No One Loves You Like I Do

No One Loves You Like I Do
5


5


Kelab malam kelas atas yang terletak di Figueora Street itu masih terus didatangi pengunjung. Seperti yang dikatakan Zack, beberapa pencari berita tampak berkeliaran di depan pintu masuk kelab. Meski tak bergerombol atau sebanyak yang diperkirakan Joshua, mereka tampak siap membidikkan kamera kapan pun Jamie keluar dari sana. Satu-satunya hal yang mencegah mereka merangsek ke dalam adalah keberadaan dua petugas keamanan kelab berbadan besar yang menjaga pintu masuk dengan wajah sangar.


“Apa tidak mungkin mengeluarkan Jamie dari pintu belakang?” tanya Ceria yang masih tidak yakin akan melaksanakan ide konyol Joshua.


“Aku yakin Zack sudah mencoba kemungkinan itu,” sahut Joshua.


Ceria mendesah berat sambil tetap mengarahkan matanya pada bangunan kelab dua lantai itu dari dalam mobil yang dikemudikan amat pelan oleh Joshua. Kalau Zack gagal mengeluarkan Jamie dari pintu belakang, itu artinya ada juga beberapa wartawan atau paparazzi yang menunggu di sana.


“Kau yakin kita harus melakukan idemu?” tanya Ceria lagi, masih berberat hati. “Kau yakin akan berhasil? Menurutmu mereka akan tertarik? God, ini benar-benar konyol, Joshua!”


“Tidak ada yang bisa memastikan ideku akan berhasil atau tidak. Tapi kurasa layak dicoba,” jawab Joshua. “Atau mungkin kau punya ide lain?”


Ceria berpikir sejenak, lalu menggeleng. Selama ini ia selalu berusaha menghindarkan wajahnya dari media—meski selalu saja ada paparazzi yang mampu menangkap gambarnya. Jadi, ia benar-benar tak tahu bagaimana cara menarik perhatian wartawan.


“Aku tahu,” ujar Joshua menganggapi kebimbangan yang tampak di wajah Ceria, “sangat kecil kemungkinan ideku akan berhasil. Para jurnalis itu tidak akan mudah dipancing. Mereka tidak bodoh. Mereka tidak akan percaya begitu saja. Tapi, kita tak punya cara lain. Kita harus secepatnya mengeluarkan Jamie dari sana.”


Ceria mengembuskan napas kasar. “Kau benar.”


“Atau mungkin kau lebih setuju dengan skenario pertama kita?” tanya Joshua. “Dengan begitu kau tidak


per—”


“Tidak!” Ceria memotong cepat.


Yang dimaksud Joshua dengan skenario pertama adalah ide spontan yang ia cetuskan kali pertama tadi, yaitu dirinya dan Theo pura-pura berkelahi di dekat para jurnalis itu berkumpul. Dengan begitu, mereka pasti akan langsung melupakan Jamie dan lebih memilih mengambil gambar kedua pria yang tengah baku hantam.


“Ide itu lebih berpotensi berhasil daripada yang kedua,” ujar Joshua.


Ceria tahu, tapi ia tetap menggeleng. Selain akan menimbulkan skandal yang tidak baik bagi keduanya, ia juga tidak rela wajah tampan dua orang itu lebam-lebam. Buntutnya juga pasti akan panjang. Wajah mereka merupakan aset berharga. Ia tahu betul Theo masih memiliki kontrak dengan beberapa majalah untuk pemotretan. Pasti akan


menjadi masalah kalau sampai ia melukai wajahnya. Joshua, sih mengaku tidak mengambil pekerjaan dulu untuk sementara—mau istirahat katanya. Namun, tetap saja tidak bagus kalau wajahnya rusak.


“Atau mungkin kau bisa berjalan setengah telanjang di depan mereka,” usul Joshua kemudian. “Aku yakin mereka akan langsung memburumu dan melupakan Jamie. Lebih bagus lagi sambil berjalan terhuyung-huyung dan mengoceh tidak jelas.”


