
[Seoul, 18 Desember 2014]
Malam itu terlihat Yoo Sik sunbae sedang berada diruang operasi. Tidak seperti aku dan Ji Ah, sunbae memang mengambil jurusan bedah saat kuliah.
"Suction" (penghisapan/ penyedotan menggunakan alat dalam istilah medis)
Pinta kepala bedah yang dipimpin oleh Professor Baek Ji Oh pada sunbae. Tapi sepertinya tak didengarkan olehnya. Berkali-kali Prof. Baek memintanya tapi tak juga ia lakukan sampai seorang perawat menyenggol lengannya.
"Wae?" (Ada apa?)
Sunbae bertanya dengan pelan atau lebih tepat disebut dengan berbisik sambil menatap perawat itu. Sang perawat hanya memberi kode dengan mengarahkan pandangannya pada Prof. Baek.
"Ah, Joesonghabnida" (ah maafkan saya)
"Jibjunghada. Suction" (konsentrasilah. Sedot)
"Ne gyosunim" (baik Professor)
Akhirnya setelah beberapa jam berkutat dengan kasa dan darah, operasi itu berakhir dan berjalan lancar. Pasien pun dapat diselamatkan dan akan sadar setelah efek obat bius hilang.
"Oneul mwoga munje-ya?" (Ada apa denganmu hari ini?)
"Anibnida gyosunim, ijeone ireonan ire daehae joesonghabnida" (tidak ada professor, maaf atas kejadian tadi)
"Geure, daeume jibjung hae" (baiklah, lain kali lebih konsentrasilah)
"Ne algesseubnida gyosunim" (saya mengerti professor)
Setelah meminta maaf pada professor, sunbae langsung berjalan keruangan Ji Ah untuk menemui gadis itu.
"Ji Ah-saem" (panggilan untuk tenaga kerja/ dokter-perawat-guru,dsb)
"Sunbae, ada apa ?"
"Bisa kita bicara"
"Ya, masuklah. Ada apa denganmu, kau seperti sedang menghawatirkan sesuatu"
"Apa kau sudah mendapat kabar dari So Hee? Bukankah dia seharusnya sudah pulang?"
"Ah majda (ah benar). Aku juga belum mendapat kabar apapun darinya?"
"Apa terjadi sesuatu padanya?"
"Museun soriya! (Bicara apa kau ini!) Dia akan baik-baik saja mungkin hanya sibuk sampai tidak bisa memberi kabar"
"Aku hanya menghawatirkannya saja, coba kau hubungi gadis itu"
"Baiklah. Kekhawatiranmu itu sangat menggangguku, kau tahu"
"Cepatlah"
"Arraseo.. arraseo" (aku tahu sabarlah)
[Jakarta]
"Siapa gadis yang kau sebut Nayla ?"
"Aku tidak mengatakan apapun, apa kau sedang bermimpi ?"
"Dengan jelas tadi aku mendengar kau menyebut nama Nayla sambil menyentuh wajahku"
"Ah apa jangan-jangan benar ada masalah dengan kepalamu sampai membuatmu halusinasi seperti ini? Atau kau memang berharap jika aku menyentuh wajahmu dan memberimu sebuah kecupan ?"
"Jangan mimpi"
"Haha..."
Saat aku melihat tawa Arjun kala itu, tidak ada lagi kata yang kuucapkan, hanya pemandangan indah yang ku saksikan sampai suara ponsel berdering.
"Sudahlah, berhenti tertawa dan angkat telponmu, sangat berisik"
"Hey ini bukan ponselku"
"Tapi suaranya datang dari balik jas mu"
"Benarkah? Ah, ini ponselmu"
"Milikku? Bukankah sudah hilang kenapa bisa ada padamu?"
"Anak buahku yang menemukannya di gudang dalam keadaan mati, sebab itu baru ku berikan sekarang padamu karena harus diisi daya lebih dulu, terimalah"
Tanpa membalas perkataannya, aku langsung mengambil ponsel itu dan segera menerima panggilan dari Ji Ah.
