
[Jakarta, 19 Desember 2014]
"Permisi pak, resepsionis mengatakan kalau tuan Deksa datang berkunjung dan sudah menaiki lift menuju kantor bapak"
"Baiklah, persilahkan dia masuk saat sudah sampai"
"Baik pak"
Deksa Haryadi datang berkunjung ke perusahaan Arjun pagi hari seperti ini. Pasti ada hal yang sangat penting untuk disampaikan pada laki-laki itu.
Seperti yang disampaikan oleh sekretaris Arjun. Laki-laki paruh baya tersebut benar-benar datang tak lama setelah Bianca keluar dari ruangan.
"Wah-wah, sepertinya hari ini aku sedang mendapat keberuntungan. Apa yang membawamu berkunjung ke kantor saya, tuan Deksa?"
"Aku tidak ingin berbasa-basi denganmu"
"Um baiklah, silahkan duduk. Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya ?"
"Mengenai puteriku, Lolita"
"Ya"
"Sebelumnya aku berterimakasih karena kau tidak mengekspos perbuatan Lolita, dan aku juga meminta maaf karena sebelumnya telah mengancammu dengan memanfaatkan proyek hotel di Korea"
"Yah itu hal biasa, saya hanya tidak ingin mencemarkan nama baik perusahaan anda karena saya juga seorang pebisnis"
"Aku akan menemui ayahmu dan membicarakan mengenai pernikahan kalian"
"Apa anda akan tetap melanjutkannya !"
Kali ini Arjun bertanya dengan sedikit nada tinggi menahan kesal. Bahkan sebelum tuan Deksa menyelesaikan kalimatnya.
"Haha, tentu saja tidak. Aku terlalu malu untuk berhadapan dengan mu dan juga ayahmu. Tapi untuk tetap menjaga hubungan baik kami, aku akan secara langsung menemuinya. Kau tidak perlu menghawatirkan masalah kerjasama perusahaan, karena hal ini tidak akan berpengaruh sama sekali pada kerjasama kita"
"Saya akan sangat menghormati keputusan anda"
"Kau pernah berpikir aku sangat licik dalam hal berbisnis, ketahuilah Arjun bahwa kehidupan bisnis adalah masalah antara yang kuat dan lemah, kau mengerti maksudku"
"Ya saya sangat mengerti. Tidak bisa dibilang salah jika menjalankan bisnis dengan cara anda"
"Ah, ada satu hal yang sangat membuatku penasaran"
"Apa itu ?"
"Kenapa kau sangat tidak menyukai puteriku, bahkan sebelum kejadian ini. Apakah kau sudah memiliki tambatan hati lain ?"
"Jauh sebelum saya bertemu dengan puteri anda"
"Baiklah kalau begitu, aku permisi"
Setelah mengobrol cukup lama, tuan Deksa langsung berpamitan pada Arjun dan langsung menuju bandara untuk mengantar Lolita ke New York.
Yah, gadis itu diasingkan oleh ayahnya ke negeri Paman Sam sebagai hukuman dan tidak boleh kembali dalam kurun waktu yang lama.
Sedangkan Arjun kembali pada kesibukannya mengurus perusahaan. Kini lelaki itu sedikit lega karena masalah pernikahannya sudah diselesaikan.
"Bianca bisa ke kantor saya"
"Baik pak"
Tak lama setelah Arjun memanggil sekretarisnya lewat pesan suara, wanita itu masuk keruangan memenuhi panggilan dari atasannya.
"Tolong beritahukan pada tim manager yang menangani proyek hotel di Korea untuk keruang rapat segera, saya akan mengadakan rapat dadakan"
"Baik pak"
Dilihat dari raut wajah Arjun yang datar, sepertinya rapat dadakan kali ini akan memakan waktu yang cukup lama.
***
"Sebenarnya masalah apa yang menyebabkan kurangnya dana dalam proyek hotel di Korea !"
"Sebelumnya kami mohon maaf pak, karena perusahaan mengalami kerugian yang cukup besar akibat masalah ini. Inti masalah ini ada pada rekonstruksi yang tidak berjalan lancar pak"
"Jelaskan secara rinci padaku mengenai masalah dan akibatnya"
"Baik pak"
Masalah yang dihadapi Arjun kali ini cukup serius hingga dia harus membereskannya dengan segera. Dia tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali.