Ceria mendelik dan menghantamkan tinjunya pada lengan kekar Joshua. Yang benar saja! Mana mungkin ia melakukan hal gila seperti itu. Keluarganya bisa terkena serangan jantung. Namun, tentu saja hantaman dari tangan mungil itu sama sekali tak memberi efek apa pun pada Joshua. Pria dengan rahang persegi itu justru tertawa sambil mempercepat laju mobilnya menjauhi area kelab.


***


Para pemburu berita itu masih menunggu dengan sabar di depan kelab malam. Sebagian bersandar di dinding  luar bangunan dan sebagian lain duduk-duduk di tepi trotoar. Entah apa yang begitu menarik dari seorang aktor yang mabuk berat setelah lamarannya ditolak sang kekasih, sehingga mereka rela menunggu sekian lama hanya untuk mengambil gambarnya.


Memangnya sudah tidak ada tingkah selebritas yang lebih fenomenal lagi? Apakah Paris Hilton sudah bosan membuat sensasi? Kim Khadarsian? Atau Lady Gaga, mungkin? Miley Cyrus? Lindsay Lohan? Atau siapa pun itu yang wajahnya sering wara-wiri di media massa.


Rasa-rasanya di luar sana masih banyak selebritas yang sengaja bertingkah sensasional agar wajahnya bisa muncul di media massa setiap hari. Entah kenapa, para pencari berita itu justru menanti kemunculan aktor yang sedang patah hati. Mungkinkah mereka sudah bosan dengan sensasi para pesohor yang itu-itu dan begitu-begitu saja? Atau mereka hanya memanfaatkan apa yang ada di depan mereka saat ini? Entahlah. Hanya Tuhan dan mereka yang tahu.


Seorang pria berwajah Latin berusia sekitar awal 30-an berjalan sambil sibuk menatap layar ponsel mendekati kelab, seolah hendak masuk ke sana. Tanpa sengaja—atau begitulah kelihatannya—ia menabrak salah satu pria yang berdiri di dekat pintu masuk. “Oh, maaf, aku tak sengaja,” ucapnya langsung dengan tampilan wajah benar-benar menyesal.


“Tak masalah,” sahut sang pria yang merupakan salah satu dari wartawan yang menanti di sana.


“Apakah kau jurnalis?” tanya si pria Latin sembari mengamati pria yang baru saja ditabraknya.


“Ya.”


Si pria Latin lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling dan mendapati ada beberapa pria lagi dengan atribut serupa atau hampir mirip. “Apa yang kalian lakukan di sini?”


“Menanti berita, tentu saja.” Sang jurnalis menjawab.


“Hm… kalau kalian mencari berita menarik, aku baru saja melihat hal yang cukup menarik,” kata si pria Latin. “Bagi kalian maksudku. Aku, sih tidak begitu tertarik dengan apa yang dilakukan para orang terkenal itu.” Ia cepat-cepat menambahkan. Menampakkan wajah tak peduli.


Salah satu dari para jurnalis itu mengangkat sebelah alis. “Apa itu?”


“Well,” si pria mengedikkan bahu acuh tak acuh, “di sana tadi aku melihat Joshua Pendleton bersama… lawan mainnya di The Hunters, si gadis Asia itu, siapa namanya? Whatever, aku lupa.” Ia tampak sama sekali tak tertarik dengan kehidupan para selebritas. “Yang jelas, mereka terlihat mesra. Kurasa mereka terlibat cinta lokasi. Tapi entahlah, aku tidak terlalu mengikuti berita hiburan. Apa itu berita basi?”


Sang wartawan tampak tertarik. Itu sama sekali bukan berita basi. Mereka bahkan belum pernah mendengarnya. Selama ini sepertinya tak nampak indikasi kedua orang itu bisa terlibat cinta lokasi. Malah Ceria terlihat lebih dekat dengan James Allen, juga Theo Watson. “Di mana kau melihat mereka?”


