
"Tante, terimakasih karena telah mengajakku ke Sauna hari ini, wah aku memang sangat membutuhkan hal ini"
"Aku tahu kau pasti akan mengatakan itu"
"Haha kau memang sangat pengertian. Kemana kita akan pergi setelah ini ?"
"Tidak pergi kemana-mana ?"
"Apa maksudmu ?"
"Bukankah sudah jelas, kita akan menginap di sini malam ini ?"
"Apa?!"
"Kenapa kau begitu terkejut bukankah selama ini kau juga sering tidur disini sampai aku memarahimu habis-habisan keesokan paginya"
"Tante kau bertindak tidak seperti biasanya hari ini, aku hanya sangat takut kau salah minum obat"
"Dasar anak nakal, kau menyumpahiku untuk cepat pikun!"
"Haha bukan begitu. Baiklah kalau itu keinginanmu dengan senang hati keponakanmu ini akan mengikutinya"
"Oke, jadi apa yang akan kita lakukan semalaman disini ?"
"Tentu saja tidur"
"Apa katamu ?"
"Tidur"
"Hanya tidur saja? Ku kira kau akan berolahraga semalaman"
"Jad kau mengira aku ini maniak olahraga begitu ?"
"Joha (baik), kau yang jadi pemanduku"
"Siap bos"
Tante Yoo Ra mengatakan akan menginap di Sauna malam ini, sumpah demi apapun aku sangat terkejut mendengarnya.
Bahkan hanya dengan melihat kedatangan tante ke Sauna saja sudah sangat membuatku terkejut, dan kali ini beliau memintaku untuk tinggal semalam disini.
Siapapun tolong bantu aku bernafas...!!
Sedikit informasi bahwa Sauna di Korea itu ada yang buka selama 24 jam tapi tidak semuanya ya teman, hanya beberapa.
*****
(Seoul, 21 Desember 2014)
Pagi hari aku terbangun dan melihat tante Yoo Ra sedang tertidur pulas disampingku. Tidak pernah aku melihatnya tidur senyenyak itu.
Tidak ingin membuatnya terbangun lantas aku pelan-pelan membersihkan diri dan berganti pakaian. Saat aku kembali tante Yoo Ra sudah bangun dan mengomel padaku.
"Darimana saja kau ?"
"Aku habis mandi tante, menurutmu aku bisa pergi kemana ?"
"Tetaplah dalam pengawasanku mengerti !"
"Tante, kita sedang ada di Sauna, bahaya macam apa yang bisa mengancam nyawaku saat ini"
"Sudahlah, kau tunggu aku disini, aku akan membersihkan diri dan pulang. Ingat jangan kemana-mana"
"Aku akan pergi membeli sarapan untukmu"
"Tidak perlu, tetaplah disana"
"Baiklah"
Aku sangat mengerti dengan sikap tante Yoo Ra yang menjadi terlalu protektif padaku, akibat kejadian beberapa hari lalu pasti membuatnya trauma jika saja ada yang menyakitiku lagi.
Karna untuk pertama kalinya aku menghilang tanpa kabar selama tiga hari berturut-turut dan ternyata benar jika telah terjadi sesuatu padaku. Itu sebabnya tante Yoo Ra selalu membuatku berada disekitarnya setelah aku kembali dari Indonesia.
Setelah tante Yoo Ra kembali, kami segera meninggalkan tempat itu dan pergi mencari sarapan untuk mengisi perut kami yang keroncongan.
"Tante aku sangat lapar, beri aku makan"
"Apa hanya kau saja yang merasa lapar? Aku juga, kita belum sempat makan apapun pagi tadi"
"Kau yang melarangku untuk membeli sarapan"
"Aku tahu kau akan pergi membeli telur rebus sebagai sarapan, dan saat aku menolaknya kau akan berkata bahwa itu adalah makanan khas di dalam Sauna begitu!"
"Hehe"
"Tidak usah tertawa, cepat ikut aku"
Aku sangat mengetahuinya jika tanteku itu sangat tidak menyukai telur rebus. Dan semalam saat aku membawakannya telur rebus dia terpaksa memakannya karna aku mengatakan tidak ada makanan lain selain telur itu disana.
Beliau memakannya penuh dengan keraguan tapi siapa sangka dua butir telur dihabiskan oleh tante Yoo Ra dengan susah payah karna aku terus saja memaksanya.
