
4
Senyum lebar langsung menghiasi wajah tampan Jamie begitu bidadarinya melangkah memasuki restoran dan berjalan menghampiri. Wanita pujaannya itu tampak begitu menawan dengan gaun berwarna violet dan rambut pirang panjang yang tergerai sampai ke punggungnya yang terbuka. Stiletto berwarna senada dengan gaunnya bertak-tuk merdu seiring langkahnya yang gemulai. Benar-benar menunjukkan statusnya sebagai supermodel. Ia
berdiri dan menarik kursi untuk sang kekasih begitu wanita itu mendekat.
Bibir merah Natasha menyunggingkan senyum menawan sembari mengucap terima kasih. “Kau terlihat tampan.” Ia memuji setelah menyamankan duduknya di kursi yang disediakan Jamie.
“Terima kasih,” balas Jamie. Senyumnya yang sedari tadi terpasang makin melebar mendengar pujian sang kekasih. “Kau juga tampak sangat menawan. Bidadari pasti cemburu melihatmu.” Ia balas memuji sembari kembali duduk di kursinya di hadapan Natasha. Kali ini wanita itu hanya membalas dengan senyuman.
“Well, apa ada yang spesial hari ini?” Natasha bertanya setelah mengamati sepasang candlestick lengkap dengan
lilin putih menyala di tengah meja.
“Kau pasti bercanda, kan?” Jamie **** senyum tipis seolah menertawakan lelucon kekasihnya.
Natasha balas menatap bingung. “Aku benar-benar tidak tahu,” katanya. “Tapi aku yakin hari ini bukan hari jadi kita. Aku ingat kencan pertama kita saat musim gugur.”
“Honey, hari ini ulang tahunku.” Merasa Natasha benar-benar tidak bercanda, akhirnya Jamie memberi tahu.
Sepasang mata Natasha yang berwarna biru langit membeliak. “Benarkah? Ya Tuhan, aku benar-benar lupa.” Ekspresi wajahnya menunjukkan ia tidak berpura-pura. “Maaf,” katanya sambil menyentuh tangan Jamie. “Banyak pekerjaan yang menyita pikiranku akhir-akhir ini. Aku bahkan tidak ingat sekarang tanggal berapa. Aku benar-benar minta maaf.”
Meski merasa kecewa karena wanita yang sangat dicintainya melupakan hari kelahirannya, Jamie tetap tersenyum
penuh pengertian. “Tidak apa-apa. Aku mengerti,” katanya, balas menggenggam tangan Natasha. Ia yakin Natasha benar-benar tidak sengaja melupakan hari ulang tahunnya. Seperti katanya tadi, ia terlalu sibuk sampai tak mengetahui tanggal.
“Sebaiknya kita pesan makanan sekarang.” Jamie melepas tangan kekasihnya dan memanggil pelayan yang langsung menghampiri dalam hitungan detik untuk mencatat pesanan mereka.
Sembari menunggu pesanan mereka datang, keduanya berbincang-bincang ringan sambil menyesap sampanye
yang telah dipesan Jamie sebelumnya. Sebagai pasangan yang sering disibukkan pekerjaan masing-masing dan tidak tinggal serumah, obrolan mereka tak jauh-jauh dari seputar pekerjaan dan how was your day. Sampai makanan yang mereka pesan datang dan mereka pun menikmati hidangan lezat berharga mahal itu sambil tetap bercakap-cakap ringan.
Hingga tiba saat menikmati hidangan penutup. Saat itulah Jamie mulai mengutarakan niat besarnya. “Honey, ada hal penting yang ingin kusampaikan,” katanya lembut.
Natasha berhenti menyantap dessert yang berupa yogurt buah dan mengangkat wajah. “Kelihatannya serius sekali,” ujarnya setelah mengamati raut wajah Jamie. Senyum menawan kembali menghiasi wajah cantiknya. “Ada apa?”
Jamie mengulurkan tangan kirinya ke seberang meja dan meraih tangan kanan Natasha ke dalam genggamannya. “Aku memang serius. Sangat serius.”
Natasha mengernyit heran. Tidak biasanya Jamie bersikap begitu serius seperti ini. Ia masih merasa keheranan hingga tangan kanan Jamie mengeluarkan sebuah kotak kaca berisi sebuah cincin bertahta berlian.
