak bermaksud mengejutkanmu,” ujarnya cepat setelah melihat gadis itu berjingkat.
“Tidak apa-apa.” Ceria menggeleng sambil tersenyum. “Aku memang gampang kaget.”
“Hm….” Terry mengangguk paham. “Menikmati sunset, eh?”
Gadis itu mengangguk. “Aku suka melihat matahari terbit dan terbenam.” Seulas senyum kembali menghiasi wajah cantiknya sebelum kembali memakukan pandangan ke arah barat.
Terry balas tersenyum dan ikut melemparkan matanya ke arah yang dipandang Ceria. Pemandangan menjelang matahari terbenam memang indah. Wajar jika Ceria dan hampir semua orang menyukainya. “Jadi, bagaimana menurutmu tempat ini?”
“Menyenangkan,” jawab Ceria cepat sambil kembali menatap Terry. “Aku belum pernah mengunjungi peternakan sebelumnya. Ini kali pertama aku melihat sapi, domba, dan kuda sebanyak itu. Mengagumkan.” Bibirnya kembali melengkungkan senyuman.
Terry tidak bisa memungkiri bahwa senyuman Ceria sangat mempesona. Pantas saja Jamie menyukainya. “Bagaimana latihan berkudamu?” ia kembali bertanya.
“Ah, ya, aku sudah bisa menunggang kuda sendiri. Tapi hanya berjalan-jalan di dalam lapangan berkuda saja,”
jawab Ceria.
“Sepertinya Jamie mengajarimu dengan baik.”
“Ya. Dia sangat sabar mengajariku meski aku begitu penakut,” ujar Ceria. “Aku masih belum berani menunggang kuda di luar arena berkuda. Meski sangat ingin sebenarnya.”
“Oh, kau sudah cukup baik langsung bisa berkuda dalam dua hari,” balas Terry. “Hanya perlu membiasakan diri saja untuk bisa mahir.”
Ceria kembali tersenyum dan mengangguk. Lalu kembali memalingkan wajahnya menatap matahari yang tampak
begitu besar di balik bukit.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” Terry kembali mengajukan pertanyaan.
“Silakan,” sahut Ceria, kali ini tanpa mengalihkan matanya ke arah Terry. Panorama matahari yang turun perlahan-lahan di balik bukit lebih menyita perhatiannya.
“Berapa lama kau dan Jamie saling mengenal?”
“Ehm….” Ceria berpikir sejenak, kemudian menatap Terry. “Aku tidak yakin.”
Terry menelengkan kepala. “Huh?”
“Kami bertemu kali pertama di sebuah pesta—entah pesta apa atau siapa aku lupa. Theo yang mengajakku dan dia juga yang memperkenalkan kami,” jelas Ceria. “Tentu saja sebelumnya aku sudah sering melihatnya di televisi atau majalah. Saat di pesta itu kami lumayan mengobrol banyak hal, karena dia dan Joshua bisa dibilang teman dekat Theo. Tapi setelah itu kami nyaris tidak pernah berkomunikasi. Kami tak bertukar nomor telepon atau apa pun. Hanya saling menyapa jika kebetulan bertemu atau berada di event yang sama. Kami baru benar-benar berteman setelah aku bergabung dengan The Hunters.”
“Berteman sangat dekat,” ralat Terry.
Ceria tertawa kecil. “Kalau menurutmu begitu.”
“Kelihatannya seperti itu,” ujar Terry. “Dan kau satu-satunya teman dekat wanita Jamie. Setahuku dia belum pernah punya sahabat wanita sebelumnya.”
Yeah, benar, sahabat, batin Ceria getir. Hanya sahabat.
“Jadi, bagaimana menurutmu Jamie?”
“Dia baik,” sahut Ceria. “Dia teman yang sangat menyenangkan.”
“Teman ya,” gumam Terry. “Tidak ingin lebih?”
Ceria mengerjap. Apa maksudnya?
Terry tersenyum. “Kurasa kalian cocok menjadi pasangan,” ujarnya tanpa ragu.
