No One Loves You Like I Do

No One Loves You Like I Do
24


“Apa?!” Liam berseru keras. Membuat seluruh pengunjung pantai dalam radius lebih kurang sepuluh meter menoleh padanya. Tapi ia tak peduli. Ia terus menatap tajam kakak perempuannya. “Kaubilang kau akan pulang ke Indonesia?”


Ceria mengangguk. Merasa heran dengan reaksi berlebihan adik bungsunya.


“Argh….” Liam menjatuhkan dirinya dengan dramatis di sebelah Ceria. “Kenapa sekarang?”


“Memangnya kenapa?” Ceria masih menatap bingung. “Mumpung aku sedang libur kerja, aku ingin pulang. Aku merindukan Mama.”


Liam mengerutkan wajahnya lucu. “Tapi, aku kan ingin ikut,” rengeknya. “Aku sudah lama tidak ke Indonesia.”


“Ya sudah, ikut saja,” balas Ceria santai, setengah takjub mendapati adiknya yang jenius dan biasanya sok dewasa itu merengek. “Aku malah senang kalau kau ikut. Mama juga pasti akan sangat senang. Mama sering sekali menanyakan kabarmu.” Itu benar. Mama Ceria langsung jatuh cinta pada putra bungsu mantan suaminya itu sejak pertama melihatnya.


“Yang benar saja!” Liam mendengus kesal. “Mana mungkin aku ikut. Aku kan harus sekolah.”


“Oh, benar juga.” Kini Ceria paham kenapa Liam begitu kesal mendengar rencananya pulang ke Indonesia, meski masih takjub dengan nada merajuk yang belum pernah ia dengar sebelumnya.


“Kenapa harus pulang sekarang, sih?” tanya Liam, masih belum bisa menerima keputusan mendadak kakak sulungnya. “Kenapa tak menunggu libur musim panas saja? Lagi pula, kau baru satu minggu di sini. Aku kan masih kangen.”


“Bagaimana, ya? Kebetulan aku sedang kosong sekarang, sih. Kau tahu, kan, The Hunters season terbaru sudah selesai syuting dan sebentar lagi tayang.”


“Aku tahu, tapi, ah… padahal aku sudah bersusah payah menyelesaikan tugas karya ilmiahku secepat mungkin agar aku bisa punya waktu lebih banyak denganmu,” bibir tipis Liam mengerucut. “Tapi kau malah pergi.”


“Ya, maaf. Aku sudah terlanjur janji pada Mama untuk segera pulang,” kata Ceria menyesal.


“Begini saja,” Ceria melingkarkan lengan pada bahu si bungsu. “Libur musim panas nanti, aku tidak akan mengambil pekerjaan apa pun. Kita ke Indonesia bersama-sama. Kita semua. Aku, kau, Niel, juga Mom dan Dad. Kau setuju?”


Liam menyipitkan matanya. “Janji?”


Ceria mengangguk.


“Bagaimana kalau kau harus syuting The Hunters season berikutnya?”


Ceria terdiam sejenak, sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Tenang saja, aku tidak akan syuting The Hunters. Kita akan berlibur bersama-sama.”


“Benarkah? Bagaimana kau bisa memastikannya?”


“Eric bilang pengambilan gambar The Hunters season berikutnya akan dimulai saat musim gugur,” jelas Ceria. Ia tidak bohong. Memang begitu yang dikatakan Eric sebelum mereka berpisah di hari terakhir pengambilan gambar The Hunters season 6. Meski mungkin Ceria tidak akan… ah\, sudahlah!


Liam tersenyum senang. “Baiklah. Tapi, sebelum kau pergi, ayo kita berselancar lagi. Aku akan mengajarimu


sampai bisa.”


Bocah 16 tahun itu bangkit sembari menarik tangan Ceria. Dan kakak perempuannya itu hanya bisa pasrah. Daripada Liam ngambek lagi. Meski sebenarnya itu bukan hal yang buruk juga. Kapan lagi bisa melihat tingkah manja Liam yang langka.


