No One Loves You Like I Do

No One Loves You Like I Do
13


“Kau mau ke mana?” Ceria sedang bersantai di beranda depan sambil membaca novel yang dipinjamnya dari Maddy, saat melihat Joshua keluar rumah sambil menenteng koper.


Mendengar pertanyaan Ceria, Joshua menghentikan langkahnya dan menjawab santai, “Pulang.”


“Apa?!” Setengah berseru, Ceria menutup novel di tangannya dan bangkit menghampiri Joshua. “Apa kau tadi berkata mau pulang?” Ia berharap salah dengar atau Joshua yang salah bicara, tetapi pria jangkung itu justru mengangguk.


“A-apa maksudmu?” Ceria menatap bingung campur panik. Joshua yang kemarin memaksanya ikut kemari, tapi


sekarang ia malah mau pulang tanpa mengajak Ceria serta. Apa Joshua bermaksud meninggalkannya?


“Yeah, aku mau pulang,” kata Joshua tanpa mimik bersalah terpancar dari wajahnya.


“Bagaimana denganku?”


“Kau tetap di sini.”


“What?!” Kali ini Ceria benar-benar berseru histeris.


“Kau serius mau pergi, Josh?” Jamie muncul dari samping rumah.


Pria bertinggi badan nyaris 190 cm itu menoleh pada si tuan rumah yang mulai menapaki tangga beranda. “Ya, aku sudah bilang kan kemarin.”


“Tapi kau belum bilang mau pergi ke mana,” balas Jamie.


“Aku mau pulang.”


“Apa? Ke mana?” Jamie memiringkan kepalanya menatap Joshua. “L.A.?”


“Bukan,” sahut Joshua. “San Antonio.”


“Oh, kau mau pulang ke rumah orangtuamu.”


“Ya.” Joshua menganggu. “Mumpung aku sedang libur.”


“Lalu, bagaimana denganku?” Ceria yang merasa nasibnya tidak jelas, kembali menanyakan hal yang sama.


Joshua kembali mengarahkan mata pada Ceria. “Kau di sini saja bersama Jamie.”


“T-tapi….”


“Kenapa?” sela Joshua. “Jamie tidak keberatan kok. Ya, kan, Jam?”


“Tentu,” sahut Jamie santai.


“B-bukan itu masalahnya….”


Joshua menatap tak mengerti. “Ada apa?”


“Itu….” Ceria menggigit bibir bawah dengan mata menatap lantai. Semenjak adegan berciuman semalam, sebenarnya ia merasa agak canggung setiap kali berada di dekat Jamie. Ia bahkan nyaris tidak bisa memejamkan mata semalaman karena jantung dan sekujur sendinya masih gemetar. Selama sarapan tadi pun, ia tidak berani menatap muka Jamie. Meskipun bukan dirinya yang memulai, tetap saja ia membalas ciuman itu. Dan jujur saja, hal itu membuatnya malu. Namun, tentu saja tidak mungkin ia mengatakan pada Joshua. Biarlah kejadian semalam menjadi rahasianya bersama Jamie—dan Buddy, yang membuat bibir kedua insan itu terlepas karena gonggongannya.


“Cer….” Joshua mengerutkan kening, menanti lanjutan kalimat Ceria yang tak kunjung mengangkat wajahnya.


Ceria menarik napas pendek dan menatap Joshua sembari melipar tangan di depan dada dan menujukkan ekspresi kesal. “Kau kan yang membawaku kemari. Seenaknya saja sekarang kau mau meninggalkanku begitu saja. Sangat tidak bertanggung jawab!”


“Ya, tapi kan aku tidak meninggalkanmu di jalanan. Aku meninggalkanmu di tempat yang aman. Di peternakan keluarga Allen yang luas dan menyenangkan,” kilah Joshua. “Lagi pula, memangnya kau mau kuajak ke rumah orangtuaku dan mereka menganggapmu calon menantu?”


“Huh?” Sepasang alis tipis milik Ceria bertaut saat menatap Joshua.