"Ne, yeoboseyo" (halo)
"Ne yeoboseyo? Ya.. neo juggo sipeo, wae na hante nyuseujuji ma?" (Halo kau bilang? Apa kau ingin mati, kenapa tidak menghubungiku?)
Karena mengira ponselku hilang, aku sampai lupa untuk memberi kabar ke Seoul. Alhasil Ji Ah berubah menjadi seperti anak ayam yang telah kehilangan induknya.
"Mianhae" (maafkan aku)
"Ah dwaess-eo. Neo eodini? Hangug-e dora oji marasseoya haessneunde?" (Sudahlah. Dimana kau? Bukankah seharusnya kau sudah pulang ke Korea?)
"Ah geugeo, yagganui munjegga isseogi ttaemeune naneun naui banhwaneul yeongiyahaessda. Naneun naeil daeumnal jibae galgeoya" (ah itu, ada sedikit masalah disini jadi aku harus menunda kepulanganku. Aku akan kembali lusa)
"Munje? Museun munje?" (Masalah? Masalah apa?)
"Aniyo, amugeosdo" (tidak, bukan apa-apa)
"Yaegihae-bwa" (beritahu aku)
"Najung-e, ildan kkeunheunda" (lain kali saja, sudah dulu ya)
Tidak baik membicarakan masalah seperti ini ditelepon, lagipula jika aku menceritakannya sekarang akan timbul kegemparan disana, apalagi jika sampai tante mengetahuinya.
Ah benar, tante. Aku lupa untuk mengabarinya juga, terakhir kali aku berbicara padanya pagi tadi, beliau tampak khawatir.
"Ada apa? Apa ada masalah? Kenapa ekspresi wajahmu begitu ?"
"Memangnya ekspresi wajahku kenapa?"
"Aku sedang bertanya padamu, bukankah seharusnya kau menjawabku terlebih dahulu baru menanyakan sesuatu yang lain!"
"Ah dwaess-eo (sudahlah). Berbicara denganmu sangat membuatku pusing, lebih baik kau keluar dari ruanganku dan tinggalkan aku sendiri"
"Ada apa denganmu sebenarnya, suasana hatimu cepat sekali berubah!"
"Cepat keluar"
Aku berubah jadi sangat kesal setelah teringat percakapanku dengan tante Yoo Ra terakhir kali. Itu semua karena Lolita, calon istri Arjun. Lelaki yang ada dihadapanku saat ini.
Laki-laki itu akhirnya mengalah dan segera keluar, tapi tetap dengan mulut yang terus menggerutu.
"Ah baiklah-baiklah, aku keluar sekarang. Dasar wanita suka memerintah, alih-alih mengucapkan terimakasih justru mengusirku dari ruangan"
"Aku mendengarnya!"
"Baiklah tuan puteri aku akan keluar sekarang juga, selamat beristirahat"
Dan akhirnya dia benar-benar keluar dari ruanganku. Ah rasanya benar-benar sesak. Bagaimana bisa aku menahan semua perasaanku seorang diri.
Bagaimana aku bisa melupakannya jika dia terus menerus bersikap baik padaku, dan selalu menolongku setiap saat. Ya Tuhan, perasaan ini sangat menyiksaku.
"Entah apa yang kau lakukan pada gadis itu, mungkin kau akan membebaskannya begitu saja karena dia adalah calon istrimu. Tapi kenapa aku masih merasa tidak adil padahal aku tahu kemungkinan yang akan terjadi"
Tanpa sadar air mataku jatuh dipunggung tanganku yang sedang memegang ponsel.
Aku terlalu memikirkan laki-laki yang sudah milik orang lain, sedangkan ada seseorang yang menghawatirkanku di Seoul.
"Gomo, naya" (Tante, ini aku)
"So Hee, kau baik-baik saja sayang. Tante sangat menghawatirkanmu!"