“Would you marry me?”
Kernyitan dan senyum di wajah Natasha mendadak lenyap. Sepasang matanya membeliak menatap Jamie. Ia tak
bisa menyembunyikan keterkejutannya. “K-kau… serius?”
Jamie tersenyum dan mengangguk mantap. Kemudian turun dari kursinya dan berlutut di hadapan Natasha. “Maukah kau menghabiskan sisa hidupmu bersamaku, Miss Natasha Jenning?”
***
“Aku tahu ini akan terjadi,” ujar Ceria sembari menyesap cokelat panasnya.
Perasaannya sudah mulai tenang setelah berjam-jam menangis dan akhirnya tertidur karena kelelahan. Semakin
membaik setelah Theo serta Joshua—yang datang beberapa saat setelah Theo pulang—berhasil memaksanya makan malam meski sedikit. Warna merah di wajahnya hampir menghilang dan hanya menyisakan sedikit sembab di kedua kelopak matanya—terima kasih pada Javier yang memberinya kantong es untuk mengompres mata bengkaknya.
“Sejak awal aku sudah mengantisipasi hari ini akan datang dan berusaha menata perasaanku. Tapi, tetap saja hatiku tidak bisa dengan mudah menerimanya. Aku tetap merasa patah hati.”
Meski dalam lubuk hati Ceria kurang menyukai gagasan melupakan Jamie dan mencintai pria lain, ia hanya diam. Bagaimanapun Theo benar. Sebesar apa pun keinginannya memiliki Jamie dan berharap semua yang terjadi hari ini tidaklah nyata, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia harus bangun dari mimpi-mimpi indahnya dan menghadapi kenyataan dengan besar hati.
Hh… baru kali ini ia merasakan patah hati yang sesungguhnya. Ternyata rasanya begitu menyakitkan. Pantas saja banyak orang bunuh diri ketika cintanya kandas. Kalau saja ia tidak begitu penakut, mungkin ia akan melakukan hal sama. Sayangnya, gagasan melukai diri sendiri terdengar mengerikan baginya. Dia belum pernah mendengar metode bunuh diri yang menyenangkan. Semua menyeramkan.
“Sebenarnya aku ingin Jamie dan Ceria bersama,” aku Joshua. “Sejak awal, aku sangat mendukung hubungan kalian.”
“Tapi tidak ada yang bisa kita perbuat,” cetus Theo. “Jadi, sebaiknya kita berhenti memikirkan hal itu dan kembali menatap masa depan. Biarkan Jamie bahagia dengan pilihannya. Dan kau,” ia menatap Ceria. “Mungkin Jamie bukan orang yang tepat untukmu. Mungkin saat ini terasa sakit. Tapi aku yakin, suatu saat nanti kau akan menemukan cinta sejatimu.”
Ceria mengangguk pelan sembari meletakkan mug berisi cokelat panasnya ke atas meja. Sekali lagi Theo benar. Bagaimanapun, ia harus tetap melangkah ke depan. Meski rasanya sulit sekali membuang Jamie dari hatinya, ia harus berusaha melupakan perasaan cintanya dan melanjutkan hidup.
“Kurasa kau benar,” gumam Joshua. “Kuharap hal ini tidak akan mempengaruhi pertemanan kita. Aku tidak ingin memilih antara Jamie dan kalian berdua. Kalian semua temanku yang berharga.”
“Kau ini bicara apa?” sergah Theo. “Kita ini sudah terlalu dewasa untuk memutuskan pertemanan hanya karena alasan konyol seperti itu.” Setelah mengatakan itu, ia beralih menatap Ceria. “Maksudku bukan perasaanmu yang konyol.”
“Aku tahu,” balas Ceria.
“Aku tidak mungkin membenci Jamie hanya karena ia memutuskan menikahi orang yang dicintainya,” sambung Theo. “Itu sangat kenanakan. Jamie berhak memutuskan dengan siapa dia akan menghabiskan sisa hidupnya. Dan kita, suka atau tidak, harus menghormati keputusannya.”
