No One Loves You Like I Do

No One Loves You Like I Do
2


2


 


Los Angeles, California


Ceria memasuki sebuah restoran Italia mewah di wilayah Downtown. Dua minggu setelah berpisah di Nebraska dan tidak pernah berhubungan lagi selain melalui telepon, pesan singkat, atau video call sesekali, Joshua mengajaknya makan siang bersama untuk merayakan ulang tahun Jamie yang ke-33.


Seorang pelayan laki-laki bertubuh ramping, berpenampilan rapi dengan kemeja dan rompi serta celana panjang hitam menghampiri Ceria dan menanyakan reservasinya. Setelah Ceria menjelaskan bahwa ia datang atas nama Joshua Pendleton, sang pelayan menunjukkan meja yang telah dipesan dan menawarkan diri untuk mengantar.


“Terima kasih, tapi tidak perlu repot. Saya akan ke sana sendiri.” Ceria tersenyum ramah dan melangkah meninggalkan sang pelayan.


“Hai, guys!” sapanya langsung begitu sampai ke meja yang dituju. “Maaf, aku terlambat,” lanjutnya seraya duduk di hadapan kedua rekannya.


Kedua pria yang tadinya tengah mengobrol sambil minum wine itu serentak menoleh dan tersenyum menyambut kedatangannya.


“Aku senang kau mau menyempatkan diri untuk datang,” kata Joshua. “Kau sendirian saja? Theo tidak ikut?”


“Ah, soal itu, Theo meminta maaf karena tidak bisa datang,” ujar Ceria. “Dia ada pemotretan sampai nanti sore.” Ia menjelaskan. Pandangannya lalu beralih pada Jamie yang  menatapnya lekat sejak ia datang. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanyanya pada pria berambut pirang kecokelatan itu. “Apa ada yang salah denganku?”


Pria tampan berdarah Amerika-Irlandia-Denmark itu menyeringai. “Dua minggu tidak bertemu, kau terlihat makin cantik.”


Ceria memutar bola matanya jengah. “Berhentilah merayu, dasar playboy,” desisnya. Kecuali kalau kau memang bersungguh-sungguh, imbuhnya dalam hati.


Senyum di wajah Jamie tak memudar. “Itu bukan rayuan, darling. Itu kenyataan.”


“Oke. Trims,” sahut Ceria akhirnya, pasrah. Kemudian memindai sekelilingnya dan berujar untuk mengalihkan topik, “Sebenarnya aku masih tidak terbiasa makan siang di restoran mewah seperti ini.”


Ceria tidak berbohong tentang itu. Meski sudah menjadi seorang selebritas selama kurang lebih tujuh tahun, tetap saja ia menyukai gaya hidup sederhana seperti kebiasaannya dulu, sebelum memasuki dunia hiburan yang selalu identik dengan gaya hidup kelas atas.


Bukan hanya masalah restoran mewah sebagai tempat makan, ia juga tak mewajibkan dirinya untuk selalu mengenakan barang-barang bermerek. Selama itu nyaman dipakai, ia tidak peduli merek apa, siapa desainernya, atau produksi mana. Sebaliknya, meskipun benda itu merek terkenal buatan desainer ternama yang harganya selangit, tetapi jika menurutnya tidak pantas ia kenakan atau rasanya tak nyaman, ia takkan mau memakainya. Mobil pun ia hanya punya tiga—yang sering dipakai hanya satu, Fiat kuning favoritnya. Tidak seperti selebiritas lain—termasuk Theo dan dua pria di hadapannya kini—yang gemar mengoleksi mobil mewah hingga garasinya nyaris menyaingi showroom. Walaupun ia kerap menjadi bahan cibiran media karena tidak bersikap layaknya pesohor, ia tidak peduli. Ia nyaman dengan dirinya yang seperti itu.


“Tumben, sih kau merayakan ulang tahun dengan makan siang di restoran mewah seperti ini,” ujar Ceria heran sambil menatap si pria yang berulang tahun. “Biasanya kau menyewa kelab malam.”


“Jangan menatapku.” Jamie mengangkat kedua tangan. “Ini ide Joshua. Katanya kau tidak akan datang kalau aku mengadakan pesta di kelab malam.”


