Loser's Dream

Loser's Dream
PECUNDANG, LAMPAUI BATASAN MU!


“menyingkir lah!, aku bisa mengatasi ini sendiri!” ucap Lingga sambil menarik tubuhku hingga jatuh. “pergilah dari sini!, aku tidak butuh bantuan mu!”


“maaf, tapi aku akan tetap membantu mu!” ucapku sambil menerjang Yuda. “sebaiknya kau pergi dan cari Eugene, aku akan menahan mereka semua sampai kau kembali!”


“apa maksudmu?!!, apa kau meremehkan ku?!!, lebih baik kau saja yang mencari Eugene, aku bisa mengalahkan mereka semua!!!” ucap Lingga sambil menyerang Andre.


Lingga sudah menyadari bahwa dia telah mencapai batasnya, tapi dia tetap tidak mau lari, hal itu membuatku harus bertarung sambil melindunginya. Ditya dan Regi yang menyadari hal itu langsung menyerang Lingga tanpa ampun, aku yang sedang menahan Yuda terpaksa harus membantu Lingga, akhirnya... Lingga terjatuh dan kesulitan untuk bangkit lagi.


“kau... tinggalkan saja aku, cari Eugene dan aku yang menahan mereka!” ucap Lingga gemetar sambil mencoba berdiri. “lagipula kenapa kau masih menolongku setelah apa yang aku lakukan padamu?!!”


“karna kau adalah temanku!, hanya itu alasannya!” ucapku sambil bertarung.


entah hanya perasaanku saja, tapi aku unggul dari mereka berempat, bahkan aku bisa memojokkan mereka, dan itu membuat Regi mengeluarkan celuritnya.


“hahaha, aku sangat kesal sehingga ingin mencincang mu!” ucap Regi sambil menebas ku.


“apa kau tidak merasa aneh?, kekuatan kita menghilang setiap dia menyentuh kita” tanya Andre pada Ditya.


“jadi kau juga merasakannya ya, berarti... kemungkinan bocah ini dapat menetralkan ability seseorang saat menyentuhnya” jawab Ditya pada Andre. “tapi sepertinya ability kita menghilang hanya saat bersentuhan dengannya, selama kita tidak bersentuhan, itu tidak akan jadi masalah”


“kalau begitu kita membutuhkan senjata!” ucap Andre sambil mengambil sebuah tongkat besi.


“APA YANG KALIAN BICARAKAN?!!, KITA HANYA PERLU MEMUKULI NYA SAMPAI MATI!!” ucap Yuda sambil menyerang ku secara brutal.


“inilah alasan mengapa kau lebih lemah dariku, jika kita tetap bertarung tangan kosong dengannya, kita lah yang akan kalah, bocah ini memiliki kemampuan beladiri yang hebat, sepertinya dia memadukan boxing dan aikido” ucap Ditya sambil mengeluarkan sebuah pisau.


“APA MAKSUD KATA-KATA MU BARUSAN SIALAN?!!, SETELAH SELESAI DENGAN MEREKA, KAU YANG BERIKUTNYA!” ucap Yuda pada Ditya.


“baiklah, tapi pertama-tama kita harus mengalahkan nya dulu!” ucap Ditya sambil memberi knuckle pada Yuda.


orang yang bernama Andre dan Ditya rupanya sangat pintar, mereka dapat menganalisa gaya bertarung ku, bahkan mereka sudah mengetahui ability ku. sekarang mereka berempat sudah memegang senjata masing-masing, sepertinya aku akan kesulitan mulai dari sekarang.


“kalian semua, MAJULAH!!!” ucapku tanpa rasa ragu.


“haha bocah ini benar-benar gila!” ucap Regi dan menebas punggung ku.


keadaan sudah berbalik, sekarang aku yang di desak oleh mereka, yang paling aku waspadai adalah Ditya dan Regi, karna mereka berdua menggunakan senjata tajam, jika begini terus... aku bisa mati.


tiba-tiba mereka berempat menyerang Lingga secara serentak, dengan cepat aku langsung menggunakan tubuhku untuk melindungi Lingga, hasilnya... celurit Regi dan pisau Ditya berhasil menembus tubuhku.


(scene berpindah ke Eugene)


“tidak usah khawatir, dia baik-baik saja” ucap Eugene sambil menahan Agam.


“kau tidak lihat?, senjata mereka berhasil menembus tubuhnya, jika dibiarkan... DIA BISA MATI!!!” ucap Agam sedikit emosi.


“sudah 13 tahun kau mengenalku, dan selama itu... apa rencana ku pernah gagal?, rencana ku tidak pernah gagal bahkan meski hanya sekali!” ucap Eugene. “aku rela kepalaku di penggal jika dia sampai mati!”