Ceria terbelalak. Sesaat jantungnya berhenti berdetak, tapi kemudian ia menggeleng dan tersenyum. “Aku bukan tipe Jamie,” katanya. “Kami hanya cocok sebagai sahabat, tak lebih.” Meski sebenarnya aku menginginkan lebih, batinnya kembali miris.
“Hm… memangnya seperti apa tipe Jamie menurutmu?”
“Cantik, tinggi, seksi, pirang, bertungkai panjang, dada besar, mata seindah langit. Seperti Natasha,” jawab Ceria. “Kau tahu kan Jamie sangat mencintai Natasha.”
“Eh? Kau jahat sekali.”
“Tidak, aku tidak jahat,” Terry menggeleng. “Aku tahu wanita itu tidak pernah sungguh-sungguh mencintai Jamie. Mungkin menyakitkan bagi Jamie saat dia pergi, tapi kurasa itu lebih baik daripada Jamie dimanfaatkan lebih lama lagi. Sudah waktunya Jamie menyadari apa yang terbaik baginya. Dari dulu bocah itu selalu bodoh dalam memilih kekasih.”
Ceria diam. Memang ada benarnya juga perkataan Terry. Kecuali Jamie, rasanya semua orang juga tahu seperti
apa Natasha sebenarnya. Baik teman-teman dekat Jamie maupun seluruh kru yang terlibat dalam serial The Hunters hampir tidak ada yang menyukai Natasha. Ia terlalu angkuh. Lagaknya seperti ratu, begitu kata mereka. Tapi menurut Ceria, itu hal yang wajar. Natasha cantik dan seorang supermodel. Ia berhak bersikap angkuh karena ia memiliki sesuatu yang pantas disombongkan.
“Saat ini mata Jamie hanya disilaukan oleh kilau permata imitasi sehingga tidak bisa melihat berlian yang sesungguhnya,” kata Terry lagi. “Tapi aku yakin dia akan segera menyadari kesalahannya. Sebentar lagi matanya akan segera terbuka. Tidak ada yang bisa mengalahkan kemilau berlian asli.”
Ceria mengernyit. Tidak terlalu paham dengan perkataan Terry. Dan tampaknya sang pengacara juga tak berniat menjelaskan lebih.
“Eh, apa itu?” Terry tiba-tiba menyipitkan matanya yang tertuju pada kerah baju Ceria.
“Apa?” Ceria balik bertanya. Tidak mengerti apa yang sebenarnya ditanyakan Terry.
“Ada sesuatu di kerah bajumu. Tunggu, jangan bergerak!” ujarnya sembari melangkah mendekat hingga jarak diantara mereka hanya terpaut beberapa sentimeter.
Ceria hanya diam saat Terry menundukkan kepala untuk melihat sesuatu entah apa itu yang menempel di kerah bajunya. “Oh, ternyata hanya ul—”
Bugh!
“—ouch!” Belum juga Terry menyelesaikan kalimatnya dan tangan kanannya masih separuh jalan menuju kerah baju Ceria, sebuah batang kayu menghantam punggungnya. Ia pun berbalik dan mengumpat, “Damn it, Jamie! Apa
yang kaulakukan?!”
Ceria terkesiap. Ia bisa melihat Jamie berdiri beberapa meter di belakang Terry—tepatnya di samping gudang tempat penyimpanan kayu bakar—dengan tumpukan kayu bakar di tangannya. Menatap mereka dengan rahang mengeras, kening berkerut, dan tatapan membunuh. Wajahnya benar-benar tidak enak dilihat.
“Kau yang sedang apa?” balas Jamie dingin. Tatapannya tetap tajam menusuk seolah ingin mencabik tubuh kakaknya.
“Apa? Aku hanya mengobrol dengan Ceria,” balas Terry yang sudah kembali dalam mode tenangnya. “Ada yang salah?”
“Sudah kubilang kau tidak boleh mendekatinya!” Jamie kembali melemparkan sepotong kayu dari tumpukan di tangannya, namun kali ini berhasil ditepis dengan mudah oleh Terry.
“Kami kan hanya mengobrol biasa. Kenapa kau marah-marah seperti itu?” Wajah Terry tetap datar saat menanyakan itu. Sebuah pertanyaan yang juga ingin diutarakan Ceria.
