After Met In Korea

After Met In Korea
열 - SEPULUH


[Seoul, 30 Juni 2014]



"Ah excusme, where is doctor So Hee's room ?" (Ah permisi, dimana ruangan dokter So Hee)



"Over there!" (Disebelah sana)



"Ok, thankyou" (ok, terimakasih)



Seorang laki-laki mengenakan kemeja serta jas yang lengkap dengan sepatu pantopel, bertanya ke bagian informasi mencari ruanganku.



Setelah mengetahuinya, lelaki itu langsung pergi. Sedangkan aku baru menyelesaikan sesi konsultasi dengan para orangtua.



Hari yang melelahkan. Sore itu setelah keluar dari ruanganku, aku merasa sedikit pusing, tapi dengan cepat aku mengabaikannya. Lalu segera menuju ke ruang rawat tante Yoo Ra.



Aku melihat beliau terbaring lemah masih tak sadarkan diri. Sudah satu tahun beliau koma, dan belum ada tanda-tanda kesadaran yang ditunjukkan oleh beliau.



Aku terus menunggunya dengan rasa khawatir. Hingga Ji Ah datang dan menyuruhku untuk beristirahat dirumah.



"So Hee, lebih baik kau pulang dan beristirahat, sudah satu minggu kau berada dirumah sakit, bekerja juga menjaga tante Yoo Ra, kau juga perlu istirahat"



"Aku baik-baik saja"



"Aku berkata begini karena khawatir dengan tubuhmu, kau bisa bilang baik-baik saja tapi tidak dengan tubuhmu, lebih baik kau segera pulang biar aku yang akan menjaga tante mu"



"Baiklah-baiklah kau cerewet sekali, kalau begitu aku pulang, dan kau jaga baik-baik tante Yoo Ra, kalau ada perkembangan apapun segera hubungi aku"



"Baik nyonya"



Setelah didesak oleh Ji Ah, akhirnya aku pulang. Apartemen ku tidak jauh dari rumah sakit hanya terhalang sungai Han saja, itu sebabnya aku memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki.



Tapi diperjalanan pulang lagi-lagi aku merasa pusing, tapi kali ini aku melihat dunia seakan berputar-putar dikepala ku, aku tidak tahan untuk menopang tubuhku lagi.



"Hey... hey... are you okay ?" (Hey, hey, kau tidak apa-apa ?)



"Nugu...se-yo ?" (Kau sia...pa ?)



"Hey jangan pingsan dulu, katakan dimana tempat tinggalmu, hey nona"



Saat aku terjatuh aku tidak merasa sakit sama sekali, sekejap aku melihat seseorang menahan tubuhku dengan lengannya yang cukup kekar.



Aku hanya bisa mengatakan satu kalimat sebelum kesadaranku benar-benar hilang.



Setelah aku pingsan, lelaki itu sangat kebingungan untuk membawaku kemana. Akhirnya ia memutuskan untuk membawaku ke sebuah hotel tempat dimana ia menginap.



****



"How is the condition ?" (Bagaimana kondisinya dokter ?)



"She's fine, just fatigue. A pretty rest will make it soon recover" (Dia baik-baik saja, hanya kelelahan. Istirahat yang cukup akan membuatnya segera pulih)



"All right, thank you doctor" (baiklah, terimakasih dokter)



"Then i excuse" (kalau begitu saya permisi)



Setelah mengantar dokter yang memeriksa keadaanku, laki-laki itu kembali kekamar dan menatapku yang tengah tidur sambil bergumam.



'Gadis ini, kenapa aku selalu bertemu dengannya dijembatan, alih-alih dirumah sakit. Dan setiap kali bertemu dia selalu dalam masalah, lebih anehnya lagi kenapa aku selalu menolongnya'



Lelaki itu menggaruk kepala bagian belakang yang sama sekali tidak, seakan tidak percaya dengan sikapnya sendiri padaku.



'Arjun apa kau sudah gila, kalau saja kau tidak menuruti permintaan kakak untuk membawa gadis ini kembali, kau tidak akan terlibat dalam masalah seperti sekarang, argh'



Yah, lelaki yang lagi-lagi menolongku di jembatan adalah Arjun. Seseorang yang telah menjadi musuhku saat di Jakarta, justru telah dua kali menyelamatkan hidupku di Seoul.



Kepribadiannya memang sangat berbeda di dua negara. Saat itu aku masih tidak sadarkan diri. Sampai sinar matahari pagi membangunkan tidur panjangku.



Aku menggeliat meregangkan otot tubuhku tapi saat aku melihat kesamping tempat tidur, ada laki-laki yang tidur sambil menggenggam tanganku.



Siapa dia??