Dan pagi tadi saat mendengar bahwa aku akan pergi membeli sarapan ekspresinya memang sangat terkejut, mungkin ia mengira aku akan membeli telur rebus lagi sebagai sarapan itu sebabnya beliau langsung menolak.
Dan sekarang tante Yoo Ra membawaku ke Subway tempat dimana berbagai sandwich dengan segala macam isian dijual.
"Keulleob saendeuwichi du gaewa cheongryang eumryo du gaejuseyo" (beri kami dua club sandwich dan dua soft drink)
"Hananeun yachaelo gadeughago daleun hananeun gogiro gadeug gaejuseyo" (tolong beri satu isi sayuran dan yang satu isi penuh dengan daging)
"Ne, jamsiman gidaryeojuseyo" (baik, silahkan tunggu sebentar)
"Ne" (ya)
Kami menunggu beberapa saat sebelum makanan siap dengan mengobrol sedikit.
"Kemana lagi kau akan membawaku setelah ini tante ?"
"Bagaimana kalau kita pergi berbelanja ?"
"Apa kau tidak bekerja hari ini ?"
"Aku cuti hari ini untuk menemanimu berbelanja, mengerti!"
"Tapi aku belum menyetujui usulmu bagaimana kau dengan pede mengajukan cuti hari ini"
"Karna aku tahu kau tidak akan bisa menolakku, apalagi untuk menghabiskan uangku, benarkan!"
"Haha kau benar sekali"
"Ini pesanan kalian, selamat menikmati"
"Ne, gamsahabnida" (terimakasih)
Kami langsung menyantap sarapan yang telah dipesan. Tidak ada obrolan saat kami tengah makan karna tante Yoo Ra sangat tidak menyukai jenis percakapan apapun disaat makan.
Setelah selesai sarapan tante Yoo Ra langsung membawaku ke pusat perbelanjaan seperti katanya.
Ada begitu banyak barang bagus di mall ini, mataku langsung tertuju pada dress putih selutut yang terpajang di toko pakaian tepat di depanku.
Seperti janji tante Yoo Ra sebelumnya bahwa ia akan membelikanku barang apapun yang aku suka.
Hampir seharian aku berada di pusat perbelanjaan. Kakiku sudah sangat pegal, perutku juga sudah mulai lapar. Akhirnya siang itu tante mengajakku ke restoran kesukaanku.
"Baiklah kali ini aku akan memenuhi janjiku padamu"
"Masih ada janji lain ?"
"Keinginanmu saat menelponku setelah tiga hari kau menghilang, ingat ?"
"Ah, bimbimbap"
"Betul sekali"
"Geure joha, gaja" (baiklah, ayo pergi)
***
"Apa kau sudah kenyang ?"
"Aku sangat kenyang, wah rasanya sudah lama aku tidak makan makanan kesukaanku itu"
"Apa kau tidak memakannya selama di Jakarta ?"
"Kau tahu aku sangat sibuk"
"Baiklah. Sekarang kita pulang saja, hari ini cukup sampai disini, kau butuh istirahat"
"Aku rindu rumah, ayo cepat kita pulang tante"
"Iya-iya tunggu sebentar, kau sangat tidak sabaran"
****
(Sore hari di kediaman tante Yoo Ra)
Saat itu aku tengah tertidur lelap dikamar, tak lama tante Yoo Ra masuk kamarku dan duduk tepat di sebelahku, menatapku dalam kemudian membelai rambutku pelan.
'Maafkan tante yang tidak bisa melindungimu, sayang'
Terdengar nada sedih yang mampu menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Kejadian yang menimpaku di Jakarta beberapa hari yang lalu memang sangat diluar dugaan.
"Jwesonghabnida buin, bondangeseo jeonhwaga wassseubnida" (maaf nyonya, anda mendapatkan panggilan dari rumah utama)
"Bakkeseo gidaryeo" (tunggu diluar)
"Joheun buin" (baik nyonya)
"Ne yeoboseyo" (halo)
"Yoo Ra, pulanglah kerumah ayah memanggilmu"
Terdengar suara yang sangat familiar bagi tante Yoo Ra diseberang sana. Yah benar, suara itu adalah milik ibu kandung tante Yoo Ra.
"Bukankah aku sudah memutuskan hubungan keluarga sejak lama, untuk apa ayah mencariku ?"
"Beginikah caramu berbicara pada ibumu"
"Apa benar kalian masih menganggapku sebagai anak kalian, setelah apa yang kalian lakukan pada anak kalian sendiri!"
