
Kedua orang itu sontak melepaskan ciuman dan saling menjauh begitu mendengar seruan sang sutradara, Eric Sanders.
“Good job, guys!” Sang sutradara berseru senang sembari berjalan mendekati kedua aktornya. “Kalian bekerja sangat baik. Kita tak perlu mengulang adegan lagi.”
Dalam hati, gadis bertubuh mungil itu merasa agak kecewa. Ia berharap adegan terakhir diulang dua atau tiga kali—bahkan sepuluh kalau bisa. Ah, mungkin seharusnya tadi ia tertawa, pura-pura lupa adegan, terpeleset, bersendawa, batuk, bersin, atau mengatakan hal konyol, alih-alih melakukan adegan dengan begitu sempurna.
Pria itu, David, bukan, nama sebenarnya adalah James Allen—David hanya nama tokoh yang diperankannya—menyeringai kepada sang sutradara. “Apa itu artinya aku akan dapat bonus karena menghemat waktu dan tenaga?”
“Ha, ha. Lucu sekali Jamie,” balas Eric. “Honormu sudah lebih dari cukup untuk kaupakai bersenang-senang. Terlalu banyak uang akan menghancurkanmu.”
James—Jamie—mengernyit. “Menghancurkanku?”
“Kau tahu. Minuman keras, judi, narkoba, dan yang paling berbahaya, wanita.” Eric menjawab santai sembari berlalu dari hadapan aktornya dan mulai memberi perintah kepada para kru untuk membereskan perlengkapan mereka.
“Wow, berarti kau sudah mendekati kehancuranmu, dude!” celetuk Joshua Pendleton, pemeran Sonny, adik David dalam serial misteri yang mereka bintangi.
Kening Jamie semakin berkerut. “Apa maksudmu?”
“Dari keempat faktor kehancuran yang disebutkan Eric tadi, kau sudah memiliki tiga di antaranya,” jelas pria jangkung bertubuh kekar itu.
“Oh ya? Apa saja?”
“Minuman keras,” ia melemparkan sekaleng bir dingin yang langsung ditangkap Jamie, “judi, dan wanita,” lanjutnya. “Untungnya kau tak menyentuh narkoba. Setidaknya belum. Mungkin akan kalau penghasilanmu semakin besar, sehingga kau bingung mau menghabiskannya untuk apa atau di mana. Seperti yang dilakukan banyak aktor besar di luar sana.” Ia terkekeh sembari menyerahkan sebotol jus apel pada gadis di sebelahnya yang langsung dibalas ucapan terima kasih. Ia tahu gadis pemeran Lara Dawson itu tak mengonsumsi minuman keras. Tubuhnya memiliki toleransi sangat rendah terhadap alkohol. Ia bisa langsung ambruk hanya dengan satu-dua teguk koktail.
“Yang benar saja,” dengus Jamie sambil membuka kaleng birnya dan meneguk sedikit. “Aku mengonsumsi
minuman keras sebanyak dirimu.” Kembali ia meneguk minumannya. “Aku hanya punya satu pacar dan aku tidak berjudi.”
Gadis di sebelah Joshua juga meneguk minumannya, namun dalam jumlah banyak, nyaris menghabiskan
setengah botol. Sengaja. Siapa tahu bisa sedikit mendinginkan perasaannya yang mendadak panas setelah mendengar pengakuan Jamie. Oh, kau kan tak perlu menegaskan pada semua orang kalau punya pacar cantik berambut pirang dengan dada besar dan kaki panjang yang seksi! batinnya sebal.
Well, mungkin ia berlebihan. Jamie tak mengatakan apa pun tentang rambut pirang, dada besar, dan kaki seksi. Namun, ia beserta semua aktor dan kru yang terlibat dalam serial misteri The Hunters tahu persis seperti apa bentuk pacar Jamie.