Dan sesuai dugaan bahwa rapat ini akan memakan waktu yang cukup lama. Sampai jam makan siang barulah rapat itu selesai. Tapi pekerjaannya masih menunggu untuk diselesaikan hari itu.
Arjun kembali kerumah sakit pada malam hari. Dan mendapati aku tengah memejamkan mata.
"Apa kau sudah tidur ?"
"Hm"
Aku menggeliat karena merasakan sebuah tangan menyentuh dahiku. Ku lihat seorang laki-laki yang sangat aku kenali sedang duduk menatapku sambil tersenyum manis.
"Kau, apa kau baru pulang jam segini ?"
"Hm"
"Ini sudah malam untuk apa kau kesini, lebih baik istirahat dirumah"
"Apa kau sedang mencemaskan aku atau malah memarahiku karena baru sempat menjengukmu, hm ?"
"Bicara apa kau ini, sepertinya terkena sinar bulan diluar membuat otakmu sedikit bergeser"
"Aku hanya ingin melihatmu, maaf karena baru sempat menjengukmu sekarang. Ada banyak pekerjaan dikantor hari ini"
"Untuk apa kau memberitahuku alasanmu, aku tidak membutuhkannya"
"Entahlah, aku hanya merasa perlu memberitahumu"
"Ah sudahlah, lebih baik kau pulang"
"Besok, apa kau akan kembali ke Korea ?"
"Ya, aku sudah berjanji pada tante akan kembali besok"
"Apa kau hanya tinggal bersama dengan tantemu ?"
"Tidak, aku tinggal sendiri tapi hanya tante yang kupunya sebagai keluargaku"
"Mereka sudah meninggal"
"Ah maaf, aku tidak mengetahuinya"
"Sudahlah, aku sudah terbiasa"
"Ibuku juga sudah meninggalkan aku" ucap Arjun lirih,
"Maaf.. kau bilang apa ?"
"Ibuku juga sudah meninggal sama seperti kedua orangtuamu"
"K-kenapa? Maksudku ibumu meninggal karena apa ?"
"Entahlah"
"Apa kau akan menangis ?"
"Tentu saja tidak"
"Ku kira kau akan menangis setelah membicarakan ibumu"
"Yah sama sepertimu, aku sudah mulai terbiasa dengan ini"
"Ah begitu"
Tidak disangka hari itu aku melihat sisi lain dari kehidupan Arjun. Awalnya aku mengira dia hanya anak yang manja dan tidak tahu bersikap sopan, tapi semakin mengenalnya, aku semakin mengerti.
Setidaknya aku mengetahui penyebab kedua orangtuaku meninggal tapi dirinya tidak. Ah, hampir saja aku yang menangis dihadapannya.
"Hm So Hee, kalau aku boleh tahu urusan apa yang membawamu ke Indonesia ?"
"Ah itu, aku ingin mengunjungi makam kedua orangtuaku"
"Makam? Bukankah seharusnya berada di Korea ?"
Aku tersenyum menanggapi pertanyaan Arjun. Ucapannya benar, seharusnya makam kedua orangtuaku berada di Indonesia supaya memudahkanku jika sewaktu-waktu ingin mengunjunginya. Tapi aku pun tidak bisa melakukan itu, karena tante Yoo Ra pun menginginkan makam mereka tetap berada disini.
"Keluargaku mengalami kecelakaan di Indonesia. Dan hanya aku yang selamat, tante Yoo Ra memutuskan untuk tetap memakamkan mereka disini dan membawaku pulang ke Korea"
"Tapi kenapa justru kau bekerja di rumah sakit alih-alih kembali ke Korea ?"
"Sebenarnya ada beberapa keganjalan yang ingin aku cari tau mengenai kecelekaan itu, aku masih tidak bisa menerima bahwa hanya aku yang selamat dari peristiwa tersebut"
"Kau bisa mengatakannya padaku, aku akan membantumu semampuku"
"Ah tidak usah, kini aku mulai menyerah karena belum mendapat satu petunjuk pun, sepertinya kecelakaan itu memang murni kesalahanku"
"Sudahlah, tidak baik menyalahkan dirimu sendiri"
"Yah aku hanya merasa ini semua tidak adil"
Disaat kebenaran sudah berada didepan mata Arjun saat itu, tapi dirinya maupun diriku tidak mengerti makna dari kejadian tersebut.
Bahkan setelah aku menceritakannya. Mungkin karena Arjun belum mendapatkan petunjuk mengenai keluarga ku di Korea.