***


“Apa maksudmu Ceria tak akan bermain di The Hunters lagi?” Jamie menatap Imelda tak percaya. Matanya membelalak lebar seolah wanita cantik di hadapannya itu baru saja mengatakan bahwa Bumi akan kedatangan tamu dari Saturnus. “Kau serius? Kau tidak sedang bercanda, kan?”


Setelah berhasil keluar dari rumah Natasha—meski harus diiringi dengan tangisan dan teriakan gadis itu—Jamie


langsung meluncur ke apartemen Ceria. Ia sudah tidak tahan ingin bertemu gadis itu. Namun, ternyata Ceria tidak ada di rumah. Karena lapar, ia pun pergi ke restoran di dekat gedung apartemen Ceria untuk makan siang—ia tak sempat makan di rumah Natasha tadi. Dan, di sinilah ia bertemu Imelda.


Wanita berambut pendek itu hanya mengangguk dengan tatapan datar. “Ceria sudah memutuskan begitu. Kami


juga sudah membicarakannya dengan Eric.”


“T-tapi kenapa?” tanya Jamie lemah. Belum juga ia sepenuhnya pulih dari keterkejutan mendapati apartemen Ceria kosong selama lebih dari satu minggu dan diberi tahu Imelda kalau saat ini sedang dalam proses dijual. Sekarang, ia mendapat kabar mengejutkan lain, kalau gadis itu tidak akan terlibat dengan The Hunters lagi. Artinya mereka tidak akan bekerja bersama lagi.


“Aku tidak tahu,” sahut Imelda. “Tidak hanya meninggalkan The Hunters, Ceria juga bilang akan vakum dari dunia entertainment untuk sementara—dalam waktu yang belum ditentukan tentu saja.”


“Vakum?” Jamie kembali mendapat kejutan tak menyenangkan. “Kenapa tiba-tiba?” Seingatnya Ceria sangat


menyukai pekerjaannya. Ceria cinta akting, begitu katanya. “Sebenarnya apa yang terjadi?”


“Justru tadinya aku ingin bertanya padamu,” balas Imelda yang membuat Jamie semakin kebingungan.


“Kenapa bertanya padaku? Aku malah baru tahu kalau Ceria menghilang.”


“Memangnya kau tidak bertanya?”


“Dia hanya bilang jenuh dan ingin menenangkan diri,” jawab Imelda. “Tapi aku yakin bukan itu alasan sebenarnya. Aku mengenal Ceria, dan dia bukan tipe orang yang akan melepaskan pekerjaan hanya karena jenuh.”


Jamie tertegun. Apa ini ada hubungannya dengan dirinya? Apa Ceria sengaja ingin menghindarinya? Tapi kenapa? Apa yang menyebabkan Ceria bersikap begitu? Apa karena….


Jamie mendesah berat. Sepertinya memang karena itu. Hh… pantas saja adik dan teman-temannya juga ikut marah padanya. Kenapa ia baru menyadarinya sekarang?


Ah, ia memang bodoh!


***


“Jadi, kau sudah menyadari kesalahanmu?” Joshua menyodorkan sekaleng bir dingin pada Jamie yang langsung membuka dan meneguknya.


“Kurasa.”


“Jadi, sebenarnya apa yang terjadi?”


Jamie mengernyit. “Ceria tidak cerita?”


“Hanya bilang Natasha datang dan kau pergi bersamanya,” sahut Joshua. “Dia sama sekali tak menceritakan apa yang terjadi pada kalian berdua sebelumnya.”


“Apa  maksudmu yang terjadi pada kami berdua?”


Joshua menatap serius sahabatnya. “Ceria terlihat lebih hancur daripada saat mendengar kau akan melamar Natasha. Jadi, aku bisa menyimpulkan sebelumnya telah terjadi sesuatu yang membuat angannya melambung sebelum kauhempaskan ke dasar bumi,” jelasnya. “So, apa yang sebenarnya kaulakukan padanya? Merayunya? Memberinya harapan?”


