
[Satu Bulan Kemudian]
"jadi bagaimana kegiatanmu dirumah sakit selama satu bulan ini, hm ?"
"ya begitulah, setiap hari hanya melihat anak juga orangtua mereka membuat antrian panjang seperti kereta api"
"lho... bukannya kau suka anak kecil lalu kenapa sekarang terdengar seperti keluhan"
"aku bukan mengeluh, hanya saja mereka para orangtua itu tidak seharusnya membawa anak mereka ke rumah sakit hanya untuk cek up, mereka kan bisa ke klinik yang lebih dekat dari rumah mereka, lagi pula rumah sakit terlalu banyak penyakit, bagaimana kalau anak mereka jadi jatuh sakit nantinya"
"aah, jadi dengan kata lain kau hanya khawatir pada anak mereka ?"
"tentu saja"
"lalu, bagaimana dengan orangtuanya, apa kau tidak mengkhawatirkan mereka ?"
"untuk apa, mereka para orangtua memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat daripada anaknya, jadi tidak perlu khawatir"
"hey anak nakal, dengarkan tante. Mereka para orangtua juga memiliki tubuh yang rentan meskipun secara fisik terlihat sehat. Ada alasan mengapa mereka membawa anak mereka ke rumah sakit, bukankah kau yang seharusnya lebih memahaminya daripada aku"
"tante, kau benar. Ah, sebenarnya apa yang sedang aku pikirkan sampai aku tidak bisa memahami mereka"
"karena kau adalah anak nakal, berapa lama lagi sikapmu ini akan berubah menjadi dewasa ?"
"tante juga salah dalam hal ini"
"aku, dimana letak kesalahanku ?"
"selama ini tante selalu menuruti kemauanku dan mengajariku dengan lembut sampai-sampai aku jadi terlelap dalam mimpi kasih sayangmu, intinya tante ini terlalu memanjakanku"
"memanjakanmu adalah hal paling menyenangkan untukku, lalu apa yang salah dengan itu ?"
"Eopseo" (tidak ada)
Tante Yoo Ra benar, tidak ada yang salah dengan didikannya padaku selama itu masih ada kasih sayang, hanya saja kasih sayang yang kudapatkan dari tante Yoo Ra sangat besar, mungkin melebihi kasih sayang yang dulu pernah aku dapatkan dari kedua orangtuaku.
Tante Yoo Ra sebenarnya sudah menikah, hanya saja suaminya meninggal dalam kecelakaan pesawat saat akan kembali dari luar negeri. Saat itu suaminya sedang melakukan perjalanan bisnis mewakili perusahaannya, dan saat akan kembali dari Paris ke Seoul, pesawatnya mengalami masalah dengan mesin, dan terjadilah kecelakaan tersebut.
Sejak saat itu, tante Yoo Ra memutuskan untuk pergi dari rumah keluarganya dan tinggal sendiri, sampai akhirnya ia bertemu denganku. Mungkin karena ia tidak memiliki seorang anak, maka dari itu saat beliau melihatku, beliau merasa bahwa aku memiliki nasib yang sama sepertinya, oleh karena itu ia jadi sangat menyayangiku layaknya putri kandungnya.
####
[Jakarta, 25 Oktober 2010]
Sementara di Korea aku tengah disibukkan oleh tugas magangku sebagai dokter Residen, berbeda halnya dengan keadaan di Indonesia. Tempat dimana seorang laki-laki dewasa berumur sekitar Dua Puluh Lima-an tahun itu tinggal.
"Arjun"
Memiliki nama lengkap Arjun Arya Seto, adalah seorang pengusaha muda yang menjabat sebagai CEO diperusahaan ayahnya. Selama Tiga tahun setelah menjabat sebagai CEO dari perusahaan yang bergerak dibidang properti ini telah mendapatkan banyak sekali penghargaan.
Pasalnya, selama Dua tahun ia bekerja sebagai Manager diperusahaan tersebut, Arjun sudah bisa mengembangkan inovasi terbaru, dan oleh karena itu akhirnya ia dipromosikan untuk menjadi CEO mewakili ayahnya sebagai Presiden Komisaris (Pemilik) perusahaan.
Selama Tiga tahun jabatannya pun ia sudah berhasil menaikkan harga saham dari perusahaan tersebut. Mulai dari Hotel, Rumah Sakit, Apartemen, bahkan Pusat Perbelanjaan sangat berkembang pesat dipasar saham.
Banyak perusahaan dalam negeri maupun luar negeri-yang tidak bisa dibilang sembarangan telah bergabung dan menjadi mitra perusahaan D'Jo ini. Dengan melihat perkembangan perusahaan yang sekarang membuat sang Ayah Jerry Seto merasa bangga.
Namun, siapa yang menyangka jika ternyata hubungan ayah dan putranya ini tidak berlangsung baik seperti yang seharusnya. Justru terdapat perselisihan yang sangat besar diantara keduanya.
"Arjun, apa kau lupa dengan makan malam bersama dengan keluarga tuan Deksa tadi malam, apa kau tahu papah sangat malu karena ulahmu, hah!"
