
"Jadi bagaimana, apa kakak mau ?"
Cleo terus saja menanyakan hal yang sama secara berulang sampai aku menjawabnya. Untungnya kak Anggita bisa melihat bahwa aku tidak bisa menjawab, jadi dia mengalihkan perhatian Cleo sementara.
"Cleo sudah, dokter So Hee kan banyak pekerjaan lain, tanyakan hal itu lain kali saja"
"Tapi mah.."
Saat Cleo ingin melanjutkan seorang perawat masuk dan memanggilku.
"Permisi dokter So Hee, Prof. Lee memanggil Anda ke ruangannya"
"Baiklah, terimakasih perawat Min"
"Kakak aku kan belum selesai bicara"
"Maafkan kakak yah, kakak harus pergi sekarang kalau tidak nanti kakak bisa dimarahi, apa Cleo mau kalau kakak dimarahi ?"
"Tidak"
"Kalau begitu boleh kakak pergi ?"
"Iya kakak boleh pergi"
"Nanti setelah selesai kakak akan kembali kesini okay"
"Ok"
"Kak Dara aku pergi dulu"
"Ya"
Entah ada apa profesor Lee mencariku, tapi apapun kepentingannya aku senang karena memiliki alasan untuk menghindar dari pertanyaan mematikan itu.
****
[Jakarta, Indonesia]
"Bagaimana dengan informasi selanjutnya"
"Sudah dikonfirmasi bahwa informasi tersebut benar, tuan"
"Baiklah, kau boleh pergi"
"Permisi tuan"
**
'Paman apa benar semua informasi yang kudapatkan baru-baru ini bahwa kematian keluarga Nayla ada hubungannya denganmu dan juga Komisaris ?'
'Aku hanya menjalankan tugasku sebagai bawahan ayahmu, Arjun'
'Tapi bukankah paman sangat tahu betapa aku sangat menyukai gadis itu'
'Itu sudah terjadi sangat lama, tidak baik kau selalu memendam rasa penyesalan seperti itu'
'Penyesalan! Apa kau tahu betapa tidak berguna nya diriku selama ini, paman'
'Arjun masa depanmu masih sangat panjang, paman mohon lupakanlah masa lalu, relakan gadis itu pergi dan lanjutkan hidupmu'
'Cih, melanjutkan hidup katamu! Paman, aku berjanji jika aku menemukan sebuah petunjuk sekecil apapun dan kalian terlibat aku tidak akan pernah tinggal diam'
'Arjun tenanglah!'
'Tenang! Gadis yang ku cintai mati dengan tidak wajar sebelas tahun lalu bahkan sampai saat ini aku masih belum menemukan petunjuk apapun dan sekarang kau menyuruhku untuk tenang! Paman, apa kau tahu aku selalu menganggapmu sebagai keluargaku tapi kau memerlakukan ku seperti ini dan justru bersekongkol dengan ayahku sendiri untuk menyingkirkan gadisku, dan kau menyuruhku untuk tetap tenang ha!'
**
Arjun sempat mengingat percakapannya dengan orang kepercayaan dari ayah kandungnya, Firmansyah.
"Apa yang telah kau lakukan selama ini tanpa sepengetahuanku!"
Terlihat wajah Arjun memerah seperti meredam emosi. Setelah menemui pengawalnya, lelaki itu langsung pergi menemui sang Ayah.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan pada keluarga Nayla sebelas tahun yang lalu ?!"
"Kau boleh pergi"
Kedatangan Arjun yang tiba-tiba membuat Jerry Seto harus menunda pembicaraannya dengan pengawal pribadinya.
"Baik tuan"
Setelah pengawal itu pergi, mereka langsung melanjutkan obrolan yang cukup serius.
"Apa maksudmu ?"
"Pertanyaanku sudah sangat jelas, bukan. Dan lagi apa kau tidak memiliki rasa penyesalan sedikitpun atas apa yang telah kau lakukan!"
"Percayalah pada apa yang ingin kau percayai"
"Ck, sudah ku duga dalang dibalik kematian Nayla ada padamu, kau yang telah membunuh gadis yang aku cintai sama seperti kau membunuh ibuku"
"Apa yang kau inginkan dariku sebenarnya"
"Sebuah alasan"
"Tidak ada"
"Apa maksudmu tidak ada"
"Apa kau tidak mengerti maksudku"
"Berhenti main-main denganku. Kenapa kau selalu memberiku alasan untuk lebih membencimu"
"Dengar baik-baik Arjun, aku tidak ada hubungan apapun dengan kejadian yang menimpa keluarga Dirga dan untuk ibumu itu adalah sebuah kecelakaan, apa kau mengerti!"
