
Woah... sudah berapa lama novel ini hiatus, maapken author yang emang lagi sibuk hihi, sibuk cari ide maksudnya ✌✌
Setelah sekian lama akhirnya Ay mutusin buat update, karena liat komen kalian yang cukup bikin Ay semangat '45 banget nih, hihi...
Makasih sebelumnya, Jongmal Gamsahaeyo 🥰🥰 luplup kalian pokoknya 💕
Now, happy reading..
*****
"Yoon So Hee, sudah berapa kali aku ingatkan padamu untuk tidak meninggalkan rumah sakit tanpa seizinku, kau benar-benar tidak mau mendengarkanku lagi!"
"Anu... bibi maafkan aku, aku terpaksa meninggalkan rumah sakit untuk... hm"
"Untuk apa hah, katakan padaku!"
Saat bibi memaksaku mengatakan dimana keberadaanku selama meninggalkan rumah sakit, seseorang justru membantuku berbicara dengan menjawab pertanyaan dari bibi ku itu.
"Untuk menemuiku !"
"A...ayah !"
Bibi terlihat sangat terkejut, sebenarnya akupun begitu. Karena aku tidak menyangka bahwa tuan Yoon akan mengikutiku sampai keruangan.
"Bibi aku bisa jelaskan semuanya padamu"
"Sudahlah lebih baik kau istirahat, aku yang akan menjelaskan pada bibimu"
"Baiklah"
Aku berjalan melewati bibi dan kembali ke ranjangku untuk beristirahat, sedangkan tuan Yoon masih menatap bibi Yoo Ra dalam.
"A-apa yang kau lakukan disini? Tidak, ba-bagaimana kau tahu kami disini ?"
"Ikut denganku !" Tak ada jawaban melainkan perintah yang keluar dari mulut tuan Yoon.
"Ke-kemana kau akan membawa ku ?"
"Apa kau takut jika aku akan menyakitimu? Ikut saja denganku !"
Setelah mengatakan hal itu, tuan Yoon langsung berjalan dengan tegap keluar dari ruanganku diikuti dengan bibi Yoo Ra.
Aku sangat penasaran dengan apa yang akan mereka bicarakan mengenaiku saat itu. Tapi aku juga tidak mungkin mengikuti mereka, karena tuan Yoon hanya ingin berbicara pada bibi.
Dokter langsung memeriksa kondisiku saat aku sudah berbaring ditempat tidur. Karena sebelumnya bibi berada didalam ruangan bersama seorang dokter yang merawatku.
"Bagaimana kondisimu sekarang ?"
"aku baik-baik saja"
"Baiklah, lebih baik kau istirahat sekarang"
"Terimakasih, dok"
"saya permisi dulu"
***
"Apa kau memaksa So Hee untuk melakukan tes ?!"
Pertanyaan bibi Yoo Ra langsung menuju inti masalah. Karena bibi tidak ingin berbasa-basi meski dengan ayah kandungnya sendiri.
"Bukankah itu janjinya sendiri untuk melakukan tes? Tentu saja aku tidak harus memaksanya"
"Tapi kau tahu kalau dia sedang tidak sehat saat ini"
"Aku hanya ingin pembuktian bahwa dia benar-benar keturunan ku"
"Hh.. apa kau benar-benar akan percaya jika kau telah membuktikannya sendiri. Bukankah tak ada jaminan jika bukti itu benar, kau akan menerimanya !"
"Memang tidak ada jaminannya, karena dialah penyebab anakku kehilangan nyawanya"
"Kau tetap saja menyalahkan orang lain tanpa memeriksanya terlebih dahulu"
"Apa maksudmu !"
"Kecelakaan yang dialami oleh kakakku bukanlah So Hee penyebabnya melainkan orang lain yang memiliki dendam terhadap kakak"
"Apa kau sedang menyelidiki kasus itu ?"
"Kau tidak perlu tahu, yang kau harus pikirkan adalah bagaimana caramu menerima kenyataan bahwa So Hee adalah keponakanku"
"Yoo Ra, kembalilah ke perusahaan !"