“sebenarnya... apa rencana mu?!” tanya Agam sambil memegang kerah baju Eugene.


“tidak seru jika aku memberitahu mu sekarang, duduk dan saksikan sampai selesai dulu, baru setelah itu akan aku jelaskan rencana ku” ucap Eugene sambil tersenyum.


(scene kembali ke Agi)


Ditya menusuk ginjal kanan ku, dan Regi menusuk yang kiri, rasanya sangat sakit, banyak darah keluar bukan hanya dari tubuh ku, tapi juga dari mulutku. tubuhku gemetar, aku merasa sangat kedinginan, aku hanya diam saat mereka mencabut senjatanya dari tubuhku, Yuda dan Andre bahkan tidak berhenti memukuliku.


kemudian aku bangkit lalu menerjang Ditya dan Regi, dengan tenagaku yang tersisa, aku mencoba menahan mereka semua.


“FADIL!, FIKRI!, CEPAT BAWA LINGGA PERGI DARI SINI, KEMUDIAN... CARI EUGENE!!!” ucapku sambil menyerang Ditya.


“Fikri!!!, rupanya kau pengkhianat ya!, akan ku habisi kau nanti!!!” ucap Regi teriak.


“apa-apaan kau, padahal kau terlihat lebih lemah dari temanmu, tapi ternyata kau bahkan bisa bertahan dari serangan kami, padahal luka mu sudah sangat banyak!” ucap Ditya padaku.


“kau benar-benar seperti monster!” ucap Andre tersenyum sambil memukul kepalaku.


kepalaku berdarah, penglihatan ku mulai buram, rasanya pusing, tubuhku juga semakin lemas, aku merasa ingin muntah.


“apa kau kesakitan?, kalau kau kesakitan, biar aku akhiri penderitaan mu!” ucap Regi tertawa sambil melayangkan celuritnya kearah kepalaku.


“akan ku pukul wajahmu berkali-kali jika masih memerintahkan ku untuk lari!!!” ucap Lingga sambil menangkis celurit Regi dengan tangannya.


(scene berpindah ke Eugene)


“hore!!!, yang pertama sudah melampaui batas nya!!!” ucap Eugene terlihat sangat senang.


“a-apa itu?, apa dia benar-benar menangkis senjata itu dengan tangannya?” tanya Agam kaget.


“tidak perlu kaget begitu, Lingga baru naik satu tingkatan, dia masih bisa berkembang lebih dari itu” jawab Eugene tersenyum. “sudah kubilang kan, aku punya alasan untuk ini”


(scene kembali ke Agi)


tiba-tiba Lingga bisa menangkis semua serangan Regi tanpa terluka, tubuhnya seperti semakin kuat, bahkan sekarang dia berdiri dihadapan ku tanpa terlihat lelah atau kesakitan sama sekali, padahal sebelumnya dia sudah sangat lemah hingga tidak mampu untuk berdiri.


“pulanglah jika kau sudah tidak sanggup untuk bertarung!” ucap Lingga meledekku.


“apa ini caramu berterimakasih?” ucapku tersenyum sambil meledek balik. “padahal sebelumnya kau terlihat seperti orang yang sekarat”


“tutup mulutmu!, jika kau ingin bertarung lagi... pastikan jangan sampai mati!, karna aku belum membalas kekalahan ku waktu itu!” ucap Lingga tersenyum.


“terimakasih karna sudah mengkhawatirkan ku!” ucapku tersenyum dan mencoba berdiri.


“kalian terlalu banyak bicara!” ucap Yuda dan berusaha memukul wajahku.


“kau tidak sabar ingin dikalahkan ya!” ucap Lingga tersenyum dan melotot.


Lingga menghalangi pukulan Yuda yang mengarah ke wajahku, kemudian mereka berdua saling jual beli pukulan, aku langsung bangkit dan melompat kearah Regi. dia menebas secara asal, untungnya aku bisa menghindari setiap tebasan nya, hingga aku memeluk tubuhnya dari belakang.


“apa kepalamu pernah terbentur sebelumnya?” tanyaku sambil memeluk erat tubuhnya dari belakang.


“apa yang kau lakukan?, lepaskan aku!” ucap Regi padaku.


“kalau begitu... rasakan suplex ini!!!” ucapku sambil membanting Regi kebelakang.


aku berhasil mengalahkan Regi, begitu juga dengan Lingga yang berhasil mengalahkan Yuda, sekarang yang tersisa tinggal Andre dan Ditya, kami pasti menang!.


