After Met In Korea

After Met In Korea
스물넷 - DUA PULUH EMPAT


(Seoul, 20 Desember 2014)


"Tante, aku sangat merindukanmu"


"Benarkah?"


"Uhm sangat"


"Baiklah, karna kau sangat imut hari ini aku akan memberimu sebuah kejutan"


"Sungguh!"


"Tentu saja, kau akan sangat menyukainya"


"Geure joha, gaja" (baiklah aku menyukainya, ayo pergi)


"Gaja" (ayo)


Siang itu aku sampai di bandara Incheon dan telah disambut dengan pelukan hangat dari tante Yoo Ra.


Wah,,,


Rasanya sudah sangat lama aku tidak menyentuh kulitnya yang kian bertambah halus, padahal usianya sudah semakin tua.


"Tante kenapa kulitmu begitu halus sekarang, apa kau ke salon selama aku tidak ada disini"


"Tentu saja, aku harus selalu menjaga tubuhku supaya terlihat tetap muda"


"Apa kau mengakuinya jika kau sudah bertambah tua, aigoo" (ya ampun)


"Baiklah, aku akan membiarkanmu bicara kali ini"


"Apa kau sangat merindukan suaraku hm ?"


"Tentu saja, setiap hari aku selalu mendengarmu berbicara padaku tapi selama tiga hari penuh aku tidak mendengarnya, dan saat aku mendengarnya kau justru mengatakan hal yang tidak masuk akal, itu sangat membuatku frustasi apa kau tahu!"


"Mianhe, jongmal mianhe" (aku benar-benar menyesal, maafkan aku)


"Yang terpenting saat ini aku bisa terus mendengar suaramu yang tidak merdu itu"


"Apa aku perlu bernyanyi untukmu"


"Ah kalau itu tidak perlu"


"Ah wae? Bukankah kau merindukan suaraku?" (Kenapa?)


"Tidak, tidak"


"Nyonya kita sudah sampai"


"Benarkah? Cepat sekali. Sudah ayo kita turun"


"Kemana sebenarnya kau membawaku ?"


"Kesuatu tempat yang akan membuatmu berkesan"


"Wow, benarkah ?"


"Ayo masuk"


"Tempat apa ini ?"


"Tempat dimana hanya kau dan aku yang ada disini"


"Tante apa kau akan menculikku juga sekarang ?"


"Anggap saja begitu, tapi penculikan kali ini akan sangat menyenangkan, ayo"


"Baiklah dengan senang hati aku ingin diculik olehmu"


"Ppalli ppalli" (cepatlah)


"Ne" (baik)


Sore itu aku menghabiskan waktu bersama tante Yoo Ra di Sauna, entah pikiran dari mana tante ku itu mengajakku ke tempat ini, karena ini adalah pertama kalinya beliau menginjakkan kaki disini.


Bukan tidak pernah aku mengajak tante ku itu untuk memanjakkan tubuh ke tempat ini, namun selalu ditolak mentah-mentah. Harga diriku terluka sekian lama.


"Gomo-ya wae geureoseyo ?" (Tante, ada apa denganmu ?)


"Mwoga ?" (Apa maksudmu ?)


"igosi mwonji ara ?" (apa kau tahu tempat apa ini ?)


"uhm ara, Jjimjilbang" (tahu, ini Sauna)


"arayo!" (kau tahu)


"geureom" (tentu saja)


"Wae nareul yeogiro delyeo wasseo ?" (Kenapa kau mengajakku kesini ?)


"Mwoga munje ya ?" (Ada masalah ?)


"Ani, geugeon nae mali anira geunde gomo saunareul johahaji anha, geujyo ?" (Tidak, bukan itu seperti itu, maksudku bukan kah tante tidak suka pergi ke sauna ?)


"Uhm maja" (benar)


"Ani geunde wae.. ?" (Lalu kenapa..?)


"Oneuleun yeoi" (hari ini pengecualian ?)


"Teugbyeolhan geosi isseo ?" (Apa ada yang spesial hari ini ?)


"Eo" (ya)


"Mwondeyo ?" (Apa itu ?)


"Neon" (kau)


Setelah menjawab pertanyaan terakhirku, tante langsung ngeloyor ke meja resepsionis untuk memesan tiket masuk sauna ✌


Tiket masuk disini maksudnya mendaftar ya teman-teman 🤗


Back to the story !!