Pikirku



Tak lama, laki-laki itu terbangun dan melihatku sudah sadarkan diri. Aku yang telah melihat wajahnya langsung terkejut tak percaya dengan apa yang ku lihat.



"Kau, sedang apa kau disini ?"



"Apa perlu kau bersikap sekasar itu pada penolongmu"



"P-penolong apa maksudmu, dan ini dimana ?"



"Heh... sudah ku tebak, sama seperti drama, saat kau bangun langsung bertanya 'dimana ini, kau siapa, apa yang kau lakukan disini', apa tidak ada kalimat lain yang lebih rasional"



"Apa yang kau bicarakan ?"



"Kau memang gadis bodoh, sudahlah lupakan saja, kemari aku ingin memeriksa suhu tubuhmu"



Arjun, lelaki itu bersikap tidak seperti biasanya pagi ini. Dia mengoceh seperti perempuan lalu bersikap manis dengan menyentuh dahiku, memeriksa apakah aku masih demam atau tidak.



"demamnya sudah turun"



Eh, apa semalam aku demam ??



"Apa kau menjagaku semalaman ?"



"Apa kau tidak bisa menjaga tubuhmu lebih baik lagi, bukankah aku sudah pernah bilang, sayangi nyawamu sendiri"



"Apa kau sungguh Arjun ?"



"Gadis bodoh"



Laki-laki ini selalu saja memanggilku gadis bodoh, sungguh keterlaluan.



"Kenapa kau selalu memanggilku bodoh"



"Itu cocok untukmu"



"Kenapa sikapmu selalu berubah setiap saat, apa kau punya kepribadian ganda ?"



"Kau ini selain bodoh tapi juga otak udang"



Bukankah bodoh dan otak udang itu sama saja ??



"Apa kau begitu bahagia mengejekku setiap saat"



"Bukankah kau yang barusan mengejekku dengan menuduhku memiliki kepribadian ganda"



"Ah baiklah maafkan aku tuan Arjun"



"Apa kau terlalu miskin hingga harus bekerja sekeras itu, lagipula kau ini seorang dokter pasti gajimu juga besar, bukan ?"



"M-moragu-yo !" (Apa kau bilang!)



What the hell.....!!!!


Lelaki dihadapanku ini tadi bilang apa??


Aku MISKIN



"K-kau bilang apa barusan? Aku miskin !"



"Kalau kau tidak miskin, lalu untuk apa kau bekerja sekeras itu sampai tubuhmu lemah begini"



"Kau itu benar-benar pandai mengejutkan orang"



"Aku hanya memberi pernyataan sesuai apa yang aku lihat, apa itu salah ?"



"Pikirkan sesukamu, aku ingin pulang"



"Apa begini caramu berterimakasih padaku"



"Lalu apa mau mu, cepat katakan"



"Sebaiknya kau bersihkan dirimu lalu turun untuk sarapan, aku akan menunggumu dibawah"



Arjun. Seorang laki-laki yang mempunyai sifat tidak terduga. Sikapnya sangat menyebalkan, tapi terkadang juga sangat lembut seperti saat ini.




Style nya lumayan !



Saat ini aku memakai Stripped pants yang dipadukan dengan kaos lengan pendek bergaris. Karena cuaca hari ini memang sangat cerah karena sudah memasuki musim panas.



"Apa yang ingin kau makan ?"



"Apa saja"



"Okay"



"Uhm... semalam apa kau kebetulan bertemu denganku ?"



"Apa kau berharap aku mencarimu ke Korea dan sengaja mengikutimu ?"



"B-bukan itu maksudku, aku hanya bertanya saja. Sudahlah lupakan"



"Masgiteu-sseuse-yo" (silahkan dinikmati)



"Ne gamsahabnida" (ya terimakasih)



Lelaki itu selalu mengartikan hal yang berbeda setiap kali aku bertanya. Untunglah pelayan mengantarkan makanan disaat yang tepat supaya aku bisa menghentikan pembicaraan tidak jelas ini. Tapi ternyata hal itu tidak terjadi, obrolan pun berlanjut.



"Setengah harapanmu memang benar, tapi setengahnya tidak benar"



"Maksudmu ?"



"Aku datang ke Korea memang untuk menemuimu"



"Apa pertolonganmu di jembatan itu bukan kebetulan ?"



"Mungkin setengahnya benar"



"Bisakah kau bicara lebih jelas agar aku bisa mengerti ucapanmu"



"Kita bahas itu nanti, lebih baik kau habiskan sarapanmu"



Yah sepertinya aku harus menahan rasa penasaranku kali ini, karena cacing dalam perutku juga sudah demonstrasi meminta makanan untuk dicerna bukan hanya air saja.



****



[Jakarta, 01 Juli 2014]



Sementara aku sedang menikmati sarapan bersama dengan Arjun di Korea. Kak Anggita mendapat kabar bahwa adiknya berangkat ke negeri ginseng itu tadi kemarin.



