No One Loves You Like I Do

No One Loves You Like I Do
11


Jamie berbaring di bawah pohon cedar berbantalkan akar yang menonjol, dengan wajah tertutup topi koboi hitam miliknya. Matanya terpejam, namun sebenarnya ia tidak benar-benar tidur. Ia masih bisa mendengar lenguhan sapi di kejauhan, desau angin yang menggesek rumput dan dedaunan, juga kecap kuda yang mengunyah rumput tak jauh darinya. Jadi, saat tiba-tiba Buddy, anjingnya yang semula berbaring di sisinya bangun dan menyalak, ia pun membuka mata dan merenggut topi yang menutupi wajahnya.


Sambil bertopang pada siku kiri, Jamie mengangkat bagian atas tubuhnya dan melihat di kejauhan pick up yang sangat ia kenali melaju ke arahnya. Ia menyipitkan kedua mata saat pick up itu semakin mendekat, untuk melihat siapa yang berada di balik kemudi. Buddy masih terus menggonggong sambil mengibaskan ekor berbulunya. Dari jenis gonggongan dan gestur yang diperlihatkan Buddy, Jamie tahu bahwa siapa pun yang berada di balik kemudi itu bukan orang asing bagi si anjing.


Pick up itu berhenti beberapa meter dari tempat Jamie berbaring. Jamie tersenyum saat seorang pria jangkung berkemeja flanel dipadu celana jins turun dari sisi pengemudi. Dan senyumnya makin lebar saat melihat sosok yang turun dari sisi penumpang, seorang gadis cantik bertubuh mungil berambut hitam panjang dikucir ekor kuda. Demi melihat kedua sahabatnya itu, ia pun bangkit.


Buddy berlari riang menyongsong Joshua. Dan bersamaan dengan Joshua menangkap dan memeluk anjing itu, Ceria yang baru turun langsung kembali melompat ke dalam pick up.


Jamie tak bisa menahan tawa melihat adegan itu. “Ya ampun, Ceria… kau takut anjing?” serunya sembari berjalan mendekat. Bertahun-tahun mengenal gadis itu, baru kali ini ia mengetahui sisi lain dari Ceria yang ternyata… takut pada anjing?


“Well, tidak juga. Eng… iya, sih,” jawab Ceria, tetap meringkuk di bilik penumpang. Hanya kepalanya saja yang melongok keluar.


“Sejak kapan?” Joshua mengernyit heran sambil tangannya tetap menggaruk leher Buddy. “Sepertinya kau baik-baik saja setiap kali melihat anjing yang dipajang di pet shop.”


“Uhm… ya, kalau melihat saja aku tak masalah. Bahkan menurutku mereka sangat lucu,” kata Ceria. “Tapi kalau berhadapan secara langsung, apalagi dengan anjing sebesar ini, aku… entahlah, rasanya menakutkan.”


“Turunlah,” ajak Jamie seraya mendekat ke sisi penumpang. “Buddy anjing yang baik. Dia tidak akan menggigitmu.”


Ceria menggeleng cepat. Matanya masih menatap ngeri pada Great Pyrenees yang berputar-putar mengitari Joshua sambil menggonggong gembira itu.


“Ayolah… tidak apa-apa!” Jamie mengulurkan tangan dan membuka pintu mobil.


Ceria mundur dan terus menggeleng. “Tidak mau. Aku takut. Lihatlah, dia besar sekali!”


“Dia memang besar, tapi sangat jinak. Ayolah keluar! Kau harus berkenalan dengannya.” Jamie meraih lengan Ceria dan dengan paksa menariknya keluar. Gadis itu berusaha melawan, tetapi tenaga Jamie jauh lebih besar.


“Tidak apa-apa. Dia tak akan menggigitmu.” Jamie berusaha menenangkan saat Ceria mencengkeram erat lengannya. “Buddy, kemarilah!”


Mendengar panggilan tuannya, anjing berbulu putih lebat itu berlari memutari bagian depan mobil dan menghampiri Jamie.


“No!” jerit Ceria sambil berlindung di belakang Jamie dan mencengkeram erat kemejanya.


Melihat reaksi gadis itu, Buddy memiringkan kepalanya dan menatap penasaran dengan mata bulatnya yang lucu. Sambil menggoyangkan ekornya, ia berjalan ke samping tuannya dan melongok ke belakang. Ceria kembali menjerit dan melangkah ke sisi yang berlawanan dengan si anjing.