Dari belakang selalu ku perhatikan gerakan tante Yoo Ra, seperti anak kecil yang tersesat di taman hiburan yah begitulah tingkah beliau saat ini. Sedangkan aku hanya terkekeh melihatnya.


"So Hee, bisakah kau jalan lebih cepat"


"Baiklah-baiklah"


"Sebenarnya apa bagusnya tempat ini ?"


"Tentu saja bagus, disini adalah tempat yang sebenarnya untuk beristirahat dan merileksasikan tubuh"


"Bukankah seharusnya pergi ke spa untuk massage supaya tubuh rileks"


"Tante, tidak semua orang punya banyak uang sepertimu, dan tidak semua orang memiliki pemikiran sepertimu okay"


"Terserah kau saja"


"Tapi ngomong-ngomong jika kau sama sekali tidak pernah datang kesini, darimana kau tahu tempat ini ?"


"Bukankah kau sering mengajakku kesini ?"


"Dan kau selalu menolaknya. Harga diriku terluka karna itu, apa kau tahu ?"


"Itu karna aku terlalu sibuk dan tak punya waktu untuk bermain"


"Lalu apa ini semua ?"


"Apalagi! Bukankah aku sudah katakan kalau kita akan habiskan waktu berdua"


"Kenapa harus tempat ini, bukankah ada banyak tempat di Seoul ?"


"Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh dan lagi kau baru saja mengalami kejadian tidak menyenangkan, terlebih kau sangat menyukai tempat ini hampir tiap pekan kau selalu menggangguku demi datang kesini"


Bukankah yang dikatakan tante Yoo Ra barusan terdengar sangat menyentuh hati.


Seorang yang keras kepala seperti beliau rela melakukan hal yang tidak disukai demi diriku, omona sesange. (Ya ampun sulit dipercaya)


"Gomo-ya" (tante)


"Ddo mwo ?" (Apa lagi)


"Saranghae" (aku menyayangimu)


"Mwoya" (ada-ada saja kau ini)


"Kalau begitu, ayo kita ganti baju dan coba berendam di air panas, ouch tubuhku rasanya sangat lengket"


"Baiklah, kau yang memimpin"


Saat akan menuju loker ponselku berdering, ku lihat tertera nama Arjun di layar. Lantas ku pinta tante untuk berganti baju dulu sementara aku menerima panggilan itu.


"Ne yeoboseyo" (halo)


"Apa kau sudah sampai ?"


"Tentu saja, tidak ada kemacetan di awan"


"Lalu kenapa tidak menghubungiku"


"Hehe... aku lupa"


"Tidak, tante mengajakku pergi ke sauna"


"Sauna?"


"Hm"


"Ok nikmati waktumu bersama beliau, hubungi aku jika sudah dirumah"


"Baiklah"


Awalnya aku mengira dia akan mengomel karna aku lupa menghubunginya. Rupanya ada sisi pengertian juga dalam dirinya.


Yah, setelah malam itu aku dan Arjun menjadi lebih dekat. Kami tidak berpacaran hanya saja terdapat komitmen diantara kami.


Kini saatnya aku mengganti pakaian dan menikmati waktu berharga dengan tante Yoo Ra sambil merilekskan tubuh.


Tubuhku terasa pegal akibat perjalanan yang ku tempuh dari Jakarta menuju Seoul, untungnya tante membawaku ke tempat yang sangat tepat.


****


Sementara itu di Jakarta, terlihat Arjun tersenyum setelah menutup telpon. Hal itu terlihat oleh kak Anggita.


"Ada apa dengan senyummu sore ini ?"


"Apa maksudmu ?"


"Aku perhatikan dari tadi pagi kau selalu tersenyum"


"Sudahlah jangan menjahili ku karna senyuman, ada urusan apa kau mencariku ke kantor ?"


"Tidak ada, aku hanya ingin mampir"


"Hanya ingin mampir? Seseorang sepertimu berkata seperti itu ?"


"Apa ada masalah ?"


"Tentu saja, cepat beritahu aku karna pekerjaanku sangat banyak, dan hari ini aku harus lembur"


"Baiklah, aku hanya ingin tahu perkembangan hubungan mu dengan So Hee, apa berjalan baik ?"


"Begitulah ?"


"Beri aku jawaban yang jelas"


"Aku tidak menjalin hubungan apapun dengannya, kami hanya sekedar berkomitmen, puas ?"


