Loser's Dream

Loser's Dream
PESTA ULANG TAHUN


Selesai dari pemakaman, kami langsung pergi mencari sarapan, awalnya kami ingin makan di kantor, tapi karna banyak polisi disana, mau tidak mau aku harus makan di tempat.


“tidak apa-apa jika kita makan disini?” tanyaku pada Freya. “jika kamu tidak suka... kita bisa pergi ke tempat lain”


“tidak apa-apa, terkadang aku suka membeli makanan di pinggir jalan seperti ini” jawab Freya tersenyum.


dirinya yang tetap hidup sederhana walau memiliki segalanya lah yang membuatku jatuh cinta, dia tidak pernah membeda-bedakan orang lain, bergaul dengan siapa saja walau berbeda kasta, tidak memandang status serta pangkat orang lain, dia benar-benar gadis yang baik.


“setelah ini kita mau kemana?” tanya Freya sambil memakan nasi uduk nya.


“setelah ini aku akan mengantarmu pulang" jawabku sambil makan.


“baiklah!” ucapnya. “oh iya... ngomong-ngomong Agam mengundangku untuk datang ke acara ulang tahun putranya”


“kamu juga di undang?” tanyaku.


“iya!, kemarin Agam mengundangku saat kami membawamu ke rumah sakit” jawab Freya.


“begitu ya...” ucapku. “memangnya hari ini kamu tidak memiliki kegiatan apapun?”


“nanti sore aku harus menghadiri rapat angels48 lagi, jadi sepertinya aku tidak akan terlalu lama di acara ulang tahun nya" ucap Freya.


“mau berangkat bersama?” tanyaku.


“boleh!" jawab Freya.


“kalau begitu nanti aku akan menjemputmu, katanya acaranya digelar di sebuah panti asuhan” ucapku.


“baiklah!" ucap Freya tersenyum.


aku langsung mengantar Freya pulang kerumahnya setelah selesai makan, di perjalanan aku bilang padanya, bahwa besok aku akan ikut dengan Eugene ke luar kota, dan Eugene bilang kemungkinan kamu tidak akan pulang selama sebulan.


“kamu mau berlatih ya...” ucapnya. “semalam Eugene juga merekomendasikan padaku, untuk meminta Lucy melatihku, dia bilang ability kami mirip, karna bisa mensumon sesuatu”


“sebenarnya aku kurang setuju jika kamu harus melatih ability mu” ucapku dengan wajah sedikit murung sambil mengayuh sepeda. “aku tidak mau kamu bertarung!”


“aku tidak mau selalu dilindungi, aku juga mau melindungi hal yang menurutku berharga, aku ingin melindungi bunda, Fiona, teman-teman di angels48, orang yang bekerja untuk bunda, teman-teman mu, dan yang terpenting kamu. aku juga ingin bisa melindungi kamu!” ucap Freya tersenyum.


“tidak perlu!, biar aku saja yang melakukan itu semua, kumohon... kedepannya mungkin lebih berbahaya dari kemarin” ucapku. “kita juga tidak tahu apa lagi yang akan terjadi kedepannya, hal berbahaya pasti sedang mengintai didepan sana, jadi biarkan aku yang menjadi kuat dan melindungi mu!”


“tidak adil!, sebenarnya kenapa?, aku kan juga ingin bisa bertarung melawan iblis, aku ingin melindungi semua orang di dunia ini dengan kekuatan ku, aku ingin menghapus kesedihan di dunia ini” ucap Freya tersenyum. “mungkin kekuatan ini adalah anugrah, supaya aku bisa melindungi orang-orang”


“kau tidak mengerti.. ini lebih mengerikan dari yang kau bayangkan” ucapku sambil mengingat Arum dan Ditya. “dunia ini terlalu kejam”


aku langsung teringat Arum dan Ditya saat membayangkan betapa kejamnya dunia ini, Arum yang meninggal karna kanker padahal usianya masih sangat muda, dan Ditya yang harus mengorbankan masa muda, keluarga, nyawanya, serta menanggung banyak dosa dan rasa bersalah demi melindungi kota ini, dunia ini... sangat kejam.