"Apa kau bilang! Kembali? Bukankah saat ini topik pembicaraan mengarah pada So Hee, kenapa tiba-tiba memintaku untuk kembali"
"Mau sampai kapan kau lepas dari tanggung jawabmu"
"Perusahaan itu adalah hak waris kakak, bukan aku!"
"Kau tahu kalau kakakmu sudah tiada, lalu pada siapa lagi aku akan mewariskan semuanya jika bukan padamu !"
"So Hee !"
"Kau harus buktikan ucapanmu !"
"Baiklah, jika kau berjanji menerima gadis itu dengan tangan terbuka aku juga akan berjanji kembali ke perusahaan"
"Sebaiknya kau jaga janji itu !"
Setelah perdebatan yang cukup lama antara dua orang yang memang sama-sama keras kepala itu akhirnya mereka berpisah dengan kepergian tuan Yoon, sedangkan bibi kembali ke kamarku.
Untungnya dokter memberikan suntikan yang membuatku tertidur lelap. Jadi, aku tidak harus mendengarkan ceramah dari bibi malam itu.
Bibi Yoo Ra terus memandangi wajahku yang sedang terlelap. Tangannya meraih puncak kepalaku lalu mengelusnya lembut.
"Tidak akan ku biarkan siapapun menyakitimu, aku akan melindungimu. Cepat sembuh sayang" setelah mengucapkan kalimat itu, bibi langsung terlelap dimatras (yang disediakan rumah sakit untuk pendamping saat tidur dimalam hari) samping ranjangku.
****
[Jakarta]
"Permisi pak, ada panggilan video dari Korea mengenai pembangunan hotel disana"
"Baiklah, sambungkan padaku"
Setelah menyambungkan panggilan Internasional dari M**anager konstruksi di Korea, Arjun langsung bicara serius mengenai permasalahan tersebut.
"Bicaralah"
"..."
**
"Apa Arjun sedang sibuk ?" tanya kak Anggita pada sekretaris Arjun, Bianca.
"Pak Arjun sedang menerima telfon dari Manager luar negeri mengenai proyek di Korea Selatan, bu" tegas Bianca.
"Baiklah, aku akan menunggunya didalam"
"Silahkan bu"
Saat memasuki kantor adiknya, kak Anggita melihat laki-laki itu sedang berbicara dengan seseorang melalui telfon sampai tak menyadari kedatangan wanita itu.
Kak Anggita langsung duduk di sofa ruangan tersebut lalu mengeluarkan ponsel miliknya. Berniat memainkan ponsel sambil menunggu sang adik menyelesaikan urusan bisnisnya.
Cukup lama wanita itu menunggu, akhirnya Arjun menutup telfonnya. Tapi saat laki-laki itu berbalik ingin duduk dikursinya, ia terkejut melihat bahwa seseorang sedang menatapnya.
"Astaga! Se...sejak kapan kau masuk, aku sampai tidak menyadarinya. Apa kau hantu, tidak menimbulkan suara apapun. Kau ingin membuat adikmu mati kaget ya !"
"Apa kau bilang! Kau yang sudah membuatku menunggu, masih bisa menyalahkanku. Dasar adik tidak tahu diuntung !"
Memang benar adanya, sebenarnya yang meminta kak Anggita untuk datang ke kantor adalah Arjun sendiri. Laki-laki itu pun memang tengah menunggu kakaknya.
Tapi siapa yang bisa menebak bahwa akan ada jeda yang cukup lama seperti yang baru saja terjadi.
"Baiklah, baiklah aku minta maaf sudah membuatmu menunggu. Apa kau membawanya ?"
Setelah permintaan maaf yang cukup tulus, Arjun langsung saja menuju inti pembicaraan.
"Untuk apa aku jauh-jauh menemuimu dengan tangan kosong. Gunakan ini dengan hati-hati, jangan sampai melukainya" nasehat kak Anggita yang sudah pasti menuju untukku.
