
(Jakarta, 22 Desember 2014)
"Tuan kami telah mendapatkan informasi tersebut"
"Cepat katakan padaku apa yang kalian dapatkan"
"Penghapusan data pribadi secara internasional hanya dapat dilakukan oleh orang yang berpengaruh di Korea, dan kami telah menemukan siapa orang tersebut"
"Orang yang berpengaruh, siapa dia ?"
"Beliau adalah anak kedua dari pemilik perusahaan Yoon, Yoon Yoo Ra"
"Seorang wanita ?"
"Benar tuan"
"Apakah dia adik dari ayah Nayla ?"
"Kemungkinan besar ya tuan"
"Mungkinkah om Dirga adalah keturunan Korea? Cari tau mengenai keluarga Yoon lebih jauh, dan beritahu aku keadaan Nayla saat ini"
"Nona Nayla memang selamat dari kebakaran tersebut tuan, tetapi ingatannya menghilang dan selama ini hidup dengan nama baru"
"Amnesia? Itu sebabnya kau tidak pernah kembali kesini, Nay. Siapa namanya saat ini ?"
"Yoon So Hee, seorang dokter yang bekerja di RS Junkook sebagai Spesialis anak"
"Apa?!"
Arjun nampak sangat terkejut ketika mendapati laporan bahwa So Hee yang ia kenal sebagai dokter pribadi Cleo adalah sahabat masa kecilnya yang selama ini ia cari.
Akhirnya laki-laki itu mengetahui kebenaran mengenai siapa diriku sebenarnya.
Dan disaat yang bersamaan, aku juga mengetahui siapa dalang dibalik kecelakaan yang menimpa keluargaku. Semua itu berhubungan dengan laki-laki yang ku cintai.
'Apa yang harus aku lakukan untuk menghadapinya'
Pertanyaan yang sama ada dalam pikiranku dan juga Arjun.
Aku yang tidak sanggup menerima fakta bahwa kematian keluargaku disebabkan oleh ayahnya.
Dan Arjun berpikir bahwa ia merasa bersalah karna perbuatan ayahnya telah merenggut nyawa keluargaku.
"Apa perintah bapak selanjutnya ?"
"Cari tau mengenai keluarga Yoon lebih jauh"
"Baik pak, kalau begitu saya permisi"
Setelah kepergian pengawalnya, Arjun berdiri menatap pemandangan kota Jakarta melalui jendela di kantornya dengan tatapan kosong.
Kejutan yang ia terima saat ini belum sanggup menjadi kenyataan yang terjadi dalam hidupnya.
Sebenarnya jauh didalam hati kecil Arjun merasa senang karna gadis yang dulu ia cintai dan sempat menghilang kini kembali dalam pelukannya menjadi gadis yang ia sukai.
Tapi mimpi buruk yang ia alami malam itu membuat rasa bersalah menghantuinya. Jika saja bukan karna perbuatan ayahnya maka keluargaku tidak akan menjadi seperti saat ini.
****
(Seoul, 22 Desember 2014)
Siang itu aku terbangun di ranjang rumah sakit, dan terdengar suara tante Yoo Ra sedang berbicara dengan nada tinggi.
Apakah tante sedang marah sekarang, tapi dengan siapa ??
Pikirku.
"Aku sudah mengatakan kalau So Hee sedang tidak sehat, apa kau masih tetap ingin melakukan tes itu ?!"
"Itu hanya alasan mu agar kami tidak pernah mengetahui kenyataan bahwa dia bukanlah cucu kandung kami"
"Ibu terserah apapun yang kau katakan, tes itu bisa dilakukan kapanpun tapi tidak hari ini"
Benar tes DNA itu.
Aku sedikit mendengar percakapan tante Yoo Ra dan ibunya mengenai tes yang akan dilakukan padaku hari ini.
Tapi aku sedang berbaring diranjang rumah sakit. Tunggu, bagaimana aku bisa ada disini ??
"Hm..."
Aku berdehem karena ingin mengangkat tubuhku tapi tidak mampu, kurasa aku terlalu lemas untuk bangun.
Tanpa ku sadari temanku Kim Ji Ah sudah berada di sisiku entah sejak kapan. Kini ia sedang membantuku untuk berbaring.
"Kau baru saja sadar jangan banyak bergerak, tubuhmu masih lemah"
"Ada apa denganku ?"