"Sudahlah, lebih baik malam ini kau datang ke rumah"
"Aku tidak ingin datang, aku sedang banyak urusan"
"Urusan apa yang mengharuskanmu mengambil cuti hari ini"
"Apa kalian masih saja mengawasiku selama ini. Ibu dengar, aku tidak akan datang menemuinya"
"Ibu hanya ingin menyampaikan itu saja, ibu harap kau bisa memenuhi permintaan ayahmu. Kau bisa membawa gadis itu bersama mu. Sampai jumpa nanti malam"
Panggilan terputus dengan raut wajah tante Yoo Ra yang tampak kesal.
"Apa mau mereka terhadap So Hee sebenarnya. Aku tidak akan membiarkan mereka mengusiknya"
***
"So Hee kau sudah bangun ?"
"Hm.. tidurku sangat nyenyak, tidak terasa sebentar lagi sudah masuk jam makan malam, tante apa yang kau siapkan kali ini ?"
"Kita tidak akan makan malam dirumah malam ini"
"Eh kenapa begitu? Apa kau akan mengajakku makan diluar ?"
"Hm"
"Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar aku akan ganti pakaian dan sedikit berdandan, oke"
"Baiklah, aku akan menunggumu dibawah. Cepatlah"
"Baik"
Malam itu aku memutuskan untuk memakai dress putih yang tadi sempat aku beli. Hari itu aku tidak tahu kemana tante Yoo Ra akan membawaku, karena beliau tidak mengatakan apapun padaku dan aku hanya bisa menurutinya.
Cukup lama kami diperjalanan sampai mobil tante Yoo Ra berhenti di depan gerbang yang sangat mewah.
"Wah tempat apa ini tante ?"
"Nanti juga kau akan tahu"
"Silahkan masuk nyonya"
"Nyonya ?"
"Rasa penasaranmu akan terjawab nanti, jadi bersabarlah"
"Baiklah"
Setelah penjaga membukakan gerbang mewah didepan tadi, kini mobil tante Yoo Ra berhenti tepat didepan sebuah gedung putih seperti 'istana presiden' menurutku.
"Turunlah"
"Hm"
Aku mengikuti tante Yoo Ra melangkahkan kaki karena tidak ingin tersesat sendirian ditempat seluas ini. Saat kami masuk terdapat barisan pelayan sudah membungkukkan badan seperti sedang menyambut kedatangan kami.
"Selamat datang kembali kerumah, nyonya"
Lagi-lagi aku mendengar kata 'nyonya' saat mereka melihat kedatangan tante Yoo Ra. Tunggu, apakah ini kediaman utama tante Yoo Ra ???
Aku terus bertanya-tanya dalam hati.
"Tante apa kau sedang mengajakku untuk bertemu dengan kakek dan nenek ?"
"Tepat sekali"
Wah,,,
Apakah benar rumah sebesar ini adalah milik kakek dan nenekku. Tapi pertanyaan yang sebenarnya adalah apakah gedung ini masih bisa disebut sebagai rumah, ini jauh lebih besar dari dugaanku. Bahkan bangunan ini lebih cocok disebut sebagai istana putih karena desain interior yang memang serba putih.
"Tuan dan nyonya besar sudah menunggu di ruang makan, silahkan masuk nyonya"
Tante Yoo Ra hanya berjalan masuk tanpa menghiraukan perkataan penjaga tadi. Aku hanya bisa terus mengikuti langkah beliau.
Terdapat sebuah meja makan panjang yang hanya berisi dua orang saja, dan sudah bisa kutebak jika mereka adalah orangtua tante Yoo Ra yang tak lain adalah kakek dan juga nenekku.
Tante Yoo Ra segera duduk dihadapan ibunya, sedangkan aku duduk disamping tante, tidak berani menatap mata wanita yang duduk di hadapanku itu karena aura yang beliau pancarkan sangatlah menakutkan.
Yang kutahu hanyalah bahwa mereka tidak menyukaiku. Itulah alasan mengapa tante Yoo Ra tidak pernah membawaku untuk bertemu dengan mereka.
Dan kali ini, tante sendiri yang membawaku kehadapan mereka untuk makan bersama. Ada apa sebenarnya malam ini.
