
[Seoul, 23 Juni 2014]
"Wah... ya ampun, Pangeran syurgaku muncul, ya Tuhan terimakasih telah menciptakan seorang Jin yang begitu tampan untukku"
Ji Ah terlihat girang saat menonton acara Musik Korea di televisi. Sedangkan aku hanya melihat tubuh tante terbaring diranjang. Belum ada perkembangan darinya.
"Kau bicara apa, Ji-Ah ?"
"Jin, apa kau tidak tahu dia ?"
"Salah satu makhluk halus ?"
Aku menjawab pertanyaan Ji Ah dengan enteng, karena memang hanya itu yang ku tahu.
Tanpa aba-aba gadis itu langsung menoyor kepalaku dengan sadis sampai aku terhuyung kebelakang. Untung saja kepala yang berisi otak pintarku ini tidak sampai merasakan kerasnya dinding rumah sakit.
"Setengah tahun kau di Indonesia membuat otakmu cedera ya!"
"Kali ini apa kesalahanku ?"
"Masa kau tidak tahu seorang pangeran tampan seperti Jin BTS"
"Apa itu BTS ?"
"Ya ampun Soo He, apa kau hidup di zaman batu, bagaimana bisa kau tidak tahu apa-apa mengenai perkembangan manusia tamvan di Korea"
"Hah... apa untungnya bagiku? Cepat beritahu aku apa yang spesial dari pangeran tampan mu itu ?"
"Dia adalah seorang pangeran dari surga, ketampanannya melebihi batas manusia normal, ditambah rupa nya yang sangat menawan, itu sebabnya dia mendapatkan posisi sebagai visual"
Aku akan berkata jujur pada kalian aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh sahabatku ini.
Aku sama sekali tidak tahu mengenai perkembangan dunia industri Korea, apalagi grup BTS yang dibicarakan oleh gadis itu.
Jin atau siapapun yang dibicarakan oleh Ji Ah, yang ku tahu hanyalah sesosok makhluk halus seperti Hantu dan teman-temannya.
Karena pikiranku saat ini masih berada di Indonesia meskipun ragaku kini sudah kembali ke Korea.
****
[Tiga bulan yang lalu]
Setelah aku bekerja di rumah kak Anggita sebagai dokter pribadi Cleo, semuanya berjalan begitu lancar. Lelaki rusuh seperti Arjun juga tidak pernah terlihat selama satu bulan terakhir, sampai akhirnya.
"Apa kau sedang mengawasiku secara diam-diam ?"
"Tentu saja, aku tidak mungkin percaya padamu begitu saja apalagi hal itu berurusan dengan Cleo"
"Apa kau pikir aku seorang psiko yang akan membahayakan nyawa Cleo sampai kau harus mengawasiku ?"
"Maybe"
(Mungkin)
Saat itu aku sedang berada dirumah kak Anggita bersama dengan Cleo, karena kak Anggita sedang ada urusan di kantor. Aku ingin membuatkan makanan kesukaan Cleo, Spaghetti.
Tapi kebetulan stok didapur sedang kosong, tidak ada cara lain aku harus membelinya di minimarket.
Saat aku keluar dari minimarket, aku merasa ada yang sedang mengawasiku. Tapi aku tidak menghiraukannya.
"Mungkin hanya perasaanku saja"
Aku langsung masuk mobil dan bergerak menuju rumah kak Anggita. Perasaan itu muncul kembali, saat ku lihat kaca spion ternyata memang benar ada yang sedang mengikutiku.
Sebuah mobil sedan hitam, terus saja membuntutiku sampai kerumah kak Anggita, aku buru-buru masuk ke dalam rumah dan melihat dari balik jendela.
"Siapa mereka sebenarnya, kenapa mereka terus mengikutiku, seperti ada yang tidak beres"
Tidak lama setelah aku memerhatikan mereka dari jendela, sebuah mobil sport putih datang, dan mereka yang tadi mengikutiku memberikan hormat saat seorang laki-laki turun dari mobil tersebut.
