After Met In Korea

After Met In Korea
여섯 - ENAM


[Delapan jam yang lalu]



"Argh kenapa hari ini aku sangat sial, pagi tadi aku lupa sarapan, makan siang sangat terlambat dan sekarang aku lembur sampai pagi, Tuhan apa kau sedang menghukumku saat ini?"



Aku seperti berbicara ngelantur didepan tumpukan kertas yang sedari tadi tak kunjung berkurang.



Hari ini aku ada jadwal shif dipagi sampai sore hari, karena telat bangun aku terburu-buru berangkat sampai tak sempat untuk sarapan.



Siangnya aku mendapatkan kunjungan yang melimpah dari para orangtua sehingga makan siangku agak terlambat.



Dan saat ini aku sedang berkutat dengan laporan yang harus ku serahkan besok pagi agar aku bisa libur tanpa pikiran.



Itu sebabnya aku merasa sangat frustasi dengan nasibku hari ini.



Dan akhirnya setelah Delapan jam berkutat dengan kertas-kertas itu, aku bisa pulang untuk tidur.



"Ah akhirnya selesai juga, jam berapa sekarang?"



Ucapku sambil meregangkan seluruh otot ditubuhku dan melirik jam sekilas, lalu menata dokumen untuk diletakkan di meja atasanku.



Setelah menyelesaikan pekerjaan aku keluar dari rumah sakit dengan kantuk yang luar biasa.



Aku terus berjalan sampai tiba di jembatan sungai Han. Aku tersandung karena aku tidak terlalu memerhatikan jalan, akibatnya tasku lepas dari genggaman dan jatuh-lebih tepatnya menggantung di bawah jembatan.



Mau tidak mau aku harus mengambilnya, berkat itu mataku jadi terbuka lebar.



Sampai tanganku ditarik oleh seseorang-yang aku pun tidak tahu datang dari mana menuju kearahnya.



Disaat itulah aku menatap matanya, dan aku merasa sangat aneh, seperti ada sesuatu dimata lelaki itu.



"Nay, Arya janji kalo nanti Arya sudah besar, Arya bakalan nikahin Nayla pakai cincin ini"



"Arya janji ya"



"Janji"



Sebuah kejadian-tampaknya dimasa lalu melintas dipikiranku secara sekilas. Membuatku terhanyut sesaat, sampai lelaki itu membuyarkan semuanya.



"Hey, what are you doing righ now? Are you crazy girl? You will be die if you jump, are you know it?"


(Hey, apa yang kau lakukan saat ini? Apa kau sudah gila? Kau bisa saja mati jika melompat, apa kau tahu itu?)



Bahasa inggris ku memang sangat tidak lancar, tetapi aku sedikit tahu kosakata inggris.



Dan salah satu yang ku tahu adalah kata 'Crazy', apa dia sedang memaki ku sekarang ??



Tidak salah lagi, ekspresinya semakin memperkuat dugaanku.



"I-bwa-yo! nuguse-yo? mwohanae-goae-yo?"


(Hey! Kau siapa? Apa yang kau lakukan?)



"I ask, what are you doing in here? Can you speak english?"


(Aku tanya, apa yang sedang kau lakukan disini? Bisakah kamu berbahasa Inggris?)



"Neo mwohani? Ah, sorry i can't speak english!"


(Apa yang kau bicarakan? Ah, maaf aku tidak bisa berbahasa Inggris)



Lalu dengan frustasi lelaki itu mengucapkan kalimat menggunakan bahasa Indonesia sebagai tanda kekesalannya, karena kami tidak bisa berkomunikasi.



"Ah kenapa harus aku yang melihatnya ingin bunuh diri"



Ternyata benar dugaanku, lelaki itu mengira bahwa aku ingin bunuh diri karena berusaha melompati pagar jembatan.



"Hey tuan, aku tidak mempunyai niatan bunuh diri, aku hanya ingin mengambil tas ku yang tersangkut dibawah sana"



"K..kau bisa bahasa Indonesia?"



"Kenapa? Ah karena kau aku jadi tidak bisa meraih tasku, padahal tadi tinggal sedikit lagi"



"Apa yang kau pikirkan saat ini, apa kau tahu kau bisa saja terjatuh ke dalam sungai saat mengambil tas itu"



"Ada benda berharga didalam tas itu"



"Se-berharga apapun benda itu, lebih berharga nyawamu sendiri, dasar gadis bodoh"



Aku terkejut dengan ucapannya. Dia baru pertama bertemu denganku tapi beraninya memanggil aku bodoh.



"Disana ada foto almarhum kedua orangtua ku"



Saat ku sebutkan apa benda berharga tersebut, ekspresi lelaki itu berubah dan sikapnya jadi lebih lunak.



"Baiklah biar aku saja yang ambilkan, kau lebih baik tunggu disini"



Lelaki itu langsung berusaha meraih tasku, dengan sedikit usaha akhirnya ia berhasil mengambilnya.



"Ini?"



Saat ia menyerahkan tas itu padaku, aku langsung mengecek bingkai fotonya, masih ada dan tak tergores sedikitpun.



"Terimakasih atas bantuanmu"



"Lebih hati-hati dan sayangilah nyawamu mulai saat ini"



"Baik, sekali lagi terimakasih"



"Aku pergi"



Disaat lelaki itu sudah menjauh aku baru ingat kalau aku tidak bertanya siapa namanya.



