After Met In Korea

After Met In Korea
스물하나 - DUA PULUH SATU


"Apa mulutmu terasa perih setelah mengeluarkan kata-kata yang begitu pedas padaku ?"



"Tidak mungkin"



Brraaakkks....



Suara bising datang dari arah pintu membuat kami semua menoleh kearahnya.



"Arjun, kau ..!"



"Lolita apa yang kau lakukan!"



"Arjun darimana kau tahu tempat ini, a-aku bisa jelaskan"



"Dasar wanita tidak tahu diri, kau pikir bisa mengancamku dengan cara seperti ini ha! Cepat tangkap dan bawa mereka semua!"



"Baik tuan"



Ternyata yang mendobrak pintu adalah Arjun. Laki-laki yang selalu disebutkan oleh Lolita. Yah, dialah wanita yang menculik dan menyekapku digudang ini.



Dia mengira jika Arjun menyukaiku. Hah, sungguh ironis.



Aku sempat melihat matanya saat laki-laki itu berhasil masuk ke gudang. Terlihat sangat merah penuh amarah, tapi tatapan itu berubah menjadi khawatir juga terdapat rasa bersalah saat menghampiriku.



"So Hee, maaf karena aku datang terlambat"



Aku tidak bisa membalas permintaan maafnya karena terlalu lemah.



Bayangkan saja jika kalian disiksa habis-habisan dan masih mempunyai tenaga untuk berbicara, wah itu sungguh menakjubkan. Aku saja tidak bisa membayangkan hal itu.



Back to the topic...



Hanya senyuman yang aku berikan sebagai balasan sebelum aku hilang kesadaran.



Arjun langsung membawaku kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Sedangkan para penjahat termasuk Lolita dibawa kerumah Arjun untuk menunggu perintah selanjutnya dari laki-laki itu.



****



"Dok, bagaimana keadaannya ?"



"Luka lebam diwajahnya diakibatkan oleh pukulan, sudut bibirnya sedikit robek, dan tidak ada luka lain yang membahayakan sejauh ini"



"Tapi kenapa dia masih belum sadar ?"



"Dia pingsan karena tubuhnya sangat lemah"



"Kapan dia akan sadar?"



"Dia hanya butuh istirahat, dan akan sadar secepatnya"



"Baik, terimakasih dokter"



"Kalau begitu saya permisi"



Aku ditangani di ruang gawat darurat. Tapi saat tersadar aku sudah berada dalam kamar pasien.



"So Hee kau sudah sadar ?"



"Kenapa aku bisa ada disini ?"



"Aku yang membawamu kesini"



"Bukan itu, kenapa aku bisa ada dikamar pasien, aku hanya perlu obat merah, awh ssshh"



Suara rintihan terdengar dari mulutku akibat terlalu banyak bicara. Ya Tuhan, kini seluruh wajahku terasa berdenyut. Sebelum aku melihatnya, sudah dipastikan jika wajahku menjadi buruk rupa akibat lebam.



Oh my god..



"Jangan terlalu banyak bicara atau kau akan terus merasa sakit"



"Arjun, siapakah aku bagimu ?"



"Tentu saja seorang manusia, kau bukan hantu wanita. So Hee apa kepalamu terbentur sesuatu, aku rasa kau harus menjalani proses pengecekan dibagian kepala, aku takut kau menjadi bodoh karena ada penyumbatan diotakmu"



"Kau..!"



"Sudahlah lebih baik kau istirahat, aku akan pergi ada sesuatu yang harus aku urus"



"Hm"



"Anak pintar, aku akan kembali sore nanti, pastikan kau menghabiskan makananmu"



Laki-laki itu sebenarnya mengerti dengan pertanyaanku tadi hanya saja dia tidak siap mendengar jawabannya sendiri.



Arjun masih menyangkal dengan perasaan yang ia miliki untukku, So Hee.



Dia akan berpikir bahwa dirinya akan menghianati cinta Nayla jika sampai ia jatuh cinta pada So Hee. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Arjun mencintai wanita yang sama dua kali.



Dan saat itu aku pun tidak mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.



****



Disisi lain terjadi sebuah keributan dikediaman Arjun.



"Wah, apa yang seharusnya aku lakukan untuk memberi pelajaran pada ahli waris tunggal keluarga Deksa ?"



"Arjun aku mohon ampuni aku, jangan katakan hal ini pada ayahku, beliau akan sangat marah"



"Apa kau pernah memikirkan perasaan gadis yang kau siksa dengan kejam seperti itu, ha!"



"Dia hanyalah turis biasa yang kebetulan menjadi dokter pribadi Cleo, apa istimewa nya gadis itu"



"Se-istimewa apa gadis itu tidak ada urusannya denganmu. Urusanmu saat ini adalah menerima hukuman untuk menebus semua dosa yang kau lakukan pada gadis itu"



"Arjun aku mohon lepaskan aku"



"Baik aku akan melepaskanmu"



"Kau masih baik padaku ?"



"Aku akan melepaskanmu, setelah ayahmu datang kemari"



"Arjun apa yang kau lakukan!"



Setelah mengatakan apa yang seharusnya gadis itu ketahui, Arjun pergi ke teras untuk menghubungi seseorang.



"Halo, tuan Deksa yang terhormat"



'Apakah aku tidak salah lihat, calon menantuku menghubungiku secara langsung, ini adalah sebuah keajaiban yang jarang terjadi'




'Apa ini urusan mendesak ?'



"Tentu saja, apa masih perlu dipertanyakan ?"