“Di dekat sini. Pelataran parkir Staples Center,” jawab pria itu sambil menunjuk arah yang dimaksud.


“Kau serius?”


“Tentu saja,” sahut si pria. “Memangnya apa untungnya bagiku menipu kalian?”


“Kau yakin itu Joshua Pendleton dan Ceria?”


“Ah, jadi namanya Ceria.” Pria itu berlagak seakan baru mendengar nama itu. “Ya, aku yakin itu mereka. Aku memang tak mengikuti infotainment, tapi aku selalu menonton The Hunters. Jadi, aku hafal wajah mereka. Ah,


tunggu!” Ia terlihat mengutak-atik ponselnya. “Aku sempat mengambil foto.” Ditunjukkannya layar ponsel pada pria sebelahnya. “Aku memang tak begitu tertarik dengan gosip, tapi aku cukup menyukai mereka. Jadi, kupikir tak ada salahnya menyimpan untuk kenang-kenangan,” terangnya. “Dan sepertinya bagus juga kalau kuunggah di akun


media sosial milikku.”


Pria di sampingnya tampak serius mengamati layar ponsel milik pria asing itu. Bahkan rekannya yang lain pun beringsut mendekat, ikut memakukan atensi pada layar. Tampak sepasang pria dan wanita yang tengah tertawa bersama sambil bergandengan tangan dengan latar sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik yang tak lain Joshua dan Ceria. Mereka tentu sudah sangat hafal semua wajah para pesohor yang sering mereka buru beritanya. Apalagi dalam foto itu, mereka tampil apa adanya, tanpa penyamaran atau atribut tambahan apa pun yang bisa membedakan wajah mereka dari yang biasa tampak di televisi.


“Bagaimana? Mereka benar-benar pemeran The Hunters, kan?” Celetukan si pria Latin membuyarkan kekhusyukan para jurnalis itu mengamati calon target mereka.


“Ya, mereka benar Pendleton dan Ceria,” balas salah satu jurnalis sembari melepas pandangan dari layar gadget. Sang pemilik mengantongi kembali ponselnya. “Apa mereka masih di sana?”


“Kurasa,” sahut sang pria Latin. “Mereka baru sampai saat aku melihatnya. Sepertinya sedang menunggu orang lain. Jadi, kurasa mereka akan agak lama di sana.”


Para jurnalis tampak saling pandang, seolah tengah menanyakan pendapat masing-masing.


“Sudah ya, aku mau masuk dulu,” pamit sang pria Latin sembari berjalan melewati sang jurnalis dan melangkah memasuki kelab. Membiarkan para pencari berita menimbang-nimbang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


“Bagaimana menurut kalian?” tanya salah satu dari kumpulan itu.


“Sepertinya bagus,” balas rekannya.


“Jadi, kita tinggal Allen dan memburu lawan mainnya?” pria lain menimpali.


Kembali keheningan menyelimuti mereka. Masing-masing tampak berpikir.


“Bagaimana kalau kita bagi tugas?” usul salah satunya. “Sebagian menunggu Allen di sini, sebagian ke Staples Center. Nanti kita bertukar berita.”


Rekannya yang lain saling berpandangan, lalu serempak menggeleng.


“Bukan begitu kesepakatannya tadi,” ujar salah satunya. “Kita harus meliput berita yang sama. Siapa yang bisa menjamin kalian akan membagi berita yang benar bila kita berpisah jalan?” Tampaknya ia tak memiliki kepercayaan penuh pada rekan-rekannya. Wajar, mereka berasal dari media berbeda, yang kebetulan meliput—atau memburu—berita yang sama. “Jika kita memutuskan berpisah jalan, maka kesepakatan batal. Tidak ada tukar berita.”


