No One Loves You Like I Do

No One Loves You Like I Do
15


Ceria mendekap dadanya sebelah kiri, tepat di mana organ penting bernama jantung tertanam di dalamnya, sembari menarik dan menghela napas berkali-kali. Berharap dengan begitu laju liar jantungnya bisa sedikit melambat dan berpacu dalam kecepatan normal. Namun setelah beberapa menit berusaha, tetap saja degup jantungnya tak mau tenang.


Bayangan wajah Jamie saat menciumnya tadi kembali menari di kepalanya. Mata hazel yang menatapnya penuh hasrat itu seolah menancap di dinding memorinya. Ya, ia sempat menatap intens kedua mata itu sebelum akhirnya mereka sama-sama memejamkan mata seiring ciuman yang semakin panas.


Oh, God! Ceria memejamkan mata dan mengubah posisinya dari berbaring miring menjadi telentang. Tadi itu benar-benar ciuman terpanas yang pernah ia lakukan bersama Jamie. Lebih hebat dari ciuman pertama mereka kemarin malam.


Well, ya, mereka memang hanya dua kali berciuman di dunia nyata. Puluhan ciuman yang mereka lakukan dalam salah satu adegan The Hunters tidak masuk hitungan karena hanya bersifat profesional—meski jantung Ceria juga selalu berdegup lebih kencang setiap kali melakukannya. Sedangkan ciuman yang tadi itu… ah! Kalau saja Ceria tak segera mendapatkan kesadarannya kembali dan mendorong tubuh Jamie, kemudian buru-buru mengucapkan selamat malam dan memelesat memasuki kamarnya, sangat mungkin adegan tadi akan terus berlanjut dan berakhir di ranjang.


Oh, tidak. Meski Ceria mencintai Jamie dengan segenap perasaannya, ia tetap tidak mau mengingkari komitmennya sendiri. Secinta apa pun Ceria pada Jamie, ia tidak mau menyerahkan keperawanannya pada pria itu sebelum mereka resmi menikah.


Oh, ya ampun… apa, sih yang kupikirkan? Ceria meraih bantal dan menutup mukanya yang memanas. Kenapa aku berpikir jauh sekali? Belum tentu juga Jamie berniat jauh ke sana. Jamie kan hanya menciumku. Dan itu sama sekali tak berarti apa pun.


Ceria mungkin bisa melihat kilatan gairah dalam mata Jamie saat menciumnya. Dan Jamie tadi juga berkata ia ingin Ceria hanya menyukainya. Namun, tetap saja bukan berarti Jamie memiliki perasaan khusus padanya. Ia wanita dan Jamie pria, berada dalam satu tempat, menghabiskan banyak waktu bersama, ditambah kondisi Jamie yang masih labil setelah dicampakkan kekasihnya. Kondisi yang sangat memungkinkan bagi siapa pun untuk lepas kendali dan melakukan hal di luar kemauannya.


Fine. Berarti bisa disimpulkan ciuman tadi sama sekali tak berarti apa pun. Mereka hanya terbawa suasana.


“Ergh….!” Ceria mencampakkan bantal yang membekap wajahnya. Meski sudah memutuskan demikian, tetap saja


jantungnya masih ber-rock ‘n roll di dalam dadanya. Tetap saja ia tak bisa terlelap meski waktu sudah mendekati tengah malam. Tetap saja ia berharap… ciuman tadi berarti sesuatu.


Sekali lagi Ceria menghela napas panjang, lalu berguling ke sisi kanan dan mencoba memejamkan mata. Berharap segera dapat terlelap dan melupakan ciuman barusan dan yang sebelumnya.


***


Tidak hanya Ceria yang masih terjaga malam telah mendekati waktu dini hari. Selang tiga ruang dari kamar Ceria, tepatnya di dalam ruangan yang terletak paling dekat dengan tangga, si empunya kamar juga tengah gelisah di tempat tidurnya. Tubuhnya terbaring, kelopak mata dengan bulu panjang dan halus menyembunyikan sepasang mata hazel-nya. Bibirnya terkatup, tapi napasnya tampak tak beraturan.