“kalian pikir kalian sudah menang?” ucap Andre tersenyum. “lihatlah kebelakang kalian sebelum merasa senang”


tiba-tiba tubuh Yuda dan Regi terbakar, mereka... berubah menjadi iblis, bukan hanya mereka berdua, rupanya Ditya dan Andre juga adalah iblis.


“IBLIS!!!” ucap Lingga gemetar dengan tatapan penuh dendam.


(scene berpindah ke Eugene)


“APA INI?!, KENAPA MEREKA BERUBAH MENJADI IBLIS?!” ucap Agam.


“tenang saja, lagipula mereka hanya iblis tingkat 6” ucap Eugene tersenyum.


“tunggu sebentar lagi..., setelah ini hal yang menakjubkan akan terjadi!" ucap Eugene sambil meyakinkan Agam. “tenang saja... mereka akan baik-baik saja”


(scene kembali ke Agi)


dalam sekejap mereka membalikan keadaan lagi, kekuatan mereka jadi lebih dahsyat dari sebelumnya, bahkan pertahanan Lingga yang sudah jadi lebih kuat dapat ditembus dengan mudah. Regi, Yuda, dan Ditya menyerang Lingga bersamaan untuk menembus pertahanannya, sedangkan aku langsung terpental sangat jauh hanya dengan satu pukulan dari Andre.


““AKAN KU BUNUH KALIAN SEMUA IBLIS SIALAN!!!" ucap Lingga sambil menyerang dengan emosi.


Lingga benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, dia menyerang secara asal sehingga membuat mereka dengan mudah mengalahkannya, entah apa yang terjadi padanya, tapi dia terlihat sangat marah dan dendam.


“cara seperti apa yang enak untuk menghabisi kalian?" ucap Andre sambil tersenyum.


“kita cabut saja kepalanya!, hahaha” ucap Regi tertawa.


“aku mau si pecundang ini, biarkan aku yang menghabisi nya!” ucap Yuda sambil menunjuk ku.


“BERHENTI!!!” tiba-tiba suara teriakan Freya terdengar.


saat aku melihat kebelakang, Freya sedang berlari kearah ku, dia langsung berdiri didepan ku dan melindungi ku.


(scene berpindah ke Eugene)


“sekarang putri dari Soraya ada disini!” ucap Agam. “aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan”


“hehe... ini belum apa-apa” ucap Eugene tersenyum.


(scene kembali ke Agi)


“wah... apa yang sedang dilakukan seorang idol disini!” ucap Andre tersenyum.


“menyingkir lah!, atau aku akan melukaimu!” ucap Yuda melotot.


“jangan... sentuh dia!” ucapku sambil muntah darah.


Freya yang tiba-tiba datang membuatku sangat khawatir, aku sudah sampai pada batasan ku, aku juga sudah kehilangan banyak darah, sepertinya sebentar lagi aku akan pingsan. Freya terlihat sangat ketakutan, bahkan tubuhnya sampai gemetar, wajar saja.. siapa yang tidak ketakutan jika berhadapan dengan empat iblis yang menyeramkan, tapi... dia tetap berdiri tegak sambil merentangkan tangannya di hadapanku.


memalukan... ini kedua kalinya dia berusaha melindungi ku, punggungnya terlihat sangat tinggi karna aku sedang berbaring tidak berdaya, dia seakan sudah yakin berdiri disana, seperti seekor merak yang melebarkan ekornya untuk mengusir predator, dia terlihat keren.


“satu langkah pun... aku tidak akan membiarkan kalian maju satu langkah pun!” ucap Freya dengan tegas.


“kau hanya harus menyingkir sedikit!” ucap Yuda sambil menampar Freya dan membuat Freya tersungkur.


“si-sialan!” ucapku dengan sangat lemah.


aku ingin membalasnya, tapi untuk membuka mata saja aku kesulitan, kenapa setiap bertarung aku selalu hampir dikalahkan begini?, padahal aku selalu mempelajari kesalahan ku setiap habis bertarung, aku juga selalu berlatih supaya lebih kuat, tapi kenapa semuanya seakan sia-sia?, sejak awal aku memanglah seorang pecundang, sekeras apapun aku berusaha, aku tidak akan pernah jadi yang terbaik.


“maaf karna membuatmu menunggu!, tapi kali ini kau benar-benar akan mati!” ucap Yuda sambil menghampiri ku.


“kau pikir aku sudah kalah?!, aku masih sanggup untuk melawan kalian semua!!!” ucap Lingga sambil mendorong tubuh Yuda.


“apa yang kau lakukan?!, bahkan aku tidak bergerak sedikitpun, menyerah lah!, dan tunggu sampai giliran mu tiba!” ucap Yuda dan melempar Lingga.


“aku tidak akan membiarkan kalian mendekati nya!” ucap Freya sambil memeluk kaki Yuda.


