Loser's Dream

Loser's Dream
INI PANGGUNGKU!


"Fiona... apa yang terjadi?" tanya Freya bingung. "Siapa kamu sebenarnya?"


"Aku Fiona, sahabatmu!" ucap Fiona sambil meneteskan air mata dan berubah menjadi iblis. Dia terbakar oleh api hitam dan mulai berubah menjadi iblis seperti Satya, tubuhnya semakin tinggi, kukunya memanjang seperti kuku harimau, dan tanduk yang muncul di kepalanya paling penting.


"Freya, aku akan menceritakan semuanya padamu setelah ini berakhir, tetapi, tolong lari dan sembunyi di tempat yang aman!" ucapku sambil menarik Freya ke belakangku.


"Aku tidak bisa bergerak," ucap Freya ketakutan.


"KEAMANAN!... CEPAT BAWA FREYA DAN MEMBER LAINNYA KE TEMPAT AMAN!!!" teriakku.


"TAPI BAGAIMANA DENGAN MONSTERNYA?" tanya seorang petugas keamanan.


"BIAR AKU YANG MENGURUSNYA!!" ucapku sambil berlari ke arah Fiona.


Kali ini, aku tidak boleh mati jika aku mati, tidak ada jaminan aku akan hidup kembali. Pokoknya, sebisa mungkin aku harus hati-hati. Tanpa pikir panjang, aku langsung menerjang dan memeluk Fiona. Para iblis tingkat 10 itu bukan bagian dari ability-nya, karena mereka semua tidak menghilang saat aku menyentuh Fiona.


"Apa yang kau lakukan?!" ucap Fiona dengan suara menyeramkan.


Aku berusaha melakukan kuncian padanya, tetapi sepertinya itu adalah hal paling bodoh yang pernah aku lakukan. Dia mencakar dan membuat punggungku sobek. Bodohnya, aku tidak melepaskan pelukanku dan tetap berusaha menguncinya. Saat Fiona mengangkat tangannya dan mencoba melubangi tubuhku dengan cakarnya, Eiji datang dan memukul Fiona dengan jurus "Gravity Punch"-nya, kemudian disusul oleh "Thousand Volt Shock"-nya milik Rize.


"Aku sudah menyuruhmu untuk tidak mati sebelum kami datang, yang kau lakukan barusan sama dengan bunuh diri," ucap Rize.


"Jika kau mati sebelum aku mengalahkanmu, aku tidak akan memaafkanmu!" ucap Eiji sambil sedikit tertawa.


(Scene berpindah ke Dimas.)


Lima menit sebelum kejadian, Dimas dan Cakra dihubungi oleh seseorang yang mengatakan bahwa Fiona berubah menjadi iblis dan mengamuk di sebuah restoran yang cukup jauh dari stage. Mereka sudah mencoba menghubungi yang lain, tetapi tidak ada jawaban. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk pergi ke sana berdua.


"Kenapa harus bekerja sama denganmu?" ucap Dimas sambil menuju restoran.


"Seandainya bukan untuk misi, mungkin aku sudah membunuhmu," ucap Cakra sambil mengikuti Dimas dari belakang. "Kau membutuhkanku, dan aku membutuhkanmu. Untuk kali ini, aku akan membiarkanmu hidup."


"Darimana datangnya sifat sombong itu?!" ucap Dimas.


"Aku tidak bisa menghubungi yang lain, apa kau tidak merasa aneh?" ucap Cakra.


Entahlah, aku juga merasa sepertinya kita dipermainkan," ucap Dimas.


Saat mereka sampai di restoran, ternyata tidak ada yang terjadi. Orang-orang terlihat biasa seperti tidak ada serangan yang terjadi. Semuanya terlihat damai. Lucy, Agatha, dan Isla juga mengalami hal yang sama. Mereka juga dipancing ke restoran itu, tetapi saat sampai, mereka bertiga hanya bertemu dengan Dimas dan Cakra yang sedang membicarakan sesuatu.


"Dimana Fiona?" tanya Lucy.


"Siapa yang memberitahu kalian bahwa Fiona ada di sini?" tanya Cakra.


"Apa maksudmu? Bukankah kau sendiri yang memberitahuku?" ucap Lucy.