“justru karna dunia ini kejam, kita jadi sadar dan menikmati bahwa hal kecil yang membuat bahagia, adalah hal yang berharga” ucap Freya tersenyum sambil menatap langit. “tidak peduli seberapa kejam dunia ini, aku tetap akan tetap berjuang, supaya bisa melindungi orang lain dari kekejamannya”


“kamu memang keras kepala!” ucapku sedikit tersenyum sambil mempercepat Kayuhan sepedaku.


“tidak apa-apa, wleee!” ucap Freya melet seakan meledek.


kami berdua kemudian tertawa bersama. aku semakin bertekad untuk menjadi yang terkuat, supaya bisa melindungi Freya, sekaligus semua hal yang ingin dia lindungi. saat aku menoleh kebelakang dan melihat wajahnya sebentar, aku merasa bahagia karna dia masih bisa tertawa lepas, meski aku yakin alasan dia ingin berlatih adalah untuk menyelamatkan Fiona, aku yakin walau dia tertawa kencang, hatinya masih sangat sedih dan khawatir karna tidak tahu bagaimana kondisi Fiona. tapi aku mengesampingkan itu saat ini, dan memilih bercanda, tertawa, dan menikmati waktuku selagi bersamanya, aku menikmati senyuman indahnya.


“tetaplah menjadi si gadis ceria selamanya” ucapku berbisik sambil tersenyum.


“barusan kamu bilang apa?” tanya Freya memastikan.


“tidak... sejak tadi mulutku diam" jawabku mengelak.


“begitu ya..., itu berarti aku salah dengar" ucap Freya percaya dan sedikit tertawa.


aku langsung kembali ke kantor setelah mengantar Freya pulang kerumahnya, rupanya para polisi sudah pergi, jasadnya juga sudah dibawa, Eugene dan Vanca ikut ke kantor polisi sebagai saksi.


Setelah memarkirkan sepeda di gudang, aku langsung pergi ke taman karna tidak ada siapapun di kantor, sekarang pukul 9, aku akan berlatih sampai pukul 11, setelah itu baru aku siap-siap menjemput Freya dan pergi ke acara ulang tahun bersama.


saat aku sedang fokus berlatih, tiba-tiba Lingga memanggil ku. “hey pecundang!”


“ada apa?” tanyaku sambil menoleh kearahnya.


“ikutlah denganku!, cepat!!!” ucap Lingga melotot.


dia kemudian membawaku ke sebuah hutan, disana banyak pepohonan, dan di tengah kebun itu ada sebuah lapangan kecil. dikelilingi oleh pohon apel, pemandangan disana sungguh sangat indah.


“ada apa?, kenapa kau membawaku kesini?” tanyaku.


“cepat pukul aku dengan ability baru mu!” jawab Lingga sambil melepas bajunya.


“kenapa tiba-tiba kau ingin dipukul?” tanyaku.


“saat ini aku sudah kebal terhadap senjata tajam, aku ingin memastikan bahwa aku juga kebal terhadap ability” jawabnya.


“apa perlu dengan cara ini?” tanyaku.


“SIALAN!, TIDAK PERLU BANYAK TANYA DAN CEPAT LAKUKAN!” ucap Lingga sambil mencengkram kerah bajuku.


aku menggunakan ability baru dari iblis Ditya lalu memukulnya sekuat tenaga, dia terpental menabrak banyak pohon dibelakang nya, pohon-pohon itu roboh, dan dia berhenti karna menabrak batu besar.


“sial!.. rupanya aku masih belum bisa menahannya!” ucap Lingga mengepalkan tangan, terlihat kesal, dan kemudian berdiri.


“kau tidak apa-apa?" tanyaku berlari menghampirinya.


“sekali lagi!, tapi jangan gunakan seluruh tenaga mu, cukup 10 persen saja, jika sudah terbiasa baru naikan lagi!” ucapnya dengan wajah penuh percaya diri.


“tapi aku masih belum bisa mengatur tenaga nya” ucapku.