"Aku tahu"
"Arjun, ingatlah ini baik-baik. Kejadian beberapa tahun lalu bukanlah hal yang disengaja. Keterlibatan ayah dalam hal ini juga belum bisa dipastikan, apapun kebenarannya beliau pasti melakukan ini semua untuk keluarga kita. Jangan terlalu keras padanya"
"Hm"
Ucapan kak Anggita yang panjang tersebut hanya ditanggapi deheman oleh Arjun, membuat sang kakak tentu saja naik pitam dan langsung mendaratkan sebuah jitakan dipuncak kepalanya.
"Kau ini dasar adik kurang ajar, kakakmu sedang memberi nasehat dan kau hanya menanggapinya dengan sebuah deheman. Apa kau mau mati !"
"Ouch kak, jitakan mu itu sangat sakit. Hey aku bukan lagi seorang bocah, apa kau tahu disini tidak ada yang berani menyentuh kepalaku, tapi kau malah menjitaknya !"
"Siapa yang sedang kau samakan saat ini ?"
"Tentu saja karyawanku"
"Aku ini atasanmu, dan kau hanyalah cecungukku. Masih berani melawanku !"
"Baiklah, baiklah. Selalu kalah berdebat denganmu"
Arjun ini memang laki-laki yang cukup arogan, bahkan banyak karyawannya yang tidak berani menatap matanya. Tapi jika bertemu dengan sang kakak, dia hanyalah seekor kelinci yang sangat penurut.
"Lalu apa rencanamu untuk membawa kembali So Hee ?"
"Tidak ada"
"Apa maksudmu tidak ada ?" Kak Anggita kembali melayangkan pukulannya pada kepala Arjun, membuat sang adik itu kesal.
"Aku belum selesai bicara, bisa dengarkan aku sebelum kau memukulku !"
"Apa kau memiliki rencana di masa depan ?"
"Tentu saja !"
"Bukan salahku, kau sendiri yang mengatakan tidak memiliki rencana saat aku bertanya pertama kali"
"Yang aku maksud adalah, untuk saat ini. Aku hanya ingin gadis itu memiliki waktu sendiri sekarang karena aku yakin bahwa dia telah mengetahui apa yang terjadi dimasa lalu yang melibatkan keluarganya dan juga ayah"
"Bagaimana jika selamanya ia justru membencimu alih-alih menemukan kebenaran ?"
"Aku percaya padanya, aku yakin bahwa cinta kami akan disatukan kembali suatu saat nanti. Untuk saat ini aku harus fokus menangani masalah perusahaan terutama proyek luar negeri yang sedang aku jalankan"
"Woah... tak disangka ternyata adikku ini sudah dewasa sekarang. Sepertinya aku telah salah sangka padamu !"
"Apa kau pikir aku akan diam saja saat aku sudah menemukan gadis yang selama ini aku cari kemana-mana ?"
"Yah begitulah, itu karena ulahmu sendiri yang membuat gadis itu pergi meninggalkanmu"
"Dulu aku sama sekali tidak bisa melindunginya, tapi dimasa yang akan datang aku pasti akan selalu melindunginya"
"Itu baru adikku"
"Jadi selama ini kau anggap aku apa, kak ?"
"Cimot"
Catatan...
Cimot adalah kucing peliharaan Cleo dirumah, warna bulunya abu-abu dan sangat lebat. Matanya bulat dan sangat suka dengan bola.
"Kau samakan aku dengan seekor kucing !"
"Haha"
****
[Korea]
Aku sedang tertidur lelap dikamar, sampai tengah malam aku mulai mengigau memanggil nama Arjun dengan lirih.
Sontak aku terbangun dari mimpi itu dengan nafas yang terengah-engah. Karena disana aku tengah mengejar bayangan Arjun yang mulai menghilang setelah mengucapkan janji untuk melindungiku.
"Nay, maafin Arya karena dulu Arya gak bisa ngelindungin kamu, tapi Arya janji untuk selanjutnya Arya pasti akan selalu melindungi Nayla"
"Apa kau akan menepati janjimu untuk melindungiku Arya ?" Ucapku lirih karena tidak ingin membuat bibi Yoo Ra terbangun.
****