"Bukankah seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu? Ada apa denganmu, kau tidak menghubungiku saat kembali ke Korea tapi justru bertemu di rumah sakit, jika saja aku tidak melihatmu di koridor tadi malam mungkin aku tidak akan mengetahui apa yang terjadi padamu"
"Maafkan aku, sejak aku tiba tante Yoo Ra sudah membawaku berkeliling bersamanya, sampai aku lupa untuk memberimu kabar, dan mengenai semalam aku juga tidak ingat pasti mengapa aku bisa sampai terbaring disini"
"Tante bilang kau pingsan semalam, dokter mengatakan kau mengalami shock dan banyak pikiran. Sebenarnya apa yang kau pikirkan belakangan ini, kau juga menghilang selama tiga hari saat masih di Indonesia"
"Semua masalah ini berhubungan dengan Arjun"
"Arjun? Pria Indo yang kau sukai itu ?"
"Hm..."
"Ada apa dengannya ?"
"Kau ingat bahwa orangtuaku mengalami kecelakaan yang disebabkan olehku ?"
"Uhm, itu sebabnya kau ingin mencari tahu lebih banyak dan pergi ke Indonesia tahun lalu"
"Kau benar. Setelah aku menyalahkan diriku terus-menerus tante merasa bersalah dan mulai menyelidiki ulang kasus tersebut secara diam-diam, dan semua itu berawal dari permusuhan ayahku dan juga ayah Arjun"
"Jadi maksudmu ayah Arjun yang menyebabkan kecelakaan itu ?"
"Iya, dan aku dengan begitu mudahnya jatuh cinta pada orang yang berhubungan dengan kematian orangtuaku, apa yang harus ku lakukan sekarang, Ji Ah ?"
"Sudahlah, ini semua sudah menjadi bagian dari takdirmu, tidak ada gunanya kau menghindar cepat atau lambat kau pasti akan segera menghadapinya"
"Tapi aku masih belum siap menerima kenyataan ini"
"Ok untuk saat ini lupakan semua masalah itu, dan fokus pada kesehatanmu sendiri, aku sudah meminta izin cuti untukmu"
"Terimakasih Ji Ah"
"Sekarang tersenyumlah, tidak baik jika tante Yoo Ra melihatmu menangis seperti ini"
"Uhm.."
Menceritakan beberapa kejadian yang baru saja aku ketahui semalam pada Ji Ah membuatku kembali menitikkan air mata.
Penghiburannya sangat membantuku saat ini. Dan yang dikatakan oleh temanku itu memang benar, aku tidak boleh membuat tante lebih khawatir dengan melihatku menangis.
Sedang berbincang sedikit dengan Ji Ah, tak lama tante Yoo Ra masuk dan terkejut melihatku sudah tersadar.
"So Hee kau sudah sadar sayang, bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja, atau ada yang terasa sakit, katakan padaku. Ah aku akan memanggil dokter untuk memeriksa kondisimu"
"Tante tenanglah, aku baik-baik saja. Lagipula kau tidak perlu memanggil dokter, apa kau lupa kalau aku ini juga dokter dan masih ada teman dokterku disini, aku baik-baik saja"
"Sungguh ?"
"Iya"
"Ah kau membuatku benar-benar takut semalam, kau pingsan ditengah-tengah pembicaraan membuatku sangat khawatir"
"Maafkan aku tante, aku hanya kelelahan saja"
"Sebaiknya kau istirahat lebih banyak biar aku yang akan mengurus izin mu"
"Kalau masalah izin serahkan padaku tante, sudah beres"
"Benarkah? Wah, sepertinya temanmu ini memang berguna, So Hee"
"Tante apa maksudmu ?"
"Yah selama ini kau hanya bisa membuatku khawatir bersama anak ini karena kalian terus menimbulkan masalah dan aku yang harus menyelesaikannya, aku benar kan ?"
"Tante sudahlah itu kan masa lalu"
"Baiklah-baiklah, sekarang kau istirahat saja"
"Tapi bagaimana dengan tes nya? Bukankah hari ini harus dilaksanakan ?"
"Aku sudah memberitahu mereka kau tidak bisa melakukannya hari ini"
"Tapi kenapa tante, aku hanya pingsan saja tidak ada yang serius, aku bisa pergi ke RS Daehan sekarang"
"Sudahlah turuti saja ucapanku, aku harus mengurus pekerjaanku sebentar, nanti aku kembali lagi, Ji Ah tolong jaga So Hee untukku ya"
"Baik tante"
Perkataan tante Yoo Ra bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat. Apapun yang diperintahkannya memiliki niat baik untukku, tapi bagaimana dengan hubungan antara beliau dan orangtuanya.
"Tes? Tes apa yang harus kau lakukan di RS Daehan ?"
"Tes DNA"
"Mwo ?!" (Apa?!)
"Tes DNA, apa kau sudah mulai tuli sekarang ?"
"Ani, geugeon anigo. Geunde wae neoneun DNA teseuteureul mueoseul ?" (Tidak, bukan begitu. Tapi kenapa kau harus melakukan tes DNA ?)
