No One Loves You Like I Do

No One Loves You Like I Do
6


6


Keesokan paginya—kalau pukul sepuluh bisa dibilang pagi—Jamie terbangun dengan kepala superberat. Beberapa detik membuka mata, ia kembali memejamkan mata sambil mengerang. Ia mengangkat tangan kirinya dan menggunakan ibu jari beserta dua jari untuk memijat keningnya yang terasa berdenyut-denyut. Bukannya membaik, gejolak rasa mual justru melanda lambungnya. Ia pun memaksa tubuhnya bangkit dari ranjang dan memelesat ke kamar mandi. Dan mengeluarkan nyaris seluruh isi perutnya ke dalam lubang kloset.


“Jamie, kau baik-baik saja?”


Jamie mendengar suara halus yang sangat ia kenal dari ambang pintu kamar mandi. Namun, rasa mual yang masih melanda membuatnya tidak bisa menyahut bahkan untuk sekadar mengangkat wajah menatap si pemilik suara itu. Sesaat kemudian, ia merasakan gadis itu sudah berdiri di belakangnya dan dengan lembut memijat bagian belakang lehernya. Jamie kembali memuntahkan isi perutnya. Setelah merasa baikan, ia memutar kepalanya menatap gadis itu dan mengucapkan terima kasih. Oh, ia benci hangover.


“Never mind,” balas Ceria tanpa berhenti memijit. “Sudah merasa lebih baik?”


“Ya, terima kasih.”


“Mungkin roti isi bacon berminyak ditambah usus sapi setengah membusuk, lemak kambing, dan otak mentah bisa sedikit membantu,” ucap Joshua dari ambang pintu kamar mandi. Perut Jamie kembali bergolak dan memuntahkan apa pun yang tersisa ke dalam toilet.


“Joshua!” desis Ceria sambil memelotot galak. Sementara yang dipelototi cuma nyengir. “Kau tidak apa-apa?” Ia kembali bertanya setelah Jamie selesai muntah.


“Kurasa,” jawab Jamie pelan sembari mengusap mulutnya dengan lengan kemeja dan berusaha bangkit. Ceria membantunya berdiri. “Kenapa kalian bisa ada di sini?”


“Kebetulan tadi aku mau menengokmu saat melihatmu muntah-muntah,” jawab Ceria.


“Maksudku bukan di kamar ini,” kata Jamie. “Kenapa kalian bisa berada di rumahku sepagi ini?”


“Sejak semalam kami berada di sini,” sahut Joshua. “Dan saat ini sudah tidak pagi lagi kurasa.”


“Hanya Joshua. Semalam aku pulang,” ralat Ceria.


“Memangnya kau tidak ingat apa yang terjadi semalam?” tanya Joshua.


“Yeah, lupa-lupa ingat,” sahut Jamie. “Kurasa semalam aku mabuk berat.”


“Sudahlah, tidak apa-apa. Kau mau kembali ke tempat tidur atau mau mandi dulu?” tanya Ceria. “Kau terlihat berantakan.”


“Aku mau mandi dulu,” jawab Jamie. “Apa kau mau menggosok punggungku?”


Pertanyaan Jamie sontak membuat wajah Ceria merona. Sementara Joshua memutar bola matanya. Dasar playboy! Dalam kondisi lemas dan patah hati—jangan lupakan hangover!—seperti itu, masih saja bisa merayu. Sepertinya karakter David si otak mesum sudah mulai menyatu dengan jiwa Jamie.


“Kurasa sebaiknya kau menggosok punggungmu sendiri,” kata Ceria sambil melepaskan tangannya dari lengan Jamie. “Aku akan membuatkan kopi.” Ia cepat-cepat melangkah keluar dari kamar mandi. Ia merasa malu pada dirinya sendiri karena beberapa detik yang lalu sempat membayangkan dirinya benar-benar berada di bawah pancuran bersama Jamie.