“Benarkah?” Mata hazel Joshua—yang serupa dengan milik Jamie—menatap teman yang berperan sebagai kakaknya itu. “Bagaimana dengan Vegas dua minggu lalu?”
“Hei, waktu itu kita sedang syuting di sana. Aku hanya bersenang-senang sedikit.” Jamie membela diri.
“Yeah, kau menghabiskan hampir lima ribu dolar.”
Berbanding terbalik dengan tokoh David yang sangat pandai berjudi, Jamie benar-benar payah dalam permainan poker, slot, blackjack, atau apa pun. Lima ribu dolar melayang sia-sia kurang dari satu jam.
“Orang lain bisa menghabiskan lebih banyak.” Jamie tetap membela diri. “Lagi pula, aku hanya melakukan beberapa kali. Jadi, aku tiak bisa disebut penjudi.”
“Yeah, tapi kau tampak sangat menikmati,” ujar Joshua. “Kalau kauteruskan, kau akan kecanduan.”
“Aku tidak akan melakukannya.”
Joshua menaikkan alis. “Kau yakin?”
“Tentu saja.”
“Well, kurasa perdebatan ini tak akan pernah berakhir.” Gadis manis berdarah Asia-Amerika itu melangkah meninggalkan kedua lawan mainnya.
“Hei, mau ke mana, Lara?!” seru Jamie.
“James Robert Allen.” Gadis itu menghentikan langkah dan berbalik menghadap Jamie. “Namaku Ceria,
bukan Lara. Berhentilah memanggilku seolah kita masih berada di dalam cerita fiktif.”
“Oke, maaf,” balas Jamie tanpa sedikit pun nada penyesalan. “Aku lebih suka memanggilmu Lara. Dengan begitu aku bisa tetap merasa menjadi kekasihmu.”
Ceria memutar bola mata dan kembali berbalik meninggalkan kedua pria itu. Dadanya terasa nyeri setiap kali Jamie mengeluarkan kata-kata rayuan kepadanya. Karena ia tahu Jamie tidak pernah serius dengan perkataannya. Berbeda dengan tokoh David yang playboy (meski pada akhirnya takluk pada Lara), Jamie tipe orang yang tidak mudah jatuh cinta dan hanya setia pada satu pasangan. Dan, model cantik bernama Natasha itulah yang beruntung mendapat cintanya.
***
Setelah menyelesaikan pengambilan gambar terakhir serial The Hunters season 6, seluruh kru memutuskan untuk makan malam dan minum-minum bersama di sebuah bar yang terletak di Main Street, sebelum kembali ke L.A. keesokan harinya. Hitung-hitung sebagai perpisahan kecil-kecilan karena setelah ini, sebagian besar dari mereka mungkin tak akan saling bertemu untuk beberapa bulan hingga syuting season terbaru dimulai.
Beberapa orang duduk melingkar pada satu meja besar, sementara lainnya ada yang memilih membentuk kelompok kecil atau duduk menghadap bartender di meja bar.
Jamie meneguk minumannya sambil memperhatikan Ceria yang menunduk menekuri ponsel. Sembari mengetik,
bibir gadis itu membentuk seulas senyum tipis. “Apakah itu pesan seksi dari pacarmu?”
Gadis itu mengangkat wajah dan menatap mata Jamie yang tengah memperhatikannya—mata hazel terindah yang pernah ia lihat. “Tentu saja bukan,” sahutnya sembari kembali fokus pada ponsel di tangannya.
“Lalu?”
“Ini Theo,” jawab Ceria jujur. Meski tahu Jamie sudah memiliki kekasih, ia tetap tidak ingin pria itu mengira ia punya kekasih. Sebuah pemikiran konyol, karena ia tahu Jamie tidak akan peduli.
“Theo Watson?” Jamie kembali bertanya.
“Yep.” Ceria mengantongi ponselnya setelah mengirim pesan terakhir pada Theo. “Dia sedang ada urusan di dekat sini dan sebentar lagi akan kemari.”
