
Sudah tiga hari aku mencoba untuk menjadi teman Lingga, dia selalu saja menolak ku mentah-mentah, dan selama tiga hari itu, terlihat jelas dimatanya bahwa dia semakin kesepian, dia mulai terlihat seperti diriku sebelum bertemu Agam, aku takut dia akan mencoba bunuh diri seperti diriku dulu.
“Lingga, mau ikut makan pangsit?” tanyaku. “aku yang traktir”
“kemari kan saja uangnya!, biar aku makan sendiri!!!” jawab Lingga kesal.
“kalau begitu akan kuberikan kau uangnya, tapi biarkan aku ikut menemani mu!” ucapku tersenyum.
“hei sialan!, memangnya kau tidak lelah?!!!, aku sudah memintamu untuk jauh-jauh dariku!, sudah tiga hari kau selalu mendatangi ku dan bilang ingin jadi temanku, apa kau harus ku bunuh dulu supaya diam hah?!!!” ucap Lingga sambil mencengkram kerah bajuku.
“apa maksudmu?, kita sangat cocok untuk berteman, buktinya empat hari yang lalu saat menyerang keempat sekolah itu, kita jadi tak terkalahkan, bahkan kemarin saat Agam menyuruh kita berdua untuk menagih hutang, mereka semua langsung membayar, kita memang ditakdirkan untuk berteman!” ucapku tersenyum.
“terserah kau saja brengsek!” ucap Lingga sambil mendorong ku.
“aku hanya tidak ingin kau merasa kesepian!” ucapku.
“peduli setan!!!” ucap Lingga meninggalkan ku.
“maaf jika aku membuatmu kesal, tapi setelah ini bisakah kita berteman?!!” tanyaku sambil mencoba mengikuti Lingga lagi.
“baiklah!, tapi jika kau mau mengambilkan ku mangga itu!” jawab Lingga sambil menunjuk ke atas pohon mangga.
“yang mana?, biar aku ambilkan sekarang” ucapku sambil melihat kearah pohon mangga.
“YANG ADA DI ATAS SANA BRENGSEK!!!” ucap Lingga sambil memukul tengkuk ku dengan tongkat besi.
sial... penglihatan ku mulai kabur, apa yang dia pikirkan, jangan-jangan dia benar-benar ingin membunuhku, dia memukul dengan sangat kencang, sepertinya aku akan segera pingsan.
“tertidur lah disini dan jangan pernah mengikuti ku lagi!” ucap Lingga.
kemudian Lingga membiarkanku tergeletak di bawah pohon mangga dan meninggalkan ku, aku pingsan karna pukulannya, sepertinya kepalaku berdarah, dia benar-benar hampir membunuhku. beberapa saat kemudian ada yang membangunkan ku, orang itu menggoyangkan tubuhku hingga aku sadar, saat aku membuka mataku, rupanya itu adalah Freya.
“kenapa kamu tidur disini?” tanya Freya.
“aku habis pingsan” ucapku sambil memegang kepalaku. “uh... sakit sekali”
“uwoh, kepalamu berdarah” ucapnya dengan wajah polos.
“kamu benar, patas saja rasanya lembab” ucapku sambil mengelap darahnya.
“tunggu... KAMU BENAR-BENAR BERDARAH?!, KITA HARUS SEGERA KE RUMAH SAKIT!” ucap Freya tiba-tiba panik.
“ada apa denganmu?, jangan bilang sejak tadi kau berpikir ini darah palsu!” ucapku.
“KUPIKIR ITU HANYA CAT, AYO KITA KE RUMAH SAKIT SEKARANG!” ucap Freya panik.
Freya langsung mengantarkan ku ke rumah sakit, lalu Vanca langsung menyembuhkan lukaku, Vanca bertanya penyebab diriku bisa terluka, dia mengira aku diserang iblis atau semacamnya, kemudian aku hanya menjawab;
“ini hanya perkelahian antar teman!” ucapku sambil tersenyum.
“jadi bocah menyebalkan itu ya?” tanya Vanca.
“ya... aku hanya terus mencoba untuk berteman dengannya, entah mengapa aku seperti tidak bisa membiarkan dia sendirian” ucapku.
“aku tidak tahu kau benar-benar baik atau bodoh, tapi lain kali jangan membuat dirimu terluka hanya karna kau khawatir pada orang lain, pikirkan lah dirimu sendiri” ucap Vanca. “baiklah, sekarang kau bisa pulang, aku masih harus mengurus banyak pasien”
“terimakasih!” ucapku.
setelah dari rumah sakit, aku merasa lapar, kemudian aku mengajak Freya untuk mencari makanan dan bersantai di taman.
“sudah lama aku tidak ke taman ini!” ucapku sambil tersenyum.
“kamu berkelahi lagi ya!” ucap Freya dengan tegas. “aku bingung, kenapa kalian suka sekali berurusan dengan hal yang tidak masuk akal, padahal kalian hanya penagih hutang!”
