
Joshua melangkah menuruni tangga dan melintasi ruang tengah dengan malas. Ia baru saja pulang setelah menjadi pengisi acara di salah satu radio—setelah sebelumnya datang ke sebuah kantor majalah untuk wawancara—saat dering bel pintu depan kondominiumnya berbunyi. Untuk melupakan kekesalannya pada Jamie, ia mengambil pekerjaan apa pun yang ditawarkan Marco, manajernya, hari ini, meskipun sebelumnya ia memutuskan untuk cuti bekerja selama dua minggu.
“Hai, aku membawa makan malam.” Wajah Jamie yang dihiasi senyum lebar langsung tampak begitu Joshua membuka pintu. “Kau belum makan malam, kan?”
Joshua melirik benda di kedua tangan Jamie: sekotak bir isi enam kaleng dan sebuah kantong kertas cokelat dengan logo restoran fast food yang ia tebak berisi burger bacon dan kentang goreng. Ya ampun, The Hunters sekali. Memangnya Jamie mau membawa adegan David-Sonny ke kehidupan nyata?
“Boleh aku masuk?” Jamie bertanya karena Joshua hanya diam sambil tetap memegang ujung pintu tanpa mempersilakannya masuk. Yeah, meskipun biasanya—dalam kondisi normal—ia akan langsung melenggang masuk begitu saja. Tapi karena saat ini hubungan mereka bisa dibilang agak bermasalah, Jamie memilih untuk bersikap sedikit sopan.
Joshua menghela napas berat sebelum akhirnya membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan Jamie masuk.
“Tadi siang aku kemari tapi kau tidak ada,” kata Jamie sembari menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu tanpa menunggu dipersilakan. “Kuhubungi ponselmu juga tidak aktif. Lalu aku telepon Marco, katanya kau sedang wawancara. Kenapa kau tidak bilang kalau menerima pekerjaan?”
Joshua mengenyakkan tubuhnya di sofa di sisi kanan depan tempat Jamie duduk. “Sejak kapan aku harus melapor padamu setiap kali menerima pekerjaan?”
Jamie mengedikkan bahu. Memang tidak pernah ada peraturan seperti itu, sih. Namun, biasanya mereka saling bercerita tentang pekerjaan apa saja yang mereka terima. “Kupikir kau mengambil cuti dua minggu.” Ia ingat Joshua pernah mengatakan itu beberapa waktu yang lalu.
“Aku berubah pikiran,” sahut Joshua datar. “Kenapa kau mencariku?”
“Kangen sama rumahmu,” jawab Jamie sambil merentangkan tangannya pada sandaran sofa.
Joshua mengangkat sebelah alisnya. “Hanya itu?”
“Tidak juga.” Jamie menurunkan tangannya dan menatap Joshua. Raut wajahnya mejadi agak serius. “Aku ingin mengajakmu makan bersama dan… minta maaf.”
“Untuk apa?” Joshua balas bertanya. “Kau kan tidak bersalah. Kau benar, aku memang tidak berhak marah atau mencampuri urusanmu. Kau yang berhak memutuskan apa yang terbaik untuk hidupmu.”
“Joshua, ayolah… aku tak serius saat mengatakan itu.”
“Tapi itu benar.”
“Tidak. Itu tidak benar,” sanggah Jamie. “Aku membutuhkamu. Aku membutuhkan teman-temanku. Aku membutuhkan saran kalian untuk memutuskan apa yang seharusnya kulakukan.”
“Tetap saja ini hidupmu dan pada akhirnya kaulah yang mengambil keputusan.”
“Itu benar, tapi….”
“Aku tidak berhak marah atas apa pun keputusanmu. Maafkan aku,” kata Joshua. “Aku hanya merasa sangat kecewa. Kau tahu, kan, kita sudah lama terlibat dalam serial itu. Mungkin terdengar terlalu berlebihan atau sok dramatis, tapi bagiku, The Hunters bukan sekadar pekerjaaan. Karena The Hunters pula kita kenal dan menjadi sedekat ini. Semua yang terlibat dalam The Hunters sudah seperti keluarga bagiku. Aku hanya tidak ingin kau pergi. Sejak awal kitalah Wellington bersaudara. Akan aneh rasanya jika bukan kau yang berperan sebagai David.