“Oh, kau tidak tahu ya?” Joshua mengangkat kedua alisnya dan bersedekap. “Orangtuaku belakangan sering menanyakan hubungan asmaraku dengan siapa pun. Mereka ingin aku segera menikah. Jadi, kalau aku membawamu ke rumah, maka mereka akan menganggapmu kekasihku. Apalagi berita tentang kita sudah tersebar di mana-mana. Ibuku bahkan sudah beberapa kali menelepon menanyakan kebenarannya.”


Bohong sebenarnya. Iya, ibu Joshua memang sempat menelepon dan menanyakan berita itu, sekadar ingin tahu kebenarannya. Sama sekali tidak ada yang meminta Joshua agar segera menikah. Dia baru 29 tahun dan sedang sibuk dengan kariernya. Tidak perlu terburu-buru berumah tangga. Namun, Ceria sama sekali tidak mengetahui hal itu dan dengan lugu memercayai semua perkataan Joshua.


Ceria kembali menggigit bibir bawahnya dengan cemas. Bisa runyam kalau orangtua Joshua benar-benar menganggapnya calon menantu. Tapi… ditinggal di sini bersama Jamie juga bukan hal yang bagus.


Bukan berarti ia tidak senang berada di dekat Jamie. Tidak, perasaannya pada Jamie sama sekali belum berubah. Rasa cintanya masih sebesar dulu. Hanya saja… ciuman itu… ah, mengingatnya saja sudah bisa membuat jantungnya melompat-lompat tak keruan.


“Kalau begitu, aku pergi sekarang, ya,” kata Joshua saat Ceria masih berkutat dengan kegalauannya. “Dari tadi ibuku sudah menanyakan aku sudah berangkat atau belum,” ia beralasan. “Kau di sini saja. Jangan khawatir, kau akan baik-baik saja. Jamie akan menjagamu. Right, Jam?”


Joshua menatap sahabatnya yang langsung menyahut, “Yep, tentu saja.”


“Dan kau juga tidak akan berbuat macam-macam kan padanya?”


“Well, itu….” Jamie menyeringai, “aku tak bisa berjanji.”


Joshua mendengus, sementara Ceria membeku di tempatnya. Perutnya kembali melilit mendengar ucapan Jamie. Oh, ayolah… ia mengenal Jamie bukan dalam hitungan jam atau hari. Mereka sudah bekerja bersama dan menjadi sahabat selama bertahun-tahun. Sudah ratusan kali ia mendengar rayuan kosong Jamie. Ia bahkan sudah sering berakting melakukan adegan mesra dengan Jamie di serial yang mereka bintangi. Kenapa ia sampai merasa setegang ini hanya gara-gara satu ciuman?


Orang lain saja bisa begitu santai berciuman atau berhubungan seks dengan orang yang baru dikenal dan sama sekali tidak punya rencana untuk bertemu lagi. Kenapa mendadak ia begitu dramatis seperti gadis remaja? Meski ia bukan penganut paham seks bebas, tetap saja tidak seharusnya dia terlalu terbawa perasaan seperti ini. Dia kan


sudah dewasa.


Hanya satu ciuman, Ceria, satuuuu! Jamie juga tampaknya biasa-biasa saja. Satu ciuman kan tidak berarti apa pun.


“Ya sudahlah, aku pergi dulu,” kata Joshua akhirnya, kembali menghadap Ceria. “Kau baik-baik ya, di sini.” Diusapnya kepala Ceria seolah gadis itu adik kecilnya. “Kalau Jamie mulai macam-macam padamu, tendang saja selangkangannya. Maka dia tidak akan bisa berkutik lagi.” Ia berpesan dengan raut—sok—serius.


Ceria akhirnya bisa tertawa kecil mendengar lelucon tidak lucu Joshua. Sementara Jamie justru memprotes keras. Apa-apaan berpesan seperti itu? Kan bahaya kalau Ceria benar-benar melakukannya.


Tentu saja Joshua mengabaikan protes Jamie. Setelah berpamitan dan berjanji akan kembali dalam waktu dekat, ia pun menghampiri mobilnya yang terparkir di garasi dan melarikan Range Rover hitam itu menjauh, hingga akhirnya hilang dari pandangan.