"Haha, begitu ya... kita berhasil ditipu rupanya," ucap Dimas. "Ayo kita kembali ke stage! Sepertinya Fiona akan melakukan ritualnya di sana!"


Saat mereka ingin kembali ke area show, tiba-tiba ada lima orang warga menghalangi mereka. Para warga itu bilang bahwa mereka tidak boleh kembali ke sana. Cakra yang merasa kesal langsung mengeluarkan katana-nya dan mengancam kelima warga itu, tetapi mereka tetap tidak membiarkan Cakra dan yang lainnya lewat. Cakra yang sudah sangat marah akhirnya mengayunkan pedangnya pada salah satu warga, tetapi bukannya ter-tebas, pedang Cakra justru terhenti di leher pria yang ditebas, seakan leher pria itu lebih keras sehingga pedang Cakra tidak bisa membelahnya. Dimas yang merasa curiga akhirnya menggunakan nanchaku-nya untuk menyerang warga yang lain, ternyata benar, kelima warga itu adalah iblis.


"KALIAN TIDAK BOLEH MELEWATI!!!" ucap kelima warga itu sambil berubah menjadi iblis.


"Sudah kuduga, mereka bukan manusia," ucap Dimas.


"Jadi kalian yang menipu kami?!" tanya Agatha.


"Tidak penting! KALIAN SEMUA AKAN MATI DI SINI!" ucap salah satu iblis.


"Mereka semua tingkat 6 ya," ucap Isla. "Sepertinya akan sedikit sulit!"


"Jika dugaanku benar, sepertinya ritualnya sudah dimulai di sana," ucap Dimas.


"Aku percaya padamu... Rize!" ucap Agatha.


"Kita selesaikan di sini dengan cepat!, Lalu kita bantu Rize," ucap Isla.


"Baiklah... Mari selesaikan dalam lima menit!" ucap Dimas sambil maju bersama yang lain.


(Scene kembali ke Agi.)


Davis dan KY twins datang saat aku, Rize, dan Eiji sedang bertarung melawan Fiona. Eiji langsung memerintahkan KY twins dan para anggota dari Tree Mafia yang lain untuk mengalahkan anak iblis yang berada di bawah panggung, agar anak-anak iblis itu tidak menyerap energi orang lain lagi dan bertambah kuat.


"Davis, kau ke belakang saja. Aku takut ada iblis yang mengejar Freya," ucapku. "Serahkan Fiona pada kami bertiga."


"Baiklah... Kalau begitu, jangan sampai mati!" ucap Davis sambil berlari ke belakang panggung.


Ternyata, benar. Ada satu iblis tingkat 6 di sana. Iblis itu sudah mencelakai beberapa staf, para member bahkan terlihat sangat ketakutan. Tetapi, Freya tidak ada di sana.


"Sial! Ability-nya dapat menyerap serangan dan mengembalikan dengan kekuatan dua kali lebih kuat!" ucap Eiji.


"Apa kau kesal karena dia menyerangmu dengan jurusmu sendiri?" ucap Rize.


"Kau sendiri terlihat kesal karena diserang dengan Two Thousand Volt Shock milikmu," ucap Eiji sambil meledek.


"Tidak. Yang tadi adalah Two Thousand Volt Shock," ucap Rize. "Aku kesal karena ia bisa menggunakan jurusku dua kali lebih kuat."


“Kalau begini, sepertinya hanya aku yang bisa mendekatinya,” ucapku. “Baiklah, Rize... kita lakukan sama seperti saat melawan Satya.”


“Eiji, bantu aku agar bisa mendekatinya!” ucapku. “Dan Rize, siapkan Flash of Death. Kita akan mengakhiri dengan jurus itu. Kita baru akan menyegelnya saat dia melemah.”


“Jadi... aku mendapat peran pembantu ya?” ucap Eiji sambil tersenyum. “Kuharap kalian berdua jangan mengacau!”


Aku dan Eiji berlari ke arah Fiona, sementara itu Rize mengumpulkan energinya dan bersiap untuk melancarkan Flash of Death. Dengan kekuatan gravitasi nya, Eiji memperlambat gerakan Fiona dan menghalau semua serangan baliknya agar tidak mengenai ku. Akhirnya Fiona dapat mengembalikan serangan Eiji dan membuatnya terpental sampai ke bawah stage. Untungnya aku berhasil mendekati Fiona dan melakukan kuncian padanya. Tapi, saat memeluknya, aku yakin mendengar suara tangisan. Ternyata itu adalah suara tangisan Fiona.