“Baiklah, aku memilih Joshua Pendleton saja,” ujar salah satu pria. “Aku memilih berita yang pasti-pasti saja. Tidak ada yang tahu sampai kapan Allen akan bertahan di dalam sana. Aku pergi sekarang, sebelum mereka kabur juga.” Maka ia pun beranjak dari tempatnya mendekam sejak beberapa jam yang lalu, menjemput berita lainnya yang tak kalah menarik.


Mengawasi dari balik pintu masuk kelab, si pria Latin yang tak lain adalah Javier langsung menelepon Joshua selepas kepergian para pencari berita itu, untuk mengabari bahwa sejauh ini rencana mereka berjalan baik dan menyuruhnya bersiap melancarkan aksinya.


Tak lama, sebuah BMW hitam yang dikendari Theo berhenti di depan kelab malam itu. Tanpa mau membuang


waktu, Javier segera memapah keluar Jamie yang nyaris tidak sadar bersama Zack di sisi lain dan segera memasukkannya ke dalam mobil Theo yang langsung meluncur pergi sebelum para pemburu berita kembali.


***


Tak begitu jauh dari kelab malam, tepatnya di pelataran parkir Staples Center yang cukup lengang karena tidak ada pertandingan apa pun, Joshua yang telah menerima tanda dari Javier telah bersiap melaksanakan ide konyolnya. Ia berdiri sangat dekat dengan Ceria yang sudah duduk di atas kap mobil sejak mereka sampai beberapa saat lalu. Kaki mereka saling bersentuhan. Kedua lengan mereka saling melingkari pinggang pasangan masing-masing dan mereka tampak berbicara sambil sesekali diselingi tawa renyah. Jarak antara wajah keduanya sangat dekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.


Semua momen itu tertangkap oleh wartawan yang tiba beberapa menit setelah Javier menelepon. Mereka bukan tak sadar kalau para wartawan itu telah mengambil gambar mereka dari jauh. Namun, mereka pura-pura tidak tahu, karena memang begitulah rencananya.


Lalu, saat para wartawan semakin mendekat, Joshua pun memiringkan kepalanya dan mencium lembut bibir Ceria. Kilatan flash kamera menghujani mereka. Keduanya pura-pura terkejut dan cepat-cepat melangkah memasuki mobil. Saat para jurnalis itu mendekat untuk meminta konfirmasi, pintu mobil Joshua telah terkunci dan segera meluncur pergi.


“Gosh, that was crazy!” keluh Ceria sambil memukul pelan keningnya dengan kepalan tangan kanan.


Joshua menatap Ceria dengan kening berkerut. “Kenapa? Aku orang terakhir di dunia yang ingin kaucium?”


Ceria memutar bola matanya. “Kau tahu bukan itu maksudku.”


“Tidak,” sahut Joshua sambil memasang wajah polos. “Jelaskan padaku!”


Ceria mengerang. “Besok wajahku pasti menghiasi media massa dan gosip tentang hubungan kita akan segera


menjadi topik hangat infotainment.”


Sementara Ceria gusar, Joshua justru menyeringai lebar. “Bukankah itu bagus?”


“Bagus apanya?”


“Well,” Joshua mengedikkan bahu, “semakin sering muncul di infotainment, kau akan semakin terkenal. Banyak, kan, selebritas yang sengaja mencari sensasi agar wajahnya bisa muncul di media setiap hari. Mereka bahkan sengaja menyebarkan gosip tentang diri mereka sendiri agar dikejar wartawan.”


“Yeah, seperti kita tadi.”


“Hei, itu berbeda!” kilah Joshua. “Yang kita lakukan tadi hanya pengalih perhatian.”


“Dan berpotensi menjadi gosip,” sambung Ceria. “Haah… kau tahu aku benci menjadi sorotan infotainment.”


“Lalu, kenapa kau menjadi aktris?”