“Akan kuambilkan sarapan,” ujar Joshua sembari berbalik. “Tenang saja,” katanya sebelum mencapai pintu kamar, “aku tak akan membawakanmu roti isi bacon berminyak ditambah usus sapi setengah membusuk, lemak kambing, dan otak mentah.”


Jamie kembali mual membayangkan makanan yang disebutkan Joshua. Namun, karena sudah tak ada apa-apa lagi di dalam lambungnya, ia pun tak bisa memuntahkan apa pun. Akhirnya ia menutup pintu kamar mandi dan menyalakan keran bak mandi. Sepertinya berendam dengan air hangat akan membantu merilekskan tubuhnya.


***


Setelah mandi, tubuh dan perasaan Jamie jadi lebih segar. Secangkir kopi panas dan setumpuk pancake dengan butter dan sirup maple telah tersedia di atas nakas—tepat di samping action figure Superman—begitu ia keluar dari kamar mandi. Seluruh tirai juga telah disingkap sehingga sinar matahari bisa menerangi bagian dalam kamarnya. Ceria dan Joshua duduk di balkon sambil mengobrol dan menyesap kopi mereka masing-masing. Joshua tampak memegang surat kabar di tangan kirinya.


Masih mengenakan bathrobe, Jamie meraih nampan berisi sarapannya—tersenyum kecil saat melihat action figure Superman yang sudah lama ia inginkan, tapi belum beruntung mendapatkannya—dan membawanya ke balkon. “Tidak keberatan, kan, kalau aku sarapan di sini?”


“Tentu saja,” sahut Joshua. “Ini kan rumahmu. Kau boleh sarapan di mana pun kau mau.”


Jamie meletakkan nampan di meja dan mengambil tempat di sebelah Ceria.


“Kau tampak lebih segar,” komentar Ceria.


“Ya, tak cuma tumbuhan yang bisa kembali segar setelah terkena air,” balas Jamie sambil menyesap kopinya. Kental dan pahit. Benar-benar sengaja dibuat untuk orang yang habis mabuk berat.


“Kau baik-baik saja?” tanya Joshua.


“Kalau yang kaumaksud efek dari mabuk yang kualami tadi, ya, aku merasa lebih baik. Masih sedikit pusing, tapi sudah tidak mual,” jawab Jamie. “Tapi kalau yang kaumaksud adalah perasaanku setelah dicampakkan wanita yang kulamar, yang telah tiga tahun menjadi kekasihku, tidak, aku tidak baik-baik saja. Aku patah hati, aku merasa hancur, jantungku serasa remuk. Tapi aku tak akan bunuh diri. Aku terlalu takut menembakkan pistol ke kepalaku, menggantung leherku, menyayat pergelangan tanganku, memasukkan hair dryer ke bak mandi saat aku berada di dalamnya, atau terbang ke New York dan terjun dari Empire State.” Jamie memotong pancake sembari mengatakan kalimat panjang itu. “Lagi pula, aku tidak punya pistol dan New York terlalu jauh.” Ia menambahkan sembari memasukkan sepotong besar pancake ke dalam mulutnya. “Hm… ini enak. Siapa yang membuat?”


“Aku tahu,” kata Jamie setelah menelan makanannya dan mendapati tak satu pun dari temannya yang berniat menjawab pertanyaannya. “Pasti Ceria yang membuat pancake ini. Tidak mungkin Joshua.”


“Sayang sekali kau salah,” balas Ceria. Kalau Jamie memutuskan untuk berpura-pura baik-baik saja, maka ia akan mengikuti permainannya. “Joshua yang membuat pancake lezat itu.”


Jamie berhenti mengunyah dan menatap kedua temannya tak percaya. “No way!”


“Yes way,” balas Ceria santai. “Saat aku datang, Joshua sudah memasak pancake terakhir.”


Jamie masih tampak tak percaya. “Tidak mungkin Joshua bisa membuat pancake seenak ini,” katanya sambil menatap Joshua yang sedang berkutat dengan surat kabar. Sembilan tahun ia mengenal Joshua, baru kali ini ia mendengar ‘adik’nya itu bisa membuat pancake, lezat pula.