Kenapa aku menciumnya lagi? Pertanyaan itu terngiang di kepalanya. Berulang-ulang.


Jamie membuka mata dan mengesah. Ia bingung bagaimana harus bersikap saat bertemu Ceria besok. Pagi tadi ia masih bisa mengatasi rasa canggungnya dan bersikap santai seolah ciuman mereka malam sebelumnya tak pernah terjadi. Biar saja Ceria menganggap itu sebuah ketidaksengajaan, karena ia langsung meminta maaf tepat setelah Buddy menggonggong, membuat keduanya terkejut hingga ciuman mereka terlepas—meski sebenarnya ia sama sekali tak merasa menyesal.


Tetapi, bagaimana dengan ciuman yang cukup panas tadi? Apakah itu juga bisa dianggap ketidaksengajaan? Tapi masa tidak sengaja sampai dua kali? Apalagi sebelumnya Jamie sudah bersikap konyol dengan menyeret paksa Ceria yang sedang berbincang dengan Terry, kemudian mengatakan ketidaksukaannya seolah ia cemburu.


Benarkah ia cemburu?


Dan apa-apaan ucapannya tadi? Mengatakan pada Ceria kalau ia hanya ingin Ceria menyukainya. Memangnya siapa Jamie hingga berhak mengatur siapa yang boleh disukai Ceria?


Entahlah, Jamie tidak mengerti. Ia memang tidak suka melihat Terry mendekati Ceria, tetapi ia tidak tahu apakah itu karena cemburu atau hanya karena ia memang tidak suka dikalahkan Terry.


Bagaimana dengan ciuman-ciuman itu? Kenapa sejak gadis itu datang kemari otaknya seolah tidak bisa bekerja dengan benar?


Bukan berarti ia tak menyukai kehadiran Ceria. Ia justru selalu memikirkan gadis itu sejak kali pertama menginjakkan kaki di rumah ini. Ralat! Ia sudah sering memikirkan gadis itu bahkan sejak masih di L.A. Ia sudah merindukan Ceria sejak gadis itu pergi ke luar kota untuk bekerja.


Kemunculan Ceria yang tidak terduga di kampung halamannya merupakan kejutan termanis yang Jamie terima,


setelah dunianya runtuh karena dicampakkan Natasha. Ia sangat berterima kasih pada Joshua yang membawa gadis itu kemari—meski tak mengatakan langsung dan yakin Joshua berbohong saat bilang Ceria sendiri yang meminta ikut. Kehadiran Ceria bagaikan embun yang dapat menyejukkan perasaan gersang di hati Jamie. Intinya, ia sangat menyukai kehadiran gadis itu di dekatnya.


Masalahnya, setiap kali melihat gadis itu, rasanya ia tak bisa berpikir jernih. Entah sejak kapan, Ceria terlihat begitu menawan baginya. Senyumnya, suaranya, gerak tangannya, matanya yang menyipit saat tertawa, bahkan bibirnya yang mengerucut imut dan pipinya yang menggembung saat sedang kesal; membuat Jamie ingin sekali menerjangnya, menguncinya di dalam pelukan, dan menciuminya sampai kehabisan napas.


Oh, ya ampun, ini gila! Jamie memukul keningnya pelan dengan genggaman tangan kanan. Apa itu artinya ia jatuh cinta pada lawan mainnya?


Merasa tak akan bisa menemukan jawaban atas pertanyaan dirinya sendiri, Jamie mengesah sembari turun dari tempat tidurnya. Memutuskan keluar kamar dan pergi ke dapur. Cokelat panas mungkin bisa menenangkan perasaannya yang tidak jelas dan membantunya mengantuk.