“aku tidak berkelahi, tadi aku pingsan karna Lingga tidak sengaja memukulku” ucapku tersenyum.
“Lingga?, oh... dia yang waktu itu mengganggu mu kan?” ucap Freya. “akan ku pukul wajahnya jika dia bertemu denganku!”
“ngomong-ngomong, tadi kamu sedang apa sampai bisa menemukan ku?” tanyaku.
“aku ke theater pagi tadi, kami mengadakan rapat mengenai masa depan angels48, lalu saat selesai aku jalan-jalan sebentar untuk cari udara segar, kebetulan aku melihat mu terbaring di bawah pohon, awalnya aku kira kau sedang tertidur” jawab Freya dengan polos.
“kamu kesini dengan siapa?” tanyaku.
“aku kesini bersama bunda, dia sedang ada pekerjaan di sekitar sini, jadi aku menumpang sampai FX” ucap Freya.
“sebenarnya apa pekerjaan bunda?” tanyaku.
“bunda adalah seorang pengacara, tapi dia juga memiliki beberapa bisnis lainnya” ucap Freya.
(scene berpindah ke Lingga)
Lingga yang sedang berkeliling dengan tenang, tiba-tiba dihampiri oleh beberapa siswa SMK Pancasila, mereka menantang Lingga untuk bertarung. dengan bodohnya Lingga menerima tantangan itu, dan dia mengikuti para siswa SMK Pancasila ke tempat yang sepi, saat baru sampai disana, Lingga langsung diserang secara bergantian, ya... yang menyerangnya adalah Yuda, Andre, Regi, dan Ditya, dia sudah dikepung dan akan segera dihabisi.
“akhirnya kami mendapatkan mu!, hahaha” ucap Regi tertawa. “sudah tiga hari kami mencari mu”
“wah... sepertinya aku akan dikeroyok oleh buronan!!!” ucap Lingga meledek.
“TUTUP MULUTMU BAJINGAN!, SEBENTAR LAGI KAU AKAN DIHABISI!” ucap Yuda sambil memukul wajah Lingga.
“haha, kau tahu?, PUKULAN MU TIDAK ADA RASANYA SIALAN!!!” ucap Lingga sambil meledek Yuda.
“kami tahu kau memiliki ability yang membuatmu kebal terhadap serangan apapun, selama itu bukan senjata tajam” ucap Ditya. “tapi... setiap ability memiliki batasan, karna itu, mari kita lihat sejauh mana batasan mu!”
“bagaimana kalian bisa tahu mengenai ability?!!” tanya Lingga kaget.
“kau pikir di dunia ini hanya kau yang memilikinya?” ucap Ditya sambil menyerang Lingga.
mereka menyerang Lingga secara bergantian, ternyata mereka juga memiliki special ability, Yuda yang dapat memperbesar ototnya, Andre yang dapat berubah menjadi setengah badak, ability milik Regi sama seperti Lucy, mereka dapat memunculkan senjata dari sebuah lingkaran, celurit yang selalu ia bawa adalah ability nya, dan terakhir Ditya yang ability nya masih kurang jelas.
“haha, ayolah... kau tidak sehebat yang diceritakan rupanya!” ucap Regi sambil mencakar wajah Lingga berkali-kali.
“ketahanan tubuhmu lumayan, kau bahkan bisa menahan pukulan-pukulan ku yang kekuatannya setara dengan serudukan badak” ucap Andre.
“apa hanya segini saja?!” ucap Lingga sambil mengelap darah di wajahnya. “ayolah!!!, beri aku lebih dari ini sialan!!!”
“bocah ini rupanya gila juga ya!!, hahaha!” ucap Yuda sambil memukul wajah Lingga.
(scene kembali ke Agi)
saat aku dan Freya selesai makan lalu memutuskan untuk pulang, tiba-tiba Fikri dan Fadil datang secara bersamaan, wajah mereka terlihat sangat panik, mereka juga terlihat sangat kelelahan seperti habis dikejar-kejar oleh sesuatu.
“AKHIRNYA AKU MENEMUKANMU” ucap Fikri sambil berusaha mengatur nafasnya. “LINGGA... LINGGA SEDANG DALAM BAHAYA, DIA AKAN DIHABISI!"
“apa maksudmu?, atur nafas mu dan bicara pelan-pelan, aku akan mendengarnya” ucapku sambil mengusap punggung Fikri.
“Yuda, Andre, Regi, dan Ditya, mereka berhasil lolos dari penangkapan” ucap Fadil dengan wajah panik. “sekarang mereka sedang menjebak Lingga untuk dihabisi”
“apa!, bagaimana mereka bisa lolos?!” tanyaku.
“Agi... apa yang terjadi?” tanya Freya penasaran. “siapa mereka berdua?”