“Memang benar, kan?” timpal Joshua.


“Iya, sih,” gumam Ceria. Ia memang tidak suka datang ke tempat gelap dan berisik seperti itu. Datang ke bar untuk sekadar duduk dan minum saja ia malas kalau tak bersama-sama kru The Hunters. “Tapi kenapa harus di restoran mewah? Kenapa tidak Pizza Hut atau Starbucks saja? Kau tahu, kan, aku tak terbiasa dengan hal mewah dan formal seperti ini.”


“Makanya biar kau terbiasa,” balas Joshua. “Sekali-sekali bersikap seperti selebritas tidak akan membunuhmu.”


“Oke, terserah.” Ceria kembali memutar bola matanya. Paling malas kalau membahas sikap yang harus dilakukan pesohor. Memang apa salahnya dengan hidup sederhana dan apa adanya? Memangnya kalau menjadi orang terkenal harus bergaya hidup mewah dan serba mahal? Menurut Ceria, lebih baik uang yang ia dapatkan ditabung atau diinvestasikan untuk bekal hidup di masa depan. Tidak mungkin, kan mereka selamanya menjadi pesohor dengan pendapatan melimpah?


Joshua terkekeh. Tahu betul perangai sahabat manisnya itu.


Mengabaikan Joshua, Ceria kembali menatap Jamie dan bertanya, “Di mana Natasha?”


Benar-benar mencari penyakit. Entah kenapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Sudah bagus tidak ada wanita itu di sekitar mereka. Terlanjur diucapkan, ya sudahlah. Toh ia memang penasaran karena tidak melihat kekasih Jamie di hari ulang tahunnya. Kini ia harus menata hati untuk mendengar jawaban Jamie. Mungkin saja


sebentar lagi wanita itu datang dan ia harus melihat pria pujaannya bermesraan dengan orang lain.


“Oh, dia baru akan pulang nanti malam,” jawab Jamie. “Tiga hari ini dia ada pemotretan di Chicago.”


“Begitu ya,” gumam Ceria, diam-diam merasa lega. “So, bisakah kita pesan makanan sekarang? Aku sudah kelaparan.”


“Tentu,” balas Joshua cepat. “Sebenarnya kami juga sudah lapar. Tapi karena menunggumu, kami tidak pesan dulu.”


“Maaf.”


Joshua tak membalas. Tangannya terangkat untuk memanggil pelayan yang langsung mencatat pesanan


mereka.


***


“Apa kau menyukainya?”


“Apa kau menyukainya?” Jamie mengulang pertanyaannya. “Apa menurutmu bagus?”


“I-iya, bagus, tapi…” Cincin itu tak mungkin untukku, kan? batin Ceria. Meski terkejut, pikiran rasionalnya masih berjalan dengan baik.


“Apa menurutmu Natasha akan menyukainya?”


Tenggorokan Ceria serasa tersekat, namun ia tetap berusaha, dan akhirnya bisa mengeluarkan suara, “Ya, kurasa.”


Cincin berlian, Natasha, itu artinya… oh, tidak! Jangan katakan….


Jamie tersenyum seraya menutup kotak kaca tempat cincin itu bertengger. “Kuharap Natasha menyukainya dan mengatakan ‘ya’.”


“Tunggu, apa maksudmu dia akan mengatakan ‘ya’?” tanya Joshua. “Apa kau akan….” Ini tidak mungkin seperti yang dipikirkannya, kan?


Jamie mengangguk. “Aku akan melamarnya saat makan malam romantis nanti malam.”


Dunia Ceria runtuh seketika. Meski telah memperkirakannya sejak ia melihat cincin itu, tetap saja setelah mendengar langsung dari mulut Jamie, dadanya seakan mau meledak. Mati-matian ia berusaha meredam perasaannya dan menahan air mata yang siap pecah kapan pun.


“Kau serius?” Joshua tampak tak percaya.


“Tentu saja,” balas Jamie tenang. “Kami sudah lama bersama. Kau tahu aku sangat mencintainya. Ini saat yang tepat untuk mengajaknya menikah.”