Jamie dan Joshua terbahak bersamaan. Buddy yang merasa diajak bermain malah semakin mendekati Ceria, membuat gadis itu terpekik jerit sambil terus mundur hingga berada di depan Jamie dan mencengkeram erat pinggangnya.


“Oke, oke, Buddy, berhenti!” perintah Jamie saat melihat wajah Ceria berubah pucat dan genangan air sudah menggelayut di pelupuk matanya. “Kau membuatnya takut.”


Anjing itu menurut, tidak lagi mengejar Ceria. Hanya duduk sambil menggoyangkan ekornya, meski matanya masih menatap penuh ketertarikan pada gadis lucu yang baru kali pertama dilihatnya itu.


“Sudah, tidak apa-apa. Buddy tidak akan mengodamu lagi.” Jamie menenangkan sambil merangkum tubuh mungil Ceria dengan kedua lengannya.


Namun, gadis itu tetap mencengkeram erat pinggangnya. Wajahnya masih pucat dan genangan yang tadinya menggantung di pelupuk matanya kini telah berlelehan membasahi pipinya yang bulat seperti bakpao Cina.


“Kau benar-benar takut, ya?” Jamie mengernyit menatap ekspresi yang tergambar di wajah Ceria dan dengan spontan mengusap-usap punggungnya untuk menenangkan. Ia merasa bersalah telah memaksa Ceria berkenalan dengan Buddy bahkan menganggap lucu ketakutan Ceria.


“Jauhkan dia dariku, please,” cicit Ceria dengan bibir bergetar.


“Buddy, bermainlah dengan para sapi!” perintah Jamie pada anjingnya.


Si anjing tak langsung menurut. Ia masih menatap penasaran pada gadis di dalam pelukan tuannya. Namun saat Jamie memerintah dua kali, ia pun bangkit dari duduknya dan berlari kecil menghampiri sapi-sapi yang merumput di tengah padang.


“Dia sudah pergi.” Jamie memberi tahu seolah Ceria tak bisa melihatnya. “Apa kau baik-baik saja?”


Ceria mengusap air mata yang membasahi wajahnya dan mengangguk pelan. Meski jantungnya masih berdebar


keras, ia sudah merasa lebih tenang karena rasa takutnya telah lenyap. Debaran keras jantungnya justru akibat dari keberadaan lengan Jamie yang melingkupi tubuh dan mengusap-usap punggungnya.


“Ya ampun, aku tidak tahu kau akan setakut itu,” komentar Joshua yang entah sejak kapan sudah bersandar pada sisi kanan bagian depan mobil, tepat di belakang Ceria. “Kupikir kau pecinta hewan. Setahuku kau penyumbang dana tetap untuk WWF.”


Ceria mundur dari pelukan Jamie dan berbalik menatap Joshua. Warna wajahnya yang semula pucat telah berangsur normal. “Yeah, aku memang mencintai hewan,” ia membenarkan. “Hanya saja… aku merasa takut jika terlalu dekat dengan hewan buas. Aku cuma bisa mengagumi mereka dari jauh.”


“Tapi Buddy bukan hewan buas,” sanggah Jamie.


“Tapi dia sangat besar,” kilah Ceria. “Kau lihat sendiri, saat berdiri dengan empat kaki saja tingginya nyaris separuh dari tinggi badanku. Coba bayangkan kalau dia berdiri dengan dua kakinya? Tingginya pasti sama denganku, atau bahkan lebih.”


“Tapi dia sangat jinak, Ceria.” Jamie menekankan. “Kau lihat, kan, bagaimana tadi dia bermain dengan Joshua?”


“Aku tahu, tapi….“ bibir Ceria mengerucut, “…dari jarak hanya beberapa inci, tetap saja bagiku dia terlihat menyeramkan. Kau tidak akan mengerti.”


“Jadi, dari jarak sejauh ini menurutmu dia tidak menakutkan?” Joshua bertanya sambil mengedikkan kepala ke arah Buddy yang berkejar-kejaran dengan seekor anak sapi.


Ceria mengikuti arah pandangan Joshua dan selengkung bulan sabit menghiasi wajahnya. “Dia sangat menggemaskan,” ujarnya sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada, membuat gestur seperti saat melihat bayi yang baru lahir.