Wanita itu tersenyum setelah menerima telpon lalu kembali kekamar sang anak untuk membangunkannya.



"Cleo, sayang bangun nak sudah pagi lho"



"Hm..."



"Hey, apa Cleo mau bertemu dengan dokter So Hee lagi ?"



"Mauu"



Dengan semangat membara, Cleo langsung membuka mata dan berteriak kegirangan mendengar bahwa ia akan segera bertemu denganku.



"Sekarang Om Arjun sedang menjemput dokter So Hee, jadi Cleo harus mandi dan bersiap, mengerti"



"Baiklah"



Kak Anggita merasa bahagia melihat Cleo tersenyum pagi ini. Betapa bahagianya anak itu saat tahu bahwa aku akan kembali, padahal saat itu Arjun sama sekali belum mengatakan apapun padaku.



'Cleo sangat senang mendengar kau akan membawa So Hee kembali, aku sangat berharap kau berhasil membujuknya, semangat adikku'



Sebuah pesan yang dikirim oleh kak Anggita untuk Arjun sebelum dia menyiapkan sarapan untuk Cleo.



****



[Seoul]



"Jadi, apa tujuanmu mencariku ?"



"Aku ingin minta maaf padamu"



"Apa hanya itu ?"



"Tidak juga"



"Lalu.."



Arjun membawaku kesebuah taman dekat hotel untuk membicarakan sesuatu yang serius, hal itu terlihat dari raut wajahnya yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi candaan.



"Cleo kembali murung sejak kau kembali kesini"



"Ada apa dengannya ?"



"Seperti yang aku bilang, dia kembali murung seperti dulu sejak kau memutuskan untuk berhenti bekerja"



"Lalu bagaimana kondisinya saat ini"



"Kak Anggita mengirim pesan kalau Cleo sangat senang jika kau bisa kembali bekerja sebagai dokter Cleo lagi"



"Aku tidak bisa kembali ke Indonesia untuk saat ini"



"Karena pekerjaanmu dirumah sakit Junkook?"



"Dari mana kau tahu aku bekerja disana dan semalam bagaimana kau bisa bertemu denganku ?"



"Aku sempat mencarimu dirumah sakit tapi tidak ketemu, saat diparkiran tidak sengaja melihat seorang wanita yang mirip sepertimu jadi aku ikuti dan ternyata memang benar itu kau"



"Ah begitu rupanya, maaf telah mencurigaimu sebelumnya"



"It's okay, jadi bagaimana dengan tawaranku ?"



"Seperti yang kau tahu, aku masih bekerja di rumah sakit selain itu tanteku sedang koma saat ini, aku tidak bisa meninggalkannya lagi"



"Koma ?"



"Yah, selama seminggu setelah pulang dari Indonesia, aku bekerja dan menjaga tanteku dirumah sakit berharap beliau akan segera bangun dari koma nya"



"Kalau aku boleh tahu, bagaimana tante mu bisa sampai koma ?"



"Tante mengalami kecelakaan saat akan menghadiri acara wisudaku. Mobilnya terlibat kecelakaan beruntun dan menyebabkan beliau kritis dirumah sakit. Dokter mengatakan otaknya mengalami pendarahan akibat benturan yang mengakibatkan beliau koma"



"Sudah berapa lama ?"



"Sekitar satu tahun"



"Lalu kenapa kau datang ke Indonesia dan bekerja di rumah sakit Jakarta ?"



"Ada urusan yang harus aku selesaikan, itu sebabnya aku tinggal beberapa bulan disana"



"Aku tidak tahu kau mempunyai masalahmu sendiri, maaf karena selama ini aku telah salah menilai mu dan selalu curiga padamu"



Disaat seperti ini aku seperti memiliki seseorang yang dekat denganku, seseorang yang bisa menemaniku melewati semua masalah dalam hidupku.



Seseorang yang bisa menghapus air mataku, dan memegang tanganku saat aku akan terperosok kedalam jurang penderitaan.



"Hey kenapa menangis ?"



"Ah maaf, air mataku jatuh begitu saja, aku permisi ke toilet dulu"



Saat aku ingin beranjak dari kursi, Arjun menahan pergelangan tanganku dan dengan reflek aku berbalik arah. Tanpa diduga lelaki itu memberikan pelukan yang membuatku merasa sangat nyaman. Dan tanpa kusadari air mataku justru mengalir lebih deras.



Akankah Arjun adalah seseorang yang selama ini aku harapkan sebagai sosok pelindungku.



Ataukah kejadian ini hanya sebagai belas kasihan lelaki itu akan permasalahan yang tengah terjadi padaku.



Semua ini tergantung pada takdir yang Tuhan berikan pada kami.