No One Loves You Like I Do

No One Loves You Like I Do
10


Cedar Hill, Dallas County, Texas


Joshua memasukkan mobilnya ke halaman luas sebuah rumah peternakan, kemudian mematikan mesin tepat di depan bangunan.


Ceria menjulurkan kepala ke depan dan mengamati rumah di hadapannya dari balik kaca depan mobil. “Kau yakin ini rumah Jamie?” Ia bertanya. Rumah itu lumayan besar, terbuat dari kayu dan bertingkat dua. Khas rumah peternakan.


“Tentu saja aku yakin,” balas Joshua. “Aku sudah sejuta kali kemari.”


Ceria menautkan alis saat berpaling menatap Joshua. “Sejuta kali?”


“Oke, itu hiperbola,” ujar Joshua. “Maksudku, aku sudah sering sekali kemari. Jadi, aku tidak mungkin salah. Aku bahkan sudah hafal seluk-beluk seluruh peternakan ini.”


“Oke,” Ceria mengedikkan bahu. “Kurasa aku mau turun sekarang. Badanku rasanya kaku-kaku.” Ia membuka sabuk pengaman dan keluar dari Range Rover hitam milik Joshua, meregangkan tubuhnya. Perjalanan naik mobil dari L.A. ke Texas sungguh melelahkan. Meski sudah sering bermobil antarnegara bagian bersama Theo, tetap saja ia tidak terbiasa. Tubuhnya tetap terasa pegal-pegal setiap kali melakukan perjalanan jauh.


Joshua mengikuti jejak Ceria. Kalau Ceria yang hanya duduk manis di kursi penumpang saja pegal-pegal, apalagi ia yang mengemudi. Selama 24 jam lebih perjalanan mereka—dengan beberapa kali berhenti untuk makan atau beristirahat—gadis itu sama sekali tidak mau diajak gantian mengemudi. Alasannya, bukan ia yang mengajak mengunjungi Jamie. Dan siapa juga yang menyuruh naik mobil? Kenapa tidak naik pesawat saja? Lebih cepat dan tidak melelahkan. Namun, Joshua tidak mau naik pesawat. Ia tidak suka mendarat di DWF Internatinal Airport lalu naik taksi sampai ke Cedar Hill. Tidak, ia lebih suka mengendarai mobilnya sendiri. Ia tak bermasalah dengan bandara atau pesawat, tetapi ia benci naik taksi.


“Joshua! Is that you?!” Seorang gadis berambut pirang panjang diikat ekor kuda, mengenakan kaus dan jins muncul dari samping rumah, langsung berlari menyongsong Joshua dan menubruknya dengan pelukan hingga tubuh Joshua terhuyung ke belakang.


“Wow, wow, wow, Maddy, kau bersemangat sekali,” celetuk Joshua setelah berhasil mengatasi keseimbangan tubuhnya.


“Maaf.” Gadis cantik yang dipanggil Maddy itu menurunkan lengannya dari leher kekar Joshua dan tersenyum malu. “Sudah lama aku tidak melihatmu. Kata Jamie kau tidak bisa ikut karena ada pekerjaan.”


“Well,” Joshua mengedikkan bahu, “pekerjaanku sudah selesai.”


“Aku senang kau datang,” kata Maddy. Wajahnya berbinar, membuktikan kebenaran ucapannya barusan. “Eh, kau tak sendirian, ya?” Tampaknya ia baru melihat ada seorang gadis di sisi lain mobil. “Siapa?” Ia menatap Joshua dengan raut wajah bertanya. Bukan hal biasa Joshua mengajak teman wanitanya kemari.


“Hai, namaku Ceria.” Ceria melangkah menghampiri gadis itu dan mengulurkan tangan. “Senang bertemu denganmu.” Ia menambahkan setelah Maddy membalas uluran tangannya.


“Ya ampun, kau Lara Dawson!” Maddy berseru begitu menyadari siapa sebenarnya gadis mungil yang menjabat tangannya itu. “Kau terlihat berbeda dengan di televisi,” lanjutnya. “Namaku Madison. Kau bisa memanggilku Maddy. Aku adik Jamie.”


