
****
"Maaf, aku tidak bisa mengenalimu"
"It's okay honey. You're just a break, don't think anything"
Dengan bantuan seorang penerjemah akhirnya mereka bisa berkomunikasi meskipun melalui perantara.
Tante Yoo Ra menatapku dengan lekat, membelai lembut rambut hitam panjang ku. Aku sendiri merasa nyaman dengan belaiannya. Mungkin terdapat kasih sayang yang sangat besar didalamnya.
Benar, seorang gadis yang menjadi korban kebakaran dan ditemukan dibawah puing-puing itu adalah aku. Dan wanita itu adalah tante Yoo Ra.
****
Jadi, ternyata tante Yoo Ra adalah adik kandung dari ayahku yang bernama Yoon Seok-nama Koreanya sebelum pindah kewarganegaraan dan menikah dengan ibuku.
Ayahku adalah seorang yang pekerja keras juga disiplin, ia memiliki segalanya bahkan orangtuanya sangat bangga padanya tak terkecuali adiknya.
Namun, karena suatu alasan beliau sampai meninggalkan semua itu untuk pergi ke Indonesia dan memulai kembali semuanya dari nol.
Karena itulah ayahku dan tante Yoo Ra berpisah. Tapi, ayahku tetap berhubungan dengan mengirimkan E-mail pada tante Yoo Ra. Itu sebabnya tante Yoo Ra mengetahui rumah kami di Jakarta.
***
'Soo He, aku sudah selesai operasi. Tunggu aku diruangan'
Sebuah notif pesan muncul di ponselku ketika aku baru menyelesaikan pekerjaanku.
Sesuai isi pesan tersebut, aku harus menunggu seseorang datang keruanganku.
"Soo He"
"Sunbae, ada apa?"
"Aku ingin mengajakmu makan siang bersama"
"Hari ini?"
"Minggu depan"
"Kalau ingin makan siang bersama minggu depan, kenapa mengatakan hari ini ?"
"Astaga Soo He, aku heran bagaimana bisa kau lulus dengan otak mu itu ?"
"Maksudmu aku bodoh ?"
"Memang kau bodoh, kau tidak tahu ?"
"Hm... baiklah kalau begitu manusia bodoh ini harus pergi sekarang, selamat tinggal"
"Loh kau mau kemana, aku kan mengajak mu makan siang ?"
"Bukankah minggu depan? Hari ini aku tidak bisa"
Aku bukannya tersinggung dengan omongan sunbae, hanya saja hari ini aku ingin makan bersama tante Yoo Ra.
"Sikapmu itu yang membuatku menyukaimu, apa kau sungguh tidak menyadarinya, gadis bodoh"
****
Sampai didepan kantor tante Yoo Ra, aku langsung menghubunginya untuk meminta beliau turun menemuiku. Tapi, sudah beberapa panggilan tidak juga ada jawaban.
Sampai akhirnya...
"tante, apa yang sedang kau lakukan, kenapa lama sekali mengangkat telpon dariku, aku sudah lama menunggu tante, dari tadi aku hubungi tidak ada jawaban, apa tante sedang rapat, tapi sepertinya tidak, tante kau dengar aku"
Gadis yang dahulu pendiam, yang hanya mampu mengucap satu atau dua patah kata, kini sudah sangat lancar menceramahi tante nya.
Tante Yoo Ra tersenyum mendengar celotehanku di telpon. Sedangkan aku terus saja mengomel tanpa melihat ekspresi yang ditunjukkan tante Yoo Ra padaku.
"Tante, kau dengar aku tidak ?"
"Iya, iya aku dengar, cepat katakan apa mau mu"
"Makan siang denganku, aku tunggu di depan kantormu, cepat datang aku kepanasan"
"Baiklah aku turun sekarang"
Saat ini aku sedang berdiri didepan kantor tante Yoo Ra, menunggu beliau datang menghampiriku.
Kenapa aku tidak masuk ke kantornya??
Jawabannya aku tidak mau repot-repot naik lift yang pada akhirnya akan kembali lagi kebawah menuju restaurant, sangat membuang tenaga.
"Hey anak nakal, kenapa tidak naik ?"
"Ingin berjemur"
"Bukankah tadi kau bilang kepanasan?"
"Aku lapar"
"Seharusnya kau yang lakukan cek-up bukannya aku"
"Wae-yo?" (Kenapa begitu?)
"Karena tingkah lakumu tidak sesuai dengan usia mu"
"Biarkan saja, ayo cepatlah aku sangat lapar, tante tidak tahu kan berapa lama aku menunggumu"
"Baiklah, apa yang ingin kau makan ?"
"Dolsot Bimbimpab"
"Ok, Let's go" (ok, ayo jalan)
****
[Jakarta, 10 November 2010]
"Apa rencana pembukaan hotel di Korea sudah siap ?"
"Semua sudah disiapkan oleh tim perencana pak, tinggal menunggu persetujuan bapak"
"Baiklah segera adakan rapat darurat, karena saya harus terbang ke Korea besok pagi untuk kontrak dengan mereka"
"Baik pak"
Kenapa Arjun ingin ke Korea ??
Sudah pasti karena urusan bisnisnya, tidak mungkinkan dia jauh-jauh ke Korea hanya untuk menemuiku. Bahkan kenal dengan ku saja tidak bagaimana mungkin dia menghampiriku, benar ?
Back to the topic....
"Arjun, apa kau akan berangkat ke Korea besok pagi ?"