“Apa maksudmu tidak mungkin?” sergah Joshua sembari menurunkan surat kabar dari depan wajahnya. “Hanya alien yang tidak bisa membuat pancake.”


“Hei!” seru Ceria tak terima. “Aku tidak bisa membuat pancake. Menurutmu aku alien?”


Kini Joshua yang menatap Ceria tak percaya. “Kau tak bisa membuat pancake? Yang benar saja! Aku sudah membuat pancake sejak berusia sepuluh tahun. Kupikir semua orang bisa membuat pancake.”


“Aku tidak,” balas Ceria. “Saat berusia sepuluh tahun aku masih tinggal di Indonesia. Aku tidak makan pancake. Aku makan nasi dengan tempe, ayam goreng, sayur bayam, dan sambal. Bukan berarti hanya itu yang selalu


kumakan dan bukan berarti juga tidak ada yang menjual pancake di sana. Yang jelas pancake bukan makanan sehari-hariku.”


“Kapan kau pindah ke Amerika?” tanya Joshua.


“Saat berusia delapan belas tahun. Aku tinggal bersama ayahku dan kuliah di sini.”


“Dan tetap belum pernah makan pancake?”


Ceria memutar bola matanya. “Tentu saja pernah. Sering malah,” katanya. “Tapi tetap saja aku tidak bisa membuatnya sendiri. Adonanku selalu terlalu encer sehingga pancake-ku jadi terlalu tipis dan melebar.”


Sementara kedua temannya berdebat tentang pancake, Jamie—yang merupakan pemicu perdebatan—dengan santai menandaskan pancake di piringnya dan bersendawa keras setelah meneguk kopinya, membuat kedua temannya refleks menatap ke arahnya. “Ini enak sekali. Sekarang aku sudah kenyang. Terima kasih.”


Joshua mendengus dan kembali menekuni surat kabar. Sementara Ceria kembali menyesap kopinya. Tidak ada lagi perdebatan tentang pancake.


“Hei, tadi aku melihat ada action figure Superman edisi spesial di nakas. Apa itu darimu?” tanya Jamie pada Ceria. Yakin sekali itu bukan dari Joshua. Bukan gayanya.


“Ya, hadiah ulang tahun,” jawab Ceria. “Aku tahu kau tergila-gila pada Superman. Kuharap kau suka. Atau mungkin kau sudah punya?”


“Tidak, aku belum punya,” sahut Jamie. “Itu edisi spesial yang hanya ada sepuluh buah dan aku selalu gagal mendapatkannya. Aku sangat suka. Terima kasih. Bagaimana kau bisa mendapatkannya?”


Ceria tersenyum tipis. “Rahasia,” jawabnya. “Syukurlah kalau kau suka.” Ia sudah memburu mainan itu sejak jauh-jauh hari sebelum ulang tahun Jamie. Jika tanpa bantuan Theo dan koneksinya, mustahil ia bisa mendapatkannya.


“Cer, lihat ini!” Joshua memperlihatkan halaman surat kabar pada Ceria sambil menyeringai lebar.


Ceria menatap sekilas, lalu mengerang dan mendorong surat kabar itu dengan tangan kirinya seolah lembaran kertas itu adalah virus berbahaya. “Ugh, kurasa aku akan mendekam di dalam rumah saja untuk beberapa hari ke depan,” keluhnya. Sementara Joshua justru terkikik geli.


Jamie menatap heran kedua temannya. “Ada apa, sih?”


“Lihat ini!” Joshua mengangsurkan surat kabar pada Jamie.


Namun, sebelum Jamie meraihnya, surat kabar itu sudah dibajak Ceria. “Jangan dilihat! Bukan hal penting,” sergahnya sambil melipat surat kabar itu asal-asalan.


“Kalau bukan hal penting, kenapa aku tidak boleh melihat?” tanya Jamie.


“Pokoknya kau tidak perlu melihatnya.” Ceria bangkit dan beranjak pergi sambil membawa surat kabar itu.


Jamie hanya menatap heran, sementara tawa Joshua semakin keras.