Suasana dapur gelap saat Jamie sampai di sana. Ia menekan sakelar dan langsung berkutat dengan cangkir bulat besar dan mesin pembuat cokelat panas begitu lampu sudah menyala. Saat hendak meraih marshmallow untuk minumannya, Jamie baru menyadari lampu beranda belakang masih menyala. Dari kaca jendela, ia bisa melihat seorang pria tengah berdiri membelakangi dapur. Itu Terry. Entah apa yang dilakukan pengacara itu malam-malam begini di beranda belakang.


Jamie memasukkan tiga buah marshmallow ke dalam cokelat panasnya, lalu mengangkat cangkir itu ke depan hidung, menghirup aroma manis dan pahit yang sangat disukainya sebelum meniup uap yang mengepul dan


menghirupnya sedikit. Perasaan hangat langsung menjalari kerongkongannya dan entah bagaimana mampu menghangatkan perasaannya. Jamie menurunkan cangkir dan mendesah lega. Mungkin ia akan segera terlelap setelah menghabiskan isi cangkirnya. Tapi tentu saja ia tak mau terburu-buru menandaskan minuman lezat itu. Cokelat panas harus dinikmati perlahan-lahan agar kenikmatannya terasa di setiap teguknya.


Jamie kembali meneguk minumannya dan menelengkan kepala menatap ke luar melalui jendela kaca. Sambil tetap


menenteng cangkirnya, ia beranjak membuka pintu dapur dan melangkah ke beranda belakang. Tampak kakaknya tengah berdiri sambil bersandar pada pembatas beranda. Sesekali tangannya terangkat untuk mengisap rokok dan mengembuskan asapnya.


“Sejak kapan kau mulai merokok lagi?”


Terry menoleh cepat saat menyadari keberadaan adiknya yang kini berjalan mendekat. “Kau belum tidur?” Ia balas bertanya alih-alih menjawab pertanyaan Jamie.


“Tentu saja aku belum tidur,” tukas Jamie yang kini sudah berdiri di samping Terry. “Pikirmu aku berjalan sambil tidur?”


Terry tertawa kecil. Bukan hal baru bagi telinganya mendengar nada tak bersahabat dari Jamie. Sejak dulu sudah seperti itu. Ia sudah terbiasa dan tak pernah tersinggung. “Kenapa kau belum tidur?” Ia mengganti pertanyaannya.


“Kau sendiri kenapa belum tidur?” Jamie balik bertanya. “Dan kau belum menjawab pertanyaanku yang pertama.”


Terry kembali memalingkan pandangannya ke depan. “Aku belum mengantuk,” katanya. “Dan untuk pertanyaan yang pertama, aku sendiri tidak yakin sejak kapan. Belum lama kurasa. Kau sendiri, kenapa jam segini masih belum tidur? Kau kan tidak sedang di L.A.”


“Tidak bisa tidur,” jawab Jamie sambil meneguk minumannya. Sementara Terry kembali mengisap rokok dan mengembuskan asapnya perlahan.


“Biar kutebak,” kata Jamie lagi tanpa menatap kakaknya. “Kau mulai merokok lagi sejak Bellinda menggugat cerai?”


Terry tak menjawab. Ia kembali mengisap rokok kuat-kuat, lalu mengembuskan asap yang mengepul-ngepul secara perlahan. Seluruh keluarganya—bahkan Jamie yang tinggal di negara bagian lain—telah mengetahui tahu masalah yang terjadi pada rumah tangganya. Bellinda, wanita cantik yang ia nikahi lima tahun lalu itu mengajukan gugatan cerai sekitar tiga bulan yang lalu.


Tentu saja semua itu tak terjadi secara tiba-tiba atau tanpa alasan. Tiga tahun setelah pernikahan, mereka nyaris tak pernah akur. Pertengkaran kecil hingga besar selalu terjadi setiap hari. Yeah, meskipun katanya setiap rumah tangga harus selalu diselingi pertengkaran setiap hari agar terus langgeng karena itu salah satu bentuk komunikasi.