Joshua tak sependapat. Bagaimanapun, ia merasa kurang suka mendengar rencana sahabatnya. Ia tidak setuju kalau Jamie sampai menikah dengan Natasha, karena satu: ia tahu Ceria mencintai Jamie dan ia lebih suka jika mereka bersama. Dan dua: Jamie jelas sangat mencintai Natasha, namun entah kenapa ia merasa Natasha tidak


benar-benar mencintai Jamie. “Kau yakin tidak mau memikirkannya lagi?”


“Dude, aku sudah lama memikirkan hal ini. Dan, ya, tentu saja aku yakin.” Jamie mantap dengan keputusannya.


Joshua diam. Meski tidak suka dan tidak setuju, ia tidak bisa berkata atau berbuat apa pun. Jamie sudah dewasa dan berhak membuat keputusan sendiri. Ia hanya berharap Jamie lebih cerdas dalam memilih pasangan hidup. Atau paling tidak, perkiraannya tentang Natasha yang tidak benar-benar mencintai Jamie keliru. Bagaimanapun, ia tidak begitu dekat dengan gadis itu, sehingga sangat mungkin penilaiannya selama ini salah. Bukan Joshua yang tidak mau, tetapi Natasha sendiri yang kurang suka bergaul dengan teman-teman Jamie.


Jamie menyipitkan mata menatap Joshua, heran dengan reaksi temannya. “Josh, kau mendukungku, kan?”


“Hm… apa pun yang membuatmu bahagia,” balas Joshua sekenanya, lalu kembali menuangkan wine ke dalam gelas dan menghabiskannya dalam satu tegukan besar.


“Guys, aku… permisi ke toilet dulu.” Ceria bangkit dan meraih tas tangannya, lalu berjalan cepat ke bagian belakang restoran. Ia sudah tidak tahan lagi. Sungai yang mendesak di pelupuk matanya hampir tak bisa dicegah


untuk meluap. Namun ia tidak mau menangis di hadapan Jamie. Saat ini ia tidak bisa memikirkan apa pun selain secepatnya pergi dari hadapan pria yang dicintainya itu. Ia bahkan lupa jika hadiah ulang tahun untuk Jamie masih


tersimpan manis di dalam tas.


“Kenapa dia?” Jamie mengerutkan kening menatap kepergian Ceria. “Dia terlihat aneh.”


“Mungkin hanya kebanyakan minum,” sahut Joshua asal, meski sebenarnya ia tahu apa yang terjadi pada Ceria. Gadis itu pasti patah hati mendengar Jamie akan melamar Natasha. Mungkin saat ini ia sedang menangis di toilet.


Dan benar saja, beberapa detik kemudian Joshua menerima pesan singkat dari Ceria: Josh, aku tidak bisa kembali. Maaf, tapi aku tak sanggup menghadapi Jamie saat ini. Katakan saja padanya aku ada urusan mendadak dan harus pergi.


Joshua langsung mengetik balasan: Oke. Tenangkan dirimu dulu. Nanti kita bertemu.


“Siapa?” tanya Jamie sambil melongokkan kepalanya untuk melihat layar ponsel Joshua.


“Ceria,” jawab Joshua sambil buru-buru memasukkan ponsel ke dalam saku kemeja. Tidak memberi kesempatan pada Jamie untuk mencuri baca pesan di ponselnya. “Dia ada urusan mendadak, jadi langsung pergi.”


“Urusan apa?”


“Mana aku tahu.” Joshua mengedikkan bahu, berlagak tak acuh.


“Aneh sekali,” gumam Jamie. “Biasanya dia tak akan pergi begitu saja tanpa pamit.”


“Mungkin urusannya sangat mendesak.” Joshua kembali menggelontor tenggorokannya dengan alkohol. Ia sangat butuh minum untuk memperbaiki mood-nya. Walau sudah berusaha menerima dan mencoba berpikir positif, ia tetap tidak bisa merasa senang dengan rencana Jamie.


“Yeah, mungkin kau benar.” Jamie mengesah, lalu kembali menekuni makanannya yang sudah mulai dingin. Meski masih merasa sikap Ceria sangat aneh, ia tidak terlalu lama memusingkannya.