
"Aku datang"
"Soo He, kau kah itu ?"
"Hm"
"Kenapa kembali lagi, apa yang terjadi ?"
"Tante, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu ?"
"Ada apa, sepertinya ada hal penting ?"
"Tapi tante harus janji padaku jawab pertanyaanku dengan jujur"
"Ada apa denganmu ?"
"Tante janji dulu!"
"Baiklah, Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu pada tante"
"Apa maksudmu ?"
"Tante, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku Sepuluh tahun yang lalu"
"Kenapa tiba-tiba kau membahas kejadian yang sudah berlalu"
"Tante selama ini aku merasa aneh dengan diriku sendiri, aku sangat ketakutan jika ada api didepan mataku, bahkan jika ada anak yang ingin konsultasi karena luka bakar pun aku tidak sanggup melihatnya, tapi perasaanku sangat berbeda setelah api itu padam menyisakan puing dan abu, aku justru terhipnotis dan tidak merasa takut sedikitpun, dan apa yang aku alami ini pasti ada hubungannya dengan masa laluku, aku benar kan!"
"Soo He, sejak kapan kau mengalami hal seperti itu ?"
"Sudah sejak lama"
"Kenapa kau tak pernah memberitahuku"
"Aku takut tante akan khawatir, karena itu akan membuatku lebih khawatir"
"Adalah hal wajar jika aku khawatir padamu"
"Baiklah, sekarang tante jawab pertanyaanku, apa yang sebenarnya terjadi dengan masa laluku"
"Soo He, aku tidak ingin membahas hal ini"
"Tante sudah berjanji padaku"
"Tante takut kebenaran ini akan melukaimu, jika kau sampai mengetahuinya"
"Aku janji akan menerimanya, mau itu baik ataupun buruk"
"Tapi..."
"Tante aku mohon padamu, beritahu aku yang sebenarnya"
Hari itu kejadian yang sama terulang kembali, saat sedang dijalan pulang dari rumah tante Yoo Ra aku melihat sebuah rumah yang telah hangus, saat aku bertanya rupanya kemarin telah terjadi kebakaran didaerah itu.
Aku kembali terpaku melihat rumah yang telah berubah menjadi putih abu itu dengan fokus seakan aku terhipnotis.
Tapi anehnya, saat aku melihat kebakaran yang terjadi pada malam natal tahun lalu, aku sangat ketakutan, seakan aku ikut terbakar dalam kobaran api. Saat aku kembali tersadar, aku segera kembali ke rumah tante Yoo Ra untuk menanyakan hal itu.
Tante Yoo Ra akhirnya menceritakan semuanya padaku, dari mulai rencananya datang ke Indonesia untuk bertemu keluargaku, sampai dia menemukanku tergeletak di bawah puing.
Aku sangat terkejut saat tante Yoo Ra menyebutkan hasil penyelidikan polisi yang mengatakan bahwa kebakaran itu terjadi akibat korek api yang menyala dan mengenai hordeng dapur kemudian membakar seluruh rumah.
Seluruh anggota keluarga pun tidak sempat menyelamatkan diri, karena jalan keluar sudah terbakar api yang dengan cepat merambat keruang tamu.
Dan tetangga sebelah rumahku memberi kesaksian bahwa sebelum kejadian tersebut aku sempat meminjam korek api, karena kami tidak sempat membelinya.
"A-apa aku yang telah menyebabkan kebakaran itu terjadi ?"
"Polisi menduga hal tersebut ada kaitannya, namun mereka tidak bisa melanjutkan penyelidikan karena polisi menemukan kau telah tewas terbakar bersama orangtua juga adikmu"
"Tapi bagaimana caranya aku bisa selamat dan terbangun di rumah sakit"
"Aku yang menemukan dan membawamu ke negara ini"
"La-lalu siapa yang polisi temukan sebagai aku ?"
"Aku juga tidak tahu hal itu, karena setelah pemakaman selesai, aku kembali kerumah itu dan melihatmu disana, dan langsung membawamu kesini untuk menjalani pengobatan"
Mendengar hal itu, aku langsung menangis dengan penyesalan yang sangat mendalam, tante Yoo Ra berusaha menenangkan ku tapi tidak bisa, aku terus memberontak menyalahkan kecerobohanku dimasa lalu.
Melihatku, tante Yoo Ra terus mencoba berbicara denganku tapi percuma karena aku terlalu fokus pada ceritanya, pada kebodohanku sehingga menyebabkan orangtuaku meninggal.
Aku segera berlari keluar rumah tanpa tahu arah yang akan aku tuju. Tante Yoo Ra mengejarku, tapi tidak sanggup. Akhirnya ia mengutus pengawal untuk mencariku.
Satu bulan setelah itu aku terus meratapi kesalahanku, sampai akhirnya aku tersadar bahwa aku melakukan hal yang sia-sia.
Tidak ada gunanya menyesali semua hal itu sekarang. Aku memutuskan untuk mencoba memperbaiki kesalahanku dahulu, dan memulai aktivitasku seperti semula, melanjutkan pendidikan Magister yang ku ambil setelah menyelesaikan magangku Dua tahun yang lalu.
Tante Yoo Ra mengalami kecelakaan saat akan menghadiri acara wisudaku. Mobilnya terlibat kecelakaan beruntun dan menyebabkan beliau kritis dirumah sakit.
Dokter mengatakan otaknya mengalami pendarahan akibat benturan yang mengakibatkan tante Yoo Ra koma.
