
Jamie menyusupkan kepalanya ke sisi leher kiri Ceria, lalu memejamkan mata dan menyesap dalam-dalam aroma manis yang menguar dari tubuh gadis itu. Kedua tangannya melingkari perut Ceria dengan protektif. Posisi favorit yang membuatnya nyaman akhir-akhir ini.
Satu minggu berlalu sejak insiden kesalahpahaman dengan Terry di dekat gudang penyimpanan kayu bakar dan jerami. Dua hari lalu, kakak laki-lakinya itu sudah kembali ke kota untuk memulai kembali rutinitas. Hubungannya dengan Ceria pun semakin intim dari hari ke hari. Ia sudah tak malu-malu atau canggung lagi untuk memeluk dan mencium Ceria.
Tidak, mereka tidak pacaran atau apa pun sejenisnya. Tidak ada pernyataan cinta atau semacamnya. Jamie baru saja putus dari wanita yang telah menjadi kekasihnya selama tiga tahun. Ia tidak mau buru-buru menjalin hubungan baru. Tidak selama ia belum benar-benar yakin dengan perasaannya. Lagi pula, Ceria juga tak menuntut apa pun darinya. Mereka sama-sama menikmati kebersamaan tanpa ikatan itu.
“Jam, mau sampai kapan kau bertengger seperti itu? Kepalamu berat, tahu!”
Teguran Ceria menyadarkan Jamie dari kenyamanan yang dirasakannya. Ia membuka mata, tetapi menolak untuk mengangkat kepala. Setelah memberi kecupan singkat pada leher lembut milik Ceria, ia hanya mengubah posisi kepalanya menghadap depan dengan dagu bertopang di pundak Ceria. Kedua tangannya pun semakin erat melingkari tubuh gadis itu. Membuat darah Ceria berdesir dan jantungnya berdentum lebih cepat.
Padahal ini bukan kali pertama dirinya berada dalam posisi sedekat itu dengan Jamie. Tetap saja jantungnya suka berdetak tak beraturan seolah tengah bermain-main dengan nyawanya.
“Jaaam… singkirkan kepalamu! Berat....” Ceria menggerak-gerakkan bahunya untuk mengusir kepala Jamie. Sementara kedua tangannya masih memegang erat tali kekang kuda yang mereka tunggangi agar tetap terkendali.
Meski bisa dibilang sudah bisa menunggang kuda, Ceria masih belum terbiasa jika harus berkuda sendirian di lapangan terbuka. Jamie sendiri masih belum berani membiarkan Ceria berkuda sendirian. Makanya saat ini mereka menunggang kuda yang sama.
“Haah… kau ini kejam sekali.” Setelah mendesah berat dan menggerutu, Jamie pun mengangkat kepalanya dari pundak Ceria. Namun, ia enggan menarik kepalanya mundur. Ia tetap membiarkan kepalanya menempel di pipi kiri Ceria.
Ceria tak membalas gerutuan Jamie. Tetap berkonsentrasi mengendalikan kuda yang berjalan pelan. Sangat pelan kalau menurut Jamie.
“Ah… bosan. Ayo lebih cepat!” Jamie meraih tali kekang dan menghentaknya agak kencang, sehingga kuda yang mereka tunggangi pun mulai berlari.
“Jamie, aku kan sudah bilang hanya ingin jalan-jalan,” protes Ceria sebal karena kini Jamie mengambil alih kendali.
“Ck, apa enaknya menunggang kuda yang hanya berjalan. Begini lebih asyik.” Jamie kembali menghentakkan tali
kekang dan kuda yang mereka tunggangi pun berlari semakin kencang.
Ceria hanya diam sambil berpegangan erat. Bagaimanapun, ia masih belum terbiasa menunggangi kuda dengan
kencang. Ditambah keberadaan tubuh Jamie yang begitu dekat, membuat jantungnya semakin berdentum tak beraturan.
