
"Kami telah mengecek jadwal keberangkatan Jakarta-Seoul tiga hari lalu dan ternyata nona So Hee tidak naik pesawat, tuan"
"Apa kalian sudah periksa CCTV bandara ?"
"Kami sudah memeriksanya, ada seorang pria yang mendekati nona So Hee didepan pintu utama saat itu. Tapi kami tidak melihat nona So Hee diculik maupun dipaksa, justru beliau mengikuti pria tersebut"
"Seorang pria? Kemana mereka pergi ?"
"Mereka pergi ke bagian belakang bandara tuan"
"Apa yang kalian dapatkan ?"
"CCTV disana tidak merekam apapun karena terhalang oleh sesuatu"
"Bagaimana bisa, cepat kalian lacak keberadaan wanita itu melalui ponsel atau apapun, temukan wanita itu secepatnya"
"Baik tuan"
****
Sejak menerima telpon dari tante Yoo Ra malam itu, keesokan paginya Arjun tidak bisa berpikir dengan jernih.
Lelaki itu sedang menghawatirkan keberadaanku. Entah karena ia mempunyai perasaan padaku atau hanya karena tanggung jawabnya pada tante Yoo Ra.
Aku tidak peduli, yang terpenting saat ini adalah keberadaanku diketahui.
Oh Tuhan..
Aku hanya ingin kembali ke Korea dan berkumpul dengan tante.
Dan wanita dihadapanku ini tidak mengerti apa yang aku inginkan saat ini.
"Apa maumu sebenarnya !"
"Jangan marah begitu dokter So Hee, wajahmu yang ayu ini bisa keriput dengan cepat"
"Katakan apa maumu, untuk apa kau mengurungku disini, cepat lepaskan aku!"
"Heh.. kau tidak perlu berlagak sombong dihadapanku, disini hanya aku yang bisa memberi perintah, bukan kau!"
"Kalau begitu katakan, mengapa kau membawa dan menyekapku ditempat ini, sebenarnya apa urusanmu denganku? Bukankah kita belum pernah bertemu sapa sebelumnya!"
"Haha.. kau terlalu terburu-buru, bertanyalah satu persatu, aku pasti akan menjawabnya untukmu"
Wanita ini terlalu banyak berbasa-basi. Sebenarnya aku tidak tahu tujuannya menculikku.
Apa dia mengetahui tentang kekayaan tante dan ingin menjadikanku sandera lalu meminta tebusan pada tante Yoo Ra.
Tidak..tidak..
"Kau ingin meminta tebusan dengan menculikku ?"
"Ha! Apa kau bilang? Tebusan? Haha.."
"Untuk apa kau tertawa?"
"Ternyata kau ini sangat lucu ya, aku pasti akan menyukaimu kalau saja kau tidak mengganggu Arjun ku"
"A-Arjun ?"
"Ya Arjun, kenapa kau begitu terkejut mendengar nama itu ?"
***
Rupanya pada malam dimana Arjun membawaku ke taman belakang rumah (pada episode Sebelas) bertepatan dengan kedatangan Lolita kerumah kak Dara.
Bukankah aneh malam hari seperti itu seorang gadis bertamu kerumah seseorang yang tidak menyukai nya.
Tentu saja tidak bagi gadis itu. Yah, Lolita mendapat kabar dari pengawalnya kalau Arjun telah kembali ke Indonesia dan berada dirumah kakak perempuannya.
Itu sebabnya Lolita langsung datang untuk memastikan kebenaran berita tersebut. Tapi siapa sangka jika malam itu ia melihat hal yang seharusnya tidak terjadi.
"Siapa wanita itu?"
Tanya gadis itu pada dirinya sendiri sebelum pergi meninggalkan pekarangan rumah keluarga Arga.
Keesokan paginya gadis itu kembali kerumah Arga untuk menemui tunangannya.
"Kau selalu bersikap kasar padaku, apa salahku padamu"
"Bukankah aku sudah pernah menjelaskannya padamu, apa kau masih tidak mengerti, nona Lolita Deksa!"
"Tapi aku tetap tunanganmu, dan cepat atau lambat akan menjadi istrimu"
Saat mengatakan kalimat itu tanpa sengaja Lolita melihat kearah dimana aku dan kak Dara berada. Tapi kemudian ia kembali fokus pada Arjun.
Dan kejadian tersebut kembali terulang saat berada dikantor Arjun. Saat gadis itu terjatuh diatas tubuh Arjun. Aku masuk keruangan seolah tengah merusak suasana saat itu.
"So Hee, kau!"