“mereka adalah temanku, tenang saja... ini hanya masalah kecil” jawabku pada Freya.
“sebelum polisi datang, Regi memberitahu Yuda, Andre, dan Ditya bahwa mereka sedang dijebak” ucap Fikri. “aku tidak mengerti tapi... sepertinya rencananya bocor”
“kau harus menyelamatkan Lingga, meski dia sangat kuat, dia tidak akan mampu menghadapi mereka berempat” ucap Fadil.
“kenapa?” tanyaku.
“aku pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri, bahwa mereka berempat bertarung dengan kekuatan super, karna itu... Lingga bisa saja terbunuh” jawab Fadil.
“sial!, jangan-jangan yang kau maksud adalah special ability!” ucapku. “Freya, kau pulanglah duluan, ada urusan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu” ucapku tersenyum pada Freya.
“kamu mau berkelahi lagi ya!, kumohon jangan berkelahi lagi, kamu selalu membawa luka yang sangat parah setiap habis berkelahi” ucap Freya dengan wajah khawatir.
“tapi temanku sedang dalam bahaya, maaf... tapi aku tidak bisa meninggalkannya” ucapku tersenyum. “saat selesai nanti aku akan main ke rumah mu dan membawa banyak cheesecake kesukaan mu!”
kami bertiga langsung bergegas lari ketempat Lingga, aku meninggalkan Freya saat itu, meski awalnya dia memaksa untuk ikut, tapi akhirnya aku berhasil membujuknya agar dia mau pulang, “maaf Freya... tapi aku tidak ingin melibatkan mu dalam hal berbahaya lagi, aku tidak mau melihat mu terluka untuk kesekian kalinya lagi, aku takut masih belum bisa melindungi mu" begitulah pikirku.
“apa kalian sudah menghubungi Eugene?" tanyaku sambil berlari
“sejak pagi kami tidak bisa menghubunginya, kami juga tidak memiliki nomor telfon mu, karna itu kami berkeliling mencari mu sejak pagi” jawab Fadil sambil berlari.
“terakhir aku lihat tadi... mereka berempat sudah siap untuk menyerang Lingga, sepertinya mereka sudah mengetahui keberadaan Lingga, bahkan kemungkinan terburuknya saat ini mereka berhasil memancing Lingga kesana” ucap Fikri sambil berlari.
“kalau begitu kita harus lari lebih cepat, jika yang kau katakan benar, kemungkinan saat ini Lingga sedang diserang” ucapku.
(scene berpindah ke Eugene)
“kenapa kau mengajakku ke tempat seperti ini?” ucap Agam. “menjijikan, banyak sekali sampah disini!”
“kau mau Agi berkembang kan?, sebentar lagi kau akan melihat perkembangannya” ucap Eugene sambil tersenyum. “dan bukan hanya dia yang akan berkembang!”
“tunggu!, pemuda yang sedang dikeroyok itu... Lingga!” ucap Agam kaget.
“betul sekali!, sekarang duduk diam dan nikmati pertunjukan nya!” ucap Eugene tersenyum sambil mengeluarkan snack dari tas nya.
“dia terlihat kesusahan!, aku harus membantunya!” ucap Agam.
“diam lah sebentar!” ucap Eugene tersenyum sambil mencengkram bahu Agam. “aku sudah menyiapkan kejutan ini, jadi kau jangan ikut campur dan lihat saja dulu, jika terjadi sesuatu.. baru kau boleh membantunya”
“tapi dia benar-benar sudah terdesak!” ucap Agam membentak.
“percayalah padaku!” ucap Eugene dengan wajah serius.
akhirnya Agam menuruti kemauan Eugene dan hanya duduk sambil melihat Lingga yang sedang dipukuli, tak lama kemudian.. Agi datang dan langsung menyerang Andre.
(scene kembali ke Agi)
“SIALAN!” ucapku sambil memukul wajah Andre.
“siapa kau?” ucap Andre sambil memegang rahangnya. “pukulan mu terasa sangat sakit”
“AKU AGI!!!, AKU ADALAH TEMANNYA LINGGA, MENJAUH LAH KALIAN!, ATAU AKU AKAN MENGHANCURKAN KALIAN SEMUA!” ucapku dengan penuh emosi.
mereka bukanlah orang sembarangan, buktinya mereka bisa membuat Lingga terluka, aku sama sekali tidak melihat orang yang menggunakan senjata tajam, padahal special ability Lingga dapat membuatnya kebal, kecuali dari senjata tajam.
“apa... yang kau lakukan disini bajingan!” ucap Lingga lemah dan ngos-ngosan.
“maaf karna aku terlambat, kau pasti kesakitan ya?” ucapku sambil tersenyum pada lingga. “tenang saja, karna sekarang... aku akan menyelamatkan mu!!!”
kata-kata itu keluar dari mulutku dengan penuh keyakinan!
bersambung....