“Aku mencintai peran,” jawab Ceria. “Aku suka berakting. Aku menikmati kesibukan saat pengambilan gambar.”


“Risiko menjadi aktor adalah menjadi terkenal,” kata Joshua. “Dan risiko menjadi orang terkenal adalah menjadi sorotan publik. Sebagai public figure, mau tidak mau kau harus rela sebagian kehidupan pribadimu menjadi


santapan publik.”


“Yeah, aku tahu.”


“Tapi aku heran,” kata Joshua lagi. “Kau selalu menghindari wartawan, tapi tak pernah keberatan tampil di televisi untuk talkshow atau wawancara.”


“Aku hanya menghindari pencari berita di jalanan. Mereka cenderung mengorek kehidupan pribadiku dan lebih menyukai skandal daripada prestasi, mengambil gambar tanpa sepengetahuanku, karena mungkin memang hal itu yang diminati khalayak,” jelas Ceria. “Sementara talkshow atau wawancara di televisi lebih jelas arahnya. Sejak awal aku sudah diberi tahu garis besar tema yang akan dibahas. Yeah, meski kadang ada jebakan juga. Tapi tak


semenyeramkan kalau aku harus berhadapan langsung dengan wartawan yang menghadangku saat sedang jalan-jalan atau belanja.”


“Orang bijak berkata,” ujar Joshua lagi, “jangan menjadi public figure jika tak ingin menjadi sorotan.”


Ceria tertawa kecil, untuk kali pertama malam ini. “Dan siapa orang bijak itu?” tanyanya. Ia belum pernah mendengar hal itu sebelumnya.


Joshua mengedikkan bahu. “Entah, aku lupa namanya.”


Ceria mengesah. “Tapi kau atau orang bijak itu benar,” katanya sambil menatap Joshua. “Aku tak mungkin selamanya bisa menghindari pencari berita. Saat aku memilih terjun ke dunia entertainment, aku harus siap


dengan segala konsekuensinya.”


Joshua tersenyum tipis. “Sebenarnya tak begitu buruk kok jadi terkenal. Buktinya banyak sekali orang yang ingin menjadi terkenal.”


“Yeah,” desah Ceria. “Semua hal di dunia ini mempunyai sisi baik dan buruk.”


***


Jamie sudah dibaringkan di tempat tidur ketika Joshua dan Ceria sampai di kediamannya. Zack sudah melepas setelan, dasi, dan sepatu Jamie. Tak lupa membuka dua-tiga kancing teratas kemeja Jamie agar ia tidak merasa sesak dalam tidurnya. Ia nyaris tidak sadar, tetapi sesekali masih meracau tidak jelas dengan suara pelan.


“Thanks a lot, guys,” kata Zack sembari duduk di sofa ruang tengah. “Tanpa bantuan kalian, Jamie akan menjadi mangsa empuk para pencari berita itu.”


“Bagaimana mereka bisa tahu Jamie ada di sana?” tanya Theo.


“Aku kurang tahu pasti,” sahut Zack. “Tapi kurasa salah satu pegawai di restoran membocorkan pada wartawan kalau Jamie melamar Natasha. Kurasa mereka sudah memantau Jamie sejak ia berada di restoran.”


“Dan aku yakin mereka tahu kalau Natasha menolak lamaran Jamie,” sambung Joshua.


“Kurasa begitu,” sahut Zack. “Mereka membuntuti Jamie yang jelas sekali terlihat frustrasi sampai ke kelab malam. Mereka pasti ingin tahu apa yang dilakukan Jamie setelah lamarannya ditolak.”


“Kurasa mereka sudah bisa menebak,” ujar Theo. “Gambar Jamie yang mabuk berat setelah putus cinta pasti akan menjadi berita menarik.”


“Aku akan melihatnya,” ucap Ceria seraya bangkit dan menaiki tangga ke kamar Jamie.