Hal itu sempat membuat Terry limbung, meski tak lama karena ia bisa segera mengatasi keadaan seperti biasa. Namun, bukan berarti ia baik-baik saja. Terbukti dengan kembalinya kebiasaan merokok yang ia hentikan sejak lulus kuliah.


Terry sangat mencintai Bellinda dan sama sekali tak pernah berpikir untuk berpisah, meski mereka bisa dibilang sudah tidak lagi memiliki kecocokan sama sekali. Namun, karena Bellinda sudah mengambil keputusan, ia tak bisa berbuat banyak. Tidak ada gunanya mempertahankan seseorang yang memang tidak ingin dipertahankan.


“Benda itu bisa membunuhmu, kau tahu?” ujar Jamie, tetap tanpa menatap kakaknya.


“Yeah.” Terry hanya balas menggumam pelan, tetapi tetap mengisap benda yang akan membunuhnya itu.


Jamie menghela napas. “Jadi, bagaimana perkembangannya?”


Oh, ya ampun, Jamie terdengar seperti adik yang baik. Padahal selama ini ia selalu menunjukkan perasaan tak suka pada kakaknya. Tetapi, melihat Terry yang biasanya selalu bersemangat dan penuh percaya diri tampak terpuruk juga bukan merupakan pemandangan bagus baginya. Itu seperti bukan Terry.


Terry menaikkan alis dan berpaling ke sisi kanan menatap adiknya. “Kau serius menanyakannya?”


“Tentu saja,” Jamie balas menatap sang kakak yang memandangnya aneh. “Jangan menatap aneh begitu! Aku


adikmu. Keluargamu. Boleh kan aku bertanya.”


Terry mengedikkan bahu dan kembali membuang pandangannya ke depan. “Hanya merasa aneh tiba-tiba kau peduli.”


Jamie mendengus, lalu meneguk minumannya lagi. “Kau tidak harus menjawab kalau tidak mau.” Nada bicaranya kembali ketus.


Terry terkekeh kecil, lalu mengesah sebelum menjawab, “Dia tetap meminta cerai. Aku sudah menandatangani surat pengajuannya dan sebentar lagi akan disahkan oleh hakim.”


“Bagaimana dengan tunjangan istri?” Jamie tidak bertanya tentang tunjangan anak karena tidak ada bayi yang dilahirkan selama lima tahun pernikahan Terry dan Bellinda. Alasannya, karena Bellinda masih nyaman dengan kariernya dan belum mau direpotkan dengan urusan anak. Bukan hal yang aneh bagi wanita modern saat ini.


“Tidak banyak tuntutan,” kata Terry datar. “Kau tahu, kan, dia wanita mandiri. Yang dia butuhkan hanya lepas dari ikatan, bukan uangku.”


Tak lagi berkata apa pun, Jamie kembali meneguk cokelat panasnya yang kini tinggal separuh. Meski sampai kini Jamie tidak begitu mengerti masalah sebenarnya yang terjadi pada rumah tangga Terry hingga terjadi perceraian, ia tak ingin bertanya. Ia tahu Terry pasti akan menjawab kalau mereka sudah tidak cocok atau mereka sama-sama


sibuk sehingga nyaris tak punya waktu untuk bersama—seperti yang selalu dikatakannya setiap kali ada yang bertanya. Terry tidak akan membagi masalahnya dengan siapa pun, Jamie tahu itu.


Sejak dulu, Terry adalah pria tangguh yang lebih suka mengatasi masalahnya sendiri tanpa membuat orang lain terbebani. Cenderung introvert menurut Jamie. Semua manusia membutuhkan orang lain untuk membantunya. Namun, kalau memang Terry merasa lebih nyaman seperti itu, ia juga tak akan memaksa. Tugasnya sebagai keluarga hanya menjaga kakaknya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. Menunjukkan padanya bahwa dia tidak dan takkan pernah sendirian.