"pekerjaanku tidak bisa aku tinggal hanya untuk sebuah acara makan malam"
"apa katamu, jadi maksudmu makan malam dengan keluarga Deksa tidak penting, apa kau tahu kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan Deksa bergantung dengan makan malam kemarin dan kau bilang apa, pekerjaanmu lebih penting dari sebuah acara makan malam"
"sudah ku katakan, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja hanya untuk sebuah acara makan malam"
Disaat sang ayah sudah emosi dengan meledak-ledak, Arjun tetap saja mengulang perkataannya dengan wajah datar-tanpa ekspresi sama sekali. Membuat kemarahan sang ayah makin memuncak.
"apa Anda lupa dengan apa yang sudah saya lakukan terhadap perusahaan sampai perusahaan ini menjadi perusahaan terbaik dinegara ini, apakah sebuah acara makan malam yang saya lewatkan demi pekerjaan yang penting akan membuat usaha saya selama beberapa tahun hilang begitu saja, oh tentu saja tidak akan"
"dan kau jangan lupa bahwa perusahaan Deksa adalah saingan terberat dari perusahaan kita, kerjasama yang akan papah lakukan dengannya adalah kesempatan terbaik untuk menghindari masalah dikemudian hari, apa kau tahu itu!"
"Anda sendiri yang mengatakan bahwa perusahaan Deksa adalah saingan kita, dan kau masih mengharapkan kerjasama itu, hah... omong kosong"
"dalam dunia bisnis bahkan sangat memungkinkan bagi kita untuk mencegah masalah dimasa depan meskipun dengan merangkul musuh"
"hal itu memang benar, tapi tidak semua strategi tersebut akan berhasil sepenuhnya, ada kemungkinan kita akan ditusuk dari belakang, sama seperti yang Anda lakukan terhadap ibuku, benar bukan"
"Arjun..."
"ah saya hampir lupa untuk menghadiri rapat, jika Anda sudah selesai saya akan permisi karena sudah sangat terlambat"
Arjun lagi-lagi memotong pembicaraan sang ayah dan meninggalkan beliau ditengah pembicaraan, seolah lelaki itu ingin menghindari pembicaraan pribadi dengan ayah kandungnya sendiri.
****
"Dengan penjelasan yang ada dilayar berikut kita akan melihat bahwa harga saham hotel tersebut tengah merosot, ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan Tujuh Puluh persen saham tersebut"
"baiklah, akuisisi hotel itu sesuai dengan rencana awal setelah itu gelar rapat dengan seluruh pemegang saham karena saya akan memberikan sebuah pengumuman"
"baik pak akan segera kami laksanakan"
Setelah memberikan perintah mutlak sebagai seorang Direktur Utama, lelaki itu langsung meninggalkan ruang rapat dan kembali kekantornya untuk menyelesaikan urusan dokumen yang menyangkut perusahaan.
Arjun adalah seorang pekerja keras, tegas, pintar juga ulet dalam melakukan pekerjaannya. Tak heran jika perusahaan yang dijalankannya ini menjadi berkembang dengan pesat dan menjadi salah satu perusahaan terbaik dinegara ini.
*hanya sekedar informasi jika ada yang tidak tahu, secara singkatnya Akuisisi adalah pengalihan saham perusahaan pada perusahaan lainnya.
####
[Seoul, 30 Oktober 2010]
Baiklah kita tinggalkan masalah Arjun di Jakarta, sekarang kita kembali ke Seoul dimana aku berada.
Saat ini aku sudah pindah dari rumah tante Yoo Ra, ke apartemen studio yang dibelikan tante untukku. Awalnya aku menolak jika tante harus membelikanku apartemen, tapi tante bilang jika ini adalah bagian dari syaratnya.
Tante mengatakan setidaknya aku tidak usah memikirkan bagaimana membayar sewa sebuah tempat tinggal, tadinya tante akan membelikanku apartemen yang cukup untuk dihuni satu keluarga, tapi dengan cepat aku menolak dan akhirnya disinilah aku berada. Sebuah apartemen studio yang bisa dibilang cukup jika hanya aku yang tinggal.
"Soo He"
"hey, Ji Ah?"
"apa kau mau pulang ?"
"iya, jadwal sift ku sudah selesai"
"baiklah kalau begitu masuk mobil, aku antar kamu pulang"
"wah kebetulan aku harus belajar hemat, haha"
"Aku tahu, let's go"
Sahabatku yang satu ini memang snagat mengerti aku. Entah aku yang berjodoh dengannya atau memang penulis yang meminta Ji Ah untuk mengantarku pulang. Tapi tidak masalah, berkat Ji Ah aku bisa menghemat ongkos pulang.
Lagipula apartemen ku dan rumah Ji Ah searah jadi tidak masalah, yang jadi masalah adalah sangat jarang aku berada di sift yang sama dengan gadis itu.
Sampai dirumah aku langsung membersihkan diri dan menuliskan sedikit tentang kejadian hari ini di buku harian yang selama ini telah menemaniku. Setelah itu aku langsung bersiap untuk tidur sebelum suara bel pintu membuatku urung.
"siapa yang datang di jam seperti ini ?"