"Kecelakaan? Siapa yang tahu jika kau yang membuat semuanya seperti kecelakaan sama seperti yang kau lakukan pada keluarga Nayla"
"Lebih baik kau segera lupakan gadis yang sudah tidak ada didunia ini dan fokus dengan pernikahanmu"
"Cih, pernikahan katamu! Aku tidak akan pernah menerima pernikahan itu"
"Arjun!"
Pertengkaran kembali terjadi diantara ayah dan anak ditengah malam seperti ini.
Yah, Arjun sampai di Indonesia larut malam. Setelah sempat menemui orang kepercayaan Jerry Seto dan juga berdiskusi dengan pengawalnya mengenai informasi yang didapatkan, lelaki itu langsung menghampiri sang ayah dan meminta penjelasan.
Siapa sangka masalah ini justru melebar pada kejadian masa lalu yang terjadi pada ibu kandungnya.
"Apakah kebencianmu padaku sedalam itu, Arjun"
****
"Argh, kalau sampai aku menemukan bukti keterlibatanmu dalam insiden kebakaran itu, aku tidak akan pernah melepaskanmu Jerry Seto!"
Arjun kembali kerumahnya dan membanting semua benda yang ada di meja karena merasa frustasi dengan kejadian hari ini.
Siapa yang tidak akan jadi hilang akal jika ayah kandungnya sendiri terlibat dalam kasus kebakaran yang menewaskan seorang gadis yang amat dicintai oleh lelaki itu.
Setelah meluapkan emosinya, lelaki itu terduduk disamping kasur sambil meremas rambutnya dengan sembarang seakan tidak percaya dengan apa yang ia ketahui hari ini.
Arjun terduduk sambil terus menyebut dirinya tidak berguna. Ia menatap kosong kearah balkon kamarnya. Ingatannya kembali ke masa lalu dimana keluarganya masih sangat harmonis.
***
[Jakarta, 13 November 2003]
"Arya bawakan bunda mentega"
"Siap bunda"
Terlihat Arjun berlari kedalam rumah untuk mengambil mentega seperti yang diminta oleh sang ibu.
Tapi saat dipintu masuk ia bertabrakan dengan sang ayah yang akan keluar dengan membawa semangkuk penuh salada.
"Hey jagoan hati-hati kau bisa terjatuh"
"Maaf ayah, tadi Arya buru-buru untuk mengambil mentega pesanan bunda"
"Hm"
"Kakak sudah selesai menata piringnya ?"
"Hampir selesai ayah"
"Carikan tempat untuk ayah taruh salada ini dimeja"
"Okay. Nah letakkan disini saja"
"Cepat bereskan lalu ambil minuman dikulkas ya"
"Siap bos"
"Anak pintar, ayah akan bantu bunda mu dulu"
"Ini bunda"
"Terimakasih sayang"
"Apalagi yang bisa Arya lakukan bunda ?"
"Arya bisa bantu kak Dara tata meja"
"Ok siap ayah"
"Giliran ayah nih yang bantuin bunda"
"Hm.. ayah bisa nyalakan apinya dulu supaya jadi arang"
"Siap nyonya Seto"
Saat itu keluarga kecil Arjun sedang mengadakan BBQ dihalaman rumah. Meskipun Arjun sudah bukan anak kecil lagi tapi ia selalu merasa seperti anak kecil saat dirumah.
Kedua orangtua yang sangat menyayanginya sebagai putra bungsu membuat Arjun tenggelam dalam kasih sayang.
Tidak ada keributan apapun saat itu, hanya ada tawa bahagia juga ketentraman.
Saat malam hari tiba, Arjun meminta izin untuk main kerumahku pada ayahnya. Sempat dilarang karena hari sudah malam, dan saat itupun ayah Arjun juga ayahku sedang tidak berhubungan baik.
Ayah Arjun hanya khawatir jika saja ayahku melampiaskan kemarahan pada putranya akibat hubungan mereka yang sedang retak.
Tapi Arjun adalah anak yang keras kepala, itu sebabnya ia tetap pergi meskipun telah dilarang.
Disisi lain, aku dan keluargaku sedang mengadakan pesta ulang tahun sederhana untuk ibuku.
"ayah, apa aku terlihat cantik ?"
"tentu saja, putriku Nayla selalu terlihat cantik, benarkan bunda ?"
"bahkan bunda kalah cantik dengan putrinya sendiri"
"bagiku, bunda lebih cantik daripada kakak"
"benarkah ?"
"jadi maksudmu, kakak jelek begitu ?"
"benar, bleee"
Keluarga kami pun saat itu sangat harmonis. Hanya ada kebahagiaan disekitar kami. Saat sedang berkumpul terlihat Arjun memasuki pelataran rumah kami. Saat itu aku sangat senang melihat kedatangannya.