Tinggal Ceria dan Jamie berdiri di depan rumah peternakan keluarga Allen. Hanya berdua, karena Maddy sudah pergi seusai sarapan. Ada sedikit urusan di kota katanya.


Beberapa saat setelah kepergian Joshua, keduanya tenggelam dalam keheningan. Hanya desau angin menggesek rerumputan dan pupus dedaunan, serta lenguh sapi dan ringkik kuda di kejauhan terdengar samar-samar. Hingga akhirnya Jamie menoleh pada gadis di sampingnya.


“Kau mau berkuda?”


***


Ceria menatap deretan kuda di dalam istal dan menggeleng pelan. “I don’t know, Jamie. I’m not sure.”


Jamie yang berdiri di sebelahnya menoleh dan mengernyit. “Kenapa?” tanyanya. “Kau bisa memilih mana pun yang kau suka. Mereka semua jinak, kok.”


“Tapi,” Ceria masih menengadah, menatap kepala kuda-kuda yang melongok dari bilik kayu, “mereka sangat besar.”


Ceria mengesah. “Masalahnya aku tak bisa berkuda.”


“Aku tahu. Makanya aku akan mengajarimu.”


“Tapi masa aku belajar berkuda untuk kali pertama dengan kuda sebesar ini?” balas Ceria. “Apa tidak ada kuda yang lebih kecil?”


Jamie berpikir sebentar, lalu menjawab, “Ada, kuda poni milik Maddy. Kau mau?”


“Yang benar saja!” Ceria mendengus. Meskipun tubuhnya lebih mungil dari wanita Amerika pada umumnya, tetap saja ia wanita dewasa. Ia bukan bocah tujuh tahun. Kasihan kudanya kalau ia memaksa menunggangi kuda mini itu.


“Ya sudah, hanya ini yang kami punya. Pilihlah salah satu.”


Ceria masih tidak yakin. Matanya masih berkelana dari satu kuda ke kuda lain. Semuanya tampak cantik, tapi…. “Mereka terlalu besar, Jamie….” Ia nyaris merengek. “Terlalu tinggi. Bagaimana kalau jatuh? Aku belum pernah berkuda sebelumnya.”


“Aku tidak akan membiarkanmu jatuh.” Jamie meyakinkan.


“Huh?” Ceria menatap bingung. Bagaimana bisa Jamie seyakin itu? Memangnya dia bisa memastikan tubuh Ceria tetap menempel di punggung kuda?


“Kau tidak berpikir aku akan membiarkanmu menunggang kuda sendirian, kan?”


“Eh?” Ceria mengerjap. Memangnya tidak begitu?


“Ya ampun, Ceria….” Jamie terkekeh. “Saat aku berkata akan mengajarimu berkuda, itu artinya kita akan


berkuda bersama, menunggang kuda yang sama, dan aku akan mengajarimu bagaimana mengendalikan kuda itu. Mana mungkin aku membiarkanmu menunggang kuda sendirian. Kau bisa terbunuh.”


Entah itu hiperbola atau memang belajar berkuda bisa seberbahaya itu, Ceria tidak tahu. Ia tidak terlalu memikirkannya, karena belum apa-apa dadanya sudah berdesir membayangkan ia kembali duduk berdua dengan Jamie di punggung kuda. Merasakan lengan kekar itu merangkum tubuhnya, merasakan embus napas di tengkuknya, kedua kaki mereka yang saling menempel, dan kehangatan saat tangan mereka bersentuhan di tali


kekang. Oh, ya ampun… Ceria bisa terkena serangan jantung kalau seperti ini terus.


“Kalau kau tidak bisa memutuskan, biar aku saja yang memilihkan untukmu,” kata Jamie akhirnya sembari melangkah menghampiri sebuah bilik dan menuntun keluar seekor kuda betina berwarna hitam dengan strip putih di keningnya. Mengingatkan Ceria akan Black Beauty, kuda yang menjadi tokoh utama film animasi yang ditontonnya saat masih kecil dulu. “Ini Ebony,” kata Jamie memperkenalkan. “Kuda betina paling cantik di peternakan ini.” Ia membelai leher kukuh kuda itu dengan lembut saat mengatakannya.