“Menurutku, tidak ada yang bisa memerankan karakter David selain kau. Dan aku yakin penggemar akan kecewa. Mungkin mereka tidak akan mau menonton The Hunters lagi. Tapi, yeah, ini hidupmu. Kau yang berhak memutuskan. Bukan tanggung jawabmu The Hunters akan terus berjalan atau tidak. Lagi pula, itu cuma serial televisi. Ada ratusan acara di televisi. Orang-orang tidak akan mati tanpa menonton The Hunters.”
Sebenarnya bukan itu alasan utama Joshua marah akan keputusan Jamie. Tentu semua yang diucapkannya juga tidak bohong. Tetapi, yang membuatnya benar-benar marah, karena Jamie mengambil keputusan itu bukan atas kemauannya sendiri. Semua itu dilakukannya demi wanita yang bahkan ia yakin tak akan peduli meski Jamie mati. Ia sudah bahagia dengan kekasihnya yang baru, yang mungkin akan dicampakkan juga jika sudah bosan atau popularitasnya menurun. Dia tidak akan marah atau sekecewa ini bila alasan Jamie meninggalkan The Hunters bukan karena hal bodoh itu.
Jamie menyipitkan mata menatap Joshua. “Kau berusaha membuatku merasa bersalah, ya?”
Joshua mengedikkan bahu. “Tidak,” sahutnya. “Tapi baguslah kalau kau merasa bersalah.”
“Well, aku belum mengambil keputusan,” kata Jamie. “Zack memintaku memikirkannya lagi. Sebenarnya aku juga merasa berat. Sama sepertimu, aku juga sudah menganggap semua yang terlibat The Hunters sebagai keluargaku.”
“Kalau memang begitu, kenapa kau berpikir untuk hengkang?”
“Bukankah kau sudah tahu alasannya?”
Tentu saja. Bahkan itu yang membuat Joshua marah besar. “Yeah, tapi aku tidak tahu apa yang dikatakan wanita itu sehingga kau rela meninggalkan keluargamu.”
Jamie menyandarkan punggungnya dan mulai bercerita, “Saat Natasha menolak lamaranku, aku bertanya kenapa dan dia mengatakan aku bukan masa depan impiannya. Dia ingin menikah dengan aktor terkenal, bukan aktor spesialis serial televisi sepertiku. Dia juga bilang, sebenarnya dia datang ke restoran malam itu untuk mengakhiri
hubungan denganku. Tapi begitu tahu hari itu aku berulang tahun, dia berniat menundanya. Yeah, walau pada akhirnya dia tak jadi menunda dan tetap memutuskanku setelah aku melamarnya.”
“Kalau dia tidak suka dengan aktor televisi, kenapa dulu dia mau menjadi kekasihmu?” tanya Joshua. “Aku yakin dialah yang mendekatimu lebih dulu.” Ia ingat betul saat itu Natasha yang baru menapaki karier sebagai model terus mengikuti Jamie ke mana pun.
“Well,” Jamie mengedikkan bahu, “kurasa karena saat itu The Hunters sedang naik daun. Belakangan The Hunters memang agak tenggelam. Kurasa dia kecewa.”
“The Hunters bukannya tenggelam,” ralat Joshua. “Hanya agak jarang diberitakan karena season 5 sudah selesai tayang dan saat ini sedang jeda sebelum season 6 ditayangkan. Lihat saja saat season 6 sudah tayang nanti, The Hunters pasti kembali menduduki rating tertinggi.”
“Aku yakin itu,” balas Jamie. “Tapi kurasa Natasha ingin yang lebih pasti.”
“Ya sudah,” sergah Joshua. “Berarti sudah jelas, kan, dia tidak benar-benar mencintaimu. Dia hanya menginginkan popularitasmu. Lagi pula, tidak ada yang pasti di dunia ini. Kekasihnya yang sekarang pun belum tentu akan terus terkenal.”