“JUSTRU KARNA ITU, KAU COBA PUKUL AKU SAMBIL BERLATIH MENGATUR TENAGA MU!” ucap Lingga terlihat kesal.


aku lanjut memukul nya lagi, sampai jam menunjukkan pukul 10.50, aku dan Lingga beranjak pulang untuk bersiap-siap pergi ke acara ulang tahun, kami pergi meninggalkan hutan dengan lapangan kecil, yang sekarang lapangan kecil itu jadi lapangan yang besar, karna pohon-pohon disekelilingnya roboh. dari banyaknya pukulan pukulan yang aku lancarkan, mungkin hanya 4 kali saja aku berhasil menurunkan tenagaku, aku masih harus sering berlatih, agar bisa mengendalikan ability baru ini.


sesampainya di kantor, ternyata Vanca sudah kembali, Lingga meminta Vanca untuk mengobati nya, aku tidak melihat Eugene dimana pun, kukira dia masih di kantor polisi, rupanya Eugene sudah berangkat ke panti asuhan sejam yang lalu.


setelah mandi, aku langsung menggunakan kaos putih polos, dengan luaran kemeja flanel corak kotak berwarna biru, dan celana jeans.


sebelum berangkat aku menghampiri Vanca yang sedang membaca buku, aku ingin meminta suatu hal padanya, “sepulang acara nanti... maukah kau ikut ke rumah sakit tempat ayahku dirawat?”.


Vanca menutup bukunya lalu bertanya, “untuk apa?”.


“kau bisa menumbuhkan bagian tubuh yang sudah terpotong kan?, kau juga bisa menyembuhkan organ yang sudah hancur kan?” tanyaku dengan mata berbinar.


“ya!, aku bisa melakukan itu semua” jawab Vanca dengan ekspresi bingung.


“hm... mau kah kau menyembuhkan kaki ayahku?” tanyaku ragu.


“memangnya ada apa dengan kaki ayahmu?” Vanca bertanya balik.


“kakinya diamputasi karna kecelakaan ditempat ia bekerja, karna itu aku mau kau menyembuhkan kaki nya” ucapku.


“baiklah” ucap Vanca berdiri. “tapi dengan satu syarat!”


aku sangat senang karna Vanca mau menyembuhkan kaki ayahku.


“apa syaratnya?” tanyaku kegirangan.


“kudengar kau akan berlatih dengan Devil Hunter, aku mau kau memberikan ini pada Rize” ucap Vanca sambil memberikan sebuah kotak.


tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan syarat Vanca, kenapa tidak? syaratnya juga hanya sekedar memberikan sebuah kotak, “baiklah! akan kuberikan” begitulah ucapku sambil tersenyum.


aku pergi menjemput Freya dengan perasaan senang, bahkan Freya sampai bingung, karna aku senyum-senyum sendiri sambil memencet bel rumahnya, dia mengintip dari jendela kamarnya di lantai dua. saking senangnya, aku sampai lupa menanyakan lokasi panti asuhan nya, untung saja Freya mengetahui dimana lokasinya.


“darimana kamu tahu kalau lokasi nya disini?” tanyaku berjalan disebelah Freya.


“saat kecil aku suka main kesini” jawabnya tersenyum.


aku mengetuk pintu dan mengucap salam, lalu ada anak perempuan kecil membuka pintu, dengan mata berbinar anak itu berkata, “kak Freya!” kemudian anak-anak lain juga ikut memanggil Freya, lalu mendekati dan memeluknya.


“kakak kemana saja? kenapa jarang main kesini?” tanya salah satu anak perempuan.


“kakak sedang sibuk belakangan ini” jawab Freya tersenyum. “kalian apa kabar?” Freya bertanya pada anak-anak itu, dia benar-benar sudah dekat dengan mereka.


“kami baik!” jawab anak-anak itu serentak.


kemudian Agam menghampiri kami berdua dan menyuruh kami duduk di sebuah sofa, rupanya Rei, Lingga, Dimas, Davis, Diana, dan Ezeo sudah berada disana, tak lama kemudian Vanca juga datang.


Ezeo menghampiri ku, sambil menggenggam tanganku dengan mata yang berbinar dia bertanya, “hey hey, katanya kau menang melawan iblis tingkat 5 sendirian, ayolah bertarung denganku, kita harus tau siapa yang lebih kuat diantara kita!"


aku hanya mengangguk dan tersenyum.


“acuhkan saja, sejak dulu dia selalu seperti itu, bahkan saat awal bergabung dengan evening sun, dia mengajak semuanya bertarung" ucap Rei ketus.