"Apa maksudmu tidak menjalin hubungan ?"


"Tentu saja tidak menjalin hubungan kak"


"Kenapa ?"


"Entahlah, aku hanya tidak ingin melakukannya"


"Apa masih karna Nayla ?"


"Hm"


"Arjun apa kau benar-benar percaya kalau Nayla masih hidup ?"


"Jelas bahwa dia masih hidup kak, jenazah itu bukan Nayla melainkan orang lain"


"Apa kau sudah menemukan keberadaannya ?"


"Orangku sedang mencarinya, dan akan ku pastikan untuk menemukannya"


"Lalu apa rencanamu selanjutnya setelah menemukan keberadaan Nayla, bagaimana dengan So Hee ?"


"Apa maksud kakak ?"


"Selama ini kau terobsesi untuk menemukan teman masa kecilmu, sedangkan saat ini kau sedang berkomitmen dengan So Hee, apa nanti jika kau sudah menemukan Nayla, kau akan melupakan komitmen mu dengan So Hee ?"


"Itu..."


"Arjun, pikirkanlah baik-baik. Aku pergi"


Perkataan kak Anggita barusan seperti pedang yang menusuk jantung Arjun secara tiba-tiba.


Jika sebelumnya ia merasa bersemangat seketika ia merasa sangat sesak, ia butuh ruang untuk bernafas.


Mungkin apa yang dikatakan kak Anggita dibenarkan oleh hati kecil Arjun.


Selama ini ia selalu dan masih selalu mencintai aku sebagai Nayla, sedangkan bersama So Hee ia hanya merasakan sedikit getaran dan memutuskan untuk berkomitmen tanpa didasari hubungan apapun.


Apakah ini sebuah lelucon bodoh ??


Sampai saat ini belum ada satupun termasuk diriku yang mengetahui bahwa kebenarannya kami adalah satu, Nayla maupun So Hee adalah aku.


****


"So Hee, apa kau memiliki hubungan dengan pak Arjun ?"


"Tidak"


"Sungguh ?"


"Hm"


"Lalu apa sebenarnya hubungan kalian ?"


"Kami tidak memiliki hubungan apapun tante, kami hanya memutuskan untuk saling berkomitmen"


"Komitmen? Kenapa tidak menjalin hubungan, bukankah itu sama saja dengan komitmen ?"


"Entahlah, tapi aku rasa komitmen saja sudah cukup untuk mengikat perasaanku"


"Apa kau begitu menyukainya ?"


"Aku juga tidak tahu kenapa aku sangat menyukainya"


"Itulah yang dinamakan cinta"


"Tante, apa kau tidak ingin menikah lagi ?"


"Kenapa? Apa kau ingin memiliki om untuk mengadu ?"


"Haha mungkin saja"


"Cinta bagiku hanya datang satu kali seumur hidup, dan seluruh cintaku sudah ku berikan pada om mu di sana"


"Apakah om Jin Woo juga sangat mencintaimu ?"


"Hm.. dialah yang paling mencintaiku"


"Aku sangat iri"


"Tentang apa ?"


"Aku juga ingin dicintai seperti itu"


"Jangan sampai kau memiliki kisah cinta seperti kami, mengerti ?"


"Ah kenapa tidak ?"


"Belum sempat menghabiskan banyak hari bersama karna kehabisan waktu"


"Tapi hari-hari yang kalian habiskan pasti sangat indah"


"Entahlah"


"Tante tenang saja, kau masih memiliki aku yang akan mencurahkan seluruh cintanya padamu, jadi jangan khawatir oke"


"Baiklah kalau begitu"


"Setelah ini kita akan menuju tempat pemijatan"


"Pijat, sepertinya aku akan menyukainya"


Sebuah kisah cinta yang indah tetapi berakhir dengan air mata, mungkin saja itu akan menjadi ceritaku di kemudian hari. Siapapun tidak ada yang akan tahu.


####


안녕하세요 🤗🤗


Sudah berapa lama??


Sangat lama sepertinya 😢


Adakah yang masih menunggu cerita ini??


Maafkan author karena pekerjaan yang menumpuk jadi terbengkalai semuanya,,


Jjinjja mianheyo 🙏🙏


Geureom, haengboghan deogso ✌


Happy reading ✌


Selamat membaca ✌


Like-comment-share


Boleh bangettttttt 😍