"Arjun"
Dan aku baru menyadarinya sekarang, ternyata selama ini aku telah di awasi secara diam-diam oleh laki-laki itu.
Saat aku menanyakan hal itu padanya, Arjun langsung membenarkannya, tapi juga menyangkalnya.
"Hey, apa maksudmu sebenarnya? Apa yang ingin kau tahu mengenaiku, bukankah lebih mudah jika bertanya langsung padaku daripada harus mencari tahu secara diam-diam"
"Jangan terlalu percaya diri nona Sungai Han, aku tidak tertarik sedikitpun padamu, hanya ingin tahu apa latar belakangmu, supaya Cleo tidak terancam"
"Kau sungguh berpikir kalau aku seorang dokter gadungan?"
"Dengar, kau sendiri yang mengatakannya"
"Kau..."
Kalimat terakhir yang diucapkan oleh lelaki itu membuatku sungguh naik darah. Ditambah dengan perlakuannya saat mengatakan kalimat tersebut dengan cara berbisik tepat disamping telingaku.
"Apa yang kau lakukan!"
Disaat seperti itu justru jantungku berdegup kencang, apa yang terjadi sebenarnya. Dan tindakanku hari itu menjadi penyesalanku hingga hari ini.
****
"Hey Soo He, apa kau ingin pergi nonton konser mereka denganku?"
Saat Ji Ah bertanya, aku masih asik dengan lamunanku. Hingga dia membuyarkan semuanya dengan cara menarik lengan yang menjadi tumpuanku.
"Kau mengatakan sesuatu ?"
"Apa telingamu bermasalah? Apa kau mengalami kecelakaan di Indonesia sampai pendengaranmu bermasalah? Lebih baik kita periksa ke dokter selagi kita di rumah sakit, ayo"
"Aku baik-baik saja, tidak ada yang terjadi"
"Lalu kenapa kau tidak bisa mendengarkan apa yang aku bicarakan barusan?"
"Karena aku sedang melamun"
"Kau itu polos sekali, apakah dengan begini aku tidak akan memarahimu?"
"Mungkin saja"
"Kau ini. Baiklah aku tidak akan marah, tapi ceritakan padaku apa yang kau pikirkan"
"Sebenarnya, aku sempat melakukan hal yang diluar batas pada Arjun"
"Seseorang yang terus saja mengganggumu itu ?"
"Apa yang kau lakukan padanya ?"
"Saat itu aku memergokinya telah mengawasiku selama ini dan saat aku tanya dia justru memojokanku, seolah aku yang telah bersalah dalam hal ini, tapi ada hal aneh saat itu"
"Apa yang aneh ?"
"Bukankah disaat seperti itu seharusnya aku menampar wajahnya karena sangat emosi, tapi justru jantungku berdegup kencang dan tanpa sadar aku malah menciumnya"
"Mo..! Wah, daebak" (apa..! Wah, luar biasa)
"Kau, kenapa malah bersemangat?"
"Tentu saja, dari dulu hingga sekarang aku tidak pernah melihatmu begitu dekat dengan seorang pria dan sekarang kau justru menciumnya duluan, bukankah ini berita luar biasa"
"Aku menyesal sampai sekarang"
"Apa itu sebabnya kau pulang ke Korea ?"
"Bukan"
"Lalu ?"
"Aku merindukanmu"
"Jangan coba-coba merayuku"
"Haha... aku hanya harus kembali ke sini, lagipula Sunbae hanya mengambilkan cuti setengah tahun untukku, selain itu aku merindukan tante"
"Memang sudah seharusnya kau disini"
Ji Ah memang benar, sudah seharusnya aku berada di Korea bersama dengan orang-orang yang mengenal dan menyayangiku, terutama aku juga harus berada disamping tante.
****
[Jakarta, 24 Juni 2014]
"Kenapa Cleo tidak ingin makan apapun, bukankah belakangan ini dia sudah kembali ceria ?"