Ceria memutar kenop pintu kamar Jamie dan mendorongnya dengan sangat pelan hingga benar-benar terbuka. Tampak Jamie telah tertidur pulas. Ceria berjalan pelan mendekat dan duduk di sisi ranjang. Napas Jamie terlihat tenang, namun Ceria bisa melihat kesedihan di wajahnya. Belum pernah ia melihat Jamie semabuk itu.


Jamie mungkin mengonsumsi minuman keras nyaris setiap hari seperti kebanyakan orang, tetapi masih dalam batas wajar. Ia tahu Jamie bukan pemabuk. Dan setahunya, tubuh Jamie memiliki toleransi tinggi terhadap alkohol. Entah berapa botol minuman keras yang ditenggak Jamie hingga mampu membuatnya ambruk seperti ini.


“Oh, Jamie, kenapa jadi seperti ini?” Ceria mengulurkan tangannya dan membelai wajah pria itu. Ia tak menyangka, setelah tadi pagi ia merasa hancur melihat wajah bahagia Jamie yang berniat melamar Natasha, kini giliran Jamie yang terluka setelah wanita pujaannya mencampakkannya.


Jujur saja, sisi egois di dalam diri Ceria memang mengharapkan Jamie berpisah dengan Natasha—meski ia selalu berusaha keras meredamnya—karena itu berarti ia memiliki kesempatan untuk memasuki hati Jamie. Namun, melihat kondisi Jamie yang begitu mengenaskan saat ini, rasanya Ceria ingin menyeret Natasha kemari dan memaksanya menerima lamaran Jamie agar pria tercintanya itu bisa kembali bahagia. Meski itu berarti ia harus merasakan sakit yang mendalam.


Ceria seolah berdiri di persimpangan. Satu sisi ia ingin melihat Jamie bahagia, tetapi ia juga tidak sanggup melihat Jamie bersama wanita lain. Andai saja bukan Natasha yang dicintai Jamie, melainkan dirinya, semua pasti akan terasa lebih mudah. Karena ia tak akan pernah menyakiti Jamie seperti yang dilakukan Natasha.


Tubuh Jamie bergerak diiringi erangan pelan, namun matanya masih terpejam. “Natasha, don’t leave me.” Ia mengigau pelan, lalu kembali lelap.


Butiran bening meluncur dari kedua mata Ceria. “Jamie,” bisiknya sambil menunduk di dekat wajah Jamie. “Aku mencintaimu. Aku akan selalu ada untukmu. Mungkin kau tak bisa balas mencintaiku. Mungkin aku takkan pernah bisa menyembuhkan luka hatimu. Tapi, kuharap aku bisa sedikit memberi penghiburan untukmu hingga kau bisa kembali berdiri tegar. Aku janji tak akan pernah meninggalkanmu sendiri.”


Ceria menunduk semakin dalam hingga jarak bibirnya dengan bibir Jamie hanya terpaut kurang dari dua sentimeter. Aroma alkohol yang menguar dari napas Jamie—yang biasanya sangat ia benci—tak dihiraukannya. Ia hendak mencium bibir itu, namun akhirnya ia menggerakkan kepalanya ke samping dan mendaratkan ciuman di pipi Jamie.


“Good night.” Ceria berbisik di telinga Jamie meski ia tahu Jamie tak akan mendengarnya. “Kuharap saat bangun esok, kau sudah merasa lebih baik.” Ia kembali mendaratkan ciuman, kali ini di kening Jamie, dan menyelimutinya. “Dan selamat ulang tahun.” Ia meraih sebuah action figure Superman limited edition dari dalam tas—yang sebenarnya sudah berada di sana sejak tadi siang—dan meletakkan di atas nakas.


Untuk beberapa saat, Ceria berdiri di sisi ranjang Jamie dan mengamati pria itu, sebelum akhirnya beranjak pergi. Ia keluar dan menutup kembali kamar Jamie setelah mematikan lampu.