
[Jakarta, 15 Desember 2014]
Aku sengaja tidak memberitahu tante jika aku pulang hari ini. Aku berniat memberikannya kejutan saat sudah sampai dirumah.
Tapi sepertinya aku telah salah penafsiran.!!
"Ini barangnya non"
"Terimakasih"
Saat sampai di bandara Soekarno-Hatta, aku menurunkan barang bawaan dibantu oleh supir taksi.
Segera aku masuk ke bandara untuk Cek-in. Tapi saat ingin masuk pintu utama seseorang menghampiriku dan mengatakan bahwa majikannya ingin menemuiku.
Aku bukan orang bodoh yang langsung percaya begitu saja pada orang asing.
"Maaf saya tidak mengenal majikan anda, permisi"
"Nona yang mengutus saya adalah tuan Arjun. Beliau ingin berbicara sebentar sebelum anda pergi"
"Arjun? Bukankah tadi dia sudah menemuiku"
"Tuan Arjun ingin mengatakan sesuatu yang belum sempat beliau katakan pada nona"
"Baiklah. Dimana dia ?"
"Mari ikut saya nona"
Yah, apa yang dikatakan pengawal itu cukup masuk akal untukku. Hari ini adalah hari terakhirku di Indonesia, entah kapan lagi aku akan kembali ke negara ini.
Dan saat didepan taksi tadi, tidak banyak kata yang diucapkan lelaki itu padaku. Baiklah kali ini aku akan mengikuti kemana pengawal itu membawaku.
Aku dibawa kesebuah tempat yang cukup sepi dibagian belakang bandara. Aneh, apakah ada tempat sesepi ini di sebuah bandara.
#ada!kanauthoryangbuat
Aku mulai merasa curiga, apakah benar Arjun mengutus pengawal itu untuk membawaku ke tempat seperti ini. Kalaupun dia ingin bicara padaku, kenapa harus mengutus pengawal.
Aku merasa jika dibelakangku ada seseorang yang mencurigakan. Seingatku hanya ada satu orang yang membawaku tadi, dan dia ada tepat dihadapanku.
Jadi, utusan siapa mereka ini..??
Seseorang berpakaian rapih berdiri dibelakangku berniat ingin membuatku tumbang dengan cara memukul kepala bagian belakang.
Dengan cepat aku memberinya sebuah tendangan dadakan, dan berhasil.
"Siapa kalian!"
Seorang pria yang berjalan dihadapanku tadi nampak terkejut karena aku masih tersadar. Akhirnya semua pria yang berpakaian sama keluar dari persembunyian.
Tapi tak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaanku. Mereka justru mulai menyerangku satu persatu.
Hanya begitu kemampuan mereka. Tidak masalah bagiku untuk membereskannya.
Mereka hanya tidak tahu jika aku pandai melakukan bela diri. Karena sejak SMA tante Yoo Ra selalu mengajariku Taekwondo, beliau mengatakan kalau aku harus pandai menjaga diri.
Para pengawal itu sepertinya kewalahan menghadapiku. Akhirnya mereka menggunakan cara lain untuk membuatku tak berdaya.
Saat sedang menghajar mereka, ada satu orang yang mendekat kearahku dan menyengatku dengan kejutan listrik.
Ah, kali ini aku menyerah dan tidak sadarkan diri. Tubuhku tegang dan ambruk begitu saja. Dengan leluasa mereka membawaku entah kemana.
Hey para readers...
Apakah kalian tahu apa yang aku rasakan saat sebuah sengatan listrik menjalar ditubuhku dengan sengaja.
Ah..
Aku tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata.!!
Itu sebabnya aku langsung tak sadarkan diri, jadi kalian harus memaklumi keadaanku yang tidak berdaya itu okay !!
#pemaksaan
Back to the topic
Aku tersadar disebuah ruangan yang terdapat banyak barang tak terpakai. Sepertinya ini gudang.
"Aish, dimana aku"
"Kau sudah sadar rupanya"
"Siapa kalian dan apa mau kalian sebenarnya"
"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Hah aku sempat kewalahan untuk menanganimu, tidak ku sangka kau pandai berkelahi"
"Siapa yang menyuruh kalian"
"Kau terlalu banyak bicara, apa aku harus membuatmu kembali terdiam"
"Apa tujuan kalian, aku bahkan tidak pernah bertemu kalian"
"Kau terlalu berisik"
"Hmph"
Sial, bagaimana aku bisa meminta tolong jika mulutku dilakban seperti ini.
Siapa sebenarnya dalang dari ini semua. Aku hanya datang beberapa kali kesini dan aku juga tidak ingat jika mempunyai musuh. Lalu siapa yang mencari masalah denganku kali ini.
**
Disisi lain, Arjun terlihat murung dan tidak semangat. Disaat seperti itu lagi-lagi gadis itu muncul dihadapannya.