Ceria tentu saja setuju kalau kuda itu memang sangat cantik. Bahkan sangat mirip dengan Black Beauty. Baik rupa maupun keanggunannya. Namun, Ceria masih tidak yakin bisa mengendalikannya. “Kau yakin ini aman?” ia bertanya ragu.


 “Tentu saja,” sahut Jamie. “Kau berada di bawah bimbingan profesional. Aku sudah bisa menunggang kuda sejak umur enam tahun. Aku akan menjagamu tetap aman. Kau tidak perlu khawatir.”


Meski masih agak ragu, Ceria mengedikkan bahu dan berkata, “Oke.”


Jamie lalu menuntun kudanya keluar dari istal dan memberi isyarat pada Ceria untuk mengikutinya. Mereka berjalan menuju lapangan berkuda yang tak begitu jauh dari istal.


Sementara Jamie mempersiapkan perlengkapan berkuda seperti pelana dan teman-temannya, Ceria melemparkan pandangan pada lapangan berbentuk persegi berpagar kayu yang mengelilingi mereka. Luas lapangan itu kira-kira hanya beberapa puluh meter persegi. Fungsinya memang untuk belajar menunggang kuda atau melatih kuda-kuda


baru yang belum begitu jinak. Di sebelahnya ada sebuah lapangan lagi yang lebih luas. Bentuknya hampir mirip, tetapi agak lebih luas dan dilengkapi berbagai macam halang rintang. Yang itu jelas untuk melatih ketangkasan kuda.


“Pakai ini!”


Ceria tersentak saat tiba-tiba sebuah tangan melesakkan helm di kepalanya. Ia menoleh dan melihat Jamie telah berdiri di sebelahnya, dengan tangan kiri tetap memegang kekang kuda.


“Untuk keamanan. Kau kan masih baru.”


“Oh, oke. Thanks.” Ceria tersenyum canggung dan mengunci helmnya. Belum apa-apa jantungnya sudah berlompatan di dalam rongga dadanya.


“Ayo, naiklah dulu!” Jamie memosisikan kuda di tepi pagar dan menjaganya agar tetap stabil, untuk memudahkan Ceria menungganginya. Namun, gadis itu masih bergeming. “Kenapa?”


“Ehm… tidak, tidak apa-apa.” Ceria tersenyum kecil, tapi belum juga beranjak.


“Oh, ayolah Ceria… kemarin kita menunggang kuda dari padang kemari dan kau baik-baik saja, kan? Jadi, tak ada yang perlu kautakutkan,” bujuk Jamie. “Ayo naik!”


“Oke.” Ceria mengembuskan napas panjang, lalu mulai menaikkan kaki kirinya ke atas pedal. Seperti kemarin, Jamie membantunya menaiki punggung kuda karena tubuh kecilnya membuatnya agak kesulitan—sebenarnya karena ia belum terbiasa saja. Selepas itu, Jamie ikut naik dan duduk di belakangnya. Setelah memberikan arahan pada Ceria cara mengendalikan kuda, pelan-pelan kuda itu pun berjalan mengelilingi lapangan.


Ceria mati-matian menahan gemuruh di dalam dadanya. Ia belum juga terbiasa berada sedekat itu dengan Jamie di dunia nyata.


***


Latihan berkuda itu berakhir menjelang jam makan siang. Ceria masih belum berani menunggang kuda sendiri dan jantungnya juga masih berlonjakan ke sana kemari setiap kali dada Jamie menyentuh punggungnya. Ia bahkan tak berani menarik tali kekang lebih kuat agar kudanya mau berlari meski Jamie berkali-kali menyuruh dan meyakinkannya kalau ia tidak akan jatuh. Karena, berbeda dengan saat menggiring sapi kembali ke peternakan seperti kemarin, di mana Jamie yang mengendalikan kudanya, kali ini Ceria-lah yang mengemudikan laju hewan besar berkaki empat itu, sementara Jamie hanya menjaga dari belakang sambil memegangi pinggangnya. Wajar kalau Ceria takut terjatuh atau kuda yang ditungganginya melaju tak terkendali. Jadi, selama berjam-jam mereka hanya berjalan berputar-putar mengelilingi lapangan di atas punggung kuda. Sampai akhirnya Jamie menyerah memakasa Ceria untuk lebih berani dan menyatakan latihan hari ini selesai.