“Kau sangat dekat, ya dengan Theo,” komentar Jamie. Ia ingat kali pertama kenal Ceria juga karena Theo. Semua orang juga tahu kalau kedua insan itu memang sangat dekat. Namun, hingga kini Jamie tidak tahu status sebenarnya dua orang yang menjadi teman baiknya itu. Meski berstatus teman dekat, keduanya cukup tertutup jika berhubungan dengan perasaan. “Kalian pacaran? Apa kalian tidur bersama?”
“Kan sudah kubilang pesan tadi bukan dari pacarku,” ujar Ceria gemas. “Bukankah secara tidak langsung itu menjelaskan kalau Theo bukan pacarku? Lagi pula, aku tak pernah tidur dengan siapa pun. Tidak Theo ataupun pria lain. Dan akan tetap seperti itu sampai aku menikah.”
“Really?” Jamie membelalak. “Di usia 27 tahun, kau belum pernah tidur dengan siapa pun? Itu artinya kau—”
“Masih virgin?” sela Ceria. “Ya.” Ia mengangguk mantap.
“You’ve got be kidding me!” Jamie masih menatap gadis di hadapannya tak percaya. Dua puluh tujuh tahun dan masih virgin? Yang benar saja! Apa dia biarawati?
“Kenapa?” Ceria balas menatap heran. “Ini hidupku. Tubuhku. Dan aku bangga dengan pilihanku.”
“Kau… serius?” Jamie masih sulit percaya. “Kau benar-benar masih virgin?”
“Tentu saja.”
“Kau bukan biarawati, kan?” Jamie tidak tahan menyuarakan pikiran konyolnya.
“Tentu saja bukan!” tukas Ceria. “Apa, sih yang kaupikirkan? Menurutmu bisa seorang biarawati menjadi aktris dan melakukan adegan ciuman? Yang benar saja!”
“Oh, wow! Aku tak menyangka masih bisa menemukan seorang perawan di zaman sekarang.” Ia menatap Ceria takjub seolah gadis itu adalah barang antik bernilai jutaan dolar.
“Jangan berlebihan,” cibir Ceria. “Aku bukan satu-satunya wanita dewasa berstatus virgin di dunia ini. Apalagi di negara asalku, hal seperti itu sudah sangat biasa dan justru memang seharusnya demikian.”
“Ya, tapi mungkin satu-satunya yang kukenal,” sahut Jamie. “Well, miss virgin, would you marry me?” tanyanya sambil memasang wajah serius.
Dalam kondisi normal, Ceria pasti akan menjawab ‘ya’ dan memeluk Jamie, karena hal itulah yang diimpikannya. Tapi karena ia tahu Jamie tak bersungguh-sungguh dan hanya mengatakan hal itu sebagai candaan atas status virgin-nya, maka ia hanya mendesis, “In your dream!”
“Aww, kau mematahkan hatiku,” ucap Jamie dramatis. “Aku serius.”
Ceria memutar bola mata, lalu mengisap minumannya. Tak mau lagi menghiraukan Jamie.
“Jadi, kau benar-benar menolakku?” Jamie belum menyerah.
Ceria tak menggubris. Lebih memilih menikmati minumannya dengan tenang.
“Sayang sekali.” Jamie mengesah seakan benar-benar kecewa. “Pasti sangat bagus jika aku bisa menikahi perawan.”
“Ya, lalu kau akan mencampakkanku setelah merenggut keperawananku,” sergah Ceria. “Dasar otak mesum!”
“Hei, aku tidak seperti itu!” sangkal Jamie.
“Whatever.”
“Ceria, begitu burukkah diriku di matamu?” Jamie menampakkan wajah terluka.
“Jamie, berhentilah bercanda!” tukas Ceria sebal.
“Aku tidak bercanda.” Jamie masih memainkan perannya. Wajahnya tampak benar-benar serius.
Ceria memelotot. Beberapa saat, Jamie masih bertahan, hingga akhirnya tidak kuat menahan tawa melihat wajah kesal Ceria yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.