"Sayang"
Langsung saja ia memeluk tubuh laki-laki yang tengah duduk disofa ruang kerja nya, membuat Arjun terkejut dan segera berdiri.
Jika saja Lolita tidak segera menyingkir, mungkin dia akan terjatuh saat Arjun bangkit dari duduknya.
Aku sangat berharap hal itu terjadi pada gadis itu.
"Apa yang kau lakukan disini ?"
"Apalagi? Tentu saja menemuimu"
"Aku sedang tidak ingin meladenimu, sekarang pergilah"
"Arjun, apa kau sedang ada masalah ?"
"Masalah? Apa kau sedang bertanya padaku sekarang ?"
"Aku menghawatirkanmu, Arjun. Tentu saja aku bertanya padamu"
"Lebih baik kau tanyakan pada ayahmu"
"Ayah? Apa yang telah ayahku lakukan padamu ?"
Tidak ada jawaban dari Arjun. Lelaki itu kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Siang itu pikiran nya sangat kacau. Bagaimana tidak??
Saat ia sampai di kantor tadi pagi, Arjun dikejutkan dengan kedatangan Deksa Haryadi yang notabennya adalah calon mertua nya sendiri.
"Ada perlu apa anda kesini ?"
"Hanya ingin menyapa, apa tidak bisa ?"
"Seorang direktur utama perusahaan Deksa berada di perusahaan lawannya hanya untuk menyapaku, itu sedikit berlebihan bukan? Ah, atau mungkin bisa dibilang sesuatu yang aneh"
"Haha, ternyata kau sangat pandai seperti yang dibicarakan oleh semua orang"
"Terimakasih atas pujiannya, tapi aku sangat sibuk hari ini, jika Anda sudah selesai silahkan keluar"
"Apakah begini caramu memerlakukan calon mertua mu ?"
"Calon mertua? Seorang calon mertua hanya bisa disebut calon mertua jika sang calon menantu bersedia secara sukarela untuk menikahi puterinya, tapi jika keadaannya berbalik apakah masih bisa dikatakan calon mertua, bapak Deksa Haryadi ?!"
"Baiklah, mungkin kau benar. Kalau begitu aku akan langsung ke intinya. Aku datang khusus hari ini untuk memberimu kabar baik, proyek pembangunan hotel di Korea mengalami masalah pada bagian konstruksi, tapi tenang saja aku sudah MEMBANTU mu untuk menyelesaikannya. Dan hal itu bisa dikatakan memakan biaya yang tidak sedikit, karena aku tahu jika salah satu proyekmu di Bogor mengalami kegagalan akibat bencana alam. Itu sebabnya aku memberi bantuan tanpa diminta. Kalau begitu aku permisi, karena sepertinya tuan Arjun sedang sangat sibuk hari ini. Permisi"
Sekilas kejadian pagi tadi teringat kembali oleh Arjun. Bagaimana angkuhnya sikap Presiden Deksa yang telah memberi sebuah bantuan dalam proyek Arjun tanpa ia mengetahuinya.
"Arjun, apa yang telah ayah lakukan padamu, cepat beritahu aku!"
"Tapi..."
"Keluar!"
Dengan terpaksa gadis itu keluar dari ruangan Arjun dan pergi entah kemana.
"Argh"
Sepertinya belakangan ini Arjun ditimpa banyak masalah mulai dari perusahaan maupun kehidupan pribadinya.
Saat ini, ia harus fokus terhadap proyek pembangunan hotel di Korea. Lelaki itu harus mencari tahu penyebab yang sebenarnya mengenai konstruksi.
Itu sebabnya lelaki itu selalu sibuk bahkan bekerja sampai lembur, untuk mengatasi masalah perusahaan.
****
Sudah tiga hari aku disekap oleh para pengawal itu. Mereka selalu bergantian untuk menjagaku. Dan mulutku selalu dalam keadaan dibungkam. Hanya saat memberi makan mereka baru melepaskannya.
Aku tidak memberi kabar apapun ke Seoul sehingga tante dan yang lain mengira jika aku masih berada di Jakarta.
Sedangkan kak Dara dan lainnya melihat sendiri jika aku telah pergi naik taksi ke bandara.
Aku berharap jika seseorang bisa menolongku saat ini juga. Hatiku sangat mengharapkan seseorang itu datang untuk menjemputku dengan segera.
Hari yang ku lewati digudang itu berlalu dengan cepat. Hingga siang pun sudah berganti malam. Setiap hari aku selalu berusaha untuk kabur dari mereka tapi usahaku sia-sia.
Disisi lain, terlihat Arjun tengah tertidur pulas dikamarnya. Setelah kepergianku waktu itu, dia lebih banyak bekerja dan malam itu dia terlalu lelah dan tidur dengan cepat.
**
"Nayla, kau kah itu ?"