"Ah maaf saya mengganggu, saya hanya ingin mengantarkan makan siang untuk anda, saya letakkan dimeja saja. Kalau begitu saya permisi"
"So Hee tunggu, argh!"
Arjun memaksa bangun dari posisinya meski Lolita masih berada diatasnya. Dia segera mengejarku sebelum ditahan oleh gadis itu.
"Arjun kau mau kemana ?"
"Bukan urusanmu!"
"Tentu saja urusanku, kau adalah calon suamiku. Aku sedang ada di sini dan kau malah ingin mengejar wanita lain"
Dan disaat itulah Lolita menganggap bahwa aku adalah penghalang antara hubungannya dengan Arjun. Padahal jika ditilik kembali, memang sejak awal hubungan mereka tidak baik.
Dasar wanita manja dan keras kepala, selalu menyalahkan wanita lain disaat hubungan dengan pasangannya tidak akur, padahal sudah sangat jelas bahwa kesalahan ada pada hubungan itu sendiri.
**
"A-apa sekarang kau salah paham terhadapku ?"
"Salah paham? Ah.. aku sedikit tidak mengerti maksudmu dokter"
Wanita ini benar-benar sangat pandai bersilat lidah. Dia sangat mengetahui maksud ucapanku tapi tetap saja ingin bermain teka-teki denganku.
"Hh.. kau pasti mengerti maksudku!"
Tawa dari wanita dihadapanku ini seketika terhenti saat aku menegaskan kalimat terakhir.
"Ya! Aku sangat mengerti, dan kau So Hee lebih baik lenyap dari dunia ini supaya tidak ada lagi halangan antara aku dan Arjun"
"Wah, nyalimu lumayan untuk membunuhku, tapi caramu sangat rendahan"
Plaks...
Sebuah tamparan mendarat mulus dipipi kiriku. Ah apo (sakit), pipi chuby ku yang lembut sekarang terasa berdenyut.
"Apa kau ingin membalas tamparanku ?"
Bingo..!!
Wanita ini cukup pintar membaca wajah seseorang. Yah, aku sangat ingin membalas tamparannya barusan bahkan seribu kali lebih pedih. Tapi ini bukan saat yang tepat.
Dengan cepat aku tersenyum padanya. Membuang semua perasaan kesal dan amarah dalam hatiku, untuk menipu wanita licik itu.
"Apa sekarang kau sedang menasehatiku ?"
"Oh tidak, tidak. Aku hanya memberi saran terbaik untukmu"
"Dengar wanita jalang, tidak ada seorangpun didunia ini yang bisa memberi saran mengenai hidupku termasuk dirimu"
"Ah sepertinya aku telah salah menilaimu"
"Apa kau takut padaku sekarang ?"
"Jangan salah paham dulu, yang ku maksud tadi adalah aku telah salah menilaimu sebagai wanita terhormat, tapi kenyataannya kau tidak lebih dari seorang wanita rendahan"
"Jaga mulutmu !"
Kali ini aku telah benar-benar menyulut api. Rupanya emosi wanita itu terlalu mudah meledak hanya dengan sedikit bumbu.
Wanita itu langsung menarik rambutku dengan kuat, sampai aku meringis kesakitan.
Bahkan rasa sakit akibat tamparannya tadi belum selesai berdenyut, dan sekarang rasa sakitku sudah bertambah.
"Sekali lagi kau merendahkanku, aku tidak akan segan lagi untuk membuatmu menderita"
"Lagipula hidupku sudah terlalu menderita, sedikit bantuan darimu mungkin aku akan segera terbebas dari penderitaan itu"
"Wah..wah.. ternyata kau ini sungguh gadis yang sangat tangguh. Aku hanya memintamu untuk menjauhi Arjun tapi kau terlalu banyak omong"
Plakss..
Satu lagi tamparan didaratkan dipipi kananku. Kali ini aku merasakan perih pada sudut bibirku. Sepertinya bibirku sedikit robek akibat gesekan yang terlalu kuat.
Sial..
"Apa kau berencana membunuhku dengan melukai wajah cantikku ini"
"Aha! Bukan ide yang buruk"
"Kau! Ah ayolah, jika kau sangat ingin membunuhku setidaknya beri aku air minum terlebih dahulu, tidakkah kau merasa haus ?"
"Bawakan segelas air untuknya"
"Baik boss"
"Kau cukup pengertian, mengapa tidak mengabulkan permohonan terakhirku"
"Apa itu ?"
"Aku ingin menghubungi seseorang"
"Dan berencana meminta pertolongan untuk kabur dari ku"
"Apakah menurutmu aku sanggup melakukan itu ?"