***
Matahari telah merangkak naik nyaris di atas kepala. Ceria masih terlelap di paha Jamie yang duduk bersandar pada batang pohon cedar. Sesuatu yang basah menyentuh tangan kiri Ceria, membuat gadis itu perlahan membuka mata. Beberapa detik ia hanya mengerjap-ngerjapkan mata sambil mencoba menatap sekelilingnya. Ia pun ingat saat ini berada di mana. Lalu, begitu mengetahui sumber dari sesuatu yang basah adalah lidah Buddy yang terus
menjilatinya, spontan ia menarik tangannya dan bangkit secara tiba-tiba. Meski sudah lebih dari satu minggu mengenal anjing itu, ia masih belum bisa berinteraksi dengannya dalam jarak sedekat ini. Dengan jarak satu-dua meter, sih tidak masalah.
“Kau sudah bang—“
Menyadari Buddy berada sangat dekat dengannya, refleks Ceria langsung merangkak mundur dan menabrak kaki Jamie yang masih selonjor setelah ia gunakan sebagai bantal.
“—hei, hati-hati!” Jamie menangkap tubuh Ceria yang nyaris terjerembab ke belakang setelah menabrak kakinya. “Kau kenapa?”
Ceria tak menjawab. Tubuhnya yang telah berada di pangkuan Jamie menegang. Matanya menatap horor pada Buddy yang juga balas memandangnya sambil menelengkan kepala. Tangannya mencengkeram erat kemeja Jamie.
“Kau masih takut pada Buddy?” Jamie nyaris tertawa kalau saja tak melihat wajah cantik Ceria berangsur pasi. Dengan lembut direngkuhnya tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. “Buddy tidak akan menyakitimu. Tenanglah,” hiburnya sambil mengusap-usap punggung Ceria.
Ceria tetap diam. Pandangannya tak beralih dari Buddy. Raut wajahnya pun masih tegang.
“Lihatlah, dia menyukaimu.” Jamie masih berusaha menenangkan. “Kau tahu kan dia tidak berbahaya.”
Ceria terus menatap Great Pyrenees yang juga balas menatapnya itu. Tak bisa ia mungkiri, makhluk besar berbulu lebat itu memang sangat manis. Manik matanya yang bulat itu terlihat lucu menggemaskan. Well, sejak dulu ia tahu anjing itu lucu. Hanya saja ia tak berani berada di dekat mereka, entah kenapa. Dan selama kurang lebih satu minggu berada di peternakan keluarga Allen, Ceria sebenarnya sudah agak terbiasa dengan keberadaan anjing besar berbulu putih lebat itu di sekitarnya. Tetapi tidak pernah sedekat ini. Saat ini jarak mereka tidak sampai setengah meter. Bahkan Buddy tadi sempat menjilati tangannya.
“Kau sudah pernah menyentuhnya, kan,” ucap Jamie lagi. “Ayo, sentuh lagi! Biar kalian cepat akrab.”
“Bagaimana dia bisa ada di sini?” tanya Ceria yang kini tangannya beralih membelai telinga Buddy. “Dia tidak bersama kita, kan, saat kemari tadi.”
“Dia datang sendiri,” jawab Jamie. “Sudah biasa seperti itu. Dia selalu bisa menemukan keberadaanku. Tapi aku juga sering kemari, sih. Mungkin karena itu juga dia jadi hafal. Bagaimana? Apa kau sudah tidak takut?”
“Ehm, sepertinya begitu.” Tangan Ceria kini sudah mengacak bulu lebat di leher Buddy yang memejamkan matanya keenakan.
“Mendekatlah, Buddy!” pinta Jamie dan anjing itu langsung berjalan mendekat hingga jaraknya hanya beberapa sentimeter dari Ceria. “Bagaimana bila sedekat ini?”
“Sedikit gugup,” aku Ceria yang telah menarik tangannya. “Tapi kurasa aku baik-baik saja.”