Terlihat Arjun sedang berdiri dihadapanku dengan ekspresi tak percaya juga berharap bahwa ini kenyataan
"Iya, ini aku"
Jawabku mantap padanya. Dengan cepat ia berlari kearahku dan memeluk tubuhku erat, seolah tidak akan membiarkanku pergi lagi.
"Kemana saja kau selama ini, ku kira kau benar-benar sudah pergi meninggalkanku"
"Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu, Arya"
"Maafkan aku karena tidak bisa menepati janji untuk melindungimu, Nay"
"Itu bukan kesalahanmu, ini takdir kita Arya"
"Aku janji kali ini aku akan melindungimu, aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu lagi, aku akan menjagamu setiap waktu"
"Benarkah ?"
"Hm.."
"Aku percaya padamu"
"Aku sangat merindukanmu, Nayla"
"Aku juga merindukanmu. Eh, bagaimana dengan calon istrimu ?"
Setelah puas melepaskan rindu satu sama lain, kami duduk bersama di taman. Membahas topik yang sama sekali tidak romantis.
"Dari awal aku sudah menolak perjodohan itu, karena aku hanya mencintaimu"
"Bagaimana dengan ayahmu dan perusahaanmu"
"Kau tidak perlu memikirkan hal lain, tugasmu hanya memikirkan ku"
"Bagaimana bisa ?"
"Aku yang akan menyelesaikan semuanya, jadi kau tidak perlu merasa khawatir"
"Apa kau yakin ?"
"Tentu saja, percayakan padaku"
"Aku selalu percaya padamu"
Kebahagiaanku hari ini berlipat ganda dari sebelumnya. Seseorang yang aku cintai selama ini ternyata memang takdirku sejak kecil. Dan sekarang saatnya untuk menyatukan takdir tersebut.
"Hm, Arya aku ingin es krim yang ada di seberang jalan itu"
"Tunggu disini, aku akan membelikannya untukmu"
"Jangan!"
"Kenapa? Bukankah kau ingin es krim itu"
"Biar aku saja yang membelinya, kau tunggu aku disini, okay"
"Baiklah kalau begitu"
"Tunggu aku ya!"
Aku segera pergi ke seberang jalan membeli es krim untuk kami berdua. Tapi saat aku ingin kembali ke taman, sebuah mobil melaju dengan kencang kearahku.
Saat itu aku terlalu senang sampai tidak menyadarinya. Arjun yang melihat kearahku hanya berteriak tanpa bisa menghampiriku.
**
"Nayla...."
Arjun bangun dari tidurnya dengan berteriak memanggil nama gadisnya. Yah, dia bermimpi buruk tentangku.
"A-apa ini, mengapa aku bisa bermimpi seperti itu. Apakah Nayla benar-benar masih hidup, dan saat ini dia sedang dalam bahaya. Argh"
Disaat Arjun mulai memikirkan arti dari mimpi buruknya. Suara dering ponsel sempat membuatnya terkejut dan ingin melemparkan ponselnya.
Tapi, saat melihat nama yang tertera dalam layar, lelaki itu mengurungkan niatnya dan segera menjawab panggilan tersebut.
"Pak Arjun maaf mengganggu waktu anda, saya ingin bertanya apakah kontrak So Hee diperpanjang, karena beberapa waktu ini saya sulit menghubunginya"
"Ah maaf membuat anda khawatir nyonya, memang benar jika saya memperpanjang kontrak So Hee, saya akan sampaikan padanya untuk segera menghubungi anda"
"Begitu rupanya, baiklah terimakasih pak Arjun, sekali lagi maaf karena telah mengganggu waktunya"
"Tidak apa nyonya"
"Terimakasih sekali lagi, sampai nanti"
Sebenarnya, laki-laki itu sempat terkejut dengan apa yang dia dengar barusan. Bahwa aku belum tiba di Korea. Sedangkan aku telah berpamitan pada mereka tiga hari yang lalu.
"Kemana perginya gadis itu selama ini"
Arjun merasa ada sesuatu yang aneh. Ia langsung meminta seseorang untuk menyelidiki apa yang sedang terjadi sebenarnya.
"Aku ingin kau menyelidiki seorang gadis bernama Yoon So Hee, dia meninggalkan Indonesia tiga hari yang lalu. Pagi ini aku sudah harus menerima laporan"
"Baik tuan"
****
Pagi hari aku terbangun dan tidak bisa melihat apapun, karena mataku ditutup oleh kain. Tapi aku bisa merasakan seseorang telah berdiri tepat didepanku. Dia sedang tersenyum sinis saat ini.
"Apa tidurmu nyenyak dokter So Hee"
Suara ini..
Sepertinya tidak asing bagiku, tapi dimana aku pernah mendengar suaranya.
"Apa kau sangat ingin melihatku? Sepertinya kau sangat penasaran denganku, bukankah begitu ?"
Seseorang membuka kain yang menutupi mataku. Perlahan aku membuka mata dan melihat siapa dalang yang ada dibalik semua ini.
"Kau..."