"Ya, aku baik-baik saja, jangan khawatir"
"Terakhir kali tante bicara denganmu, tante jadi sangat khawatir jadi tante langsung menghubungi pak Arjun dan memintanya untuk melacak ponsel yang kau gunakan untuk menelpon tante"
"Jadi, tante yang memberitahu Arjun dimana aku berada ?"
"So Hee, katakan pada tante apa yang sebenarnya terjadi. Ponselmu tidak aktif selama tiga hari, dan tiba-tiba kau menghubungi tante dengan nomor yang berbeda, yang kau bicarakan juga sedikit aneh, apa yang terjadi padamu"
"Ceritanya sangat panjang, aku akan memberitahu tante nanti saat aku sampai di rumah"
"Baiklah, kapan kau akan pulang?"
"Lusa aku akan kembali"
"Arraseo" (baiklah)
"Tante akan menghubungimu lagi nanti, tante harus menghadiri rapat"
"Dimalam hari? Rapat apa yang dilakukan pada malam hari ?"
"Kau seorang dokter anak, apa tidak ada shift malam"
"Tentu saja ada. Tapi apa hubungannya"
"Sudahlah, aku jelaskan pun kau tidak akan mengerti, baik-baik disana jaga dirimu"
Tidak heran jika tante Yoo Ra sangat sukses dengan pekerjaannya. Dia bahkan masih bekerja keras saat sudah menjadi seorang kepala bagian.
Tapi, apakah beliau tidak menghawatirkanku. Tidak.. tidak.. tadi beliau mengatakan sangat menghawatirkanku.
"Apa dia tidak ingin berbicara denganku lebih lama, dan memilih pekerjaannya dibandingkan aku? Cih.. dasar tante tetap saja aku selalu nomor dua, menyebalkan"
[Seoul, 18 Desember 2014]
Siang hari
Flashback
Setelah menghubungi Arjun semalam tante terlihat sedikit tenang mengetahui bahwa aku baik-baik saja. Tapi kemudian beliau mendapat telepon saat sedang mengurus pekerjaan dikantornya.
"Yeobose-yo" (halo)
"Ne, nugusibnikka?" (Ya, dengan siapa ini?)
"Gomo, na-ya" (tante ini aku)
"Eomona So Hee-ya, jigeum eodi issni? Gomo neoreul aju geogjeong-hane?" (Ya ampun So Hee, dimana kau sekarang? Tante sangat menghawatirkanmu?)
"Nan gwaenchanh-a, geogjeonghajima! Gomo eottae ?" (Aku baik-baik saja, jangan khawatir! Bagaimana denganmu ?)
"Jigeum eodi issnya?" (Dimana kau sekarang?)
"Gomo-ya bogo sipeo" ( tante aku sangat merindukanmu)
"Ya neo wae geure ?" (Ada apa denganmu?)
"Ani, gomo-ya naega dola wasseul ttae naega jeil johahaneun sigdange gaja uri" (Tante, ayo kita pergi ke restoran favorit ku saat aku kembali nanti)
"Joha, neoreul gidarilke" (baiklah, aku akan menunggumu)
"Gomo, dangsin jasineul dolbwajuseyo. Kkeunhneunkke" (tante, jaga dirimu. Sudah dulu ya)
Saat aku menutup telpon sebelah pihak. Tante mulai kembali khawatir dengan kondisiku.
"Ada apa dengan gadis itu sebenarnya, dia tidak pernah membuatku tenang. Aku harus memberitahu pak Arjun untuk berjaga-jaga"
Meskipun Arjun sudah mengatakan bahwa kontrakku diperpanjang dengan lelaki itu. Tapi fakta bahwa aku tidak bisa dihubungi oleh tante adalah masalah lain.
Entah ini yang dinamakan ikatan batin atau apapun itu, tetap tante seperti merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi padaku.
"Selamat siang pak Arjun"
"Ah iya selamat siang nyonya, ada yang bisa saya bantu?"
"Begini pak, saya ingin meminta tolong pada Anda yang berkaitan dengan So Hee"
Ucap tante dengan aksen inggrisnya yang fasih. Apa kalian ingat kalau tante hanya bisa berbicara bahasa Korea dan juga Inggris, tidak dengan Indonesia.