“Bagus. Aku senang kalian bisa akur,” kata Jamie. “Well, kurasa sebaiknya kita pulang sekarang. Sudah waktunya makan siang.” Ia membantu Ceria bangkit dari pangkuannya sebelum berdiri dan berjalan menuju kudanya.
Buddy mengekor di belakang sambil mengeluarkan gonggongan riang yang sukses membuat Ceria terlonjak dan refleks menjauh dari anjing itu dengan tubuh kembali gemetar.
“Ugh, kurasa aku belum terbiasa dengan suara gonggongannya,” keluh Ceria. “It’s scary.”
“Tidak masalah,” balas Jamie santai sembari membantu gadis itu naik ke punggung kuda. “Nanti juga kau akan terbiasa.”
“Yeah, I hope so.”
Jamie naik di belakang Ceria, kemudian menghentakkan tali kekang kudanya yang langsung bergerak maju. “Aku ingin mengajakmu makan malam bersama nanti. Kau mau?” Tanpa tedeng aling-aling, ia bertanya pada gadis di depannya.
“Huh? Setiap hari kan kita makan malam bersama.”
“Maksudku makan malam di luar. Berdua saja. Bagaimana? Mau, ya?”
Ceria menolehkan wajahnya menatap Jamie. “Kau mengajakku kencan?”
“Yes,” sahut Jamie tanpa ragu. “Kau mau, kan?”
“Sure.” Ceria cepat-cepat berpaling ke depan sebelum Jamie melihat semburat merah yang memenuhi wajahnya. Jantungnya kembali bergemuruh seperti badai. Perutnya melilit seolah ada kawanan paus yang berakrobat di dalamnya. Oh God, Jamie mengajaknya kencan!
***
“Kenapa?” Ceria menatap Jamie yang mengamatinya begitu intens. “Apa aku harus berpakaian formal? Apa kau mau mengajakku ke restoran yang mengharuskan kita berpakaian rapi?” Saat ini Ceria hanya mengenakan blus berwarna putih dan skinny jeans.
“Tidak,” sahut Jamie. “Kita sedang liburan. Aku bosan selalu memakai pakaian formal. Lihat, aku juga hanya mengenakan kemeja dan jins.”
“Bagus. Aku juga sedang tidak ingin memakai gaun,” balas Ceria. “Honestly, aku bukan orang yang gemar memakai gaun. Aku lebih suka memakai denim. Lalu, kenapa kau tadi melihatku seperti itu?”
“Well,” Jamie melangkah mendekati gadis itu, “karena kau terlihat sangat cantik malam ini.” Tangannya yang besar mengelus rambut hitam panjang milik Ceria yang dihiasi kepangan kecil di kedua sisi dan melingkar ke belakang
di atas telinganya.
Ceria memalingkan wajahnya yang mulai bersemu dan mengerucutkan bibirnya. “Jadi, biasanya aku jelek?”
Jamie tertawa. “Tentu saja tidak. Kau selalu cantik. Hanya saja… malam ini kau terlihat sangat istimewa,” ujarnya. “Bukan berarti biasanya kau tak istimewa.” Cepat-cepat ia menambahkan.
Ceria mendengus. Yang benar saja! Ia tidak berdandan seperti saat harus menghadiri gala dinner atau malam penghargaan atau acara formal lainnya. Mana mungkin ia terlihat istimewa. Tapi, yeah, tetap saja ucapan Jamie mampu membuat darahnya kembali berdesir hebat. “Sudahlah, berhenti merayu!” tukasnya untuk menutup kegugupannya. “Bisakah kita pergi sekarang? Aku sudah lapar.”
“As you wish, my lady.” Jamie menekuk lengan kanannya untuk disambut Ceria. Sambil memutar bola mata, gadis itu pun menyelipkan tangannya pada siku Jamie dan keduanya melangkah bersama keluar rumah.