“Kumohon, tolong aku,” suara Fiona sambil menangis dalam otakku.


Aku yakin sekali dia meminta tolong padaku sambil menangis. Sepertinya ada yang salah disini. Tiba-tiba Rize berteriak memanggilku dan bilang bahwa "Flash of Death nya sudah siap" sambil berlari ke arahku dan mencoba menyerang Fiona. Entah kenapa aku merasa Fiona hanyalah korban. Akhirnya aku menjatuhkan diri bersama Fiona ke bawah panggung, dan serangan Rize mengenai lantai panggung sampai membuat panggungnya roboh.


“APA YANG KAU LAKUKAN?!!!” tanya Rize dengan wajah marah.


“Kita tidak boleh melukainya!” ucapku sambil mengunci Fiona. “Aku yakin Fiona hanya korban!”


Seketika aku merasa bahwa aku harus mematahkan tanduknya dengan tanganku. Entah darimana hal itu muncul di pikiran ku. Aku memegang tanduknya dan mematahkannya perlahan. Saat tanduknya patah, aku melihat semuanya. Semua ingatan Fiona muncul di kepalaku. Bukan hanya ingatannya, bahkan aku melihat yang dilakukan iblisnya.


Iblis yang ada dalam diri Fiona saat ini hanya pecahan kekuatan dari iblis aslinya, yang asli sudah selesai melakukan ritual sejak Freya dan para member bersembunyi. Bahkan Davis, Dimas, Lucy, Agatha, Isla, dan Cakra sudah dikalahkan.


“Apa yang terjadi?” tanya Eiji. “Kenapa kau mudah sekali untuk mematahkan tanduknya?”


“Semua iblisnya menghilang,” ucap Dicky.


“Jadi kalian sudah mengalahkannya?” tanya Ricky.


“Kenapa semudah ini?” tanya Rize.


“Kita belum mengalahkannya,” ucapku dengan wajah panik. “Kita yang kalah…”


“Apa maksudmu? Kenapa wajahmu panik?” tanya Eiji.


“Dimas, Cakra, dan yang lainnya sudah dikalahkan,” ucapku dengan wajah panik.


(Scene berpindah pada Freya.)


Saat aku menyuruh Freya untuk sembunyi, dia mengikuti Irina dan Amel dari belakang. Freya berpikir ada yang aneh dengan Irina. Mereka pergi ke area parkir. Rupanya ritual sihirnya berada di dekat mobil kami. Freya bersembunyi di dalam mobil kami. Setelah itu Irina berubah menjadi iblis dan menyerap energi Amel. Ternyata Amel juga memiliki zodiak Aquarius. Freya yang melihat kejadian itu hanya bisa terdiam dalam mobil kami dan ketakutan. Tapi tak lama kemudian Freya memberanikan diri untuk keluar dan menyelamatkan Amel.


“APA YANG KAU LAKUKAN?!” ucap Irina dengan wujud iblis.


“To-long aku, Freya!” ucap Amel dengan tubuh yang sudah melemah.


“Kenapa kau melakukan ini? Bukannya kalian teman?” tanya Freya.


“TEMAN?! KAU TAHU BAGAIMANA DIA MERENDAHKAN KU?” ucap Irina dengan emosi. “AKU SELALU MENCOBA BAIK PADANYA, TAPI DIA MEMPERLAKUKAN KU SEPERTI BUDAK, DIA MENGHINA TARIAN KU, WAJAHKU, APAPUN YANG ADA PADA DIRIKU, AKU SELALU SABAR DAN MEMAAFKANNYA, TAPI DIA MENGHANCURKAN KUE YANG SUSAH PAYAH IBU KU BUAT UNTUKNYA, DIA BILANG IBUKU BERNIAT UNTUK MERACUNINYA, DAN BILANG RASA KUE NYA LEBIH BURUK DARI SAMPAH, SETELAH KEJADIAN ITU AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANNYA, DIA BOLEH MENGHINAKU, ASAL JANGAN IBUKU!!!”


“Tapi tetap saja, lebih baik kau memaafkannya. Balas hal negatif dengan hal yang positif. Dendam hanya akan menciptakan kebencian yang lebih besar,” ucap Freya.


