No One Loves You Like I Do

No One Loves You Like I Do
20


Ceria meraih tas berisi pakaian dari atas tempat tidur, lalu menentengnya keluar. Joshua sudah menunggunya di ambang pintu kamar.


“Pergi sekarang?” Pria itu langsung mengambil alih tas Ceria dari tangan pemiliknya.


Ceria tak melawan. Ia hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Joshua barusan. Untuk yang entah keberapa kalinya sejak datang, Joshua kembali memberikan pelukan menenangkan pada Ceria.


“Sudahlah, ayo kita pergi sebelum Jamie kembali,” kata Ceria pelan sembari menepuk punggung Joshua.


Joshua mengangguk, lantas melepas pelukannya dan membimbing sahabat wanitanya itu menuruni tangga.


Setelah lelah menangis—entah untuk berapa jam—semalam, Ceria langsung menelepon Joshua agar datang menjemputnya. Tanpa menanyakan alasannya, Joshua langsung mengiakan dan cepat-cepat meninggalkan rumahnya di San Antonio. Tak peduli meski masih dini hari dan mengabaikan pertanyaan bingung keluarganya yang terbangun karena kegaduhan yang ia ciptakan. Dari nada suara Ceria, Joshua tahu ada yang tidak beres. Dan ia hampir yakin apa pun itu pasti berhubungan dengan Jamie. Gadis itu jelas habis menangis. Siapa lagi pelaku yang bisa membuat Ceria menangis kalau bukan Jamie? Apalagi Ceria sampai berkeras ingin pulang hingga nekat meneleponnya di jam-jam semua orang terlelap. Entah apa lagi yang dilakukan sahabat bodohnya itu, yang jelas hal itu pasti menyakiti Ceria.


Dan ketika Ceria menceritakan kebenarannya saat ia tiba, tangan Joshua terasa gatal ingin menghajar Jamie. Siapa tahu setelah dipukul, otaknya yang terbalik itu bisa kembali ke tempatnya. Please, bodoh juga ada batasnya!


“Kalian benar-benar mau pulang sekarang?” Maddy langsung bertanya begitu keduanya menapaki beberapa anak tangga terakhir.


Joshua balas mengangguk, sementara Ceria hanya diam.


“Tapi ini masih sangat pagi. Tidak mau sarapan dulu?”


“Tidak usah. Terima kasih,” sahut Joshua. “Kami bisa sarapan di jalan.”


Joshua tahu Ceria tengah mati-matian menahan perasaannya. Lebih lama di rumah ini, apalagi bila sampai bertemu Jamie yang baru pulang entah dari mana saja semalaman dengan Natasha, pasti akan membuat gadis itu makin terluka.


“Ouw….” Maddy tampak kecewa. “Padahal aku senang Ceria di sini. Kau juga baru datang. Kenapa buru-buru pergi, sih?”


“Maaf, Maddy. Ada pekerjaan penting yang tak bisa kuabaikan,” dusta Ceria. Sebenarnya ia juga senang bersama Maddy. Meski lebih banyak menghabiskan waktu bersama Jamie, tapi mereka sangat cocok. Mereka langsung saling menyukai sejak pertama bertemu. Mereka sudah seperti saudara saat sedang bersama.


“Baiklah, sepertinya aku tak bisa menahan kalian lagi.” Maddy akhirnya pasrah dan mengantarkan kedua tamunya ke luar. “Aku harap kalian mau berkunjung lagi,” ujarnya begitu sampai di dekat mobil Joshua yang menunggu.


“Tentu,” sahut Joshua. “Aku selalu senang berada di sini.”


“Yeah, tempat ini menyenangkan,” gumam Ceria menyetujui. Kalau saja bukan karena kejadian semalam, ia pasti dengan senang hati tinggal lebih lama. Ah, mengingat tadi malam membuat hatinya yang masih terluka parah kembali menguar perih.


Tiba-tiba saja Maddy memeluknya. “Cer, apa pun yang terjadi, kita tetap teman, kan? Aku boleh kan mengunjungimu sewaktu-waktu?”


Ceria tersenyum kecil dan membalas pelukan gadis itu. “Tentu. Kau bisa mengunjungiku kapan pun kau mau. Kau juga bisa menghubungiku kapan saja.”


Maddy melepaskan pelukannya dan tersenyum. “Hati-hati di jalan, ya!” pesannya. “Aku sangat senang bisa mengenalmu. Kau orang yang sangat baik.”


Ceria balas tersenyum. “Terima kasih.” Dan Maddy kembali memberinya pelukan singkat sebelum ia masuk ke dalam mobil.


Maddy menahan Joshua yang hendak mengikuti jejak Ceria. “Aku tahu apa yang telah terjadi,” bisiknya saat Joshua menatapnya dengan tanda tanya. “Aku sudah mengusir nenek sihir itu semalam, tapi dia berkeras tetap tinggal hingga Jamie pulang. Dan Jamie yang bodoh itu malah menyambutnya hingga menyakiti Ceria.”


Joshua tersenyum datar. “Tidak ada yang bisa kita perbuat, kan?” ujarnya. “Jamie berhak memutuskan sendiri apa yang dia inginkan. Yeah, meskipun saat ini aku sangat ingin memukulnya.”


“Ya! Pukul saja dia.”


Joshua mengernyit menatap Maddy. “Wow, apa yang terjadi? Bukankah dia kakak favoritmu? Kau tidak pernah membiarkan siapa pun menyakitinya.”