“Kenapa kau sangat ingin tahu?” Joshua yang sedari tadi hanya diam sambil mendengarkan pembicaraan
orang-orang di sekitarnya, sekonyong-konyong menyeletuk. “Memangnya kenapa kalau mereka punya hubungan khusus? Kau keberatan?”
“Tidak,” sahut Jamie santai. “Aku hanya ingin tahu. Aku tak punya alasan untuk keberatan.”
Yeah, tentu saja, batin Ceria seraya mengisap milkshake cokelatnya. Tidak ada alasan untuk Jamie merasa keberatan dengan hubungan apa pun antara dirinya dan Theo. Jamie sama sekali tidak memiliki perasaan khusus untuknya. Seluruh perasaannya sudah tercurah untuk orang lain.
“Oh, kupikir kau masih menyimpan perasaan pada Theo.” Bibir tipis Joshua membentuk seringai lebar.
“Ha, ha.” Jamie tertawa garing mendengar candaan Joshua.
Theo dan Jamie memang pernah terlibat dalam satu serial bertema superhero. Tapi Joshua mengenal Theo lebih lama dan juga pernah terlibat dalam sebuah film bertema keluarga. Secara terpisah, ketiga pria itu pernah bekerja bersama dan sampai sekarang menjalin pertemanan yang cukup dekat.
“Jadi, sebenarnya apa hubunganmu dengan Theo?” Kembali pertanyaan itu Jamie lontarkan—tampak sekali ia begitu penasaran.
“Well, bisa dibilang kami saudara,” jawab Ceria.
Kening Jamie berkerut. “Aku belum pernah mendengar kalau kalian bersaudara,” katanya. “Kalian tidak mirip. Lagi pula, bukankah kau dari Indonesia? Dan setahuku Theo dari New York. Bagaimana ceritanya kalian bisa jadi saudara?”
“Ceritanya agak panjang.”
“Apa sepanjang serial kita?” Jamie menyengir. Serial misteri berjudul The Hunters yang mereka bintangi sudah tayang di televisi sepanjang 5 seasons dan rencananya masih akan terus berlanjut. Sebagai pemeran utama, Jamie dan Joshua sudah ada sejak season pertama, sementara Ceria baru bergabung di season 3.
Ceria tertawa kecil. “Tidak sepanjang itu, sih.”
“Berarti kau bisa menceritakannya, kan?” Jamie menatap penuh harap. Entah kenapa, ia merasa sangat ingin tahu hubungan di balik kedekatan Ceria dan Theo.
“Ehm….” Hidung Ceria berkerut saat memikirkan sesuatu. “Aku tidak tahu harus memulai dari mana.”
“Dari mana saja boleh,” ujar Jamie cepat.
“Oke.” Ceria berdeham sebentar sebelum bercerita. “Sebenarnya—”
“Evening, guys!” Belum sempat Ceria meneruskan kalimatnya, sebuah suara terdengar, dibarengi kemunculan
sosok tampan setinggi 186 cm.
“Theo!” Ceria berseru senang sembari bangkit dan langsung memeluk sosok yang—karena kesibukan masing-masing—sudah hampir satu bulan tidak dijumpainya.
“Yeah, aku juga sangat merindukanmu, little fairy.” Theo terkekeh sambil membalas pelukan gadis mungil itu. Little fairy adalah panggilan kesayangannya untuk gadis itu sejak pertama mereka bertemu, karena menurutnya Ceria sangat menggemaskan seperti peri—cantik dan bertubuh mungil.
“Sorry,” Ceria melepaskan pelukannya dengan pipi bersemu merah. “Aku kelepasan. Kita sudah lama tak bertemu.”
“Tidak masalah,” balas Theo. “Aku senang dipeluk olehmu,” lanjutnya dengan senyum lebar. Lalu mengalihkan
perhatiannya pada Jamie dan Joshua. “Hi, fellas! Long time no see.” Ia menyapa sambil saling menempelkan kepalan tangan dengan kedua pria itu secara bergantian.