Suasana yang begitu tegang dan canggung menyelimuti seluruh ruangan. Tidak ada percakapan selama kami makan, sangat persis dengan kebiasaan tante Yoo Ra. Sepertinya memang beginilah tata cara makan dalam keluarga ini.
Setelah makan malam, kami dibawa menuju ke sebuah ruangan yang cukup luas, sepertinya ruang keluarga. Karena ruangan ini bisa dibilang cukup santai tidak seperti ruangan lain yang terlalu dominan.
"Apa yang ingin kalian bicarakan sampai memanggilku kerumah ini"
"Ini adalah rumahmu, tentu saja kau harus kembali kesini"
"Bukankah aku sudah memutuskan hubungan dengan keluarga ini sejak lama, apa masih pantas jika aku kembali kerumah ini ?"
"Yoo Ra apa begini caramu berkata pada ayahmu ?!"
"Ayah? Seorang ayah mana yang tega membuang anak kandungnya sendiri!"
"Apa maksudmu ?"
"Aku datang hari ini untuk memenuhi undangan kalian karna ada sesuatu yang harus dibicarakan, ku rasa sekarang waktunya"
"Yoo Ra, sudah terlalu lama kau bermain diluar sana, sekarang saatnya kau kembali kerumah dan mengurus perusahaan karna ayah tidak selamanya bisa mengurus perusahaan"
"Perusahaan? Aku tidak memiliki hak apapun untuk mewarisi perusahaan itu!"
"Yoo Ra apa maksudmu kau tidak berhak"
"Bukankah kalian telah mewariskan perusahaan kepada kak Yoon Seok sebelumnya, karna sekarang kakak ku sudah tiada bukankah seharusnya So Hee yang berhak mewarisinya"
"Atas dasar apa dia mengambil alih perusahaan ?!"
"Dia adalah anak kandung dari putra sulung kalian"
"Aku tidak tahu kau pungut anak itu darimana, yang jelas aku tidak akan mengakuinya sebagai cucuku karena pernikahan Yoon Seok memang tidak pernah aku restui"
"Mau sampai kapan kalian terus menghindar bahwa So Hee juga darah daging kalian"
"Cukup Yoo Ra, ayahmu memintamu datang hari ini untuk kembali ke perusahaan, bukan ingin berdebat denganmu karna anak yang tidak jelas asal-usulnya itu"
"So Hee bukanlah anak yang tidak jelas asal-usulnya, dia adalah anak kandung dari kakaku, jika kalian tidak ingin mengakuinya itu terserah kalian aku juga tidak butuh izin apapun untuk mengurusnya. Mengenai permintaan kalian untuk mengundangku kesini, dengan senang hati aku menolak. Aku harus pergi sekarang"
Dengan kedua mataku sendiri aku melihat tante Yoo Ra membantah kata-kata kedua orangtua kandungnya, hanya untuk membela ku.
Apakah keluarga ini begitu membenciku sampai tidak ingin mengakui aku sebagai salah satu anggota keluarga mereka.
Apakah ayahku telah membuat kesalahan besar dimasa lalu sampai orangtuanya sendiri tidak mau mengakuinya.
Kesalahan apa yang dibuat oleh ayahku sampai tante Yoo Ra pergi dari rumah dan memutuskan hubungan dengan keluarganya demi aku.
Sebenarnya masalah apa yang telah terjadi dalam keluarga ini yang aku tidak ketahui.
"Aku akan mengakui kalau gadis itu cucuku jika dalam darahnya mengalir darah keturunan Yoon yang sah"
"Apa maksudmu sebenarnya"
"Lakukan tes DNA"
"Apa?!"
Apakah dengan cara ini aku bisa diterima dalam keluarga itu ???
Apakah dengan melakukan satu hal itu aku bisa membuat ketegangan antara tante Yoo Ra dan orangtuanya bisa mereda ???
Apakah dengan tes DNA bisa membuat ayahku senang karna nantinya aku bisa diakui sebagai salah satu anggota keluarga ini ???
Ayah, apakah ini caranya aku bisa mengembalikan namamu kembali dalam daftar nama keluarga ini ???
Apakah pilihan ini yang harus aku buat untuk kebaikan kita semua ???
****
Bisa tolong bantu So Hee dapatkan jawabannya ???
Apa pilihan kalian,,
Haruskah So Hee melakukan tes DNA itu atau tidak ??
Author tunggu jawaban kalian readers,,,,
Sampai jumpa di forum diskusi !!
✌✌✌✌