Jamie menatap reaksi Ceria dengan pandangan aneh. “Kau benar,” katanya. “Aku tidak mengerti.”


“Apa kau pernah mengalami kejadian buruk dengan anjing?” tanya Joshua. “Digigit atau semacamnya, mungkin?”


Ceria menggeleng. “Sejak kecil aku selalu ketakutan mendengar gonggongan anjing,” katanya. “Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena suaranya yang keras. Aku kan mudah kaget.”


“Jadi, seandainya Buddy tidak menggonggong, apa kau tidak akan takut padanya?” tanya Jamie. “Dia bisa saja kusuruh diam kalau itu bisa membuatmu tenang.”


“Aku tidak yakin.” Ceria mengedikkan bahu. “Aku juga takut melihat gigi-gigi tajam mereka.”


Jamie menengadah sambil mengangkat tangan tanda menyerah.


“Maaf,” kata Ceria merasa tidak enak.


“Untuk apa?” Jamie mengernyit. “Bukan salahmu kalau kau takut pada sesuatu. Setiap orang pasti punya ketakutan sendiri.”


“Yeah,” dukung Joshua dengan seringai di bibir tipisnya. “Seperti Jamie yang takut pada tikus.”


“Atau Joshua yang takut naik taksi.” Jamie membalas, tapi cepat-cepat menambahkan, “Juga Theo yang takut naik pesawat.” Setelah menyadari ia telah menyinggung hal yang sensistif.


Ketakutan Joshua pada taksi tidak sesederhana fobianya pada tikus atau Theo yang takut naik pesawat hanya karena paranoid pesawat akan jatuh. Joshua memiliki pengalaman traumatis yang membuatnya takut naik taksi.


Saat berusia 12 tahun, Joshua pernah diculik oleh sopir taksi yang ia tumpangi sepulang dari belajar di rumah temannya. Dan selama dalam masa penyekapan sembari menunggu uang tebusan, penculik itu tidak hanya menyiksanya, tetapi juga melakukan pelecehan seksual. Setelah empat hari disekap, polisi akhirnya bisa menemukan keberadaan mereka. Sejak saat itu ia selalu ketakutan setiap kali melihat taksi. Setelah mendapat perawatan psikiater, perlahan Joshua tidak ketakutan lagi saat melihat taksi, tetapi tetap tidak berani naik taksi. Hingga sekarang.


“Yeah,” sahut Joshua singkat. Seolah tak merasa terganggu dengan ucapan Jamie. Atau hanya pura-pura tak terganggu karena ia yakin Jamie tidak bersungguh-sungguh mengoloknya.


“Aku mengerti.” Ceria tersenyum tipis. “Tapi mungkin kalau terus di dekat Buddy, perlahan-lahan ketakutanku akan hilang.”


“Apa itu mungkin?” Jamie mengernyit tidak yakin. “Didekati Buddy saja kau sudah pucat pasi bahkan sampai menangis.”


“Yeah, siapa tahu.” Ceria mengedikkan bahu. “Bukankah ada pendapat kalau ketakutan seseorang akan hilang jika terus mendekati benda atau melakukan sesuatu yang ditakutinya secara kontinyu.”


“Bisa jadi, sih. Ah, sudahlah!” kibas Jamie. “Sudah sore. Kurasa sebaiknya kita pulang.”


“Kau benar,” decak Joshua setelah menatap ufuk barat dan melihat matahari sudah sangat condong. “Kalau begitu, kita bertemu di rumah.” Ia kembali memutari bagian depan mobil dan memasuki sisi pengemudi. Ceria mengikuti jejaknya.


“Eits, tunggu dulu!” Jamie menahan pergelangan tangan Ceria saat gadis itu hendak membuka pintu di sisi penumpang. Ceria balas menatapnya bingung. “Kau ikut denganku.”


Ceria menautkan kedua alisnya dan bibirnya membuka seperti hendak berkata-kata. Namun, sebelum ia mengeluarkan suara, Joshua lebih dulu menimpali, “Kalau begitu, aku duluan, ya!” Dan langsung melarikan pick up milik peternakan itu dari hadapan teman-temannya.