"bukan urusanmu"
"bagaimana bukan urusanku, aku adalah tunanganmu, sudah sepantasnya aku mengetahui kegiatanmu"
"kau hanyalah tunangan diatas perjanjian bisnis, tidak berarti apa-apa bagi hidupku. Aku beri saran padamu, lebih baik kau menjaga jarak dariku dan jangan ikut campur dengan urusanku, mengerti"
"mengapa kau sangat kasar pada tunanganmu sendiri ?"
Lolita Deksa adalah pewaris tunggal keluarga Deksa. Apa kalian ingat mengenai Arjun yang tidak datang dalam acara makan malam dengan keluarga Deksa, hingga membuat ayahnya-Jerry Seto sangat marah.
Yah, Arjun akan dijodohkan dengan putri mereka atas dasar penyatuan bisnis keluarga. Tapi dengan sikap Arjun yang arogan membuatnya tidak menerima pertunangan tersebut, apalagi semua itu direncanakan sendiri oleh ayahnya tanpa meminta persetujuan dari Arjun.
Disaat Arjun ingin meninggalkan ruangannya setelah memberi peringatan pada Lolita, gadis itu justru mengejar Arjun dan memeluknya dari belakang. Dan disaat yang bersamaan sekretarisnya masuk setelah mengetuk pintu, melihat kejadian tersebut tanpa sengaja.
"maaf pak, saya tidak bermaksud mengganggu"
Setelah meminta maaf Bianca-sekretarisnya langsung kembali ke meja kerja, mengurungkan niatnya untuk menyampaikan suatu hal pada Arjun. Melihat tingkah Lolita yang sudah semakin lancang, membuat Arjun geram.
"apa yang kau lakukan, apa kau di didik untuk merayu laki-laki yang bahkan tidak ingin melihatmu, cepat lepaskan aku"
"aku tidak akan melepaskanmu sampai kau berbicara lembut padaku"
"lepaskan aku atau aku akan berbuat lebih kasar terhadapmu"
"Arjun, kenapa kau sangat kasar kepadaku"
Bukannya menjawab, Arjun segera pergi meninggalkan ruangannya, dan meninggalkan gadis itu sendiri.
"ganti schedule keberangkatan saya ke Korea jadi malam ini"
"baik pak"
****
[Seoul, 13 November 2010]
Keesokan paginya Arjun bersiap untuk menghadiri rapat bersama mitra bisnisnya dalam rencana pembangunan cabang hotel di Korea. Ia sengaja mengganti jadwal keberangkatan selain untuk menghindari Lolita, juga menghemat waktu untuk beristirahat.
Selama Tiga hari ini jadwalnya sangat padat hingga ia tidak bisa menikmati perjalanannya ke Korea untuk liburan, lagipula memang bukan itu tujuannya.
"Arjun apa urusan bisnis mu disana sudah selesai, kapan kau akan pulang, supaya aku bisa menyambutmu"
~Lolita~
"Arjun, Lolita sangat khawatir padamu, tidak bisakah kau menghubunginya"
~Komisaris~
Arjun menghela napas panjang setelah membaca beberapa pesan yang ada di ponselnya.
Pagi itu Arjun memutuskan untuk berolahraga lari, ia hanya fokus berlari dengan pikiran kosong sampai akhirnya ia tiba di taman dekat sungai Han.
Lelaki itu keluar hotel saat matahari belum keluar, ia sengaja keluar dipagi buta supaya pikirannya bisa tenang dengan suasana yang serupa.
Ia beristirahat sejenak lalu melanjutkan larinya menuju Hangang Bridge.
**
"Nay, Arya punya sesuatu buat Nay"
"Apa itu ?"
Seorang bocah lelaki yang berumur sekitar Sepuluh tahun memberikan cincin perak dengan ukiran nama sang gadis didalamnya, Nayla.
"Tapi ini terlalu besar di jari Nay"
"Supaya bisa dipakai sampai dewasa"
"Berarti sekarang Nay belum bisa pakai dong!"
"Uhm.. bisa, gini aja"
Si bocah laki-laki itu menyimpan cincin perak tersebut di rantai kalung sang gadis supaya ia tetap bisa memakainya sebagai kalung.
"Cantik, Nay suka"
**
"Tuan muda maaf kami tidak bisa menjemput nona Nayla, karena telah terjadi kebakaran disana"
"Apa! Lalu bagaimana dengan Nayla dan keluarganya?"
"Saya telah menerima informasi kalau seluruh anggota keluarga tewas akibat kebakaran tersebut"
"Tidak mungkin, Nay.. Nayla gak mungkin meninggal, Nayla"
**
Arjun tenggelam dalam pikirannya. Kilasan memori masa kecilnya kembali melintas, mengingat sebuah kejadian yang membuatnya berubah seperti sekarang.
Arjun yang dahulu hangat, ramah dan penuh kasih kini telah berubah menjadi dingin, arogan dan penuh ambisi.
Disaat itulah, Arjun melihat seorang gadis sedang berusaha melompat dari jembatan sungai Han.
Lelaki itu ingin tidak peduli pada apa yang ia saksikan pagi itu, tapi hati nuraninya melawan kehendaknya lebih keras kali ini, sampai akhirnya ia berlari untuk menyelamatkan gadis itu.
"Hey, what are you doing righ now? Are you crazy girl? You will be die if you jump, are you know it?"
(Hey, apa yang kau lakukan saat ini? Apa kau sudah gila? Kau bisa saja mati jika melompat, apa kau tahu itu?)
Arjun langsung menarik gadis itu kearahnya supaya menjauh dari jembatan.
Dan disinilah awal mereka bermula, diatas jembatan sungai Han. Dimana sebuah kilas balik masa lalu muncul kembali, mengusik kehidupan dua manusia tersebut.