“Oke, Maddy,” Ceria tersenyum. “Senang bertemu denganmu.” Ia mengulangi sambil melepaskan tangannya dari genggaman gadis yang lebih tinggi darinya itu. Wajahnya benar-benar mirip Jamie.


“Yeah, aku juga,” balas Maddy. “Kau tampak lebih muda daripada di televisi.”


“Terima kasih,” balas Ceria. “Mungkin karena make up.”


Maddy mengamati wajah gadis di hadapannya. “Kau tidak terlihat seperti memakai make up.”


Ceria tertawa kecil. “Memang tidak.” Ia membenarkan karena ia memang hanya memakai bedak dan lipgloss. “Maksudku, make up yang kupakai saat berperan sebagai Lara Dawson.”


“Oh, ya, aku mengerti. Make up terkadang membuat seseorang tampak lebih dewasa,” kata Maddy. “Jadi, berapa usiamu sebenarnya? 18? 19? Atau 20, mungkin?”


“Well, 27 sebenarnya,” jawab Ceria.


“What?” Maddy menatap Ceria tak percaya. “Dua puluh tujuh itu umurku. Tidak mungkin usiamu sama denganku. Kau tampak seperti remaja.”


“Terima kasih,” ucap Ceria. “Tapi usiaku benar-benar 27 tahun.”


“Oh, ya ampun, kau beruntung sekali.” Maddy mendesah dramatis. "Kau benar-benar membuatku iri."


Ceria hanya balas tersenyum simpul. Tampaknya bukan hal aneh jika wanita Asia cenderung terlihat lebih muda


daripada wanita dari wilayah barat.


“So, Maddy, apa kau tidak mau mempersilakan kami masuk?” tanya Joshua. “Kami sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh.”


“Oh, Joshua,” Maddy memutar bola matanya. “Kau kan biasa keluar-masuk sendiri. Kenapa harus menunggu dipersilakan? Ini kan rumahmu juga.”


“Tapi kan Ceria belum biasa,” balas Joshua. “Ini kali pertama dia kemari.”


“Baiklah, ayo masuk,” ajak Maddy akhirnya. “Sekalian bawa barang-barang kalian. Kalian akan menginap, kan?”


“Tentu saja,” jawab Joshua sembari mengeluarkan barang-barangnya dan Ceria dari jok belakang mobil. “Aku sudah hafal peraturannya.”


“Peraturan?” Ceria mengernyit heran. Tangannya meraih tas berisi keperluannya dari tangan Joshua.


“Biar aku saja.” Joshua menjauhkan tas besar itu dari pemiliknya, kemudian menjelaskan, “Semua teman yang berkunjung ke Allen’s Stock harus menginap minimal satu malam.”


“Exactly.” Maddy membenarkan sembari melangkah mendahului tamu-tamunya menaiki beranda depan rumah dan membukakan pintu untuk mereka. “Silakan!”


“Terima kasih,” ucap Joshua dan Ceria bersamaan, seraya melangkah melewati pintu yang dibuka lebar oleh tuan rumah.


“Ada banyak kamar di sini.” Maddy memberitahu Ceria, karena Joshua jelas sudah tahu. “Kau boleh memilih yang mana saja,” tambahnya, lalu mendekatkan wajahnya di telinga Ceria dan berbisik, “Tapi aku sarankan cari kamar yang jauh dari Joshua dan Jamie. Kadang otak mereka suka ngeres.”


“Hei, aku bisa mendengarnya, lho!” cetus Joshua. Maddy nyengir sambil menjulurkan lidahnya.


“Kamar mana yang kausarankan?” tanya Ceria.


“Di dekat kamarku saja. Kamarnya luas dan pemandangannya bagus. Ayo ikut aku!” Maddy melambaikan tangan


sebagai isyarat agar Ceria mengikutinya sebelum melangkah ke ruang utama dan menaiki tangga menuju lantai dua. Ceria dan Joshua mengekor di belakangnya. Setelah menyusuri lorong dan melewati beberapa ruangan, Maddy menghentikan langkah dan membuka pintu sebuah ruangan. “Ini kamarmu. Tapi kalau kau tidak suka, kau


boleh memilih kamar yang lain.”


