Loser's Dream

Loser's Dream
JANJI SI PECUNDANG


setelah keluar dari rumah sakit, Agam menyuruhku untuk istirahat dan tidak melakukan latihan atau pekerjaan apapun, sebelumnya meski tidak terlalu banyak, tapi aku juga suka membantu pekerjaan disini. seperti mencuci baju, mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai, atau bahkan ikut menagih hutang bersama Rei.


karna Agam menyuruhku untuk libur, akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke Tangerang dan mengunjungi rumah sakit tempat aku dirawat karna hampir mati dulu. aku ingin bertemu dengan Arum, dia pasti senang jika aku ceritakan tentang Freya, dia juga pasti senang jika aku beritahu bahwa aku sudah pernah bertemu Freya.


tidak terasa sudah 2 Minggu aku tinggal di kantor evening sun, itu berarti kejadian saat aku bunuh diri sudah satu bulan yang lalu. aku pulang naik kereta, berangkat sejak pukul 6 pagi, dan tidak langsung ke rumah sakit. aku memutuskan untuk pergi ke rumahku yang dulu untuk membersihkannya, dan mengecek bagaimana keadaannya, biar bagaimanapun juga... rumah itu menyimpan banyak kenangan tentang keluarga ku, satu-satunya hal yang berharga bagiku.


saat sampai, rumah itu terlihat sangat berantakan, wajar saja karna dalam dua Minggu ini tidak ada orang yang menempati, aku membersihkan setiap sudut dari ruangannya, hingga aku menemukan buku catatan milik ibu ku. aku iseng dan membaca buku itu, awalnya itu seperti diary biasa, tapi semakin jauh aku membacanya, aku mulai menemukan kejanggalan, ternyata... ibuku mengetahui sesuatu tentang special ability, bahkan ibu juga mengetahui tentang ability ku. disitu tertulis "Agi... putraku, memiliki ability langka yang bernama 'all will perish', aku memiliki firasat bahwa ability ini memiliki potensi yang sangat besar untuk melawan Decay".


aku tidak tahu apa maksud dari catatan ibu, aku juga tidak menyangka bahwa selama ini ibuku menyelidiki hal tentang special ability, dan di catatan itu tertulis bahwa hanya aku yang memiliki special ability di keluarga ini.


hal itu membuatku terkejut dan juga penasaran, tapi yang lebih membuatku penasaran adalah "Decay", apa itu sebenarnya?, kenapa ibu ingin melawan Decay?, lagipula siapa yang memperkerjakan ibu untuk melakukan hal berbahaya seperti itu?, hal itu membuat kepalaku terasa berisik.


aku memutuskan untuk menanyakannya nanti pada Agam, saat ini aku ingin fokus pada tujuan ku pulang dulu, setelah selesai membersihkan rumah, aku langsung berangkat menuju rumah sakit tempat aku dirawat dulu, adik dan ayahku juga di rawat disana.


saat hendak menuju ke rumah sakit, hal yang tidak terduga pun terjadi saat aku membuka pintu sebuah taxi, ternyata ada wanita yang membuka pintu taxi itu juga dari pintu yang berlawanan, kami masuk berdua tanpa sadar. ternyata wanita itu adalah Freya, seperti biasa dia menggunakan mode penyamaran nya dengan pakaian serba hitam, menggunakan topi hitam dan masker yang juga berwarna hitam.


saat itu aku langsung menyadari bahwa itu adalah dia, aku langsung bertanya padanya.


"apa yang kamu lakukan disini?" tanyaku. "kenapa kamu bisa ada di daerah sini?"


"sebenarnya aku sedang kabur dan melihat mu di stasiun tadi, aku mengikuti mu, tapi aku kehilangan jejak mu dan memutuskan untuk pulang, tapi kita malah bertemu di dalam taxi ini hehehe" ucapnya sambil tertawa.


"lebih baik kamu pulang, bunda pasti khawatir padamu" ucapku. "lagipula kita tidak tahu apa para mafia itu masih mengincar mu atau tidak, tidak aman jika kau berkeliaran sendiri"


"kenapa bicaramu jahat begitu?" tanya Freya sambil cemberut.