“kau sudah kalah, jadi diam saja!" jawab Ezeo ketus.


“apa?!!, aku hanya mengalah, lagi pula kau curang karna melempar ku dengan seekor gajah!” ucap Rei berdiri, dan melipat lengan bajunya seakan siap untuk bertarung.


“sebaiknya kau belajar menerima kekalahan” ucap Ezeo menyindir Rei.


“KAU BENAR-BENAR CARI RIBUT YA?" ucap Rei mendekati Ezeo.


lalu Agam datang di tengah-tengah mereka berdua, dia hanya tersenyum dan menyuruh mereka berdua untuk duduk, kemudian mereka langsung duduk dengan wajah panik, “ma-maaf” ucap mereka berdua.


“wah... sepertinya kalian sudah memulai pestanya ya?” ucap Eugene tersenyum, dia menggunakan celemek berwarna pink, sepertinya dia habis membuat kue, dia terlihat lucu.


“apa aku boleh ikutan?” tanya Eugene melepas celemek nya.


“sebaiknya jangan, tahun ini lebih baik kau duduk tenang saja, kami tidak mau insiden tahun lalu terulang lagi” ucap Davi.


kemudian semua yang ada disana tertawa, aku tidak mengerti apa yang mereka tertawakan, lalu Vanca bercerita padaku, bahwa tahun lalu Eugene membawa banyak sekali petasan, mungkin sekitar satu mobil pickup, saat yang lain sedang membakar barbeque, Eugene menyalakannya sendirian, tapi karna kecerobohannya dia malah membuat mobil pickup nya meledak, hal itu membuat rumah disekitar nya terbakar, dan akhirnya Agam harus bertanggung jawab atas semua kerugian yang Eugene perbuat.


walau tubuhnya terluka parah, dia malah tertawa saat melihat rumah-rumah disekitar terbakar karna dirinya, mendengar cerita itu aku dan Freya ikut tertawa, bagaimana mungkin Eugene yang genius bisa sebodoh itu.


cukup lama kami bercanda, kemudian acaranya dimulai, seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia 7 tahun keluar dari sebuah kamar, namanya adalah Arjuna Adiwangsa, dia adalah putranya Agam.


kami berdoa bersama, menyanyikan lagu ulang tahun, tiup lilin ulang tahun yang dilakukan putranya Agam, dan penyerahan kado, saat yang lain membawa kado, aku lupa juga karna terlalu senang ayahku akan disembuhkan.


“maaf ya, sepertinya kado dariku akan sedikit telat” ucapku tersenyum pada Arjuna.


“tidak apa-apa, tapi.... kakak siapa?” aku lupa belum berkenalan dengannya, kemudian kami berkenalan, rupanya Arjuna adalah anak yang baik, dia ceria, dan memiliki jiwa pemimpin yang kuat seperti ayahnya, aku melihatnya saat kami bermain galah asin bersama, dia bisa memimpin teman-temannya.


kami makan bersama, aku menanyakan Lucy pada Agam, Agam bilang Lucy tidak bisa kesini karna harus menjaga kantor, dia hanya menitipkan kado dan salam pada Arjuna saja.


sejak awal aku masuk evening sun, belum pernah sekalipun aku melihat semua anggota berkumpul bersama dalam satu ruangan, bahkan saat kami sedang rapat, pasti ada 2-3 anggota yang tidak hadir karna misi atau keperluan mendadak, rupanya sejak awal evening sun dibentuk, mereka juga belum pernah berkumpul bersama tanpa ada seorangpun yang tidak hadir, aku mengetahui hal ini dari Eugene.


tak terasa hari mulai sore, aku harus mengantar Freya ke theater karna dia ada rapat bersama angels48, aku pamit kepada yang lainnya, juga pada anak-anak panti yang lain, Arjuna tersenyum dan berkata, “lain kali kita bermain bersama lagi ya!” dengan mata berbinar.


“tentu!" ucapku tersenyum.


Vanca ikut pamit dengan kami, karna setelah mengantar Freya, aku dan Vanca akan pergi ke rumah sakit tempat ayahku dirawat, kami beranjak menggunakan mobil milik Vanca.


tunggulah ayah, sebentar lagi kau akan sembuh.


bersambung....