“Mungkin kau benar,” gumam Jamie. “Tapi aku mencintainya. Aku tidak ingin kehilangannya.”
“Oh, ya ampun, Jamie,” keluh Joshua. “Please, jangan jadi pria macam itu.”
Jamie mengernyit. “Pria macam apa?”
“Pria bodoh yang dibutakan cinta hingga tidak bisa berpikir sehat,” ujar Joshua. “Yang benar saja, Jamie! Sudah jelas Natasha tidak mencintaimu, tapi tetap saja kau berusaha memenuhi keinginannya. Dan kau berharap dengan begitu dia akan kembali melihatmu. Kau hanya menipu dirimu sendiri, dude. Kalaupun kau berhasil mendapatkannya kembali dan kalian menikah, kaupikir akan bertahan berapa lama hubungan kalian?
“Kita tidak akan selamanya menjadi aktor dan terkenal. Dan saat itu terjadi, dia akan kembali mendepakmu. Mungkin dia juga akan meninggalkan anak-anak kalian bersamamu. Tidak Jamie, kau tidak sebodoh itu. Kau tidak boleh menjadi seperti itu. Memangnya kau tidak ingin menjalani rumah tangga sampai tua seperti orangtuamu? Saling mencintai hingga anak-anak kalian dewasa dan bisa mandiri. Kau tidak akan mendapatkannya dari wanita seperti Natasha.”
Jamie diam. Kata-kata tajam Joshua menohoknya. Benarkah ia pria bodoh itu? Oh, ya, tentu saja. Ia sadar sepenuhnya kalau Natasha tidak mencintainya dengan tulus, tetapi tetap saja ia menginginkan wanita itu kembali. Ia bahkan rela meninggalkan The Hunters, meninggalkan teman-temannya, demi menjadi aktor film seperti yang
diinginkan Natasha. Saat ini ia pasti tampak sangat menyedihkan.
“Sudahlah,” kibas Joshua akhirnya. Ia tak bisa sepenuhnya menyalahkan Jamie yang dibutakan cinta. Sudah bukan rahasia lagi kalau cinta bisa membuat orang kehilangan kewarasan. “Aku sudah lapar. Kau datang kemari untuk mengajakku makan, kan? Kenapa kita malah terus mengobrol?” Diraihnya kantong makanan yang diletakkan Jamie di atas meja. “Apa yang kaubawa? Burger bacon?”
“Kau sudah tahu?” Jamie menaikkan alisnya heran.
“Yang benar saja, Jamie. Ini makanan favorit David. Aku sudah hafal baunya dari radius lima meter,” kata Joshua berlebihan, sembari membuka kertas pembungkus burger dan menggigitnya. “Sepertinya karakter David sudah merasukimu.”
“Burger bacon dan bir. Kau seperti membawa The Hunters ke dunia nyata, tahu tidak?”
Jamie tersenyum. “Berarti hanya kurang Lucifer dan anak buahnya.”
“Juga senapan, peluru garam, dan… Lara Dawson.” Joshua menambahkan. Sengaja mengacaukan pikiran Jamie dengan melibatkan Ceria.
“Ngomong-ngomong tentang Lara Dawson, kapan Ceria kembali dari Miami?”
Dan berhasil!
Joshua mengangkat bahu. “Entahlah. Dia tidak bilang,” jawabnya, berbohong tentu saja. Ia tahu Ceria akan pulang besok. Gadis itu sendiri yang mengatakan lewat pesan singkat mereka beberapa jam lalu. “Kenapa? Kau merindukannya?”
“Ya,” sahut Jamie langsung. “Ehm… maksudku… aku merindukannya seperti saat aku lama tak berjumpa denganmu.” Ia buru-buru menambahkan.
“Memangnya aku bertanya kau merindukannya seperti apa?” balas Joshua.