Dan untungnya, Arjun juga dapat dipercaya dengan kefasihannya. Laki-laki itu sedikit terkejut saat tante menyebut namaku.
"So Hee?"
"Sekitar sepuluh menit yang lalu So Hee menghubungi saya dengan nomor berbeda, bisakah Anda melacaknya. Saya khawatir dengan keadaannya"
"Ah tentu saja, tolong kirimkan pada saya nomor tersebut"
"Baiklah, terimakasih pak Arjun"
Setelah itu panggilan diakhiri, lalu tak lama Arjun menerima pesan dari tante Yoo Ra berisi nomor yang tadi beliau bicarakan.
'Nomor Indonesia'
Gumam Arjun saat melihat sebuah nomor dengan awalan (+62). Tidak salah itu adalah kode telpon negara Indonesia.
Segera ia menghubungi anak buahnya untuk mencari tahu lokasi terakhir pada nomor tersebut.
Tidak perlu waktu lama, kini laki-laki itu sudah mengetahui dan langsung berangkat menuju lokasi. Hanya saja tempat tersebut cukup jauh dari kota dan memakan waktu lama untuk sampai.
Saat sampai dilokasi hanya ada pepohonan disekitar sana. Tapi tak jauh dari tempat Arjun berada, terlihat sebuah bangunan tua. Laki-laki itu langsung bergerak. Terdapat beberapa orang yang menjaga pintu.
"Ini pasti tempatnya, bersiaplah"
"Baik tuan"
Setelah menyiapkan formasi, segera Arjun menyergap bangunan yang ternyata sebuah gudang tak terpakai.
Setelah melumpuhkan semua pengawal yang bertugas menjaga pintu. Arjun langsung mendobrak pintu. Matanya langsung tertuju pada gadis yang duduk dikursi, yah itu aku.
Setelah menatapku, lelaki itu beralih pada gadis yang berdiri didepanku. Gadis yang sangat tidak disukainya.
"Dasar wanita tidak tahu diri, kau pikir bisa mengancamku dengan cara seperti ini ha! Cepat tangkap dan bawa mereka semua!"
"Baik tuan"
"So Hee, maaf karena aku datang terlambat"
Hanya kata-kata itu yang kudengar darinya sebelum kesadaranku benar-benar hilang.
"Bertahanlah, aku akan membawamu kerumah sakit. Tidak akan kubiarkan gadis itu lolos kali ini"
Segera Arjun membawaku pergi meninggalkan gudang itu menuju rumah sakit.
[Seoul]
**Malam Hari**
"Apa kau sudah menghubunginya ?"
"Hm.."
"Apa yang dikatakannya ?"
"Ada sedikit masalah karena itu dia menunda kepulangannya"
"Masalah? Masalah apa ?"
"Argh, dia tidak mau memberitahuku. Lihat saja jika dia pulang nanti, akan ku cincang dia" (cincang dalam arti bergurau yah kawan)
"Kapan dia pulang ?"
"Lusa"
"Apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu ?"
"Sunbae, apa kau masih menyukai So Hee ?"
"Ada masalah ?"
"Tapi bukankah gadis itu sudah menolak lamaranmu tempo hari, tidakkah kau menyerah padanya ?"
"Aku yang menyukainya, kalau dia tidak menyukaiku tidak masalah kan, selama aku bisa melihatnya tersenyum itu sudah cukup bagiku"
"Woah... daebak (luar biasa). Kau laki-laki sungguhan"
"Apa kau pikir selama ini aku wanita"
"Haha.. sudahlah lebih baik kau kembali sekarang, sebentar lagi aku ada sesi konsultasi. Lagi pula So Hee sudah baik-baik saja"
"Kau ini seorang wanita tapi sangat kasar, pantas tidak ada yang betah berkencan denganmu"
"Moragu !" (Apa kau bilang!)
"Ya sudah kalau tidak dengar, aku pergi"
"Sunbae!"