Ceria hanya menatap kepergian kendaraan itu dengan mulut ternganga, lalu kembali menatap Jamie masih dengan ekspresi yang sama.


“Ayo!” Jamie menarik lembut tangan Ceria menuju pohon cedar tempatnya berbaring sebelum teman-temannya datang tadi. Karena di sanalah ia menambatkan Bolt, kuda berbulu cokelat-hitam kesayangannya.


Bibir Ceria makin terbuka lebar ketika mereka sampai di hadapan kuda itu. Kepalanya menengadah menatap hewan yang tampak seperti kuda raksasa di hadapannya. “Ki-kita akan naik ini?” Ia bertanya sembari menoleh pada pria di sebelahnya.


“Ya,” Jamie mengangguk. “Jangan bilang kau takut kuda juga!” Ia menatap Ceria dengan mata menyipit.


“Well, tidak sih sebenarnya,” jawab Ceria. “Tapi… aku belum pernah melihat kuda sebesar ini.”


“Tapi kau bisa berkuda, kan?”


Ceria menggeleng. Saat masih di Indonesia, ia memang pernah naik kuda di beberapa tempat wisata. Tapi kudanya kecil dan ia sama sekali tak mengendalikannya. Kudanya hanya berjalan pelan sambil dituntun oleh pemiliknya. Jadi, menurutnya itu tidak bisa disebut bisa berkuda.


“Tidak apa-apa,” kata Jamie. “Aku jago berkuda. Naiklah!”


“H-how?” Ceria menatap Jamie dan kudanya bergantian.


Jamie mendesah panjang. “Letakkan kaki kirimu di atas pedal, lalu angkat badanmu dan naikkan kaki kananmu.” Ia menjelaskan seolah dirinya seorang instruktur berkuda.


“Aku mengerti, tapi….” Ia kembali menatap kuda di hadapannya. “Bahkan letak pedalnya pun sangat tinggi.”


“Naik sajalah,” ujar Jamie tidak sabar. “Aku akan membantumu kalau kau merasa kesulitan. Ayo cepat, keburu gelap!”


“Siapa suruh mengajakku ikut denganmu?” Ceria menggerutu. “Coba kalau aku tadi ikut Joshua, kau kan tak perlu—aaaah…!” Ceria menjerit. Tanpa menunggunya selesai bicara, Jamie sudah mengangkat tubuhnya dan menaikkannya ke atas punggung kuda. “Jamie! Kau—”


Seruan Ceria kembali tertahan karena dalam waktu singkat, Jamie sudah duduk di belakangnya dengan kedua tangan terjulur di sisi kiri kanannya memegang tali kekang. Dada bidang pria itu menempel ke punggungnya, membuat jantungnya berhenti berdetak beberapa saat sebelum berpacu sangat kencang seolah hendak meledakkan dadanya.


“Pegangan yang erat, ya! Kita berangkat.” Tanpa menghiraukan gerutuan Ceria, Jamie menghentakkan tali kekang dan kuda itu pun langsung melangkah. Well, lebih tepatnya berlari pelan. Meski begitu, tetap bisa membuat tubuh Ceria tersentak ke belakang dan menabrak dada Jamie. “Hei, aku kan sudah bilang pegangan yang erat!” protes Jamie sambil menahan tubuh Ceria.


“Kau menyuruhku berpegangan bersamaan dengan menyuruh kudamu jalan. Jadi, aku belum sempat berpegangan!” Ceria bersungut, berpura-pura tak terjadi apa pun pada  jantungnya.


“My bad. Sorry.” Jamie nyengir, lalu mempercepat laju kudanya setelah yakin posisi tubuh Ceria sudah aman, untuk bergabung dengan dua pengendara kuda lainnya yang tak lain adalah pegawai peternakannya, dan menggiring puluhan sapi kembali ke kandang.


Selama perjalanan menuju rumah peternakan keluarga Allen itu, Ceria harus terus berusaha meredam debaran keras di dalam dadanya. Berada sedekat itu dengan Jamie, dengan punggung menempel pada dada Jamie dan kedua lengan kekar pria itu yang merangkum tubuhnya dari belakang membuat darahnya berdesir dan jantungnya berdetak tak beraturan. Meski sering melakukan adegan mesra dengan Jamie, tetap saja berada sedekat ini dengannya di dunia nyata membuat sekujur tubuhnya menegang.