"Gin iyagi" (ceritanya panjang)
"Yeoga sigani manha, jigeum malhaejyo" (aku punya banyak waktu, sebaiknya kau ceritakan sekarang)
"Gomoui bumonim-eun naega saengmulhagjeog sonjarago mideul su oebseo" (orangtua tante Yoo Ra tidak percaya bahwa aku adalah cucu kandung mereka)
"Mwo ?!" (Apa?!)
"Geuraeseoui modeun il-i" (itu sebabnya ini semua terjadi)
"Wah, michyeosseo, michyeosseo. Ani, geudeurui maeume mueosi issneunga, neo daeche ?" (Wah bisa gila aku. Apa sebenarnya yang mereka pikirkan tentangmu ?)
"Nado molla" (aku juga tidak tahu)
"Yoo Ra gomoga siheomeul seungin haesseo ?" (Apa tante Yoo Ra menyetujui tes ini ?)
"Cheoeumeneun anijiman, naega jujanghaessgi ttaemune geuneun machimnae donguihaesseo" (awalnya tidak, tapi karena aku bersikeras akhirnya beliau setuju)
"Geureomi hu neoui gyeheogeun mueoseo ?" (Lalu apa rencanamu setelah ini ?)
"Mollayo. Moreugesseoyo. Huaa" (tidak tahu. Aku tidak mengerti. Huaa)
Kepalaku hampir meledak hanya dengan memikirkannya. Disisi lain aku tidak ingin tante terus-terusan menentang perintah orangtuanya, tapi disisi lain aku juga tidak bisa menentang perintah tante.
"Eo" (baiklah)
Aku kembali berbaring karena kepala ku kembali pusing setelah memikirkan masalah tes DNA itu.
"Ji Ah, kemana tanteku pergi ?"
"Mengurus pekerjaan"
"Pekerjaan apa ?"
"Menurutmu? Tante Yoo Ra itu seorang Kepala Editor tentu banyak pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan"
"Lebih tepatnya pekerjaan apa yang sedang menunggunya? Apa benar mengenai editor atau masalah yang berhubungan dengan Arjun ?"
"Entahlah"
"Ambilkan ponselku!"
"Apa kau sedang memberi perintah padaku nyonya So Hee ?"
"Hehe, Ji Ah bisa tolong ambilkan ponselku"
"Tidak bisa, kau sedang butuh istirahat. Ponsel akan memengaruhi istirahatmu"
"Hanya sebentar, aku ingin menghubungi tante"
"Biar aku saja, kau tetaplah berbaring"
"Baiklah"
Ji Ah itu sedikit banyak memiliki sifat yang sama sepertiku, keras kepala. Apapun yang di katakannya tidak bisa di ganggu gugat. Terpaksa aku sedikit memejamkan mata, dan mulai terlelap kembali. Sedangkan Ji Ah keluar dari ruangan untuk menghubungi tante.
Saat Ji Ah kembali ingin memberitahukan keberadaan tante Yoo Ra padaku, ia melihat aku telah terlelap.
"Anak satu ini tadi begitu heboh ingin main ponsel, ku tinggal sebentar langsung terlelap ke awan, hm... cepat sembuh sayang"
****
[Jakarta]
Setelah kembali ke Korea aku justru berakhir di ranjang rumah sakit lagi. Apakah daya tahan tubuhku selemah itu ??
So Hee : Ini semua karena author yang membuatku terus-menerus tertimpa kesialan. Bisakah kau sedikit lebih baik padaku, thor !!!
Author : Kau memang ditakdirkan untuk selalu berada dirumah sakit sejak awal, terima saja !
So Hee : Apa kau begitu senang mengirimku ke ranjang keras begitu ?? Lihat saja jika aku sudah keluar, aku akan mencarimu
Author : (kabur)
Back to Story ...
Arjun terlihat gusar sambil menatap layar ponselnya.
"Sedang apa kau disini ?"
Tak ada sahutan dari pertanyaan kak Dara, membuat wanita itu berjalan mendekat.
"Hey kau sedang melamun ?"
"Kak! kau membuatku terkejut saja"
"Aku sudah memanggilmu dari tadi, tapi tak ada jawaban, aku mengira kau tertidur"
"Mana mungkin aku tidur dengan posisi seperti ini ?"
Saat ini Arjun sedang duduk di kursi taman dengan posisi tangan menangkup dagu yang di topangkan pada kedua kakinya. Yah, persis seperti orang sedang menunggu hasil pancingan.
"Haha... kau benar. Baiklah ada apa lagi kali ini? Wajahmu terlihat sangat masam, apa kau bertengkar lagi dengan So Hee sampai dia tak memberimu kabar ?"
"Kami tidak bertengkar"
"Lalu apa masalahnya ?"
"Apa kau tahu kak..."
"Tidak tahu"
Sebelum Arjun menyelesaikan ucapannya, kak Dara terlebih dahulu memotongnya membuat sang adik berdecak sebal.