Aku langsung mengajaknya bergabung bersama keluargaku. Dan ayahku juga tampak biasa saja, seperti tidak ada yang terjadi dengan ayah Arjun.
Hari semakin malam, orangtuaku dan adikku masuk kedalam rumah karena cuaca semakin dingin. Sedangkan aku tetap berada di halaman bersama dengan Arjun.
"Nay, Arya punya sesuatu buat Nay"
"Apa itu ?"
Arjun mengeluarkan sebuah cincin perak dengan ukiran nama Nayla didalamnya dan memberikannya padaku.
"Tapi ini terlalu besar di jari Nay"
"Supaya bisa dipakai sampai dewasa"
"Berarti sekarang Nay belum bisa pakai dong!"
"Uhm.. bisa, gini aja"
Mendengar pertanyaanku, Arjun lalu menyimpan cincin perak tersebut di rantai kalung milikku supaya aku tetap bisa memakainya sebagai kalung.
"Cantik, Nay suka"
"Nay, Arya janji kalo nanti Arya sudah besar, Arya bakalan nikahin Nayla pakai cincin ini"
"Arya janji ya"
"Janji"
Setelah janji yang kami ucapkan malam itu, Arjun terus berada disampingku disaat apapun. Entah aku sedang dalam kesulitan maupun sedang bahagia, lelaki itu selalu berada disisiku.
Selama lima tahun ia menjaga janjinya padaku, sampai sebuah insiden terjadi dan untuk pertama kalinya Arjun tidak berada disisiku disaat aku benar-benar membutuhkannya.
"Tuan muda maaf kami tidak bisa menjemput nona Nayla, karena telah terjadi kebakaran disana"
"Apa! Lalu bagaimana dengan Nayla dan keluarganya?"
"Saya telah menerima informasi kalau seluruh anggota keluarga tewas akibat kebakaran tersebut"
"Tidak mungkin, Nay.. Nayla gak mungkin meninggal, Nayla"
Arjun mendapatkan kabar bahwa terjadi kebakaran dirumahku. Dan saat ia mengetahuinya semuanya sudah terlambat.
Tak lama setelah kejadian tersebut, ibu Arjun meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Sejak saat itu ia menjadi lelaki yang dingin dan jarang bicara. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga dua orang yang sangat ia sayangi. Dan saat itu ia hanya bisa menyalahkan ayahnya mengenai kecelakaan yang terjadi pada sang ibu hal itu berlanjut sampai sekarang.
***
"Argh..!"
Arjun kembali meluapkan emosinya dengan berteriak. Sepertinya rasa bersalah yang ia pikul sendiri sejak sebelas tahun lalu bertambah saat mengetahui jika ayahnya lah dalang dibalik kematian keluargaku.
'Maafin Arya mah, maafin Arya yang gak bisa jagain mamah. Mah, Arya gak kuat hidup sendirian tanpa mamah disini, kenapa mamah harus ikut pergi bersama gadis yang Arya cintai mah'
Arjun menatap bingkai foto sang ibu yang mengenakan gaun putih sambil membawa buket bunga dipangkuannya, sangat cantik.
'Nay, maafin Arya yang gak bisa nepatin janji buat Nay. Apa Nay bisa lihat Arya dari sana sekarang. Arya rindu sama Nayla, kenapa Nay harus pergi ninggalin Arya'
Lelaki itu menatap sebuah bintang yang bersinar dengan terangnya dari balkon kamarnya. Malam itu Arjun kembali menangis setelah sekian lama sejak terakhir kali saat ibunya meninggal.
****
[Seoul, Korea]
"Sayang, kenapa kau menangis hm"
"Menangis? Aku tidak menangis"
"Lalu kenapa meneteskan air mata ?"
"Aku juga tidak tahu, tante. Rasanya seperti hatiku terasa sakit sampai aku ingin menangis"
"Apa ada masalah ?"
"Tidak ada, hanya saja.."
"Ceritakan apapun itu pada tante, supaya bebanmu berkurang, hm"
Saat itu aku tidak tahu kenapa aku bisa menangis. Padahal tidak ada kejadian apapun yang bisa menjadi alasanku meneteskan air mata malam itu.
Tapi entah kenapa hatiku seperti merasa sakit. Apakah seseorang sedang memikirkanku saat ini. Apakah aku telah melukai seseorang sampai membuatnya bersedih. Tapi siapa ??
Aku segera menceritakan apa yang selama ini aku rasakan pada Arjun dari awal bertemu dengannya sampai kami berpisah.
Aku tidak tahu kenapa tapi saat ini yang kupikirkan hanyalah laki-laki itu. Ada apa sebenarnya dengan Arjun. Apa dia baik-baik saja disana ??
Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi sekarang, seseorang tolong beritahu aku!!!