'Baiklah, tentu saja aku akan datang'



"Kalau begitu sampai jumpa dirumahku, tuan Deksa"



Arjun langsung menutup telepon dan tersenyum miring, membayangkan reaksi apa yang akan diberikan oleh Deksa Haryadi saat mengetahui bahwa puteri tunggalnya memainkan cara kotor untuk mendapatkan sebuah peluang hanya demi cinta. Tidak, lebih tepatnya demi seorang laki-laki.



Arjun sangat mengetahui sifat dari tuan Deksa, beliau mungkin licik dan bersiasat dalam hal bisnis, tapi diluar itu dia hanyalah seorang kepala keluarga yang jujur dan bersih. Jadi kejadian seperti ini akan sangat melukai harga dirinya.



"Pertunjukan akan segera dimulai"



Sekitar dua puluh menit berlalu dan sebuah sedan hitam memasuki pekarangan rumah Arjun. Lelaki itu hanya tersenyum sinis sambil bergumam lalu berjalan kedepan untuk menyambut tamunya.



"Selamat datang dikediaman saya, bapak Deksa"



"Kau tidak perlu menyambutku seperti ini, calon menantuku"



"Sudah seharusnya, mari masuk kedalam"



Saat memasuki ruang tamu tuan Deksa merasa ada yang aneh, terlihat seorang wanita sedang duduk terikat diatas karpet, sepertinya beliau mengenali wanita itu.



"Lolita!"



"Papi"



"Sayang ada apa denganmu, kenapa kau sampai diikat seperti ini"



"Pi"



"Arjun apa maksud semua ini, apa ini yang ingin kau tunjukan padaku, apa kau sudah gila! Kau lupa dengan apa yang kita bicarakan kemarin? Cepat lepaskan puteriku!"



"Lepaskan dia"



"Baik tuan"



"Tuan Deksa tidak perlu emosi seperti ini, mari kita bicarakan baik-baik"



"Bicara baik-baik katamu! Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi"



"Oh ya, kalau begitu apa kau akan memutuskan pertunangan ini ?"



"Tentu saja, semua investasi grup Deksa akan saya tarik dari perusahaan Anda"



"Baiklah kalau itu mau anda, tapi saya juga menginginkan jika puteri anda masuk dalam penjara"



"Apa maksudmu? Atas dasar apa kau ingin menyeret puteriku kedalam tahanan ?!"



"Lolita, kau yang akan memberitahu semua pada ayahmu atau aku yang akan menyampaikannya ?"



"Arjun ku mohon"



"Baiklah aku anggap kau lebih menyukai pilihan kedua. Puteri kesayangan anda telah melakukan penculikan, penyekapan, penyiksaan terhadap wanita bernama Yoon So Hee, seorang dokter dari Korea yang notaben nya adalah dokter pribadi dari keponakan saya. Apakah tuduhan itu masih belum mendasar atau haruskah saya masukkan satu hal lagi yaitu percobaan pembunuhan"



"Arjun kau jangan melewati batas"



"Anda yang seharusnya mengajari tata krama pada puteri anda bapak Deksa yang terhormat! Apakah anda mengajarkan pada puteri anda untuk melecehkan wanita lain, apa begitu!"



"Lolita apa benar yang dikatakan oleh Arjun barusan!"



"Papi"



"Jawab papi!"



"Y-ya"



Plaks...



Sebuah tamparan yang berasal dari tangan sang ayah berhasil mendarat dipipi kiri gadis itu. Sedangkan Lolita hanya bisa menangis sambil memohon ampun pada ayahnya.



"Apakah papi mengajarkan hal rendahan seperti itu padamu"



"Ampun pi, Lolita minta maaf"



"Apakah dengan kata maaf bisa menghilangkan semua rasa sakit yang diderita So Hee akibat ulahmu"



"Arjun, aku minta maaf padamu, aku dibutakan oleh cinta itu sebabnya aku melakukan semua ini"



"Bawa mereka semua ke penjara"



"Baik tuan"



"Tuan Deksa, puterimu telah melakukan kesalahan dan saya akan menghukum dia sesuai perbuatannya. Sisanya saya serahkan pada Anda. Saya harus pergi sekarang"



Dan akhirnya semua yang terlibat dalam penyekapanku dibawa ke kantor polisi termasuk Lolita. Hanya saja gadis itu langsung dibebaskan dengan jaminan karena ayahnya memiliki koneksi yang baik dengan polisi.



Tentu saja, Deksa Haryadi memiliki cara tersendiri untuk menghukum puterinya.



Sedangkan Arjun kembali ke kantor untuk menghadiri rapat. Setelah itu dia kembali kerumah sakit untuk menemaniku.



Sayangnya, saat ia kembali pada sore hari aku sedang tertidur pulas. Laki-laki itu tersenyum menatapku yang tengah tertidur.



Perlahan ia mendekat dan menjulurkan tangannya untuk mengalihkan rambut yang menutupi wajahku.



"Disaat seperti ini kau begitu tenang dan terlihat cantik seperti gadisku, Nayla"



"Nayla ?"



Arjun sedikit terkejut saat mengetahui aku terbangun dan langsung menyebut nama Nayla.



"Siapa gadis yang kau sebut Nayla ?"



"Aku tidak mengatakan apapun, apa kau sedang bermimpi ?"



"Dengan jelas tadi aku mendengar kau menyebut nama Nayla sambil menyentuh wajahku"



"Ah apa jangan-jangan benar ada masalah dengan kepalamu sampai membuatmu halusinasi seperti ini? Atau kau memang berharap jika aku menyentuh wajahmu dan memberimu sebuah kecupan ?"



"Jangan mimpi"



"Haha..."



Lelaki itu terus saja mengalihkan pembicaraan dengan melakukan hal konyol seperti itu, membuatku merasa tidak nyaman karena aku sangat bahagia.