Ceria membuntuti Jamie yang menggiring kudanya kembali ke dalam istal dalam diam dan dengan wajah tertunduk. Ia memang lelah, tetapi bukan itu alasan yang menyebabkan wajahnya muram.


“Kenapa mukamu ditekuk begitu?” tanya Jamie setelah mengantarkan Ebony kembali ke tempatnya.


“Ehm….” Ceria mengangkat wajah menatap Jamie. “Maafkan aku.”


Jamie mengeryit heran. “Untuk apa?”


“Aku tadi sangat payah. Kau pasti kesal mengajariku,” kata Ceria dengan raut muram dan penuh penyesalan, persis anak kecil yang gagal mendapat nilai sempurna dalam tes matematika.


Jamie menaikkan kedua alisnya, lalu tertawa keras. Ceria balas menatapnya bingung. “Ya ampun, Ceria….” ujar Jamie setelah berhasil menguasai dirinya. “Kau ini bicara apa, sih? Mana mungkin aku kesal mengajarimu.”


“Tapi, kan, aku memang sangat payah,” balas Ceria. “Berjam-jam hanya berjalan berputar-putar tidak jelas. Aku pasti orang terpayah yang pernah kauajari berkuda. Kau pasti tidak mau mengajariku lagi, kan?”


Jamie tersenyum lembut. “Tentu saja aku akan terus mengajarimu sampai bisa berkuda dengan baik,” ujarnya. “Kau kan baru pertama belajar menunggang kuda, wajar kalau merasa takut. Apalagi kau belum pernah menunggang kuda sebesar itu kan sebelumnya. Tapi aku yakin, lama-lama kau akan terbiasa. Jadi, santai saja ya,” Jamie menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Ceria, “…anak manis.” Ia menumpukan tangan kanannya di kepala Ceria yang sudah tak memakai helm dan mengacak rambutnya pelan.


“Jadi, kau tidak kesal?” Ceria kembali bertanya dengan sorot mata memelas persis anak kucing yang membuat Jamie gemas ingin menciuminya.


“Tentu saja tidak.” Jamie kembali menegakkan tubuhnya, berusaha keras menahan hasrat untuk menghujani wajah mungil menggemaskan itu dengan ciuman bertubi-tubi seperti saat ia bertemu Buddy setelah nyaris satu tahun tak melihatnya. Selama ini ia hanya mencium Ceria karena sudah tertulis di skenario. Namun, entah kenapa, sejak semalam ia terus merasakan dorongan untuk mencium gadis itu. Wajah yang sudah dikenalnya secara bertahun-tahun itu mendadak terlihat sangat menggoda.


“Tapi kau terlihat kesal,” kata Ceria lagi. Wajahnya masih tampak menyesal.


“Tidak, Ceria… aku tidak kesal,” gemas Jamie. “Aku hanya lelah, oke? Aku lapar. Sekarang sudah waktunya makan siang.”


“Oke,” kata Ceria akhirnya.


“Kita makan siang dulu. Besok pagi kita berlatih lagi,” kata Jamie, kemudian menambahkan, “Kalau kau tidak keberatan.”


“Asal kau mau sabar mengajariku.”


Jamie tersenyum lebar. “Tentu aku akan sangat sabar mengajarimu,” janjinya. “Ya sudah, ayo!” Ia melingkarkan lengan kanannya pada bahu Ceria dan membimbingnya meninggalkan istal, melintasi halaman belakang menuju rumah.


Dan lagi-lagi Ceria merasakan tubuhnya gemetar.