"Sudahlah, kalau memang jodoh pasti akan dipertemukan kembali. Lebih baik aku segera pulang dan tidur"



Aku melanjutkan perjalanan pulang, dan sampai di apartement aku langsung merebahkan diri dikasur dan langsung terlelap karena terlalu lelah.



****




Arjun merasa ada yang aneh pada dirinya karena kejadian pagi ini. Sebab selama ini ia terkenal dengan sikap sombong dan tak acuh tiba-tiba menjadi sangat murah hati dengan menolongku yang noteben-nya baru ia temui, bahkan sampai mempertaruhkan nyawanya di atas jembatan sungai Han.



"Tuan, mobil anda sudah siap, bisa kita berangkat sekarang karena pesawat akan take off sebentar lagi"



"Baik, kita berangkat sekarang"



****



Aku terbangun saat matahari sudah berada dipuncak, artinya hari sudah sangat siang.



Aku segera mandi dan mengemas rumah, lalu pergi mencari makan siang karena cacing diperutku sudah kelaparan.



"Ugh cuacanya sangat dingin, lebih baik aku cari makanan panas supaya cacingku merasa hangat"



Karena saat ini berada diujung tahun sudah pasti cuaca mulai dingin. Aku langsung menuju restaurant dekat rumah yang lumayan bisa menghangatkan tubuhku.



Sambil menunggu pesanan tiba aku mencari tempat duduk didekat jendela sambil termenung memikirkan kejadian di Hangang Bridge.



"Ingatan macam apa itu? Siapa anak perempuan dan laki-laki didalam ingatanku itu?"



Aku tidak mengerti dengan apa yang terlintas diingatanku pagi tadi. Dua anak kecil membuat janji untuk menikah. Ada hubungan apa mereka denganku.



Saat itu, aku sungguh bertanya-tanya apa yang ada dalam ingatan masa laluku. Apakah anak perempuan saat itu adalah aku.



"Siapa lelaki itu sebenarnya!"



Sebuah pertanyaan yang tidak bisa aku temukan jawabannya saat ini.



****



[Tiga tahun kemudian]



[Jakarta, 15 Desember 2013]



Hari-hari sudah berlalu begitu saja, waktu pun ikut berputar hingga membawaku ke tempat dimana kenangan itu berada.



Sebuah rumah yang seharusnya berwarna-warni dan berkesan sangat sederhana telah berubah menjadi puing-puing berwarna hitam dan abu-abu.



Sebuah rumah, tempat dimana aku dibesarkan. Tempat dimana aku dimanjakan oleh kedua orangtuaku.



Sebuah tempat dimana masa kecilku berada.



Sudah Sepuluh tahun berlalu sejak terjadinya insiden kebakaran itu, dan tak ada yang berubah.



Reruntuhan puing masih tetap berada disana, tiang yang harusnya kokoh telah berubah rapuh dan hitam.



Rumah yang seharusnya bersinar terang karena hiasan lampu kini berubah menjadi gelap, bahkan tak ada sedikit sinarpun didalamnya. Hanya cahaya bulan yang masuk lewat lubang jendela dan pintu yang rusak.



"Apakah disini aku membunuh keluargaku!"



Hatiku seakan teriris oleh pisau tajam saat mengatakan hal itu pada diriku sendiri.



Air mata tak lagi tertahan kala melihat kondisi rumah, juga kilasan masa lalu ku.



Perlahan aku memasuki rumah yang dulu menjadi tempat tinggalku bersama adik juga kedua orangtuaku. Semakin aku melangkah, air mataku tak berhenti untuk menetes.



Kesalahan kecil yang ku lakukan dulu berdampak sangat besar pada kehidupanku.



"Ayah maafkan Nayla, kalau aja dulu Nayla lebih hati-hati ayah, bunda sama Dimas gak mungkin ninggalin Nay"



Saat ini, aku hanya bisa menyesalinya. Sebuah penyesalan yang mungkin tak akan ada habisnya.



Saat aku berada didalam rumah, sebuah mobil sport Hyundai Genesis Coupe Silver berhenti tepat didepan pagar rumahku.



Seorang laki-laki berjas lengkap dengan pantopel-nya keluar dari mobil tersebut, melihat kearah rumah yang sama dengan yang aku pijaki saat itu.



"Nay, Arya janji kalo nanti Arya sudah besar, Arya bakalan nikahin Nayla pakai cincin ini"



"Arya janji ya"



"Janji"



Arjun Arya Seto. Yah, dialah laki-laki itu. Sambil mengingat kenangan manis bersama seorang gadis kecil, Arjun tersenyum tanpa sadar.



"Maafin Arya, Nay. Arya gak bisa tepatin janji Arya sama Nayla"



Setelah mengucapkan kalimat itu, Arjun kembali masuk ke mobil dan meninggalkan tempat tersebut.



Tak lama setelah mobil Arjun pergi, aku keluar dari rumah untuk kembali ke hotel.



Sebuah pertemuan yang tertunda. Karena memang bukan saatnya bagiku untuk bertemu kembali dengan lelaki itu.



Saat aku tiba di hotel, ponselku berbunyi tertera nama Sunbae disana.



"Soo He, apa kau sudah sampai di Indonesia ?"



"Baru saja aku sampai di hotel"



"Baiklah, sebaiknya kau istirahat karena disana pasti sudah larut malam"



"Ya kau benar. Hm Sunbae, bagaimana keadaan tanteku ?"



"Tante mu baik-baik saja, kau jangan khawatir"



"Baiklah, kabari aku jika ada perkembangan"



"Iya aku akan mengabarimu, lebih baik kau segera istirahat, sampai jumpa"