“Ehm… tidak, ya?” Jamie tampak salah tingkah, lalu pura-pura tersedak dan mengambil sekaleng bir yang langsung diteguknya untuk menutupi kegugupannya. Ya ampun, sejak kapan pembicaraan tentang Ceria membuatnya gugup?
Joshua menyembunyikan seringai di balik kunyahan burgernya. Rasanya tak akan terlalu sulit mengalihkan pikiran Jamie dari Natasha. Semoga saja.
“Zack menyuruhku berlibur,” kata Jamie setelah berhasil mengatasi kegugupannya. “Untuk menenangkan hati dan pikiranku katanya.”
“Aku setuju,” sahut Joshua. “Ke mana kau akan pergi?”
“Pulang, kurasa.”
Kedua alis Joshua bertaut. “Pulang?”
“Ya,” Jamie mengangguk. “Menurutku pulang adalah cara liburan yang terbaik. So, aku akan pulang ke kampung halamanku. Aku sangat merindukan Buddy.”
“Kapan kau berangkat?”
“Besok,” jawab Jamie. “Kau mau ikut?”
Joshua membuka sekaleng bir dan meneguknya. “Tidak bisa. Besok aku ada pekerjaan.”
***
Ceria membuka pintu apartemennya dan langsung disambut wajah Joshua yang tersenyum lebar. “Ada apa?” tanyanya heran.
“Kemasi barangmu! Kita akan ke Texas,” kata Joshua sembari masuk tanpa menunggu dipersilakan.
“Apa?” Ceria menatap bingung.
“Kemasi barangmu. Kita akan ke Texas.” Joshua mengulangi ucapannya seolah Ceria tidak mendengarkan.
“Aku sudah dengar,” sahut Ceria sambil menutup pintu di belakangnya. “Tapi kenapa kau tiba-tiba menyuruhku berkemas dan mengajak ke Texas?” Baru kemarin malam ia kembali dari Miami dan sekarang tiba-tiba Joshua hendak mengajaknya pergi lagi. Ia kan masih lelah.
“Kita akan mengunjungi Jamie.”
“Huh?” Ceria makin tak mengerti.
Joshua mengesah, kemudian menjelaskan, “Kemarin pagi Jamie pulang ke Texas. Zack menyuruhnya keluar dari L.A. agar bisa berpikir dengan jernih.”
“Lalu, kenapa kita harus mengikutinya?”
“Well, kurasa akan membosankan kalau dia sendirian di sana,” jawab Joshua. “Kita kan temannya. Dalam kondisinya sekarang, kurasa Jamie sangat membutuhkan kehadiran kita.” Padahal sebenarnya ia hanya ingin mendekatkan Jamie dengan Ceria.
“Kau yakin kehadiran kita tidak malah mengganggu?” tanya Ceria. “Bukankah dia pergi untuk menenangkan diri?”
“Tentu saja tidak,” balas Joshua. “Percayalah, Jamie bukan orang yang suka sendirian. Dia pasti akan senang kalau kita datang. Lagi pula, sebenarnya kemarin Jamie mengajakku. Tapi karena aku masih ada pekerjaan, aku menolak.”
“Dan sekarang kau sedang tidak ada pekerjaan?”
“Tidak. Makanya aku mengajakmu pergi,” jawab Joshua. “Sudahlah, ayo cepat kemasi barangmu!”
“Tapi besok aku ada janji wawancara.”
“Batalkan!”
“Tapi….”
“Demi Jamie.” Joshua menggunakan senjata pamungkasnya.
Ceria berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. “Oke, aku akan pergi denganmu.”
Sebuah senyuman lebar—nyaris menyerupai seringai—terkembang di wajah Joshua. “Kalau begitu, cepat kemasi
barangmu. Kita akan lumayan lama di sana.”
“Iya, iya. Tidak perlu buru-buru juga, kan,” balas Ceria. “Aku harus menelepon Imelda dulu.”
“Iya deh, santai saja. Aku tunggu sambil nonton TV, ya!” Joshua melenggang ke ruang tengah, sementara Ceria menelepon manajernya.