"Sepertinya ya"
"Aku hanya ingin memberikan kabar pada tanteku di Korea, apa masih tidak bisa ?"
"Baiklah, tapi jika kau berani macam-macam, kau akan tahu akibatnya"
"Baiklah aku janji"
Hari ini mungkin kali terakhir aku bisa bercakap-cakap dengan tante. Aku sangat merindukannya. Aku sangat ingin menemuinya.
"Yeobose-yo" (halo)
"Ne, nugusibnikka?" (Ya, dengan siapa ini?)
"Gomo, na-ya" (tante ini aku)
"Eomona So Hee-ya, jigeum eodi issni? Gomo, neoreul aju geogjeong-hane?" (Ya ampun So Hee, dimana kau sekarang? Tante sangat menghawatirkanmu?)
"Nan gwaenchanh-a, geogjeonghajima! Gomo eottae ?" (Aku baik-baik saja, jangan khawatir! Bagaimana denganmu ?)
"Jigeum eodi issnya?" (Dimana kau sekarang?)
"Gomo-ya bogo sip-eo" ( tante aku sangat merindukanmu)
"Ya neo wae geure ?" (Ada apa denganmu?)
"Ani, gomo-ya naega dol-a wass-eul ttae naega jeil joh-ahaneun sigdang-e gaja uri" (Tante, ayo kita pergi ke restoran favorit ku saat aku kembali nanti)
"Joh-a, neoreul gidarilke" (baiklah, aku akan menunggumu)
"Gomo, dangsin jasin-eul dolbwajuse-yo. Kkeunhneunkke" (tante, jaga dirimu. Sudah dulu ya)
Mendengar suara tante, aku hampir tidak sanggup untuk menahan tangis. Itu sebabnya aku langsung menutup telpon dan mengakhiri percakapan kami.
Dari awal aku memang tidak berniat untuk meminta bantuan, aku hanya merindukan beliau. Kini aku sadar betapa kejamnya dunia, bahkan disaat terakhirku, aku hanya bisa mendengar suara tante melalui ponsel. Aku bahkan tidak diizinkan untuk melihatnya.
Meskipun hanya pembicaraan singkat melalui ponsel, aku tetap berayukur bisa mendengar suara beliau untuk terakhir kali.
Hh...
Aku memang sedikit nakal karena berbicara banmal (tidak sopan) pada tante Yoo Ra, tapi memang begitulah cara kami berkomunikasi. Karena bagiku tante Yoo Ra adalah keluarga yang merangkap menjadi temanku.
"Apa itu artinya kau sedang berpamitan ?"
Disaat yang menyedihkan seperti ini, justru wanita dihadapanku menanyakan sesuatu yang membuat hatiku berdesir.
Berpamitan??
Apakah aku memang melakukannya??
"Kau tidak perlu mengetahuinya"
"Awalnya aku mengira kau hanya turis, tapi ternyata kemampuan kedua bahasamu sangat fasih diucapkan"
"Nona Deksa, apakah dengan cara membunuhku kau bisa mendapatkan Arjun seutuhnya, kau salah. Jika kau benar-benar ingin mendapatkannya, seharusnya kau menunjukkan diri padanya bahwa kau memang pantas berada disampingnya, bukan dengan cara seperti ini. Dan satu lagi, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan lelakimu, saat dibandara aku ingin meninggalkan negara ini selamanya, tapi kau justru menahanku lebih lama disini. Apa kau sungguh akan berhasil"
"Apa maksudmu!"
"Aku sudah menjelaskannya padamu, dan sekarang gunakan otak yang ada dibalik tengkorakmu itu untuk memikirkan baik-baik ucapanku"
"Kurang ajar! Habisi dia"
"Baik bos"
Seorang laki-laki berpakaian rapih mendekat kearahku dan melayangkan sebuah tamparan yang sangat keras sampai aku terjatuh kelantai.
"Argh"
"Apa mulutmu terasa perih setelah mengeluarkan kata-kata yang begitu pedas padaku ?"
"Tidak mungkin"
Tidak berhenti disana, laki-laki itu kembali menjambak rambutku dan menarik tubuhku untuk kembali duduk.
Dan lagi-lagi sebuah tamparan dilayangkan kepadaku. Ah, saat itu aku hanya bisa pasrah. Aku sudah kehabisan tenaga untuk sekedar melawan. Karena pagi ini mereka tidak memberiku makanan. Hanya air putih yang kudapatkan setelah bernegosiasi dengan wanita itu.
Brrakk...