“Kau sedang ada urusan di dekat sini?” tanya Jamie.
“Begitulah,” Theo mengedikkan bahu. “So, kita pergi sekarang?” ia kembali menatap Ceria. Gadis itu langsung mengangguk tanpa berpikir.
“Kalian mau pergi?” Jamie kembali bertanya. Pandangan matanya jatuh pada lengan Theo yang melingkari pinggang ramping Ceria. “Ke mana?”
“New York,” jawab Theo. “Mengunjungi orangtuaku.”
“Ya,” timpal Ceria. “Dan nanti aku akan langsung pulang bersama Theo.”
“Kau tidak mau duduk dulu?” Joshua bertanya pada Theo. “Kita sudah lama tidak minum bersama.”
“Sorry, tapi kami harus segera pergi,” balas Theo. “Kami tidak mau terlambat.”
“Begitu, ya?” gumam Joshua. “Baiklah, mungkin next time?”
“Sure,” sahut Theo langsung.
Setelah Ceria berpesan pada manajernya untuk membawakan semua barangnya ke apartemennya di L.A., mereka berdua berpamitan, melambaikan tangan pada semua kru, dan berbalik meninggalkan bar.
Pandangan Jamie terus mengikuti sampai sosok kedua orang itu tak terlihat. “Kau yakin hubungan mereka sebatas saudara?” tanyanya pada Joshua.
Joshua menoleh. “Huh?”
“Kau yakin mereka tidak tidur bersama?”
Joshua mengangkat alis. “Kenapa kau begitu peduli?” tanyanya heran. “Kalaupun mereka memang tidur bersama, lalu kenapa? Kau keberatan? Kau cemburu? Apa kau benar-benar telah jatuh cinta pada Lara Dawson dalam kehidupan nyata?”
“Tidak,” bantah Jamie, terdengar ragu-ragu di telinga Joshua. “Tentu saja tidak.” Ia mengosongkan gelasnya dalam satu tegukan besar. Tentu saja ia tidak jatuh cinta pada Ceria. Ia sudah punya kekasih dan ia mencintai kekasihnya. Yeah, tentu saja begitu. Pasti begitu, kan?
***
“Jamie terus menatap kita,” bisik Theo ketika mereka hampir sampai di pintu keluar. “Jangan menoleh!” desisnya ketika melihat Ceria hendak memutar kepalanya.
Ceria mengurungkan niatnya dan berbisik, “Bagaimana kau tahu? Kau punya mata di belakang kepalamu?”
“Aku bisa merasakannya,” jawab Theo.
“Itu tidak mungkin.”
“I know I'm right,” kata Theo sembari mempererat pelukannya pada pinggang Ceria.
Ceria terkesiap merasakan tubuhnya semakin merapat pada Theo. “Kenapa kau melakukan ini?” tanyanya heran. Biasanya Theo akan memeluknya protektif untuk melindunginya dari wartawan atau pria hidung belang. Tapi di sekitar mereka sama sekali tidak tampak wartawan atau pria yang berpotensi melakukan hal tak menyenangkan padanya.
“Untuk membuat Jamie cemburu,” ujar Theo santai seraya melangkahkan kakinya keluar dari pintu ganda bar.
“Yang benar saja! Kau tahu dia tidak akan cemburu,” kata Ceria sembari memberi jarak tubuhnya dari Theo, namun tetap membiarkan pria 34 tahun itu memeluk pinggangnya.
“Kenapa kau sangat yakin?”
“Karena sudah ada gadis beruntung yang dicintainya. Kau sudah tahu itu.”
“Aku tahu dia punya pacar,” ujar Theo. “Tapi bukan berarti mereka akan terus bersama, kan?” lanjutnya. “Belum tentu juga mereka benar-benar saling mencintai. Kenyataan Jamie punya pacar tak menutup kemungkinan dia memiliki perasaan yang sama padamu.”