“Jadi, kenapa kau tidak bisa tidur?” tanya Terry mengalihkan setelah keduanya hanya diam selama beberapa menit. “Ada masalah?” lanjutnya. Ia tahu tentang Natasha, namun entah kenapa ia merasa bukan itu yang mengganggu tidur adiknya malam ini.


“Tidak,” jawab Jamie, persisi seperti yang sudah diduga oleh Terry.


“Bukan karena Ceria, kan?”


Jamie nyaris tersedak minumannya mendengar kalimat yang tiba-tiba dilontarkan kakaknya, namun ia dengan cepat bisa kembali menguasai diri. “Kenapa menurutmu Ceria membuatku tidak bisa tidur?” ia balik bertanya. “Dia sudah masuk ke kamarnya sejak tadi dan sama sekali tak menimbulkan kegaduhan yang membuatku sulit tidur. Dia kan bukan Maddy atau Buddy yang suka berisik kalau malam.”


Terry mengangkat sebelah bibirnya sambil memalingkan muka. “She is cute,” ujarnya sekonyong-konyong. Tahu benar adiknya hanya sedang berusaha mengelak.


Jamie mengerjap. “Huh?” Tidak mengerti apa hubungan pernyataan Terry barusan dengan pertanyaan sebelumnya.


Untuk kesekian kali, Terry kembali mengisap rokoknya. “Well, dia gadis yang cantik, manis, lucu, imut, pintar, dan sangat menyenangkan diajak bicara. Kupikir bukan hal aneh kalau wajahnya akan menghantui pikiran seorang laki-laki.”


“Jadi, apakah itu juga alasan kau masih terjaga sampai sekarang?” Jamie menyipitkan mata.


Terry mengangkat bahu. “Mungkin saja. Mengingat aku baru mengobrol menyenangkan dengannya.”


“Jadi, kau bukannya memikirkan perceraianmu?”


“Untuk apa?” balas Terry tanpa menatap Jamie. “Semua itu sudah terjadi dan tak ada yang bisa kulakukan. Aku tidak perlu membuang waktu dan energi untuk memikirkannya.”


Jamie mendengus. “Jangan pernah berpikir untuk menggoda Ceria!”


“Oh, tentu. Aku tidak akan menggodanya. Kau tahu sendiri aku bukan pria seperti itu.”


“Itu termasuk larangan untuk mencoba mendekatinya.”


Terry menoleh dengan kening berkerut. “Kenapa?” tanyanya. “Apa dia sudah punya pacar? Apakah gosip yang mengatakan dia dan Joshua terlibat cinta lokasi itu benar?”


“Tentu saja itu tidak benar,” sahut Jamie cepat.


“Lalu, kenapa aku tidak boleh mendekatinya?”


Jamie tak langsung menjawab. Hanya raut wajahnya saja yang menampilkan ekspresi sebal.


“Oh, aku tahu!” Wajah Terry berbinar seperti menang undian bernilai jutaan dollar. Sebuah seringai menghiasi wajah tampannya. “Kau menyukainya, kan?”


Jamie semakin terlihat kesal. “Bukan urusanmu!” sergahnya kasar. “Pokoknya kau tidak boleh mendekatinya. Dia terlalu baik untukmu.”


Binar di wajah Terry seketika meredup, berganti dengan raut—pura-pura—terluka. “Hei, aku tersinggung.”


Jamie tak peduli. “Jangan. Dekati. Dia.” Ia menegaskan. “Dan berhentilah merokok! Meski aku membencimu, aku idtak mau melihatmu mati mengenaskan.” Setelah mengatakan itu, Jamie merebut rokok dari tangan kakaknya yang tinggal sedikit, lalu mematikan dan melemparnya ke tempat sampah, kemudian berlalu begitu saja.


Terry terkekeh sendiri menatap punggung adiknya yang semakin menjauh. Ia selalu suka menggoda adik laki-lakinya itu. Dari dulu Jamie memang tidak pernah berubah.