"aku hanya tidak mau mereka datang dan menyakiti mu lagi" ucapku sambil menundukkan kepala.


"apa benar begitu?" ucap Freya sambil tersenyum manja dan menggoda ku.


"hmmm iya" ucapku sambil menahan malu.


"terimakasih, tapi aku berjanji kali ini tidak akan membuat siapapun khawatir lagi, aku juga berjanji tidak akan membiarkan mu terluka karna melindungi ku lagi" ucap Freya sambil tersenyum.


"kalau begitu... aku juga berjanji, sampai kapanpun aku akan melindungi mu dan tidak membiarkanmu terluka lagi" ucapku sambil menatap matanya.


"BODOH" ucap Freya sambil memalingkan wajahnya. "kenapa kamu bicara seperti itu"


akhirnya dia memutuskan ikut denganku ke rumah sakit, di sepanjang perjalanan kami hanya terdiam karna keadaan menjadi canggung, hingga akhirnya kami sampai di rumah sakit. pertama-tama kami pergi ke ruangan adikku dulu untuk melihat perkembangannya, ternyata tidak ada yang berubah setelah satu bulan, adikku masih sangat terpukul karna kematian ibuku, dia masih suka melamun dan bicara tidak jelas seperti membahas "iblis".


"kamu kenapa?" tanya Freya pada adikku dengan suara lembut.


"iblis, mereka pasti datang untuk membunuh manusia" ucap adikku dengan wajah datar.


"iblis?, makhluk seperti apa itu?" tanya Freya pada adikku.


"mereka adalah monster, mereka pasti akan membunuh kita" ucap adikku.


"tenang saja... jika mereka datang lagi, aku dan kakakmu akan melindungi mu" ucap Freya sambil memeluk adikku.


"kakak?" ucap adikku sambil menatap ke arahku. "kau kakak?"


aku meneteskan air mata melihat itu, hatiku terasa sedih, aku merasa tidak berguna sebagai seorang kakak, bahkan aku tidak berada disisi nya disaat dia membutuhkanku, saat dia membutuhkan keluarga untuk menghibur dan menyemangati nya, aku malah tidak ada.


"ya! ini aku" ucapku sambil memeluknya juga.


"kamu harus sembuh ya!" ucap Freya. "kamu harus berjuang untuk kesehatanmu, lihat lah keluar jendela, matahari itu bersinar untukmu"


"baik!" ucap adikku sambil tersenyum.


aku senang melihatnya, akhirnya dia bisa tersenyum kembali walau sebentar. "maafkan kakakmu ini karna tidak bisa berada disisi mu, tapi aku berjanji akan berusaha dan membuat masa depan yang cerah untukmu" begitulah janjiku padanya.


"tadi... kita bertiga berpelukan ya?" ucap Freya dengan wajah polos.


aku baru sadar ternyata tadi aku juga memeluk Freya, wajahku memerah dan aku langsung memakai masker untuk menyembunyikan nya. setelah itu kami pergi ke ruangan ayahku, saat melihatnya sedang bermain catur dengan teman sekamarnya, aku senang karna ternyata ayahku sudah bisa beraktivitas walau tanpa kaki nya.


"ayah... apa kabar" ucap ku sambil Salim padanya.


"Agi, ayah pikir kamu lupa pada ayah" ucap ayahku sambil tertawa lepas.


"mana mungkin aku lupa pada sosok yang aku anggap sebagai pahlawan" ucapku.


"jadi kamu yang namanya Agi?, wah... kamu tidak seperti yang diceritakan ayahmu" ucap teman sekamarnya ayah. "ayahmu bilang wajahmu selalu murung dan tubuhmu kurus, tapi dari yang aku lihat, wajahmu terlihat sangat bahagia, bahkan tubuhmu sangat atletis"


"apa kabarmu nak?" ucap ayahku.


"aku sehat" ucapku sambil tersenyum.


"a-apa maksud ayah, dia Freya, dia hanya temanku" ucapku sambil grogi.


"namaku Freya, aku adalah temannya Agi" ucap Freya sambil tersenyum.