Kamar itu luas, seperti yang sudah dijelaskan oleh Maddy. Sebuah tempat tidur berkanopi dengan kelambu berwarna putih pucat berdiri di tengah ruangan, diapit dua buah nakas lengkap dengan lampu meja berbentuk antik. Terdapat lemari kayu besar dan meja rias. Karpetnya berwarna krem dan tirai jendelanya berwarna merah jambu. Kamar itu seolah memang telah dipersiapkan untuk ditempati wanita.


“Aku suka kamar ini,” kata Ceria. “Ini bagus sekali.”


“Baguslah kalau kau suka,” balas Maddy. “Tunggu sampai kau melihat pemandangan di jendela saat matahari terbit.”


“Aku yakin pasti sangat indah,” ujar Ceria sambil tersenyum lebar. Dari tempatnya berdiri saja ia sudah bisa melihat pemandangan indah dari balik kaca jendela. Padang rumput luas dengan bukit kecil yang nampak di kejauhan.


“Kalau begitu, barang-barangmu kuletakkan di sini, ya?” ucap Joshua sembari meletakkan tas besar milik Ceria di dekat tempat tidur. “Aku akan ke kamarku.” Setelah mengatakan itu, ia pun berlalu dari kamar Ceria dan kembali menyusuri lorong.


“Dia sudah punya kamar tetap di ujung lorong,” jelas Maddy. Ceria hanya mengangguk-angguk mengerti. “So, apa kau mau minum teh bersamaku dan sedikit mengobrol?” tanya Maddy. “Atau kau mau langsung beristirahat?” tambahnya cepat. “Mungkin kau kelelahan.”


“Yeah, aku memang lelah,” aku Ceria. “Tapi minum teh sepertinya menyenangkan,” lanjutnya. “Mungkin setelahnya tubuhku akan menjadi lebih rileks.”


“Great, ayo turun!” ajak Maddy. “Akan kubuatkan teh yang sangat enak.”


Ceria tersenyum dan mengikuti Maddy turun ke dapur. Sesampai di dapur, Maddy langsung berkutat dengan teh dan teko.


“Apa kau tinggal di sini?” Ceria bertanya sembari mengambil tempat di salah satu kursi, sementara Maddy sibuk menyeduh teh.


“Ya,” sahut Maddy. “Jika kedua kakakku hanya datang di sela-sela kesibukan bekerja di kota besar, aku tinggal di sini sepanjang waktu.” Ia menjelaskan sembari membawa nampan berisi teko dan dua cangkir teh serta beberapa kudapan dan meletakkannya di meja, lalu menuangkan secangkir untuk Ceria.


“Terima kasih,” ujar Ceria sembari meraih cangkir teh yang disodorkan Maddy. Menghirup aroma harum yang


dikeluarkan, meniup uap panas yang melayang di atas cangkir, sebelum menyesap sedikit. Aliran hangat mengaliri kerongkongannya. Membuat dadanya ikut terasa hangat dan tubuhnya menjadi lebih rileks. Lelah yang dirasa tubuhnya sedikit berkurang.


“Bagaimana?” tanya Maddy.


“Ini sangat enak,” jawab Ceria jujur, lalu kembali menyesap teh di tangannya.


Maddy tersenyum lebar mendengar jawabab Ceria. Ia kemudian menikmati cangkir tehnya sendiri sambil sesekali menyantap kudapan.


“Kau mengurus peternakan? Bukankah itu pekerjaan yang berat?” Cendi kembali bertanya sembari meletakkan cangkir teh di meja, setelah cukup puas menikmati teh harum buatan Maddy.


“Well, tidak benar-benar mengurus peternakan. Ada pegawai yang mengurus segalanya. Aku hanya mengawasi,” jawab Maddy sambil kembali menyesap tehnya.  “Sebenarnya aku tidak tahu banyak tentang sapi, kuda, atau lainnya.”


“Kau tidak ingin tinggal di kota?”


“Dulu ingin dan pernah tinggal di kota saat kuliah,” jawab Maddy. “Tapi ternyata aku kurang menikmati. Lebih nyaman tinggal di sini. Lebih baik melihat gerombolan sapi daripada mobil berderet dengan klakson memekakkan.”