“TIDAK USAH BANYAK BICARA!” ucap Irina. “SERAHKAN DIA DAN AKU AKAN MELEPASKAN MU! SEBENARNYA KAU ADALAH PRIORITAS KU, KARNA ENERGI BESAR YANG KAU MILIKI, TAPI JIKA KAU MENYERAHKANNYA PADAKU, AKU AKAN MEMBIARKAN MU PERGI!”


“Tidak akan! Aku tidak akan membiarkan kau melukainya!” ucap Freya sambil menghalangi Irina.


Karna kesal Irina menyerang Freya dan membuatnya terpental ke mobil sampai pingsan. Irina melanjutkan ritualnya hingga akhirnya dia berhasil berubah menjadi iblis tingkat 4. Dewi perang bangkit dan mencoba menyerang Irina, tapi Irina kabur dengan cepat menuju tempat Dimas dan yang lainnya. Sebelumnya Irina sudah memerintahkan iblis tingkat 10 untuk menyamar menjadi anak buah dark tree mafia dan menjebak Dimas untuk datang ke restoran. Begitu pula dengan yang terjadi pada Lucy. Salah satu iblis menyamar menjadi Davis dan melakukan hal yang sama.


(Scene kembali ke Agi.)


Aku menggendong Fiona dan bergegas menuju mobil. Kekuatan Irina belum sempurna. Kemungkinan dia akan kembali dan menyerap energi Freya. Meski disana ada Dewi perang, aku tetap harus menghentikannya. Aku mengajak Eiji dan Rize untuk ikut denganku. Sedangkan KY twins akan ke tempat Dimas dan membawa mereka ke rumah sakit.


“Mau kemana kau?” tanya Eiji sambil mengikuti ku.


“Irina sudah berubah menjadi tingkat 4, tapi kekuatannya belum terlalu sempurna,” ucapku sambil berlari ke arah mobil kami. “Ada kemungkinan dia kembali dan menangkap Freya!”


“Jadi yang ada di Fiona hanyalah 20% kekuatannya?” tanya Rize.


“Ya! Sebelumya dia menggunakan Fiona sebagai wadahnya. Mereka tidak menjalin kontrak dan sepertinya Fiona mencoba melawan selama ini,” ucapku.


“Jadi saat kami menculiknya waktu itu, dia sengaja membuat Fiona menjadi wadah, dan membuatnya seakan mereka menjalin kontrak,” ucap Eiji.


“Benar! Dia sengaja melakukan semua itu untuk mengelabui kalian, padahal wadah dan orang yang menjalin kontrak dengannya selama ini adalah Irina,” ucapku.


Kami sampai di parkiran. Aku menurunkan Fiona di bawah pohon. Dugaanku ternyata benar. Dia kembali untuk menyerap energi Freya, dan saat ini dia sedang bertarung dengan Dewi Perang di hadapan kami. Sementara Eiji membawa Freya ke tempat Fiona, aku dan Rize langsung maju untuk membantu Dewi Perang. Irina sangat kuat. Dia bahkan dapat membuat Dewi Perang terpojok. Ternyata benar saja, dia mengalahkan aku dan Rize, termasuk Dewi Perang.


“Sialan! Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku,” ucap Rize sambil menahan sakit.


“Dia terlalu kuat, bahkan dia bisa membuat Dewi Perang menghilang,” ucapku sambil mencoba bangkit.


Eiji datang dengan aura yang sangat kuat dan langsung menyerang Irina. Dia menyerang Irina dengan Gravity Punch miliknya. Tidak! Sepertinya jurusnya barusan lebih kuat dari Gravity Punch. Eiji berhasil melukai Irina!


“Sejak tadi, kalian berdua terlihat menonjol dan keren,” ucap Eiji sambil berdiri di hadapanku dan Rize. “Itu membuatku terlihat seperti karakter sampingan yang tidak berguna.”


“Aku akan membantumu. Kau tidak akan bisa mengalahkannya jika hanya sendiri!” ucapku sambil mencoba berdiri.


“Tidak perlu! Kalian berdua istirahat saja!” ucap Eiji. “Karena mulai sekarang... INI ADALAH PANGGUNGKU!”


Bersambung...