“Sudahlah, Theo,” Ceria menatap pria itu dengan putus asa. “Jangan memberikan harapan padaku.”
“Bukankah kau memang berharap padanya?”
“Apa?” Ceria menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Theo intens.
“Sampai sekarang kau masih mencintainya membuktikan kau masih berharap bisa mendapatkan cintanya,” ucap Theo. “Kalau tidak, seharusnya kau melanjutkan hidupmu dengan mencintai pria lain.”
“Aku ingin,” balas Ceria. “Tapi aku tidak bisa,” ia mengesah. “Aku tidak bisa begitu saja mematikan perasaanku seperti menekan tombol lampu atau televisi. Aku tidak bisa mengatur dengan siapa aku akan jatuh cinta.”
“Tapi kalau kau mencintai seseorang tanpa berusaha mendapatkannya, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri.”
“Aku tahu,” balas Ceria. “Aku mencintainya dan jauh di lubuk hatiku, aku juga menginginkan dia merasakan yang sama. Tapi aku juga tidak mau menjadi orang jahat yang berharap hubungannya dengan Natasha berakhir.” Meski harus ia akui, terkadang harapan jahat itu muncul di kepalanya—sering malah. Bagaimanapun ia manusia biasa yang juga punya sisi egois, bukan malaikat berhati suci yang tak pernah merasa iri.
Theo menatap iba. Ia sangat mengerti apa yang dirasakan Ceria. Cinta memang perasaan yang sangat kurang ajar. Datang tanpa diminta, terkadang tertambat pada orang yang salah, orang yang seharusnya tidak dicintai. Dan yang paling menyebalkan, sangat sulit menghilangkan perasaan itu. Apalagi saat sudah tertancap begitu dalam di lubuk hati. Tetapi, ia juga tidak ingin melihat gadis itu terluka. Ceria terlalu berharga untuk disakiti. Kalau memang tidak ada harapan untuk mendapatkan cinta Jamie, ia ingin Ceria melupakan saja pria itu dan bahagia bersama cinta yang lain. Dengan orang yang mencintainya sama besar. Tidak perlu lagi membuang-buang energi dan waktu untuk seseorang yang jelas-jelas sudah menjadi milik orang lain. Namun, kembali lagi ke awal, cinta bukan perasaan yang bisa diatur. Ia sendiri juga pernah merasa yang sama. Mencintai seseorang yang di mata banyak
orang merupakan kesalahan hingga nyaris membuatnya frustrasi.
“Ya, sudahlah.” Theo mengesah, memilih mengakhiri bahasan tentang cinta. “Ayo kita pergi dari sini! Kita masih harus menempuh perjalanan jauh.” Ia kembali melingkarkan lengannya pada tubuh gadis itu dan kembali berjalan menyusuri tempat parkir.
“Tidak akan terlalu jauh kalau kau mau naik pesawat,” gerutu Ceria.
“Jangan mulai!”
Ceria hanya tertawa kecil sambil balas melingkarkan lengannya pada pinggang Theo. Ia masih tak habis pikir, bagaimana bisa pria segagah itu, seorang aktor yang terkenal dengan tokoh superhero yang diperankannya, memiliki ketakutan untuk terbang?
Theo hanya akan naik pesawat jika benar-benar terpaksa. Seperti saat keadaan sangat mendesak dan ia harus sampai ke tempat tujuan secepatnya atau tempat yang ia tuju tidak bisa atau sulit dilalui dengan kendaraan darat. Dalam kondisi normal, ia lebih suka mengemudi ribuan mil ke seluruh negara bagian Amerika daripada harus naik pesawat.
Ah, dunia nyata dan fiksi memang berbeda.
Seperti hubungan Ceria dengan Jamie yang berbanding terbalik dengan hubungan David dan Lara, tokoh yang mereka perankan.