Malam itu Arjun memelukku yang secara tidak sadar meneteskan air mata. Tentu saja lelaki itu melihatnya dan langsung menarikku dalam dekapannya. Terasa sangat nyaman sampai aku berharap waktu bisa berhenti sementara, memberi ku ruang untuk bersama dengan laki-laki yang ku cintai sedikit lebih lama.
Arjun melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajahku, tangannya bergerak ingin menghapus air mata yang membasahi kedua pipiku. Aku hanya bisa mengarahkan pandangan mataku kebawah tanpa berani beradu tatap dengan laki-laki itu.
Tiba-tiba Arjun menyentuh daguku untuk membuatku menatap matanya, sekitar lima detik kami berpandangan perlahan Arjun mendekatkan wajahnya padaku.
Hembusan nafasnya terasa memenuhi seluruh wajahku membuatku tidak bisa bergerak. Secara reflek aku memejamkan kedua mataku. Tersenyum Arjun melihatnya. Lantas ia membisikkan sesuatu ditelingaku yang membuat pipiku terasa panas akibat malu.
"Ekspresimu sangat lucu saat ini, bolehkah aku mengabadikannya?"
Sontak aku membelalakkan kedua mataku terkejut. Menatap Arjun kesal dan langsung mendorong tubuhnya menjauh dariku.
"Dasar laki-laki mesum"
"Apa yang aku lakukan padamu?"
"Itu tadi kau... kau..."
Bicaraku tergagap seketika saat Arjun melontarkan sebuah pertanyaan konyol. Tidak sadarkah dia telah memermainkan aku.
"Apa kau sedang berpikir aku akan menciummu ?"
"Tidak!"
Jawabanku yang tegas dan terkesan terburu-buru membuatnya tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang kau tertawakan, itu sangat tidak lucu Arjun!"
Ah kali ini aku sangat kesal pada laki-laki itu. Berani-berani nya dia mengerjaiku seperti ini.
"Berhenti tertawa dan keluar dari ruanganku"
Aku masih saja kesal dibuatnya yang terus tertawa tanpa ingin berhenti sedikitpun. Lantas aku memalingkan wajah menghadap jendela dan membiarkannya untuk tertawa sepuasnya.
Tak lama aku tidak mendengar tawa lagi. Kemudian suara pintu kamarku terdengar. Mungkinkah dia pergi setelah aku mengusirnya.
Oh ayolah, aku tidak sungguh-sungguh akan hal itu. Aku penasaran dengan apa yang sebenarnya dia lakukan. Aku memutuskan untuk melihatnya.
Tapi saat aku mulai memalingkan wajahku ke tempat dia berada sebelumnya, sebuah benda kenyal seperti jelly menyentuh bibirku.
Aku tidak tahu siapa itu yang jelas laki-laki itu pasti Arjun. Saat aku masih disibukkan dengan kejadian sepersekian detik itu. Arjun terus melumat bibirku dengan sedikit kasar.
Tangan kanannya menekan tengkuk leherku supaya aku tidak melarikan diri dan menjadi lebih dekat dengannya. Sedangkan tangan lainnya memeluk pinggangku mesra.
Rasanya seperti dejavu tapi juga sangat menyenangkan. Aku bisa merasakan deru nafasnya tidak teratur saat berada diwajahku. Laki-laki ini, apa sebenarnya yang dia pikirkan tentangku.
Merasa tidak ada respon dariku, dia sedikit melonggarkan ciumannya dan perlahan melepaskannya lalu menatapku.Tatapan mata yang lembut dan dibalas dengan mataku yang masih setengah sadar. Kemudian dia tersenyum melihatku.
Sedetik kemudian ia kembali mendekatkan wajahnya padaku, menyentuh kembali bibirku dengan benda kenyal miliknya. Tapi kali ini berbeda dari sebelumnya.
Ciuman ini lebih lembut tetap dengan tangan yang memeluk pinggangku lebih erat lagi. Perlahan aku memejamkan mata dan mulai merasakan sentuhannya. Aku mulai sedikit membalas ciuman itu.
Tidak berhenti disana, laki-laki itu perlahan mendorong tubuhku untuk berbaring diranjang sambil terus melumat bibirku. Deru nafas kami beradu dan menjadi tidak teratur. Seperti mengalirkan cinta yang selama ini tertunda.
Akhirnya malam itu kami habiskan bersama. Aku tertidur dalam pelukan lelaki yang ku cintai. Sepertinya malam ini aku merasa sangat bahagia.