“Eng… ya… tidak sepenuhnya seperti itu,” ujar Jamie. “Maksudku, yang kulakukan padanya waktu itu… benar-benar tulus. Aku… sama sekali tak bermaksud mempermainkan perasaannya atau memberinya harapan palsu.”


“Lalu, kenapa waktu itu kau malah pergi dengan Natasha?” tanya Joshua. “Kau bahkan belum kembali saat aku datang menjemput Ceria.”


 “Aku… mungkin saat itu belum menyadari perasaanku yang sesungguhnya,” balas Jamie. “Kupikir aku masih mencintai Natasha. Tapi, sekarang aku sudah tahu perasaanku. Aku sudah tak memiliki perasaan pada Natasha. Aku mencintai Ceria.”


“Dan bagaimana dengan Natasha? Bukankah kalian menjalin hubungan kembali?”


“Sudah tidak lagi,” ujar Jamie. “Aku sudah menjelaskan pada Natasha kalau hubungan kami tidak akan berhasil. Aku mencintai orang lain.”


“Dan dia mau mengerti?”


“Tidak juga,” sahut Jamie. “Tapi aku benar-benar tidak bisa melanjutkan. Bersama Natasha, aku tak merasakan kenyamanan seperti saat aku bersama Ceria. Saat berada di dekatnya, jantungku tak berdebar kencang seperti saat bersama Ceria. Aku bahkan tidak bisa menikmati ciumannya. Justru wajah Ceria-lah yang selalu muncul di kepalaku setiap kali aku bersama Natasha.”


“Lalu, apa yang kaulakukan bersama Natasha waktu itu sampai begitu lama?” tanya Joshua. “Kalian tidak langsung tidur bersama, kan?”


“Tentu saja tidak,” jawab Jamie cepat. “Aku memang menginap di hotel tempatnya menginap, tapi kami hanya bicara. Dia meminta maaf, memintaku memberi kesempatan kedua, dan kami sepakat mencoba memulai segalanya dari awal lagi. Yeah, meski ternyata sekarang aku tahu itu tak akan berhasil. Seharusnya saat itu aku langsung saja menolaknya. Sayangnya, saat itu aku masih bingung dengan perasaanku. Sayangnya, aku baru menyadarinya sekarang.”


“Dan sayangnya, sepertinya kau sudah terlambat,” timpal Joshua. “Ceria sudah pergi dan aku tak tahu kapan dia akan kembali. Atau mungkin dia tidak akan kembali lagi.”


“Aku akan mencarinya.”


Sepasang mata Joshua membeliak. “Apa?”


Jamie mengangguk yakin. “Aku akan mencarinya. Aku harus mengatakan padanya perasaanku yang sebenarnya.”


“Tapi ke mana?” tanya Joshua. “Dia bahkan tidak memberi tahuku ke mana dia pergi. Nomor ponselnya juga tidak bisa dihubungi, kan?”


“Aku tahu. Tapi aku tetap akan mencari informasi tentangnya,” balas Jamie. “Tidak mungkin tak ada seorang pun yang tahu ke mana dia saat ini. Kurasa Theo pasti tahu. Mereka bersaudara dan sangat dekat. Setiap kali ada masalah atau sedang sedih, Ceria pasti datang padanya. Aku akan bertanya padanya. Ya, Theo pasti tahu di mana


Ceria sekarang.”


“Kau yakin akan bertanya pada Theo?” Joshua menautkan alisnya ragu.


“Tentu saja,” sahut Jamie. “Dia satu-satunya peluangku untuk mengetahui keberadaan Ceria. Kalau dia juga tidak tahu, aku tak tahu harus bertanya pada siapa lagi. Mungkin aku akan mencarinya ke seluruh tempat. Tapi aku yakin Theo tahu keberadaan Ceria.”


“Tapi dia bisa saja menghajarmu.” Joshua mengutarakan kekhawatirannya. “Bagaimanapun, kau telah menyakiti gadis kesayangannya.”


“Aku tahu,” balas Jamie. “Mungkin aku memang pantas mendapatkannya. Tapi aku akan tetap bertanya padanya. Aku harus menemukan Ceria.” Pria asal Texas itu sudah bertekad.