"maafkan Agi jika dia merepotkan ya, biar bagaimanapun... dia anak yang baik, jadi aku yakin dia tidak akan membuat temannya sedih" ucap ayah pada Freya.


"iya paman, dia memang baik... bahkan aku memiliki hutang Budi padanya" jawab Freya.


"baguslah kalau begitu" ucap ayah.


kami mengobrol dengan asik setelah itu, bahkan sampai waktu makan siang, obrolan kami masih belum selesai, dan akhirnya kami semua makan siang bersama, aku juga mengajak adikku ke ruangan ayah untuk makan siang bersama. aku masih belum menanyakan satu hal pun tentang ibu pada ayah, aku takut ayah dan adikku malah menjadi sedih, sepertinya satu-satunya jalan hanya bertanya pada Agam.


"maafkan ayah... karna ayah, kamu harus bekerja menanggung biaya rumah sakit kami, padahal usiamu masih sangat muda" ucap ayah dengan wajah murung.


"apa yang ayah katakan?, ayah sudah merawat ku sejak aku bayi, ayah juga selama ini mempertaruhkan nyawa ayah hanya untuk menafkahi kami, bahkan demi kami, ayah sampai kehilangan kedua kaki ayah" ucapku sambil memandang wajah ayah. "yang aku lakukan saat ini belum seberapa, aku masih memiliki banyak hutang Budi pada ayah, aku janji... aku akan membuat kalian berdua bahagia, aku akan membuat keluarga kita kembali seperti dulu, akan kulakukan segalanya demi keluarga kita"


"sejak kapan kau jadi sedewasa ini?" ucap ayah sambil menangis.


setelah selesai makan siang, aku memutuskan untuk pergi, karna setelah ini aku ingin mengunjungi Arum juga, aku yakin Arum akan sangat bahagia jika tau aku datang bersama Freya, orang yang paling dia idolakan.


tapi saat aku pergi ke ruangannya, tempat itu sudah kosong, Arum sudah tidak ada disana, sepertinya Arum berhasil sembuh dari penyakitnya dan di perbolehkan pulang. akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumah Arum, sebelumnya Arum pernah memberikan alamat nya padaku, dia bilang lain kali aku harus mampir ke rumahnya dan bermain dengannya, Freya tetap ikut denganku ke rumah Arum, dia benar-benar tidak mau pulang.


saat sampai di depan rumah Arum, aku melihat ibunya yang sedang menyapu halaman rumah mereka, aku langsung menghampirinya dan menyapa.


"bibi... apa kau ingat aku?" ucapku.


"ohh... Agi, kamu kemana saja?" ucap ibunya Arum.


"bibi, dimana Arum? dia sudah sembuh kan? aku membawa hadiah yang mengejutkan untuk nya" tanyaku dengan semangat.


tiba-tiba bibi itu terlihat muram dan menyuruh ku untuk masuk, dia menyuruhku duduk di ruang tamunya dan menunggu selagi dia masuk ke kamarnya. saat keluar, dia membawa sebuah surat dan menyuruh ku untuk membacanya, aku membacanya dan isi surat itu adalah;


"kak Agi... terimakasih ya karna sudah menemani Arum saat dirumah sakit, Arum senang sekali bisa bermain dengan kak Agi, bisa menonton streaming kak Freya bersama-sama, saat itu terasa sangat menyenangkan.


padahal aku berharap bisa bertemu dengan kak Freya, tapi sepertinya tidak bisa..., aku yakin kak Agi pasti sudah bertemu dengannya kan, karna kak Agi sudah berjanji padaku, jika bertemu dengannya, kak Agi akan membawa nya untuk bertemu denganku, aku sangat menantikan saat itu.


setelah operasi ini... aku tidak akan merasakan sakit lagi, aku tidak akan melihat papa dan mama sedih karna diriku lagi, mungkin aku bisa melakukan apapun setelah operasi ini.


kak Agi janji padaku ya... kak Agi harus bahagia, jangan tunjukan wajah murung mu lagi jika bertemu denganku, kakak adalah orang yang hebat, aku yakin suatu hari nanti kakak akan menjadi orang yang di sayangi banyak orang, jika kita bertemu lagi... nanti kita bermain dan menonton streaming bersama lagi ya"


-Arum.