"Ck.. biarkan aku menyelesaikan kalimatku dulu baru kau boleh memotongnya"
"Baiklah baiklah"
"Apa kau tahu kalau aku sudah menemukan keberadaan Nayla sekarang"
"Sungguh ?!"
"Hm.."
"Dimana dia sekarang ?"
"Korea"
"Lalu kenapa kau masih disini, cepat pergi temui dia"
"Aku tidak bisa"
"Kenapa? Bukankah selama ini kau sangat ingin menemukannya ?"
"Kau benar, aku memang sangat ingin menemukannya, tapi aku tidak pernah berpikir bahwa mungkin dia akan menyalahkanku karena penyebab kematian keluarganya"
"Apa maksudmu ?"
"Papah yang merencanakan semua itu kak"
"Apa?!"
"Dan kau tahu apa lagi yang ku temukan? Nayla memiliki kehidupan baru sebagai So Hee"
"So Hee? Sepertinya aku pernah mendengar nama ini"
"Kak apa kau mulai pikun sekarang ?"
"Arjun apa kau sedang menyumpahiku sekarang!"
"Kenapa kau begitu lemot, So Hee itu wanitaku dokter Cleo apa kau ingat ?!"
"Heee... maksudmu So Hee gadis itu"
"Ya"
"Arjun apa yang terjadi sebenarnya, kenapa semuanya jadi terasa lebih rumit ?"
"Aku juga tidak tahu apa yang telah terjadi di masa lalu, tapi aku akan segera mencari tahu"
Kak Dara sangat terkejut mendengar kedua berita yang baru saja disampaikan oleh adiknya itu.
Kak Dara memang baru mengetahui bahwa ayahnya terlibat dalam kejadian kebakaran yang menewaskan seluruh keluargaku saat itu.
"Bukankah papah dan om Dirga itu teman baik, tidak ada alasan untuk papah bisa melakukan hal itu"
"Sejauh yang ku tahu hubungan papah dan juga om Dirga sempat merenggang karena beberapa alasan"
"Meskipun begitu tapi sangat tidak mungkin papah sampai melakukan hal itu"
"Aku pun merasa begitu kak, itu sebabnya aku akan menyelidiki hal ini lebih dalam"
"Lalu apa rencanamu terhadap So Hee ?"
"Dia belum memberiku kabar, dan aku terlalu takut untuk menghubunginya"
"Apa menurutmu dia sudah mengetahui kebenarannya ?"
"Aku juga berpikir begitu, karena sejak awal ia datang ke sini hanya untuk mengetahui kejadian naas yang menimpa keluarganya, tapi aku sama sekali tidak menyangka bahwa hal yang sama sedang aku lakukan untuk menemukan keberadaannya"
"Om Arjun"
Disaat yang serius seperti ini, Cleo muncul dengan wajah ceria dihadapan Arjun, membuat lelaki itu tersenyum secara spontan.
"Kapan om datang ?"
"Sejak tadi"
"Kenapa tidak menemui Cleo ?"
"Om kira Cleo sedang tidur"
"Apa om sedang sedih ?"
"Sedikit"
"Om jangan sedih, nanti Cleo minta kak So Hee untuk menelpon supaya om bisa bicara dengannya ?"
"Eh, dari mana Cleo tau kalau om sedih karna kakak So Hee mu ?"
"Tentu saja, kak So Hee itu sangat cantik dan pintar om pasti sudah menyukainya sepertiku"
"Wah, apa Cleo menyukai kak So Hee ?"
"Hm..."
"Kalau begitu bisa Cleo panggilkan kak So Hee untuk om ?"
"Tentu saja, sebentar"
"apa kau sedang memanfaatkan anakku sekarang ?"
"kau salah, aku hanya menerima bantuan dari anakmu"
"dasar licik, bukankah itu sama saja"
Seperti kebanyakan anak lain seusianya yang masih terlihat polos sama hal nya dengan Cleo. Tanpa mengetahui masalah yang ada diantara aku dan juga Arjun, dengan ringan hati ia menghubungiku.
Terdengar deringan ponselku yang saat itu terletak diatas nakas meja rumah sakit.
"Halo, kak So Hee ini Cleo. Sebentar om Arjun ingin bicara denganmu"
Setelah mengatakan maksudnya, bocah cilik itu berlari kearah Arjun untuk memberikan telpon pada laki-laki itu.
"Halo, So Hee kau disana ?"
"... ... ..."
*****
Wah,, sempat kesusahan untuk menepati janji up perminggu,, 🤗🤗
Jadi author sangat mengharapkan feedback kalian terutama dalam saran,, karena author sangat suka membaca komentar dari semua readers...
So... mohon dukungan berupa kritik ataupun saran Chingu ✌✌✌