Sudah Enam bulan dari kecelakaan tersebut belum juga ada tanda-tanda tante Yoo Ra akan tersadar. Park Yoo Sik-dokter yang bertanggung jawab mengatakan padaku bahwa tante Yoo Ra akan baik-baik saja. Aku memercayakan tante Yoo Ra padanya, sementara aku ingin pergi ke Indonesia dimana keluargaku dimakamkan.
Aku berangkat dari Bandara Internasional Incheon pada sore hari, karena siangnya aku harus mengurus cuti ku dirumah sakit selama beberapa hari untuk mengunjungi Almarhum keluargaku.
Sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta aku langsung mencari taksi menuju kediaman lama keluargaku yang sebelumnya pernah diberikan tante Yoo Ra padaku. Disana aku melihat bangunan yang cukup sederhana berwarna hitam, dengan tiang yang rusak parah akibat api.
Tante mengatakan ia sengaja tidak membiarkan rumah itu di renovasi karena ingin selalu mengenang Almarhum kakak juga istri dan anaknya. Itu sebabnya bangunan tersebut masih ada didepan mataku saat ini.
Setelah mengelilingi rumah dan menguras air mataku, malam itu aku langsung menuju hotel untuk beristirahat hingga pagi tiba. Karena aku harus mencari letak makam kedua orangtua juga adikku.
****
"Ayah, maaf karena butuh waktu lama untukku bisa mengunjungimu seperti ini"
Aku sangat merindukan belaian kasih kedua orangtuaku. Ingatanku memang belum sepenuhnya pulih. Hanya ingatan mengenai betapa hangatnya sosok ayah dan ibu ku, juga betapa lucu tingkah adikku. Serta beberapa kilasan saat aku meminjam korek api pada tetangga sebelah rumah.
Ternyata apa yang dikatakan tante Yoo Ra memang benar. Aku sempat meminjam korek api pada mereka. Tapi aku sama sekali tidak mengingat kejadian setelahnya. Kepala ku sangat sakit saat aku berusaha untuk mengingat kejadian tersebut.
"Ayah, maafkan Nayla. Kalau saja dulu Nay gak melakukan hal bodoh seperti itu, mungkin kita masih bisa berkumpul bersama. Maafkan Nayla, ayah"
Air mataku tak bisa terbendung dan meluncur bebas begitu saja di pipiku dengan derasnya. Bahkan langitpun ikut merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Hujan turun begitu deras, ini lebih baik supaya aku bisa menangis lebih keras dan berteriak untuk melampiaskan rasa penyesalanku.
Aku melihat ada Tiga makam disamping makam ayahku, ada makam ibu, Dimas-adikku, dan sebuah makam bertuliskan nama Nayla Putri di batu nisannya. Apakah aku sungguh telah dianggap mati oleh negara ini.
Tapi, jika polisi sungguh menemukan jasadku saat itu, siapa dia. Siapa yang menggantikan posisiku dan mati terbakar bersama keluargaku. Dimana aku saat kejadian tersebut.
"Argh... kenapa aku masih tidak bisa mengingatnya!"
Rasa penasaranku akan cerita hidupku dimulai dari sini. Aku segera menghubungi Sunbae untuk meminta tolong supaya dia mengajukan cuti beberapa bulan untukku. Karena aku ingin mencari tahu lebih banyak hal mengenai kejadian ini.
"apa yang kau bicarakan, kenapa kau ingin tinggal lebih lama disana ?"
"ada suatu hal yang ingin aku urus"
"ada urusan apa kau disana, bukankah hanya mengunjungi makam kedua orangtua juga adikmu saja"
"ini sangat penting bagiku, jadi aku minta tolong padamu Sunbae"
"Soo He, aku tidak ingin kau lebih tersakiti jika mengetahui banyak hal seperti yang kau bilang padaku, juga bagaimana dengan tantemu, apa kau akan meninggalkannya ?"
"Sunbae apa yang kau bicarakan, jelas aku tidak akan meninggalkan tanteku, aku hanya ingin mengurus beberapa hal disini, tolong aku yah, kemungkinan aku juga ingin bekerja disalah satu rumah sakit disini supaya aku lebih mudah mencari informasi lebih banyak"
"baiklah, tapi kau harus berjanji padaku, jaga dirimu baik-baik dan selalu kabari aku apapun yang terjadi, kau mengerti"
"OK arraseo"
****
Aku berencana akan tinggal selama beberapa bulan, aku membutuhkan sebuah apartement untuk ku tinggali sementara. Juga memikirkan cara supaya bisa bekerja dirumah sakit. Aku merencanakan semuanya dengan matang, sampai akhirnya aku diterima disalah satu rumah sakit terbesar di Jakarta, R.S. dr. Cipto Mangunkusumo sebagai dokter anak.
"Dokter Soo He ada kunjungan untukmu"
"Baiklah persilahkan masuk"
Dahulu aku selalu bertanya-tanya, bagaimana bisa aku berbicara bahasa Indonesia dengan sangat lancar, dan justru tidak bisa berbahasa korea sama sekali. Dan akhirnya semua itu terjawab sekarang.
****
"Bukankah kau yang ingin melakukan bunuh diri Tiga tahun yang lalu ?"
"Apakah anda mengenal saya, pak ?"
Apakah ini takdir dari Author supaya aku bertemu dengan lelaki itu lagi saat ini, ditempat ini dan diwaktu yang sangat tidak pas ini.