"dimana Arum?" tanyaku.


"setelah membaca surat itu... harusnya kau sudah tahu" ucap mama Arum sambil meneteskan air mata.


"tidak!, tidak mungkin!" ucapku.


"surat itu Arum tulis sebelum operasi nya berlangsung, aku ingin memberi surat ini secara langsung padamu, tapi aku tidak tahu dimana alamat mu" ucap mama Arum.


18 Maret 2020, Arum meninggal dalam operasi nya, dokter sudah tidak bisa berbuat banyak hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup Arum dengan suntik mati. harusnya aku sadar saat melihat kepala Arum yang tidak di tumbuhi rambut sehelai pun, dia mengidap kanker otak stadium akhir.


aku menangis sejadi-jadinya saat ini, entah mengapa... rasa sakit yang ada di hatiku saat ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada luka-luka dari pertarungan ku kemarin, aku kembali menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi pada Arum.


"kenapa kau melakukan hal ini, Arum masih kecil dan kau sudah mengambil nyawa nya, bahkan lebih dulu dari orang tuanya, harusnya dia bisa tumbuh besar dan menjadi gadis cantik, menikah dan memiliki keluarga lalu bahagia, tapi... kau justru merenggut itu semua darinya" ucapku sambil menangis menyalahkan Tuhan. "kau sudah memberikan penderitaan yang besar pada anak sekecil itu, ketika anak lain bermain bersama dan menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, kau malah memberikan penyakit padanya, bahkan itu merenggut nyawanya, sebenarnya... dimana letak keadilan mu sebagai tuhan? HAH!"


tiba-tiba Freya memegang wajahku dan menatap mataku, tatapannya sangat tajam, tapi terasa nyaman untuk di pandang, dia mengatakan sesuatu padaku.


"cukup... jangan ingkari janjimu pada Arum, bukannya kamu berjanji bahwa tidak akan murung lagi padanya?" ucap Freya menenangkan ku. "mungkin saja semua hal yang terjadi pada Arum adalah bentuk kasih sayang dari Tuhan, jika tuhan memberikan Arum tubuh yang sehat, kamu pasti tidak akan pernah mengenalnya, bahkan bisa saja kita berdua tidak pernah bertemu"


"gadis itu sudah menganggap mu seperti kakak nya sendiri, jika dia melihat mu saat ini, dia pasti akan sangat sedih. jadi aku mohon... demi Arum, kamu harus ikhlas" ucap Freya.


Freya benar, jika Arum tidak terkena kanker otak, dia tidak akan dirawat dan aku tidak akan pernah bertemu dengannya. jika aku tidak bertemu dengannya, mungkin aku tidak akan mengenal Freya, dan jika aku tidak mengenal Freya, mungkin aku sudah mati karna mencoba bunuh diri lagi saat ini, yang jelas... semua ini mungkin rencana Tuhan untuk mempertemukan ku dengan Freya.


aku mulai menerima semuanya, setelah itu aku meminta ibu Arum mengantarkan kami ke makam nya Arum, disana aku berdoa untuknya, semoga dia menemukan kebahagiaan di alam sana.


"aku akan membuat orang-orang di sekeliling ku bahagia, aku akan menciptakan masa depan yang cerah untuk adikku, aku akan membuat ayahku bangga padaku, dan aku tidak akan membiarkan ada air mata kesedihan yang keluar dari matamu setetes pun, ini adalah janjiku pada diriku sendiri" ucapku pada Freya.


"kalau begitu... berusahalah untuk mewujudkannya, jika lelah... istirahatlah, jangan terlalu memaksakan dirimu, jangan menyerah untuk menepati janji mu, aku yakin kamu pasti bisa" ucap Freya sambil tersenyum.


hari sudah mulai sore dan aku mengajak Freya untuk pulang, saat di kereta, aku bertemu dengan Vanca Angelina, anggota ke-7 evening sun, dokter yang menyembuhkan ku di rumah sakit kemarin, sepertinya... sedang terjadi hal yang gawat di kereta.


bersambung....