Ceria tersenyum kecil. “Jadi, apa pekerjaanmu sebenarnya?”


“Dulu model. Sekarang aku mencoba menjadi penulis.”


“Wow, itu hebat!”


“Tidak, aku masih mencoba.” Maddy merendah. “Menjadi penulis lebih sulit daripada menjadi model. Memerlukan kepandaian dan pengetahuan luas, juga imajinasi dan kemampuan dalam mengolah kata, selain harus paham tata bahasa yang baik juga. Bukan hanya mengandalkan wajah cantik dan bentuk tubuh ideal seperti pekerjaanku sebelumnya.” Tentu saja menjadi model juga tidak semudah kelihatannya.


“Aku yakin kau pasti bisa,” kata Ceria tulus.


Maddy tersenyum. “Terima kasih. Aku berusaha.”


“Jadi, apa yang kautulis?”


“Aku suka menulis novel romantis,” jawab Maddy.


“Itu bagus. Aku suka membaca novel romantis,” ujar Ceria. “Yeah, sebenarnya aku suka membaca novel apa saja, sih.”


“Jadi kau suka membaca? Pantas aku langsung menyukaimu. Aku juga sangat suka membaca,” balas Maddy. “Sebenarnya, menurutku kau sangat berbeda dengan kebanyakan selebritas yang sering kutemui.”


“Terima kasih. Kuanggap itu pujian.”


“Hei, di sini kalian rupanya!” Joshua sekonyong-konyong muncul di dapur. “Teh untukku mana?”


“Masih ada cukup banyak untuk kita bertiga,” ujar Maddy. “Kau bisa mengambil cangkir sendiri. Kau kan bukan tamu.”


“Baiklah.” Joshua mendesah pasrah, lalu mengambil sebuah cangkir teh dari lemari penyimpanan. “Lihat saja Cer,” katanya pada Ceria sembari duduk di sebelah gadis itu dan menuang teh untuk dirinya sendiri. “Besok kau tidak akan dilayani lagi. Karena setelah kau menginap di sini, kau sudah bukan tamu lagi.”


“Tidak masalah,” sahut Ceria. “Aku lebih senang melayani diriku sendiri.”


Kalau sudah tidak dianggap tamu, apakah itu berarti ia sudah dianggap keluarga? Oh, berhenti berpikir yang tidak-tidak, Ceria!


“Baguslah,” gumam Joshua seraya menyesap tehnya. “By the way, aku tidak melihat Papa dan Mama Allen dari tadi. Ke mana mereka?” tanyanya pada Maddy. Saking dekatnya dengan keluarga Jamie, Joshua sudah dianggap anak sendiri oleh pasangan Allen, bahkan ia memanggil mereka Papa dan Mama, sama seperti Jamie dan kedua saudaranya.


“Kau tidak tahu?” Maddy balas bertanya sambil mengerutkan kening. “Memangnya Jamie tidak cerita, ya? Papa dan Mama kan berlibur sejak awal tahun.”


Ceria kembali menyesap tehnya. Papa dan Mama? Hm… tidak banyak orang Amerika yang ia kenal memanggil orangtuanya dengan sebutan itu. Ia saja, meski tinggal di Indonesia, sejak kecil memanggil ayahnya Daddy.


“Ya, Jamie pernah cerita,” balas Joshua. “Jadi, mereka belum kembali?”


“Tentu saja belum.” Maddy menjawab sambil memutar bola matanya seolah pertanyaan Joshua sangatlah konyol. Entah sudah berapa kali Ceria melihat gadis itu memutar bola mata dalam kurun beberapa menit pertemuan mereka. “Mereka kan mau keliling dunia.”


“Oh,” Joshua mengangguk mengerti. Tak menyangka kedua orangtua sahabatnya—yang juga sudah ia anggap orangtua sendiri—itu benar-benar keliling dunia dalam artian sebenarnya. “Lalu, di mana Jamie? Aku juga tidak melihatnya dari tadi.” Jangan bilang ia menyusul orang tuanya keliling dunia!


“Di padang,” jawab Maddy. “Menggembala sapi.”