“Theo benar,” sahut Ceria. “Mungkin agak sulit bagiku bertemu dengan Jamie dalam waktu dekat, tapi aku tidak akan pernah bisa membencinya apalagi memutuskan hubungan dengannya. Bagaimanapun, dia tetap temanku. Dan dia sama sekali tak bersalah atas apa yang terjadi padaku. Aku yang mencintainya secara sepihak. Bukan salahnya jika akhirnya aku terluka karena dia akan menikah dengan wanita lain.”
Bibir tipis Joshua melengkungkan senyuman. “Jadi, tidak ada yang perlu kukhawatirkan? Aku tak akan kehilangan satu pun temanku?”
“Tentu saja,” balas Theo. “Kau tahu betapa sulitnya mencari teman baik di zaman sekarang ini. Apalagi di dunia kita, teman yang terlihat sangat baik bisa saja menikam kita dari belakang. Sulit membedakan mana yang benar-benar teman. Mana mungkin aku memutuskan hubungan begitu saja dengan teman yang sudah kukenal luar dalam
selama bertahun-tahun.”
Dering nyaring ponsel memecah obrolan mereka. Joshua yang telah membuka mulutnya hendak berkata-kata pun urung, lalu meraih ponsel dari saku kemejanya. Nama Zack, manajer Jamie, muncul pada layar.
“Ya, Zack?” Joshua langsung menjawab panggilan itu. “Apa? Di mana?” Diam sejenak. “Bagaimana bisa?” Kembali hening. “Kau serius?” Mimik muka Joshua tampak tegang. “Jadi, kau ingin aku berbuat apa?” Diam lagi. “Oke, aku akan memikirkan sesuatu. Sebelum aku datang, kau masih bisa mengatasinya, kan?” Sekali lagi hening. “Tunggulah! Aku akan segera datang. Jaga dia.” Joshua memutuskan sambungan dan menatap kedua temannya.
“Ada apa?” tanya Theo langsung.
“Jamie dalam masalah.”
Theo dan Ceria saling berpandangan, lalu kembali menatap Joshua dengan alis terangkat seolah pria itu telah mengatakan bahwa ternyata Superman itu benar-benar ada.
“Apa maksudmu dia dalam masalah?” Theo kembali bertanya.
“Bukankah seharusnya dia sedang bahagia setelah makan malam romantis dan melamar kekasihnya?” sambung Ceria.
“Atau dia terlalu larut dalam kegembiraan, lalu kebanyakan minum, mengebut di jalanan, dan menabrak penyeberang jalan?” Theo menimpali.
“Tidak,” sahut Joshua. “Jamie tidak sedang bergembira, juga tidak mengebut dan menabrak penyeberang jalan. Tapi, ya, dia kebanyakan minum. Dan saat ini dia berada di kelab malam dengan kondisi mabuk berat dan meracau tak karuan, sementara para pemburu berita sudah menunggu mangsa di depan pintu kelab. Baru saja Zack menelepon meminta bantuanku untuk mengeluarkan Jamie dari sana. Kalau kalian bertanya kenapa Jamie bisa sekacau itu, jawabannya mungkin bisa kalian tebak. Benar sekali, Natasha menolak lamaran Jamie bahkan memutuskan hubungan mereka.”
Theo tak menampilkan ekspresi berarti. Masih berusaha mencerna dengan saksama penjelasan Joshua. Sedang
Ceria tampak sangat terkejut. Ia tidak tahu ini kabar baik atau buruk. Di satu sisi, dengan berakhirnya hubungan Jamie-Natasha, ia kembali memiliki kesempatan untuk mendapatkan cinta Jamie. Seolah mendapat keajaiban, harapannya yang tadi kandas kini muncul kembali. Namun, di sisi lain, ia tahu Jamie pasti sangat menderita. Dan melihat Jamie menderita adalah hal yang paling tidak ia inginkan.
“Bagaimana para wartawan itu tahu Jamie ada di dalam sana?” tanya Javier yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia.
“Aku tidak tahu.” Joshua mengedikkan bahu.
“Lalu, bagaimana kau akan mengeluarkannya dari sana tanpa menjadi mangsa pemburu berita itu?” tanya Theo.
“Kurasa aku punya rencana,” jawab Joshua. “Tapi aku butuh bantuan kalian.”