“Kali ini bodohnya keterlaluan,” balas Maddy sebal. “Kalau Terry tahu hal ini, dia juga pasti akan merasa kesal. Dari dulu Jamie memang selalu bodoh dalam menilai wanita.” Ia mengeluarkan kekesalannya sebelum akhirnya mendesah pendek dan berkata, “Sudahlah, sebaiknya kalian cepat pergi sebelum Jamie pulang. Ceria pasti tak ingin melihatnya.”


Joshua mengangguk dan membuka pintu di sisi pengemudi.


Haah… padahal selama ini ia tak pernah ikut mencampuri urusan asmara kedua kakak lelakinya. Tapi entah kenapa, kali ini ia seakan bisa merasakan sakit yang dialami Ceria. Ah, mengingat itu ia jadi ingin memukul kepala kakak keduanya itu, biar otaknya bisa bekerja dengan benar.


***


Setelah lebih kurang dua jam dalam perjalanan, Joshua menghentikan mobilnya di sebuah kedai makan sederhana—entah di mana, Ceria sama sekali tak tahu—untuk sarapan. Rencananya mereka akan berkendara ke San Antonio dan pulang ke L.A. menggunakan pesawat dari sana.


Kenapa tidak terbang dari Dallas saja?


Alasannya jelas, Joshua tidak mungkin meninggalkan mobilnya di bandara Dallas. Sementara di San Antonio, ia bisa meminta adiknya mengambil mobilnya di bandara. Dan kenapa mereka harus naik pesawat padahal saat berangkat mereka naik mobil? Karena, tentu saja, Ceria ingin secepatnya meninggalkan Texas.


“Uhm… Cer, aku… minta maaf, ya.”


Ceria yang tengah bermain-main dengan wafel di piringnya sontak mengangkat kepala, menatap Joshua yang duduk di hadapannya. “Untuk?”


“Aku yang membawamu ke Cedar Hill,” ujarnya. “Kalau saja waktu itu aku tak memaksamu untuk mengunjungi


Jamie, mungkin—”


“Bukan salahmu,” potong Ceria. “Aku tahu kau bermaksud baik. Yang terjadi saat ini sama sekali di luar kehendak kita.”


“Tapi….”


Ceria menggenggam tangan Joshua. “Kau sahabatku yang sangat baik, Josh. Aku sangat menghargai bantuanmu. Jangan pernah menyalahkan dirimu. Semua yang terjadi sama sekali bukan salahmu.”


Joshua hanya diam dan mengangguk lemah. Meski begitu, ia tetap merasa bersalah telah memaksa Ceria mengunjungi Jamie dan berakhir disakiti. Kalau saja ia tahu akhirnya akan seperti ini, ia tidak akan mengajak Ceria menemui Jamie, bahkan ia akan membantu Ceria melupakan Jamie dan menemukan pria yang jauh lebih baik dari


sahabat bodohnya itu. Untuk Jamie? Biarkan saja ia menikmati hasil dari kebodohannya sendiri.


“Sebenarnya ini salahku sendiri,” ujar Ceria sembari menarik tangannya.


Kedua alis Joshua terangkat. “Apa maksudmu?”


Ceria tersenyum miris. “Sejak awal aku tahu Jamie tak pernah tertarik padaku, tapi aku tetap bertahan dengan perasaanku padanya. Sebisa mungkin aku terus berada di sisinya meski harapan untuknya membalas perasaanku sangat kecil. Dan saat Jamie limbung, aku berusaha masuk ke dalam hidupnya.


“Seharusnya aku mencabut perasaanku saat masih menjadi tunas, sebelum ia tumbuh semakin besar dan subur. Seharusnya aku tak memasuki wilayah berbahaya di luar friendzone. Seharusnya sejak awal aku langsung mengangkat kaki dan berbalik. Bukannya membiarkan diriku semakin jauh terperosok dan akhirnya tenggelam dalam lubang yang kugali sendiri.”


Sebenarnya Joshua kurang setuju dengan ucapan Ceria. Namun, ia hanya diam dan kembali meraih tangan Ceria ke dalam genggamannya, mengusap punggung tangan kecil dan halus itu dengan ibu jarinya untuk menenangkan. Joshua yakin perasaan Ceria pada Jamie sebenarnya bersambut.


Bohong kalau Jamie sama sekali tak tertarik pada Ceria seperti anggapan gadis itu. Semenjak mengenal, kemudian dekat dengan Ceria, Jamie selalu merasa tidak tenang jika tak melihat atau mendengar kabar gadis itu meski hanya sehari, sementara ia santai saja ketika ditinggal Natasha ke luar kota atau luar negeri untuk pemotretan. Bahkan sejak awal perkenalan mereka di pesta beberapa tahun lalu sebelum bermain di serial yang sama, Joshua sering memergoki Jamie mencari tahu tentang gadis yang dikenalkan Theo itu melalui internet dan selalu menyimak dengan serius jika wajah Ceria muncul di televisi, juga selalu menyempatkan diri menonton semua film yang dibintanginya. Kalaupun saat ini Jamie kembali pada Natasha, itu hanya karena emosi sesaat. Jamie hanya belum menyadari perasaannya. Cepat atau lambat, Jamie pasti akan sadar siapa yang terbaik baginya dan benar-benar dicintainya.


 


 


 


 


PS: Melihat jumlah viewer dan yang kasih love, saya kira nggak bakal ada yang nunggu cerita ini. Jadi, ya saya santai aja nggak update ^^v