“wah... seorang idol memeluk kakimu, aku sangat iri padamu!” ucap Andre tersenyum.


“kenapa kau keras kepala sekali?!!, sebelum kesabaran ku habis, lebih baik kau pergi dari sini!, kami tidak memiliki urusan apapun dengan mu!” ucap Yuda pada Freya.


“Freya... pergilah, kamu tidak memiliki urusan apapun disini” ucapku dengan sangat lemah.


“tidak!!!, aku tidak mau terus dilindungi olehmu!, aku juga ingin melindungi mu, kamu selalu saja melindungi ku, tapi kamu tidak membiarkan ku untuk melindungi mu!” ucap Freya padaku sambil mengeluarkan air mata. “aku benci pada diriku yang lemah, karna lemah... aku selalu jadi beban buatmu, aku sudah tidak mau melihat mu menahan luka karna melindungi ku, ayolah... jangan selalu berpura-pura kuat, kamu juga kesakitan kan?, jadi... kali ini biarkan aku melindungi mu!”


“drama apa ini?, membuatku jengkel saja!” ucap Yuda pada Freya. “sepertinya kau memang mau dilukai ya!”


“jangan sampai membunuhnya, karna aku ingin meminta tanda tangan darinya!” ucap Andre tersenyum.


“tuhan!, kumohon... biarkan aku melindungi Agi, kumohon... berikan kekuatan padaku, kumohon... kumohon!” ucap Freya bergumam sendiri sambil memeluk kaki Yuda.


“cahaya apa itu?!” ucap Regi.


“MENJAUH DARINYA!!!” ucap Ditya pada Yuda.


(scene berpindah ke Eugene)


“yang kedua melampaui batasan nya juga!!!” ucap Eugene dengan wajah gembira.


“dia... berhasil mengendalikan ability nya!” ucap Agam kaget.


“jangan kaget dulu, acara intinya belum dimulai!” ucap Eugene kegirangan.


(scene kembali ke Agi)


tiba-tiba cahaya muncul dari tubuh Freya, kemudian cahaya-cahaya itu berkumpul dan membentuk sebuah lingkaran sihir, dan dari dalam lingkaran sihir itu munculah Dewi perang. jika Dewi perang sampai muncul, apakah berarti tadi nyawa Freya sedang terancam?, tapi anehnya Freya tidak pingsan dan masih sadar, biasanya jika Dewi perang muncul, Freya pasti kehilangan kesadarannya.


“kamu... ingin menolongku ya!” ucap Freya seakan sedang mengobrol dengan Dewi perang. “pinjamkan kekuatanmu padaku, kalahkan mereka semua!”


Dewi perang mengikuti perintah Freya dan menyerang mereka berempat, dia bisa bertarung seimbang melawan empat iblis, sepertinya Dewi perang juga jadi semakin kuat.


“kamu tidak apa-apa?” tanya Freya sambil menghampiri ku.


“jangan menyentuhku dulu!” ucapku pada Freya. “sampai pertarungan ini selesai, kumohon jangan menyentuhku dulu, aku membutuhkan bantuan dari Dewi perang!”


“baik!” ucap Freya sambil mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. “ngomong-ngomong, tadi kamu menjatuhkan ini saat berlari”


“pisau pemberian Eugene!” ucapku sambil memegang kantung celana.


pantas saja kantung celanaku terasa ringan, rupanya aku menjatuhkan pisau pemberian Eugene, aku lupa memiliki pisau ini karna terlalu sering bertarung menggunakan tangan kosong.


“aku akan membantu Dewi perang, kamu bawa saja Lingga ketempat aman” ucapku sambil mencoba berdiri.


“kamu yakin ingin bertarung lagi?, lukamu sudah sangat parah!” ucap Freya khawatir.


“sangat yakin!, melihatmu yang ingin terus berjuang meskipun lemah, membuat semangat dan tenagaku pulih kembali!” ucapku tersenyum.


“baiklah kalau kau yakin, jika terluka... aku bisa membawamu pada dokter Vanca lagi!” ucap Freya sambil tertawa.


“kau tahu?, Vanca bisa membangkitkan orang yang sudah mati, tapi maksimal orang itu baru mati satu jam, jika aku mati... kau harus bergegas membawaku ke Vanca ya!" ucapku tertawa.


“siap kapten!” ucap Freya sambil melakukan hormat ala tentara.


aku berteriak dan langsung maju untuk membantu Dewi perang, tubuhku terasa sangat sakit, tapi rasa sakitnya kalah oleh semangatku, aku harus tetap bertarung, bukan karna aku ingin menang, tapi... karna aku harus menang!.


“AKAN KU LAMPAUI BATASAN KU!”


bersambung....