Jamie mendekat dengan langkah lebar dan wajah kesal. Tumpukan kayu bakar di tangannya telah berhamburan
di tanah. “Kalau hanya mengobrol, lalu kenapa kau menunduk di wajah Ceria?” desisnya tepat di depan Terry. “Kau mau menciumnya, kan?”
“Bu—” Ceria yang juga mendengar desisan Jamie cepat-cepat menyahut untuk mengklarifikasi.
Namun di saat bersamaan, Terry justru berkata, “Kalau iya, memangnya kenapa?” dengan nada datar dan poker face andalannya. “Dia bukan pacarmu, kan?”
Jamie menggertakkan gigi hingga rahangnya terlihat semakin menegang. Matanya menyipit, tangannya terkepal hingga buku jarinya memutih. Sementara sang kakak hanya balas menatap dengan tenang. Sama sekali tak merasa terintimidasi dengan reaksi Jamie.
Ceria membuka mulutnya hendak mengonfirmasi kebenaran sebelum dua saudara itu saling bunuh. Namun, tubuhnya mendadak membeku ketika ia merasakan sesuatu merambat di leher kirinya. Apa pun itu, sepertinya sesuatu yang dilihat Terry bertengger di kerah bajunya tadi, yang belum sempat diambil karena punggungnya keburu terhantam balok kayu dari Jamie. “Guys,” panggilnya dengan suara agak bergetar. Kedua pria itu menoleh. “Bisa tidak, salah satu dari kalian melihat dan please, singkirkan apa pun itu yang saat ini berada di leherku?”
Jamie yang tak begitu paham mengerutkan kening dan menelengkan kepala menatap Ceria. Saat tatapannya sudah turun ke leher Ceria dan baru menyadari keberadaan sesuatu yang hinggap di leher jenjang gadis itu, kakaknya sudah lebih dulu membuka suara, “Ah, ya, aku tadi belum sempat mengambilnya. Maaf,” sambil mengulurkan tangan kanan dan meraih sesuatu—yang ternyata seekor ulat gemuk berwarna hijau kecokelatan—lalu membuangnya begitu saja.
Huft! Ceria bernapas lega. Tadinya ia pikir itu laba-laba beracun atau lipan, mungkin juga kalajengking, ternyata cuma ulat yang tidak berbahaya. Tahu begitu ia ambil sendiri tadi. Tetapi karena Terry sudah berbaik hati menyingkirkan makhluk yang merambati lehernya itu, ia pun mengucapkan terima kasih, kemudian beralih menatap Jamie. “Terry tadi bukannya mau menciumku,” jelasnya. “Dia hanya mau mengambil sesuatu—ulat—itu dari kerah bajuku.”
Raut wajah Jamie berangsur melunak sembari menatap sang kakak. “Benarkah?”
Terry tidak menjawab. Hanya menyeringai puas sebelum melangkah pergi meninggalkan mereka berdua dengan langkah santai.
Setelah Terry menjauh, Jamie jadi salah tingkah sendiri di hadapan Ceria. Tiba-tiba melempar kayu pada kakaknya hanya karena prasangka negatif tanpa tahu kebenarannya seperti tadi, pasti terlihat sangat konyol dan kekanakan. Ceria pasti menganggapnya aneh. Apalagi tadi ia marah-marah tidak jelas begitu. Rasanya bahkan sapi pun tahu kalau ia cemburu.
“Uhm….” Jamie menatap Ceria malu-malu dan setengah cemas. “Sebaiknya kau masuk. Sudah gelap. Udaranya dingin.” Lalu ia berbalik dan memunguti potongan balok-balok kayu yang tadi ia campakkan begitu saja saat menghampiri Terry.
“Biar kubantu.” Ceria sekonyong-konyong telah ikut membungkuk di sampingnya, memunguti kayu-kayu untuk perapian itu.
Jamie menoleh dan mendapati Ceria tersenyum manis padanya, seolah tragedi barusan tidak pernah terjadi. Ia pun balas tersenyum dan kembali sibuk memunguti kayu. Hingga semua kayu terkumpul dan mereka memasuki rumah beriringan, tepat ketika langit berubah warna menjadi hitam.