"Bukankah ini yang kau inginkan ?"
"Apa maksud kakak ?"
"Kau tahu alasan Cleo ceria selama beberapa bulan terakhir karena Soo He bersamanya, dia gadis ceria yang bisa menghibur juga menjaga Cleo dengan baik. Tapi kau malah mengusiknya sampai dia harus kembali ke Korea"
"Masih banyak dokter yang lebih cerdas dari gadis itu, aku bisa carikan untuk Cleo"
"Apa kau pikir semudah itu mencari dokter yang cocok dengan Cleo ?"
"Apa kau meragukan kemampuanku sekarang ?"
"Tentu saja, jika kau benar-benar mampu maka aku tidak harus menyewa dokter Soo He waktu itu"
"Kak bisakah kau berhenti menyebutkan nama gadis itu"
"Bukankah aku benar"
"Baiklah-baiklah kau benar, lalu apa yang harus aku lakukan untuk Cleo"
"Memangnya kau bisa melakukan apa ?"
"Apapun asalkan bisa buat Cleo kembali seperti dulu"
"Cari dan ajak Soo He kembali kesini, apa kau sanggup ?"
Saat itu aku pergi meninggalkan Indonesia karena dua hal. Yang pertama karena memang masa cutiku sudah berakhir dan yang kedua karena sikap Arjun yang selalu curiga padaku.
Saat pertama kali aku memergoki lelaki itu mengawasiku, aku masih bisa menoleransinya, tapi hal itu tetap berlangsung meskipun aku sudah memberinya peringatan.
Sudah Empat bulan sejak aku bekerja dirumah kak Anggita, selalu ada seseorang yang mengawasiku. Itu sebabnya aku memutuskan untuk berhenti dan kembali ke Korea.
Sepertinya sejak aku berhenti bekerja, Cleo kembali murung dan tidak bersemangat. Kak Anggita sangat marah pada Arjun, sampai menyuruhnya untuk membawaku kembali.
Tapi watak Arjun juga keras kepala, pastinya ia tidak akan semudah itu menuruti perintah kakaknya.
"Apa! Kak, apa kau serius dengan ucapanmu ?"
"Tentu saja"
"Aku bisa mengutus orang untuk membawanya kembali kesini, kenapa harus aku yang memintanya langsung"
"Karena kau yang sudah membuat dia pergi maka kau pula yang harus membawanya kembali"
"Pekerjaanku dikantor sangat banyak, belum lagi rapat direksi mengenai proyek hotel ku, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku hanya untuk alasan pribadi"
"Hey apa kau lupa siapa yang membuat masalah ?"
"Aku hanya ingin mengawasinya, tidak berniat mengusirnya siapa sangka dia terlalu baper lalu menyerah dan kembali ke negaranya"
"Baiklah kalau begitu, kau bisa lihat Cleo akan tetap seperti itu dan lebih baik kau selesaikan pekerjaan dikantor, tugasmu menunggu bukan?"
Kak Anggita mengusir adiknya dari rumah dan segera melihat kondisi Cleo. Wanita itu terus membujuk anaknya untuk makan tapi tetap tidak berhasil.
Diluar rumah, Arjun berpikir keras mengenai kata-kata terakhir yang keluar dari mulut sang kakak.
'Baiklah kalau begitu, kau bisa lihat Cleo akan tetap seperti itu dan lebih baik kau selesaikan pekerjaan dikantor, tugasmu menunggu bukan?'
"Gadis itu, kenapa kak Dara selalu berpihak padanya, siapa dia sebenarnya!"
****
[Seoul, 30 Juni 2014]
"Hey... hey... are you okay ?" (Hey, hey, kau tidak apa-apa ?)
"Nugu...se-yo ?" (Kau sia...pa ?)
"Hey jangan pingsan dulu, katakan dimana tempat tinggalmu, hey nona"
####
❤Happy Eid Mubarak❤
Minal Aidzin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin,,, 👐